Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 100: Konsekuensi? Persetujuan


__ADS_3

Setiap kali tantangan terdengar menyentak kesadaran. Darah mengalir berdesir menyebarkan kehangatan, membuat Bintang belajar cara melayani seorang pria dewasa. Sentuhan yang terasa aneh semakin memporak-porandakan ketenangan yang tersisa.


Andreas menikmati cara Bintang yang kaku. Tangannya sesekali membenarkan pergerakan gadis belia itu hingga perjalanan terus menunjukkan peningkatan. Awalnya seperti tengah di permainan, membuat jiwa nakalnya meronta. Namun, ia tak ingin buru-buru mendapatkan kepuasan.


"Tuan, sudah ya," Napas terengah-engah dengan tubuh bermandikan peluh. Lelah yang terasa seperti baru saja naik tangga lima lantai, rasanya tidak enak. "Beneran capek."


Keluhan si gadis belia, membuat Andreas tak kuasa menahan tawanya. Ternyata Bintang hanya penasaran tanpa tahu apa yang dia lakukan, meski keduanya sudah melepaskan semua benang penghalang. Tetap saja tidak mempengaruhi akal yang bisa mengacaukan pikiran.


"Apa kamu tahu konsekuensi menyerah di tengah permainan?" bisik Andreas yang sengaja meniupkan hawa panas di tengkuk Bintang.


Bukannya memahami hasrat yang terpancar di matanya. Gadis itu justru mendorong tubuhnya agar menyingkir, lalu menghirup oksigen sebanyak mungkin. Seakan jejak kebersamaan hanyalah merenggut kebebasan. Tak ingin menjadi seorang pemaksa, maka membiarkan Bintang untuk melepaskan diri.


"Tuan lanjutkan saja dengan mbaknya," Langkah kaki turun meninggalkan ranjang membuat Andreas tercengang. "Udah jam makan siang, Aku harus balik ke rumah sakit. Permisi, Tuan."


Ia pikir mendapatkan kelinci percobaan, ternyata justru berakhir dirinya yang dijadikan tumbal. Setengah sentuhan, lalu ditinggal begitu saja. Bisa saja menarik gadis itu kembali untuk melayani dirinya, hanya saja akan berakibat fatal. Kedatangannya bukan untuk membuat masalah.


Ketidakberuntungan Andreas hanya karena Bintang, sedangkan di sisi lain perdebatan serius menciptakan ketegangan. Ekspresi wajah yang sama-sama ingin di dengarkan, tetapi emosi masih tertahan. Bagaimana tidak menunjukkan penolakan? Ketika pengajuan syarat kebebasan semakin diperketat.

__ADS_1


"Permisi, Tuan, Nona." Bibi membawa nampan yang berisi minuman segar, jus jeruk dengan warna kuning yang menyejukkan. Satu persatu gelas diletakkan ke atas meja, dimana ke empat orang masih saling pandang. ''Silahkan dinikmati, Bibi kembali ke belakang."


Suara langkah kaki yang menjauh mengembalikan topik pembicaraan. Kali membiarkan penjelasan dari masing-masing pihak dan dimulai dari Fay. Gadis itu menyampaikan tujuannya pada Nau. Dimana ia sudah menandatangani kontrak kerjasama yang tidak bisa diputus begitu saja.


Pemuda yang selalu santai dalam bersikap, nyatanya hari ini menunjukkan sisi tegas yang menyadarkan orang-orang di sekitarnya. Dia bukan untuk dipermainkan. Geram dan kesal, tetapi melihat tekad sang kakak sepupu. Jujur saja hati luluh, permasalahan tidak akan sederhana karena memerlukan restu orang tua.


"Gue nyerah," Nau mengangkat tangan, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. "Loe bukan anak kecil yang harus slalu diingatkan, tapi gue minta satu hal aja. Bekerjalah tanpa paksaan, selebihnya terserah mau kek gimana."


"Thanks ya, Nau. Loe mau ngerti posisiku sekarang. Huft, lega rasanya tapi gimana ama ortu ya? Pasti mami gak izinin kerja disini." Dilema akan harapan yang semakin menipis. Untuk meyakinkan Nau bukanlah sulit, sayangnya berbeda dengan orang tua yang selalu memberikan pagar pembatas.


"Kapan kamu selesai tugas, De?" Asma menyahut tanpa permisi, membuat kedua bersaudara saling pandang. "Masalah hanya bisa diatasi ketika kita yakin. Entah kita harus datang ke rumah atau ortu kalian yang datang kesini. Jadi pilih saja, kalian mau yang mana."


Orang tua terbiasa untuk mengayomi anak-anak mereka bahkan mengabaikan kesalahan anak karena rasa cinta mereka yang lebih besar. Meskipun begitu, orang tua akan selalu berdiri di garda terdepan agar tak seorangpun bisa melukai anak mereka. Begitulah orang tua.


"Ka, apa itu efektif? Kakak tahu 'kan mami gimana." ucap Fay begitu lirih, gadis itu merasa tidak ada gunanya untuk membujuk orang tua.


Pandangan mata yang menunduk dengan tangan saling bertautan. Kegelisahan yang menyebar, membawa keraguan. Ada rasa takut yang tenggelam dalam pasrah. Boleh saja pintar berdebat bahkan menjadi pemenangnya. Akan tetapi, semua keahlian itu hanya berlaku untuk orang lain.

__ADS_1


Seulas senyum tipis menghiasi wajah, sikap pesimis Fay harus disingkirkan. "Kita belum mencoba 'kan? Pekerjaan bisa di dapat dimana saja, tetapi tidak dengan kesempatan. Jangan lupakan bahwa mami juga seorang wanita. Banyak jalan untuk meluluhkan hati orang tua. Ayo, kita lakukan bersama-sama!"


Nau paham benar, bagaimana Fay yang terbiasa dikekang. Lalu untuk pertama kalinya menginginkan kebebasan mutlak. Sementara dunia tetap sama hanya tentang larangan ini dan itu. Berbeda dengan kehidupannya yang jauh lebih bebas. Pada akhirnya ia tak tahan melihat kesedihan di wajah sang kakak sepupu.


"Baiklah, katakan dalam rangka apa aku harus mengundang kedua orang tua Fay?" tanya Nau tanpa ragu, membuat kakak sepupunya langsung mendongak menatapnya. "Aku bisa lakukan apapun untuk kebahagiaan saudariku karena kamu pantas mendapat yang terbaik dalam kehidupan ini."


Ikatan yang mengharukan. Persetujuan Nau mengubah arah haluan. Apapun yang akan terjadi, maka mereka siap untuk menghadapi bersama-sama dengan niat saling mensupport satu sama lain. Terkadang ikatan bukan hanya kata yang menetapkan keyakinan, melainkan cobaan yang menguatkan. Satu harapan sudah cukup menjadi alasan.


"Telfon orang tua kalian! Aku sendiri yang akan mengundang mereka." Rey menengahi perdebatan agar masalah segera bisa selesai, di antara ke empat orang itu, memang hanya dirinya yang terbiasa bernegosiasi tentang bisnis. Keahlian yang tidak bisa diremehkan.


Sedikit keraguan terselip menelusup ke dalam hati, akan tetapi tak ingin mengubah keputusan yang bisa menyakiti perasaan sang kakak sepupu. Nau melakukan permintaan Reyhan untuk menghubungi kedua orang tua, ponsel yang beralih ke tangan suami kakak onlinenya dibiarkan. Pria itu menyingkir melakukan tugas yang tidak bisa dilakukan seorang diri.


Kini yang tertinggal hanya mereka bertiga. Segelas jus menjadi pelampiasan ketegangan yang bercampur was-was. Ada rasa ingin menguping pembicaraan antara Rey dan orang tua mereka, sayangnya tatapan sang kakak semakin intens ke arahnya. Sadar benar akan peringatan agar diam ditempat.


Sepuluh menit berlalu, tapi Rey belum kembali. Sebenarnya kemana pria itu? Tumben saja, pria itu tidak buru-buru untuk mendekati istrinya yang selalu seperti madu. Penantian yang semakin meresahkan, rasa sabar yang selama ini sudah dilatih dengan baik. Tiba-tiba saja tidak bekerja sebagaimana mestinya.


"Fay, calm down! Semua akan baik, jika juta positif thinking. Right?" ujar Asma memainkan jus yang ada ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2