Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 144: Dua Sisi Cerita


__ADS_3

Ingin sekali berbohong tetapi ia tak mampu. Sebagai seorang lelaki yang membutuhkan tempat untuk berbagi rasa. Mana bisa menahan diri tetap diam menikmati rasa bersalahnya. Sakit di hati terasa lebih menusuk. Tak ingin membuat yang lain khawatir, maka dibawanya Bagas ke tempat lain dengan alasan pekerjaan.


Kedua pria itu berjalan ke sisi lain rooftop duduk menjauh dari keluarga. Semilir angin menyentuh lembut menghantarkan kesegaran. Sayangnya degupan jantung enggan kembali normal bercampur suara helaan napas panjang kesekian kali yang membuat Bagas semakin berpikir keras.



"Rey! Apa yang terjadi? Kesedihan di mata Asma dan bungkamnya kamu. Semua itu saling berkaitan 'kan?" Ditatapnya pria yang duduk di sebelah kanan dengan pandangan mata semakin intens.



Rey menggeleng pelan, lalu memijat pelipis yang terasa begitu sakit. "Kami bertengkar semalam dan semua itu salahku."



Bertengkar? Satu kata yang ia dengar dari bibir saudaranya itu hampir tidak bisa dipercayai. Seorang Reyhan yang selalu tenang, dingin, dan suka mendominasi, tiba-tiba bertengkar. Apa alasannya? Apalagi dengan Asma yang ia tahu memiliki tempat istimewa sebagai seorang istri.



"Saat acara resepsi, Kalingga datang untuk memberikan sebuah hadiah. Awalnya aku tidak tahu, tapi setelah menyelidiki semua terungkap. Kado yang menurutku tidak pantas untuk diberikan. Asma sudah tahu perihal kado sang mantan.



"Kupikir dia akan berkata jujur padaku. Ternyata justru menyembunyikan tentang semua itu. Apa aku tidak boleh marah? Asma istriku dan tidak akan kubiarkan pria lain mendekatinya. Jujur saja aku kecewa hingga tanpa sadar menyudutkan ...,"



Rasa sesak di dada menahannya melanjutkan ungkapan isi hati yang kian menggebu-gebu. Semakin meneruskan kata-kata, ia justru mengingat perdebatan hebat semalam. Semua itu tak mungkin dilupakan. Hembusan angin yang menerpa menghanyutkan angan tak bertuan menikmati sekelebat kenangan.



"Siapa dia untukmu? Jawab aku, Asma!" bentak Rey dengan kedua tangannya mencengkram bahu sang istri. Pria itu tak sadar terlalu erat menyentuh raga lemah yang memerlukan istirahat setelah seharian mendapatkan banyak kejutan tak terduga.



Siapa yang merasa fine? Ketiga di acara resepsi mendadak berubah menjadi pro kontra. Elora yang bermain fitnah hingga merusak suasana pesta di siang hari, lalu Kalingga muncul setelah sekian tahun. Endingnya seluruh jiwa dan raga menikmati rasa lelah yang teramat sangat.



Tanpa ingin mengurangi rasa penasaran sang suami. Tatapan matanya terpatri pada netra pria yang selalu menjadi tempat berteduh tetapi malam ini. Ia enggan menurut, apalagi menerima keraguan yang bisa menghancurkan hubungan mereka berdua. Kenyataan tak akan berubah meski seribu kali dipertanyakan.


__ADS_1


"Kalingga datang untuk kepuasan hatinya. Bukan aku yang mengundangnya. Jika kamu berpikir semua ini terjadi seperti keinginanku, maka saat ini dia bisa bersama istrimu. Hubungan tidak untuk dipermainkan apalagi dipertaruhkan.



"Maaf saja, Tuan Reyhan Aditya. Pertanyaan mu itu salah tempat. Seandainya kamu memahami seperti apa aku. Masihkah keraguan menyelimuti hati dan pikiranmu?" Asma mengakhiri perdebatan dengan sebuah pertanyaan yang membuat suaminya melepaskan tangan dari bahu.



Sentuhan keras mendarat di lengan menyentak kesadarannya kembali, "Sorry pikiran terbagi entah kemana. Saat ini, aku merasa Asma benar dan apa yang kulakukan padanya salah besar. Kalingga datang bukan atas undangan tetapi keinginan hati pria itu sendiri."



"So? Apa yang kamu lakukan pada adikku hingga gadis pendiam seperti Asma bersedih seperti pagi ini. *You know, he's a different girl. Don't ask how her is because of you her husband*." tutur Bagas kembali mengingatkan saudaranya untuk kembali ke jalan yang benar.



Sebagai seorang saudara dan kakak. Ia tidak ingin menyudutkan karena sadar akan satu fakta. Dimana Rey baru pertama kali menjalin hubungan dengan seorang wanita. Asma adalah wanita pertama yang berhak atas rasa cinta kasih sayang sang tuan muda.



Pernyataan Bagas sedikit menurunkan rasa takut di hati Rey, tetapi disisi lain. Fay berdecak tak sanggup berkata-kata lagi. Setelah mendengar curahan hati sang kakak. Gadis itu merasa kesal dengan tindakan sang kakak ipar. Kenapa pria slalu mengedepankan emosi?




Tangan yang saling menggenggam mencoba menguatkan satu sama lain. Suara helaan napas pelan hanya melepaskan rasa lelah di hati, "Ka Asma, calm down. Aku tahu ini tidak mudah tetapi kakak itu wanita kuat. Inget aja di setiap masalah, kita harus stay waras. *I am here for you*."



"Jangan khawatir, Fay. Tidak sesulit itu karena bukan akhir dunia. Lagipula kita hidup sekali 'kan?" Seulas senyum menghiasi wajahnya. Namun itu hanyalah senyuman tawar tanpa rasa.



"Kamu ini, Ka." Dilepaskannya tangan Asma, lalu mengedarkan pandangan mata ke arah lain hingga menemukan keberadaan Ibu Zulaikha beserta Nau yang duduk sambil ngobrol seru. "Kehidupan kita tak jauh berbeda, Ka. Arti cinta tertuju pada seorang ibu. Selalu ingat itu karena ibu alasan kita tetap bertahan."



Fay mengatakan fakta yang menjadi dasar dari kedewasaan mereka berdua. Memang benar bahwa ibu menjadi tiang pertama yang sanggup menanggung seluruh rasa di setiap rintihan luka sang buah hati. Hebat sebagaimana yang diajarkan tanpa kata.


__ADS_1


Asma beranjak dari tempat duduknya, lalu mengulurkan tangan kanan. Kemudian menoleh menatap saudarinya, "*It doesn't matter with other people's doubts about me. Trust is not to be questioned, so, this life remains a world full of illusory*."



"Hmm. Mulai puitis deh, ini yang denger gak paham loh, Ka." balas Fay seraya menyambut uluran tangan sang kakak.



Keduanya tertawa pelan tanpa alasan. Sedikit memahami? Tidak demikian, tak peduli dengan bahasa apa yang kedua wanita itu gunakan. Asma dan Fay bisa mengimbangi satu sama lain hanya saja di saat pikiran tak kondusif mengubah arah haluan masing-masing.



Langkah kaki berjalan menghampiri Ibu Zulaikha dan Nau. Dimana kedua insan yang duduk berhadapan sibuk entah membahas apa hingga tidak menyadari ada yang datang menghampiri mereka. Sayup-sayup terdengar obrolan tentang masakan.



"Boleh gabung gak?" Fay menarik kursi di sebelah Ibu Zulaikha, sedangkan Asma memilih duduk di sebelah Nau.



Tatapan mata menelisik yang terarah pada kedua wanita itu dianggap angin lalu. "Ibu, bagaimana keadaan di rumah? Apa semua baik?"



"Alhamdulillah, Ndu. Ibu yang seharusnya tanya, kamu bahagia menikah dengan Reyhan? Kehidupan baru yang jauh dari keluarga. Semua baik 'kan, Ndu?" tanya balik Ibu Zulaikha tanpa ingin mengurangi rasa khawatir sebagai seorang ibu.



Apalah arti emosi? Ketika tak mampu melupakan ego yang terpendam di dalam hati. Sebagai seorang anak bisa saja berkeluh kesah terhadap orang tua. Akan tetapi ia tahu, bahwa harapan sang ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia dengan pasangan. Apalagi setelah kekecewaan yang pernah dialami keluarga mereka.



"Aku bahagia bisa menikah dengan Mas Rey. Menantu ibu selalu memberikan yang terbaik agar putrimu ini tidak kesulitan beradaptasi dengan dunia baru. Jangan khawatir lagi, Bu." tutur Asma membalas tatapan mata ibunya dengan penuh keyakinan.



Boleh saja tengah berbeda pendapat sebagai suami istri. Yah, namanya pernikahan pasti tidak luput dari perdebatan yang menguras tenaga, pikiran dan emosi. Namun semua itu akan menjadi pembelajaran bersama untuk meningkatkan kualitas pemahaman satu sama lainnya.



"Selamat pagi, bisa Aku bicara denganmu?" Suara serak seakan tercekik menyapa gendang telinga mengalihkan perhatian semua orang, tapi Asma justru terdiam seketika.

__ADS_1


__ADS_2