
Khayalan itu selalu indah. Seperti menyentuh langit dari bumi yang terlihat mustahil tapi tergapai tanpa harus bersusah diri. Semua itu hanya karena pikiran yang melalang buana atau biasa disebut lamunan tingkat dewa. Tidak peduli fakta di kehidupan nyata tetapi bermain angan tak berkepemilikan.
Tak ingin larut dalam impian semu. Pria itu memilih beristirahat sejenak sebelum mencari makanan. Tubuh juga membutuhkan istirahat. Apalagi setelah beberapa hari lembur dengan persiapan launching produk baru. Ia baru memiliki waktu untuk memperdulikan diri sendiri.
Ranjang yang lembut berubah menjadi haluan kapan mimpi indah. Melepaskan seluruh beban pikiran yang membelenggu serta tanggung jawab di pundaknya. Sayup-sayup suara musik mulai meredup menghantarkan ketenangan tuk berlayar ke dalam buih alam bawah sadar.
Awan nan temaram bergelung menghiasi langit berselimut kegelapan. Pandangan mata menelusuri sekelilingnya tetapi hanya ada kesunyian hingga dari arah jauh terdengar suara langkah kaki yang berjalan semakin mendekat. Semerbak aroma parfum tercium begitu memabukkan.
"Siapa kamu?" tanyanya ketika melihat seseorang berdiri dengan jarak pandang cukup tetapi kabut putih menghalau pandangannya. "Majulah! Aku ingin melihatmu."
Sepoi angin yang berembus memudarkan kabut putih. Perlahan ia bisa melihat helai rambut panjang berwarna hitam, seulas senyum di bibir mungil nan pucat, hidung khas Jawa, kelopak mata kecil dengan mata sipit, alis tipis melengkung bak bulan sabit.
Deg. Debaran di hati tak memungkiri rasa yang ia sendiri tidak pahami. Kenapa hati merasa begitu ingin mendekati sang gadis yang berdiri diam tanpa kata menatap ke arahnya dengan tatapan mata sendu. Tiba-tiba terdengar suara lain dari arah berlawanan.
Suara seruan yang bersambut tubuh melayang jatuh terhempas ke depan. Di depan mata kepalanya sendiri, warna merah dari mengalir deras membasahi kepala gadis itu. Wajah yang meneduhkan menyentak kesadarannya. Tubuh jatuh terkulai lemas dengan merengkuh tubuh yang lemah tak berdaya.
"Hei, bangun! Jangan tutup matamu." pintanya seraya menepuk pipi yang terasa begitu dingin. Kenapa gadis itu masih sempat tersenyum ketika keadaan sudah tidak baik. "Bangunlah! Aku ...,"
"Terima kasih." ucap lirih bibir pucat dengan kesadaran yang meredup tak ingin bertahan lebih lama lagi, membuat pria itu kelabakan mencari pertolongan meski tak seorangpun akan menolongnya.
"Asma!" Tubuh tersentak melonjak bangun dengan detak jantung tak beraturan. Diambilnya gelas air putih dari atas nakas, lalu meneguk tanpa menyisakan setetes pun. "ASTAGHFIRULLAH, aku hanya mimpi. Kenapa jam segini mimpi buruk? Ya Allah, dimanapun gadis itu lindungilah. Hamba berserah diri pada-Mu."
Dilihatnya jam di dinding. Tatapan mata mengerjap mencoba memastikan penglihatannya tidak salah bahkan ia juga memeriksa ponsel yang sengaja di charge tanpa dimatikan dayanya. Benar sekarang sudah pukul dua belas siang kurang sepuluh menit. Perasaan takut seakan menjadi alarm pengingat.
Tanpa ingin berpikir lebih jauh lagi. Ia memeriksa penerbangan kembali ke Indonesia. Suasana hati sudah buruk dan tidak mungkin melanjutkan rencana awal ketika ketenangan jiwa lenyap ditelan kekhawatiran. Bisa saja menelepon anak buah, lalu memberi perintah untuk menjaga gadis yang merenggut alam mimpinya.
Namun, hati dan pikiran akan terus berkelana ke jalan tak tentu arah. Maka ia memutuskan untuk memesan tiket kembali ke Indonesia serta meminta orang lain untuk pergi ke London agar mewakilinya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia beranjak dari tempat tidur. Lalu bersiap untuk kembali ke bandara.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian. Tatapan matanya terus menatap ke luar jendela menatap orang-orang serta kendaraan lain yang ada di luar sana. Saat ini perjalanan menuju bandara dari hotel sudah dimulai. Hati kian tak tenang ketika memasuki wilayah yang cukup banyak kendaraan melaju dengan kencang.
Hatinya was-was dengan harapan tidak terjadi apapun pada gadis yang berhasil mencuri ketenangannya. "Pak, bisa lebih cepat lagi? Aku tidak mau terlambat dan melewati penerbangan." Suara parau yang terdengar begitu tegas tetapi menahan emosi.
Jujur saja firasatnya benar-benar buruk. Entah kenapa setelah mendapat mimpi yang masih saja terbayang di depan mata. Ia tak bisa bernapas dengan tenang. Satu hal yang dirinya mau yaitu melihat si gadis baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apapun.
Tak terasa perjalanan hampir mendekati bandara tetapi laju mobil semakin pelan di saat ingin buru-buru. Kenapa justru menyetir mobil seperti siput? Tanda tanya itu mengalihkan perhatiannya tepat dengan pemberhentian seorang opsir negara yang tengah mengatur lalu lintas.
"Ada apa di depan?" tanyanya yang kurang memahami bahasa wilayah setempat, membuat pak sopir menoleh kebelakang.
"Maaf, Tuan. Di depan terjadi kecelakaan beruntun dan jalanan sementara waktu akan dialihkan menjadi satu jalur. Jadi kita harus bergerak perlahan." jelas Pak Sopir menggunakan bahasa Inggris agar pelanggannya memahami maksudnya.
Mobil melaju dengan kecepatan begitu pelan. Sehingga membuat si pria tidak sabaran, sedangkan jarak bandara bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tanpa pikir panjang, ia meminta pak sopir menepi daripada melanjutkan perjalanannya. Tak lupa membayar dengan jumlah lebih seperti biasa.
Dari arah trotoar hanya terlihat kemacetan sehingga asap dari beberapa mobil yang mengalami kecelakaan menghalau jarak pandang. Semakin maju ke depan, justru hati tak tenang. Entah kenapa hati ingin melihat siapa saja yang mengalami kecelakaan. Langkah kaki turun ke jalan utama.
Barisan korban kecelakaan beruntun sudah dikeluarkan dari mobil masing-masing. Luka yang di alami sangat serius bahkan ada yang terlihat sudah meninggal di tempat. Bagaimana tidak? Kecelakaan itu benar-benar fatal dengan hasil akhir cukup mengerikan.
"Asma!" Panggilnya dengan suara gemetar, tak tau lagi harus bagaimana. Langkah kaki berjalan cepat menghampiri gadis yang berada paling ujung.
Tubuh dengan yang berlumuran darah berpindah ke pangkuannya. Jujur saja sakit tak tertahan menyergap hati. Melihat Asma yang memejamkan mata, bibir pucat. Tentu ia semakin khawatir dan tanpa permisi membawa seorang korban.
Tindakannya bahkan seperti tak nampak karena orang-orang masih disibukkan dengan fokus lain. Akan tetapi langkah pria itu sudah menjauh dari lokasi bahkan berhasil menghentikan mobil lain yang juga taxi. Perlahan masuk ke dalam dengan menahan luka di kepala Asma.
"Pak, antar aku ke rumah sakit terdekat!" titahnya tanpa menatap sopir yang ada di depan.
Laju mobil yang terbebas dari kemacetan itu meninggalkan area wilayah dekat bandara. Perjalanan kilat yang diharapkan mengurangi kecemasan nyatanya tak mengubah rasa takut kehilangan. Sebuah rumah sakit kecil menjadi tujuan sang sopir. Pria paruh baya yang sebenarnya tidak paham bahasa Inggris tapi hanya membaca insting situasi saja.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan rumah sakit bahkan sopir langsung turun memanggil team medis yang bergerak cepat membantu pasien agar segera mendapatkan perawatan yang terbaik. Kondisi pasien yang semakin melemah membuat dokter meminta sang penanggung jawab untuk mengisi formalitas.
"Aku tidak tahu apapun tentangmu, lalu bagaimana ini?" Termenung sesaat tapi jika terlalu lama berpikir maka operasi tidak bisa dilakukan. "Sudahlah, aku akan bertanggung jawab jadi gunakan namaku saja."
Diambilnya pulpen yang sudah terbuka, lalu mulai menuliskan tanggal serta beberapa syarat dan ketentuan rumah sakit yang berlaku. Biasanya formulir akan diisi nama terlebih dahulu tetapi dia sengaja menulis di akhir dengan harapan memiliki jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Mrs. Asma Kendrick Al Zafran." gumamnya seraya menghela napas pelan.
Apa kata dunia? Ia tak peduli karena saat ini yang terpenting hanyalah keselamatan Asma. Gadis itu harus memiliki kehidupan yang bahagia. Di tengah rasa khawatir yang melanda memporak-porandakan hati dan pikiran. Masih saja banyak pertanyaan yang bermunculan. Seperti bagaimana gadis itu bisa di negera Kashmir?
Apa semua hanya kebetulan atau takdir? Pertama ia salah penerbangan, lalu terjebak karena tidak ada tiket yang tersedia, kemudian mimpi buruk yang berujung pada kenyataan. Benar-benar tidak masuk akal tetapi begitulah yang terjadi. Takdir memberi kesempatan untuk pertemuan kedua dengan cara tak biasa.
Ruang operasi terus menyala selama kurang lebih enam jam. Selama itu pula Al hanya duduk termenung di kursi depan ruang yang kini menjadi tempat Asma berjuang. Ikatan apa yang dimiliki mereka berdua? Ia pun tak bisa memahami tetapi Allah ingin mereka dipersatukan dalam suatu peristiwa yang akan selalu dikenang.
Sementara di sisi lain. Suara teriakan bergema memenuhi alam semesta. Betapa hancur hatinya karena tak seorangpun melihat keberadaan sang istri yang ia tahu sudah tidak sadarkan diri karena terluka lebih parah darinya. Niat hati ingin mengambil air untuk menyadarkan Asma tapi begitu kembali justru tubuh wanitanya tidak ditemukan.
"Tuan, ayo kita ke rumah sakit. Luka di punggung Anda harus segera mendapatkan perawatan." Amir mencoba untuk membujuk Rey tetapi justru ditepis kasar.
Takdir itu selalu seperti puzzle. Terlihat nyata untuk diterka meski kenyatannya tak semudah itu. Seperti kehidupan yang selalu tentang pertemuan dan juga perpisahan. Hari kelam menjadi milik Reyhan Aditya. Seorang suami yang kehilangan istri tercintanya karena kecelakaan mobil yang dialami secara tak sengaja.
Embusan semilir angin kian menyebarkan rasa sedih tak bertuan. Sebagai kisah penantian panjang dalam pertemuan cinta sejati. Perpisahan itu nyata menyayat hati hingga menghancurkan emosi dijiwa. Derap langkah kaki menyongsong masa depan dalam kesendirian tak mampu terelakkan.
.
.
.
__ADS_1
Assalamu'alaikum, reader's. Novel ini akan di lanjut sequel ke-dua bulan Mei. Othoor sudah mempertimbangkan agar membagi waktu dan memberikan yang terbaik. 🙏
😇 Thank's for all support, see the next chapter in new novel.