
Deg. Kenapa jadi seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi, dan siapa yang bisa menjelaskan segala sesuatunya pada dia? Bagas berkata apa, dan Asma meminta apa. Apakah ada hal yang tidak ia pahami?
"Kenapa?" tanya Rey hampir tercekat tak mampu bertanya karena rasa terkejutnya.
Sekali lagi yang menjadi jawaban hanya helaan nafas panjang, lalu bangun dari tempat duduknya. Tak ingin menjelaskan hal yang tidak penting. Apapun yang dia pikirkan, pria itu tidak akan paham. Orang pun pasti bisa menebak dengan semua yang terjadi, ketika melihat dengan mata kepala sendiri.
Bunga, makan malam, lalu besok apa? Sementara dalam kehidupannya. Ia tengah berusaha untuk menjadi diri sendiri, melepaskan segala luka yang membelenggu jiwanya. Siapa yang bisa mengobati? Tidak ada, kecuali keikhlasan.
Hari ini atau esok? Tidak ada yang tahu. Kapan luka hatinya terlupakan. Asma berjalan kembali menuju tempat parkir, langkah kakinya meninggalkan Rey yang termenung diam ditempat. Tidak habis pikir dengan isi kepala gadis itu. Terlalu rumit.
"Asma!" Rey berusaha memanggil, tetapi suaranya hanya angin lalu bagi gadis itu, Mau bagaimana lagi? Langkahnya terpaksa menyusul, bahkan hanya bisa mengirim pesan singkat pada Bagas agar pulang ke hotel terlebih dahulu.
Perjalanan pulang kembali berteman dengan keheningan. Asma hanya sibuk menatap ke luar jendela, sedangkan Rey fokus menyetir. Sesekali melihat ke arah si gadis desa. Entah kenapa, hatinya berkata. Jika gadis itu tengah menghindari kenyataan hidup yang mungkin berat untuk dilalui.
Namun, apa urusannya? Jika menegur pun, belum tentu mendapatkan tanggapan. Jadi, apa yang harus dilakukannya? Sibuk berpikir hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Rey mengurangi kecepatan mobilnya dan itu disadari oleh Asma.
"Apa ada masalah denganmu,Tuan Reyhan?" tanya Asma, gadis itu menoleh menatap Rey yang terkesiap karena mendengar namanya disebut untuk pertama kalinya.
Asma tersenyum tipis, kemudian kembali mengalihkan tatapan matanya ke depan. Lampu jalan yang temaram meneduhkan pemandangan malam. Sudah mencoba untuk menahan diri, tetapi nyatanya semua harus dijelaskan. Setelah melihat segala sesuatunya. Ia tahu, pria itu juga menjadi bahan percobaan.
Pelaku utama hanyalah Bagas. Pria yang dianggap sebagai seorang kakak dan tidak lebih. Ntah apa yang pria itu pikirkan tentangnya, apapun itu bukan urusannya. "Aku tidak tahu, apa yang menjadi masalah kalian berdua. Satu pinta ku, jika mungkin menjauhlah dari kehidupan ku."
Rey tak ingin berdebat di tengah jalan dalam kondisi tengah menyetir. Di depan sana terlihat ada sebuah taman. Sontak ia memutar haluan, mencari tempat parkir di dalam area taman agar bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang ia sendiri tidak paham. Dimana kesalahannya.
__ADS_1
"Mau turun, atau disini?" tanya Rey tanpa ingin mengurangi kesabarannya, tak lupa dia juga mematikan mesin mobilnya.
Asma melepaskan sabuk pengaman, lalu berniat membuka pintu mobil. Akan tetapi, Rey mengunci pintunya, membuat gadis itu kembali duduk di tempatnya. Diam dan tak lagi mempertanyakan, hingga sang pria turun. Kemudian berjalan memutar hanya untuk membukakan pintunya.
"Pilihlah, tempat ternyamanmu." bisik Rey, ketika Asma keluar dari mobil dan berdiri di depannya. Hatinya ingin tahu, apa yang gadis itu pikirkan tentangnya dan juga sang sahabat.
Tidak peduli seberapa keras Rey mencoba. Asma hanya membalas tatapan mata pria itu sekilas sekaligus pergi meninggalkan tempat parkir, membuat Rey menggelengkan kepala. Rupanya, gadis desa tidak tergoda dengan wajah tampan yang ia punya.
Kedua nya duduk di ayunan berbeda. Taman yang tidak begitu luas dengan beberapa spot foto. Sepertinya, desain taman memang hanya untuk taman mini. Rey memperhatikan sekeliling, tetapi Asma hanya duduk termenung menikmati hembusan angin yang menyapa lembut wajahnya.
"Ekhem. Apa sepanjang malam, kita akan diam duduk di atas ayunan?" tanya Rey membuka obrolan.
Asma mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, lalu menekan tombol on. Layar menyala, dibukanya aplikasi whatsapp. Kemudian membuka pesan dari Bagas. Barulah menyerahkan benda pipih itu ke Rey, "Ambil dan baca sendiri."
Rey mengernyit, kenapa harus melihat privasi orang? Sungguh tidak sopan. Namun, tatapan Asma begitu serius seakan tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Diterimanya ponsel dengan merk yang ia tahu, ponsel itu paling murah harganya dibandingkan dengan series terbaru.
Riwayat pesan antara Asma dan Bagas. Dari seluruh pesan yang menjelaskan. Bagas meminta si gadis desa untuk menjadi kekasihnya. What's? Bagaimana bisa seperti itu? Apa semudah itu, atau segitu frustasinya hingga secara to the point menjodohkan gadis itu untuk masa depan seorang Reyhan Aditya.
Benar-benar keterlaluan. Bukan begitu caranya, sekarang justru terkesan tengah mempermainkan hati seorang wanita. Bagaimana jika ternyata Asma menyukai Bagas? Segala kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan, harus dibayangkan bukan?
__ADS_1
Rey menggenggam ponsel gadis itu cukup erat, "Sorry, Aku tidak tahu. Bagas akan melakukan itu, tapi aku pastikan. Diantara kami, tidak akan ada yang mengganggu kehidupanmu, lagi. Setelah malam ini, aku dan Bagas akan meninggalkan kota ini."
"Kehidupan itu bukan tentang permintaan, tetapi keputusan. Aku percaya, banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangan mu, Tuan Reyhan." Asma mengulurkan tangan, meminta kembali ponselnya hanya dengan menatap manik mata pria yang duduk di ayunan sebelahnya.
"Berdoa untuk masa depanmu. Mungkin, Allah tengah memperbaiki pasanganmu agar pantas mendampingimu dalam suka dan duka." Sambung Asma, kemudian meninggalkan ayunan. "Bisa antarkan aku pulang? Ibu pasti sudah menungguku."
"Tentu." Rey ikut menyusul, meninggalkan ayunan seraya merentangkan tangan mempersilahkan Asma untuk berjalan terlebih dahulu. "Apa aku boleh tanya sesuatu? Jika kamu tidak keberatan."
Asma hanya menganggukkan kepala tanpa ingin mengucapkan sepatah kata lagi, membuat Rey dilema bagaimana caranya bertanya? Apakah gadis itu akan memberikan jawaban, jika pertanyaannya menyangkut kehidupan pribadi.
Suara langkah kaki terdengar seirama, tanpa sadar keduanya berjalan meninggalkan taman dan kembali masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, Rey masih menahan pertanyaannya bahkan hingga mobil mulai melaju membelah jalanan malam.
Perjalanan selama lima belas menit lebih mencapai akhir. Mobil berhenti di dekat rumah Asma, tetapi gadis itu masih diam di tempat duduknya. Ia menanti pertanyaan terakhir dari Rey sebagai salam perpisahan. Sementara yang ditunggu, justru tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Apa pertanyaanmu?" Asma menoleh menatap pria di sebelahnya, Rey mengalihkan perhatiannya.
Pria itu membalas tatapan Asma. Ia mencoba menenggelamkan diri dalam dinginnya rasa yang menyelimuti kehidupan gadis itu, "Apa alasanmu, meminta kami menjauh dari kehidupanmu."
__ADS_1