Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 12: Pencarian Kebenaran


__ADS_3

"Nak, maaf adanya teh hangat. Kebetulan airnya baru masak." Ibu Zulaikha meletakkan nampan, lalu mengangkat secangkir teh yang mengepulkan asap putih. Kemudian, menyodorkan ke Rey, "Silahkan di cicipi, selagi masih hangat."


Rey mengangguk, sebagai tamu mencoba menghargai pelayanan dari tuan rumah yang ramah. Setelah menyeruput teh, cangkir diletakkan ke atas karpet. Lalu mengatur emosinya agar tetap tenang. Tanpa mengurangi rasa hormat, pria itu memulai obrolan.


"Maaf sebelumnya, Bu. Kedatangan saya pasti mengganggu waktu pagi yang seharusnya untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga," Rey menahan nafasnya, antara iya dan tidak untuk melanjutkan apa yang ada di dalam pikiran.


Tatapan mata Ibu Zulaikha begitu intens. Wanita paruh baya itu menanti apa kelanjutan dari niat sang tamu. Seorang pemuda datang di pagi buta, bahkan tanpa persiapan apapun. Ingatannya masih sangat baik. Pemuda itu pasti belum pulang, apalagi untuk membersihkan diri.


"Nak!" Panggil Ibu Zulaikha membuat Rey mendongak membalas tatapan wanita itu begitu dalam, "Apa yang terjadi? Apa putri ku melakukan sesuatu."


Rey menggelengkan kepala, "Tidak, Bu. Saya ingin tahu, apakah benar? Jika, putri ibu sudah memiliki calon suami. Tadi setelah sholat di mushola, Bapak takmir mengatakan demikian."


Ibu Zulaikha terkesiap dengan pertanyaan pemuda di depannya. Orang-orang di sekitar rumahnya memang tahu, jika putrinya sudah ada yang meminang. Akan tetapi, hubungan itu sudah berakhir sejak setahun lalu. Sejak sang putri merasa tidak sanggup bertahan dalam hubungan sepihak.


Sebagai seorang ibu. Tidak ingin memaksakan hubungan yang hanya diselimuti tekanan batin. Apapun keputusan Asma, tentu sudah dipikirkan secara matang. Gadis itu sudah dewasa, tahu mana yang baik dan tidak untuk masa depannya nanti.


"Pak takmir memang benar, tapi itu setahun lalu. Sekarang tidak lagi." Ibu Zulaikha menatap keluar, halaman rumah yang terpampang jelas di depan mata. Tatapan matanya sendu mengkhawatirkan masa depan sang putri. "Asma memang gadis yang pendiam, dan tidak bergaul dengan banyak teman."


Perlahan, tapi pasti. Ibu Zulaikha menceritakan garis besar tentang putrinya, dari kebiasaan yang akan selalu menjadi kebersamaan di antara ibu dan anak. Rey mendengarkan dengan seksama. Sesekali ikut tersenyum kecil, ketika melihat senyuman yang menghiasi wajah ibunya Asma.


Kisah yang membawanya ke dalam emosi baru. Ia tak menyangka. Sikap dingin Asma bisa sehangat itu, hingga selalu memberikan kebahagiaan sederhana pada wanita yang telah melahirkannya. Tanpa sadar, hatinya ikut tenggelam seakan mendapatkan perhatian yang tak pernah ia bayangkan.


Tidak terasa, hampir dua puluh menit. Ibu Zulaikha menceritakan kehidupan keluarga kecilnya, hingga terdengar laungan salam dari arah pintu yang membuat semuanya terhenti. Lalu serempak menjawab salam. Ternyata Asma kembali pulang, setelah lari pagi.

__ADS_1


"Ndu, ada tamu. Temenin ya, ibu mau lanjut masak." Pamit Ibu yang berniat bangkit, tetapi Asma menahan Sang ibu dengan jawabannya.


"Aku yang lanjutin masak, Bu." jawab Asma tanpa permisi berjalan melewati ruang tamu, sekilas Rey melirik ke arahnya.


Entah kenapa pria itu masih disini. Apakah penjelasannya kurang jelas, atau kurang bisa dipahami? Sudahlah. Lebih baik menyelesaikan masakan yang sudah disiapkan ibu di dapur. Kepergian gadis itu, membuat Rey kikuk. Rupanya ia terlalu lama bertamu, sampai tidak sadar tentang si gadis desa.


"Begitulah, putriku. Siapa yang tahan dengan gadis pendiam seperti itu? Hehehe." Ibu Zulaikha tak mau mempermasalahkan hal yang biasa terjadi, "Minum lagi, Nak. Ibu tinggal sebentar ke dalam buat bangunin bapak. Udah pagi gini, masih tidur."


Rey ditinggal sendirian, dari arah ruang tamu. Pria itu bisa mendengar apa saja yang terjadi di balik gorden. Obrolan singkat ibu dan anak, lalu terdengar Ibu Zulaikha tengah membangunkan suaminya dengan bahasa Jawa. Rumah yang sederhana dengan desain lama.


Entah bagaimana kehidupan Asma selama ini? Apakah baik atau dipenuhi liku kehidupan. Sibuk merenung, seraya mengedarkan pandangan hingga matanya terpatri pada lukisan tangan yang terpajang di dinding sisi timur. Lukisan bunga dengan dua kupu-kupu. Indah walau hanya menggunakan dua warna merah dan hijau.


Ditengah kesibukan melamun dalam kesendirian. Rey tersadar, kenapa dia harus melakukan semua itu? Apa manfaatnya? Setiap pertanyaan kembali pada hati dan pikiran. Semua yang dilakukannya. Demi apa?


"Jadi, apakah sekarang sudah ada yang melamar putri bapak?" tanya Rey begitu hati-hati, Ayah Rasyid menggelengkan kepala lemas.


"Jangankan melamar, keluar bersama teman pria saja. Anak itu tidak suka. Seharian sibuk nulis, main bareng temen sekolah yang dulu saja. Bisa dihitung setahun sekali, itupun kalau lagi pada pulang kampung." Jawab Ayah Rasyid menghela nafas panjang, beban berat yang dia rasakan terus menggantung di kedua pundaknya.


Rey memejamkan mata, kini ia tahu. Kenapa takdir membawanya ke rumah ini, tapi tak ingin buru-buru memutuskan langkah selanjutnya. Setelah mendapatkan penjelasan dari Ibu Zulaikha dan Ayah Rasyid. Hatinya menyadari, jika Asma hanya menjaga diri untuk tetap menjadi pribadinya sendiri.


Siluet sinar mentari mulai menerobos masuk melewati celah jendela. Seperti sinar harapan baru yang akan menunjukkan jalan kebahagiaan. Rey tak ingin mengganggu waktu keluarga Asma lebih banyak lagi. Pemuda itu berpamitan, walau dilarang dan diminta untuk menunggu sarapan bersama. Tetap ia tolak dengan halus.


Langkah kakinya menjauh dari rumah Asma, tatapan mata yang tak lagi menoleh ke belakang. Ketidakhadiran Asma yang melepaskan kepergiannya. Sudah cukup menjelaskan, jika gadis itu serius dengan permintaan yang semalam. Entah apa yang akan dipikirkan Bagas nanti.

__ADS_1


Rasa lelah yang mendera, tak lagi bisa dirasakan. Rey menyetir menyusuri jalanan pedesaan. Kini tujuannya kembali ke hotel untuk membicarakan segala sesuatu bersama Bagas. Ada yang mengusik hati dan pikirannya. Semua itu hanya karena satu nama, yaitu Asma si gadis desa.


Waktu berlalu begitu cepat. Kehidupan Asma kembali normal selama satu minggu terakhir. Tidak ada yang bertanya tentang hati dan juga emosinya. Kesibukan dengan rutinitas keseharian yang sama. Tentu saja berteman dengan banyak orang di dunia perhaluan.


Seperti hari ini, gadis itu tengah duduk sembari mendengarkan musik melalui headphone yang selalu menutupi kedua telinganya. Setelah menulis dua ribu kata. Barulah mengupload bab novel di karya yang dibuatnya. Sebuah aplikasi novel online menjadi hobby.


Dari aplikasi itu juga, Asma mendapatkan teman yang telah ia anggap sebagai adik dan lain sebagainya. Walau di dunia nyata begitu acuh, nyatanya sangat humble di dunia halu. Ironis, tetapi lebih baik.


"Akhirnya, tamat sudah. Bisa rehat sebentar, kopi enak kayanya." Gumamnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi favoritnya.


.


.


.


.


Happy reading readers.


Novel kali ini, memng alur lambat karena othor ingin menghayati setiap partnya 🤭


Jangan lupa jejak kalian ya😍

__ADS_1


__ADS_2