
Suka, atau tidak. Bagas harus diam, ia mencoba mengembalikan mood shocknya untuk kembali normal. Apalagi langkah Rey semakin mendekati mereka. Entah apa maksud Asma dengan rahasia antara mereka. Mungkinkah gadis itu tahu, jika dirinya tengah mencoba mencari tahu akan sesuatu?
Jika bertanya pun. Apa Asma akan menjawab pertanyaannya? Lihat saja kejadian beberapa detik yang berlalu. Nyatanya langsung membungkamnya tanpa perlu banyak kata. Ketika keraguan itu datang menyapa, lagi. Apakah itu juga salah penilaian yang selama ini dia simpulkan?
Tidak tahu dan tidak paham dengan situasi yang ada. Pria itu berusaha bersikap normal yang akan menetralkan keadaan di sekitarnya. Biarlah kegundahan hati hanya untuknya seorang, sedangkan Asma dengan senang hati menerima ponsel dari Rey. Tidak ada yang mencurigakan.
"Mas, boleh izin pergi besok?" tanya Asma setelah memeriksa ponsel yang entah isinya apa.
Rey menatap sang istri. Ingin menolak langsung permintaan tersebut, tapi ia ingat istrinya juga membutuhkan hiburan di luar. Tanpa mengurangi kewaspadaan, di dekatinya tempat duduk Asma. Lalu menggenggam tangan yang dianggurkan tanpa pegangan.
"Katakan, mau belanja atau nonton?" Rey bertanya balik, membuat Asma paham atas ketidaknyamanan sang suami.
Pasti pria itu berpikir kepergiannya untuk mencari hiburan. Sayangnya bukan itu niat tujuan keluar dari rumah. Fay baru saja mengabarkan bahwa malam ini akan menginap di penginapan, maka mereka bisa melakukan pertemuan pada pagi hari.
Diletakkannya ponsel, lalu membalas genggaman tangan Rey dengan tatapan mata menenggelamkan diri menghangatkan emosi keduanya. "Mas, kami melakukan janji temu besok pagi. Aku, Fay dan De Naufal, kami bertiga. Syarat dari dede harus bertemu secara langsung. Jika ingin membiarkan Fay untuk menikmati liburan tanpa diawasi."
"Asma, berapa umur Fay? Apa dia anak kecil yang perlu dijaga segitunya?" Tanya Bagas dengan tatapan menelisik, ia berpikir kenapa seseorang dijaga sedemikian ketat.
Apalagi jika Fay bukan anak kecil, melainkan orang dewasa. Lagi pula, tidak mungkin sang adik berteman dengan anak di bawah umur, iya bukan? Jadi pertanyaannya bisa dikatakan sebagai sindiran tanpa kesengajaan, tetapi tak membuat Asma kehilangan ketenangannya.
Gadis itu justru menyerahkan ponselnya pada Rey. Dibiarkannya membaca riwayat pesan yang baru saja selesai membahas pertemuan esok. Bagas merasa terabaikan, sedangkan Rey hanya bisa menghela nafas panjang. Sadar tidak lagi memiliki alasan untuk menahan sang istri.
"Nando, bukankah besok ada rapat bersama dewan?" tanya Rey yang masih mengingat jadwal pekerjaan, meskipun banyak yang di handle Bagas. Tetap saja, beberapa dari rapat hanya bisa dihadiri olehnya saja sebagai pemilik perusahaan.
"Iya, pukul sembilan lebih dua puluh menit. Jadwal pertemuan di kantor, tapi sepertinya para dewan sudah bosan melakukan pertemuan di tempat yang sama." Jelas Bagas karena mengingat beberapa keluhan dari para dewan yang sengaja tidak disampaikan kepada Rey.
Asma masih menunggu izin. Rey mempertimbangkan situasi dan kondisi, sedangkan Bagas memilih sabar menikmati waktu yang terasa begitu lambat. Di hati mencoba tenang, sementara pikirannya masih bercampur aduk dengan kenyataan dan pernyataan.
"Baiklah." Rey angkat bicara setelah terdiam beberapa detik, "Pindahkan rapat di hotel Venus, dan pesankan dua tempat sekaligus. Satu untuk rapat dan satu lagi untuk Asma. Aku tidak bisa melepaskan salah satu tanggung jawab yang menjadi tugasku."
Hotel Venus, gedung pencakar langit yang memiliki fasilitas lengkap. Bisa disewa untuk kepentingan apapun. Keputusan telah dibuat. Tanggung jawab dan kewajiban bisa dijalankan secara bersamaan. Tidak ada yang diabaikan, apalagi dinomor satukan.
Setelah mendapat izin dan bonusnya. Ketiga insan itu kembali ke kamar masing-masing. Bagas masih sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di atas meja, sedangkan Rey harus memeriksa e-mail dari beberapa klien yang penting. Kesibukan kedua pria itu akan selalu sama. Namun, berbeda bagi Rey.
Tatapan matanya terus menerus melirik ke arah pantulan cermin yang menampilkan kesibukan Asma sibuk menatap botol-botol di atas meja rias. Botol parfum dan satu paket perawatan tubuh yang sengaja dipesankan oleh Bagas untuknya. Alibi untuk menyenangkan hati istri.
Ia saja tidak paham. Setiap botol apa kegunaannya, kecuali botol-botol yang ada di kamar mandi yang sengaja di hafalkan. Akan tetapi, ketika melihat Asma hanya membolak-balikan botol. Rasanya tak tega. Apa semua itu karena tulisan yang ada di botol adalah bahasa asing?
__ADS_1
Rey menyingkirkan laptop dari pangkuannya ke atas meja, lalu ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menghampiri wanitanya yang masih duduk dengan malas dan hanya memainkan botol. Suara langkah kaki pelan hingga tak mengalihkan perhatian sang istri.
Perlahan, tapi pasti menyentuh pundak wanitanya hingga membuat tatapan mata keduanya saling bertemu. "Mas, ngagetin aja. Udah selesai kerjanya?"
"Udah, apa yang kamu lakukan? Mau dibantu?" Rey menawarkan diri, namun tangannya semakin tak tentu arah.
Bukan mesum. Ketika seorang suami memiliki hasrat terhadap istrinya. Sah saja bukan? Perasaan itu mengalir begitu saja tanpa diminta. Yah, namanya juga lelaki normal. Apalagi dengan penampilan sang istri yang selalu sesuka hati.
"Mas!" Asma menahan tangan Rey yang mencoba untuk melakukan sesuatu, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Niat hati ingin melarikan diri, namun satu tarikan tangan menjatuhkannya pada pelukan yang mengunci tubuh. Hembusan nafas hangat menerpa bahu yang terekspos tanpa hambatan. Rey tak membiarkannya pergi begitu saja.
Sentuhan tangan kekar, tetapi penuh perasaan membawa kehangatan dalam kebersamaan. "Butterfly, kamu harus tanggung jawab."
Bisikan suara berat yang mengandung hasrat. Ia tahu, saat ini Rey mulai terpengaruh hormon yang akan membawa mereka ke mana. Akan tetapi, mengingat sang suami harusnya menyelesaikan pekerjaan. Sebab itu, ia berusaha menolak dengan halus.
"Mas? Aku ...," elak Asma berusaha melepaskan tangan yang terus membelit tubuhnya.
Menari dalam diam, tenggelam dalam pagutan yang menuntun. Tidak ada izin untuk menunda kepemilikan. Entah siapa yang semakin tergoda dalam hawa panas yang melanda. Tanpa menyia-nyiakan waktu, merampas hak dengan kenikmatan.
"Butterfly, bernafaslah." Bisik Rey setelah melepaskan bibir sang istri yang basah akibat ulahnya, tatapan mata kembali beradu. "Ada request mau seperti apa? Aku akan mencoba mewujudkannya."
"Mas, itu kan novel." Lirih Asma menundukkan pandangan matanya dengan rona pipi yang memerah.
Malu dengan pernyataan Rey. Bagaimana bisa suaminya itu menyebutkan salah satu adegan ranjang yang pernah ia jabarkan dalam novel. Sementara itu semua hanya halu semata, bahkan pria itu tidak tahu. Jika menulis part panas mengakibatkan demam sebagai hasil dari kehaluan.
Bukannya menyerah. Rey justru membimbing Asma untuk melakukan sesuai yang tidak terduga. Ingin menolak, tetapi melayani suami adalah kewajiban. Mencoba tenang di tengah kemelut hatinya. Suara sobekan kembali menyadarkannya ke dunia nyata.
Rey memang kuat sih, tapi dengan merusak pakaian malamnya sama saja membuang uang secara percuma. Di tengah kesibukan memikirkan apa yang terjadi. Sentuhan lembut menghentak dalam kepasrahan. Hati masih dilema, pikiran tetap terjaga, namun tubuh terus menerima.
Rey menghentikan pergerakannya, tangan yang masih mengunci tubuh sang istri dengan posesif. "Butterfly! Aku tidak akan memaksa, jika ....,"
"Bukan itu, Mas." Sela Asma buru-buru, ia tak mau membuat Rey merasa bersalah. "Aku hanya malu, lampunya menyala terang."
Entahlah, hanya itu yang ditemukan sebagai alibi. Untuk pertama kalinya, rasa takut hilang dari hatinya. Tidak lagi mengingat masa lalu, tetapi kini sentuhan Rey mengobati luka hatinya. Salahkah, menenggelamkan diri dalam cinta baru untuk melepaskan masa lalu?
Pernyataan Asma menghadirkan senyuman menawan yang tersungging menghiasi wajah Rey. Tak ingin memberikan ketegangan, pria itu mengambil remote control yang kebetulan ada di atas meja rias. Satu tombol ditekan mengubah penerangan kamar yang berubah temaram.
__ADS_1
Tidak ada lagi alasan, "Butterfly, bisakah aku mendapatkan asupan semangat darimu? Aku merindukanmu."
Entah keberanian dari mana, Asma menelusupkan kedua tangannya mengalungkan ke leher Rey. Lalu berbisik seraya mengusap tengkuk suaminya itu. "Aku rumahmu, tempat untukmu berpulang. Suamiku, Sayang."
Seketika terasa begitu dingin menyejukkan. AC di kamar saja kalah dinginnya, apalagi ketika sentuhan lembut menyapa meraup kehangatan mengalirkan sengatan listrik. Tidak ada kata selain meresapi kecupan manja yang pasti meninggalkan jejak kepemilikan.
Permainan kembali dimulai. Satu sentuhan sang istri melepaskan semua rasa cemas yang masih berpikir wanita itu menolak sentuhannya. Kini tidak lagi, direngkuhnya tubuh Asma untuk membawa harapan agar bisa disatukan. Temaram kamar yang mendukung dengan aroma parfum yang membius.
Rey tak kuasa menahan diri memulai perjalanan panjangnya. Seluruh emosi mulai berganti menjadi jejak cinta berteman rintihan malam. Semakin lama, rintihan berganti decakan peperangan. Deru nafas yang saling berebut menyita batasan. Hawa panas yang tak dihiraukan.
"Mas, tunggu!" Suara serak Asma menghentikan usaha Rey melakukan penyatuan, "Apa kamu ingin Aku segera hamil?"
"Butterfly, setiap hubungan rumah tangga pasti ingin memiliki keturunan. Begitu juga denganku, bukankah kita tengah berusaha mewujudkan impian itu?" tanya balik Rey yang ingin kembali merengkuh kenikmatan.
"Tunggu dulu, Mas. Aku punya pertanyaan lain," Sekali lagi Asma menahan pergerakan Rey, membuat pria itu mengalihkan perhatian seraya merayap mensejajarkan posisi keduanya. Tatapan mata saling beradu, "Mas, mau punya anak berapa?"
Ingin sekali menghilang bersama terpaan angin malam. Ditengah hasrat yang menggelora dengan kabut tak tertahankan. Asma menahan dirinya untuk pertanyaan yang bisa dibicarakan nanti, atau esok. Sepertinya ia harus memberikan hukuman yang setimpal.
"Aku mau sepuluh." Jawab Rey yang langsung merengkuh bibir sang istri agar berhenti bertanya, tangan yang sibuk memberikan permainan treatment terbaiknya.
Bukan lagi sentuhan lembut yang memanjakan. Kali ini, sentuhan di iringi tuntutan. Rey membimbing istrinya untuk ikut membalas serangannya. Semakin lama, keduanya mulai saling menyerang dalam kenikmatan hingga penyatuan sejenak menghentikannya.
"Pegang yang erat." Ditariknya kedua tangan Asma agar melingkar berpegangan pada punggungnya, lalu kembali menetralkan ketegangan dengan pagutan nan lembut menggairahkan bersama satu ayunan menerobos lembah tak bertuan. "Aku akan pelan, hmm."
Rey terus bergerak mengikuti irama hentakan. Sinar rembulan yang tertutup arak awan bersembunyi membiarkan kedua insan yang dimabuk kenikmatan melepaskan rindu dalam kenangan. Entah berapa lama hingga keduanya merasa cukup untuk menyerahkan diri dalam penyatuan.
Malam yang panas bersama peluh yang menyatu. Suara derit ranjang yang bergoyang meninggalkan jejak kepemilikan. Tak peduli tubuh yang meronta dalam kegelapan malam. Keduanya menghapuskan jarak, menyatukan asa. Berharap usaha tak sia-sia.
Rasa lelah yang mendera membawanya ke alam mimpi tanpa mempedulikan keadaannya yang polos, tetapi pergulatan panjang itu justru membuat Rey kembali segar. Ditariknya selimut yang terbengkalai selama olahraga, lalu menutupi tubuh keduanya.
Satu gerakan membawa Asma ke dalam pelukannya. "Terima kasih istriku. Menikah denganmu melengkapi hidupku. Hasrat terlarang yang selama ini ku rasakan, selalu ku singkirkan dan kini hasratku memiliki tempat berpulang. Emosiku luruh dalam penyatuan."
"Mas, tidurlah!" Dibiarkannya tangan kekar yang agak berat memeluk pinggangnya, "Jangan sampai adikmu bangun, dan aku kena hukuman lagi."
"Butterfly, kamu belum tidur?" tanya Rey memastikan dan langsung mendapatkan lirikan tajam dari sang istri. "Mau lagi?"
Tawaran yang tidak mengenakkan. Tubuhnya saja hampir tidak kuat digerakkan, Rey justru tersenyum nakal seraya memainkan jemari di atas perutnya. Benar-benar menyesatkan. Tak ingin menambah panjang durasi, buru-buru ia memejamkan mata kembali.
__ADS_1
Tawa kecil yang menggemaskan, ia tahu suaminya itu tidak bisa dikendalikan. Biarlah malam ini berlalu tanpa harus menambah waktu begadangnya. Esok harus bangun dengan keadaan sehat dan segar. Yah harus itu.