Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 50: HUKUMAN


__ADS_3

Kepergian Bagas, mendadak hatinya berdenyut. Rasanya seperti akan menjalani ujian pertama sekolah. Padahal selama memeriksa file pekerjaan, tidak ada kecemasan sedikitpun. Hati terasa gamam, tetapi ia tetap beranjak dari tempatnya. Sekali lagi mencoba untuk membujuk sang istri.


Kali ini, tidak mengetuk pintu. Diputarnya knop dan ternyata tidak dikunci. Benar-benar speechless. Ia pikir, Asma seperti wanita lain yang akan ngambek dengan mengurung diri di kamar. Pikiran spontan yang lazim, tetapi menyesatkan. Pria itu mengira, semua wanita memiliki cara ngambek yang sama.


Perlahan mendorong pintu seraya mengedarkan pandangannya. Kondisi kamar begitu terang, bahkan kedua lampu dengan fungsi berbeda tetap menyala secara bersamaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Setahunya, Asma tidak suka suasana yang begitu menyilaukan mata.


Namun, setelah melihat seluruh penjuru kamar. Tidak nampak keberadaan sang istri hingga tatapannya teralihkan ke arah pintu balkon yang terbuka dengan tirai jendela yang menari meliuk mengikuti arah hembusan angin. Langkah kaki bergegas mendekati pintu kaca yang memperlihatkan keadaan di luar sana.


Dimana Asma duduk bersandar di ayunan dengan kesibukannya berselancar di dunia maya sembari menikmati udara malam yang berdendang dengan suara musik miliknya seorang. Tentu yang tahu musik jenis apa. Hanya gadis itu, telinganya terbiasa menjadi tempat persemayaman earphones bluetooth.


"Kenapa di luar? Cuaca mulai beralih ke musim dingin." Gumam Rey meletakkan mie ayam ke atas meja kaca, lalu beralih berjalan menghampiri ranjang. Diambilnya selimut nan tebal, "Jika sakit, siapa yang akan tersiksa? Ibu bener, putrinya memang tidak mudah untuk ditebak."


Tak menunggu lama, Rey keluar meninggalkan kamar. Suara langkah kaki terdengar begitu tegas menyapa malam, tetapi tidak mengusik kedamaian sang istri. Langkahnya semakin mengikis jarak keduanya hingga menyisakan beberapa jengkal saja. Di saat bersamaan, Asma beranjak mengubah posisi duduknya.


"Mas, mau disini?" tanya gadis itu dengan nada yang masih kesal, seketika menghentikan langkah Rey. "Aku permisi, ngantuk."


Sikap yang tidak bisa dikendalikan. Sepertinya, Asma benar-benar kesal karena masalah mie ayam. Gadis itu pun tidak berniat untuk bersikap sesuka hati, tapi entah kenapa moodnya seperti dipermainkan. Panas dan dingin bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Rey tertegun, baru saja berniat baik. Sudah gagal sebelum dimulai. Ingin menyusul langkah sang istri, tapi bagaimana jika gadis itu malah keluar kamar? Sebaiknya menunggu agar suasana hati mereda. Maka dengan terpaksa, ia duduk menggantikan Asma.


Sembari memeluk selimut yang ia bawa. Sejenak melepaskan rasa hati dengan sesak di dada agar bisa kembali tenang. Entah sudah berapa lama terdiam dengan posisinya hingga aroma harum makanan menggelitik indra penciumannya. Aroma itu berasal dari dalam kamar.


Pikirannya sudah melayang, ia bergegas kembali ke kamar meninggalkan balkon. Sayangnya, sekali lagi hanya bisa tertegun dengan tindakan sang istri. Ia pikir, Asma akan memakan mie ayam. Ternyata tidak. Justru mie ayam yang dingin sudah kembali panas. Itu terlihat dari kepulan asap putih yang membumbung menyebarkan aroma harum nikmat.


Secarik noted tertindih sendok bersih. Tulisan rapi yang memintanya untuk menghabiskan makan malam tanpa gangguan. Jika istrinya menghangatkan makanan. Jadi, sekarang dimana gadis itu berada? Kamar mereka benar-benar kosong. Satu hal pasti, Sang istri pasti berada disekitarnya.


Benar. Asma memang tidak jauh dari kamarnya. Namun, bukan di dalam, melainkan tengah duduk di tangga menikmati ice cream yang menjadi incarannya. Tidak mendapat mie ayam. It's okay, tapi sebelum di larang makan yang lain. Lebih baik bertindak cepat. Rey bisa menikmati rasa pedas, dan rasa manis hanya untuknya. Tidak jahil bukan?


Sebenarnya sedikit karena saat menghangatkan mie ayam menggunakan microwave. Sesendok sambal ditambahkan sebagai bonusnya dan bisa dikatakan sebagai hukuman. Tidak tahu, apakah mie ayam itu akan ludes atau sama sekali tak tersentuh. Beberapa saat menunggu reaksi dari sang suami hingga rasa bersalah datang menghampiri. Tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Semakin lama diam, hatinya merasa tidak enak. Seperti ada yang salah, tapi apa? Ditengah rasa tak nyamannya. Ia beranjak dari posisi duduk terbaik, lalu berjalan kembali ke kamar dengan sebox ice cream yang hanya menyisakan setengah bagian. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Rey. Tatapan matanya terpatri pada mata coklat yang mengintip dari celah pintu yang tidak seberapa.


"Tidak baik berdiri di depan pintu. Masuk! Ini sudah malam, Asma." ucap Rey tetap melanjutkan suapan mie ayam yang begitu pedas, bahkan wajahnya langsung memerah dengan bibir menikmati sensasi panas yang tidak pernah dirasakannya.


Bukannya membenci pedas, tetapi sejak kecil memang tidak begitu menyukai makanan yang pedas. Apalagi pedas yang luar biasa. Tidak terbayangkan, bagaimana jika Asma yang memakan mie ayam itu. Bisa saja masuk rumah sakit. Lagian, kenapa setiap pemilik usaha makanan harus menyediakan sambel? Sudah tahu, salah satu penyebab maag kambuh adalah makanan pedas.

__ADS_1


Asma menutup pintu, sekaligus langsung menguncinya. Lalu berbalik dengan langkah kaki berjalan mendekati Rey yang duduk di sofa. Sesaat mengamati cara makan pria itu. Jelas sekali dipaksakan. Dia yang jahat atau Rey yang terlalu penurut? Siapapun akan tahu, jika ekspresi dari hasil kejahilannya adalah berbahaya.


Sungguh tidak tega. Mie ayam yang hampir habis setengah dari mangkuk. Jika sesuai dengan perhitungan, maka tiga suap lagi. Rey pasti kelabakan. Meskipun masih belum mencicipi seberapa pedas mie tersebut. Tetap saja, ia tak bisa melihat semua itu trus berlangsung. Tanpa permisi dihentikannya gerakan tangan yang siap menyendok mie sekali lagi.


Kemudian, membuka kotak ice cream. Kali ini, tidak harus menjelaskan apapun. Tangannya yang terulur dengan sesendok ice cream menyegarkan sudah cukup menjadi penjelasan. Sesaat rasa bersalahnya memudar begitu suapan ice cream diterima suaminya.


"Syukurlah, wajahnya sudah kembali normal." gumam Asma setelah memberikan beberapa suap ice cream yang mendinginkan lidah, dan perut suaminya. "Ambillah! Aku akan tidur."


Kotak ice cream diletakkan ke atas meja dengan maksud agar suaminya melanjutkan makan sendiri, sedangkan ia beranjak dari tempat duduknya. Meski rasa kantuk belum menyapa. Perasaan yang bersemayam masih sedikit kesal. Apapun yang dilakukan hanya bentuk dari kecemasan dan tidak ingin terjadi sesuatu pada Rey.


Helaan nafas dengan genggaman tangan menghentikan langkahnya. Gerakan cepat yang membawanya ke dalam aroma manis dengan hembusan nafas mint yang menerpa menyeruak menguasainya. "Mas, lepas ....,"


"Apa kamu tahu, bayaran dari satu kenakalanmu?" tanya Rey setengah berbisik menyusupkan jemari menari mengikuti helaan nafas sang istri yang mengubah suasana hatinya. "Aku rela menikmati pedasnya makanan favorit mu, sekarang giliranmu memberikan hadiahku."


Bisikan yang tak berawan. Seperti sinar rembulan yang lagi menempati singgasana. Rey merenggut hadiah tanpa meminta persetujuan, membawa malam jatuh dalam genggaman tangannya. Membasahi gersangnya hati dalam peraduan cinta. Melepaskan rasa yang membelenggu dalam jeritan tak bertuan.


Penyatuan hanyalah bentuk lain dari sebuah hukuman cinta. Di dalam kamar yang remang, keduanya tenggelam dalam hasrat. Sementara di tempat lain, sejak satu jam terakhir hanya terdengar kalimat penolakan. Setelah usaha dengan susah payah, bahkan menunjukkan formulir lamaran dari berbagai wilayah. Tetap saja, tidak ada persetujuan.

__ADS_1


"Kenapa kalian begitu buru-buru ingin menikahkan Aku?" tatapan mata meredup dengan emosi yang tak lagi bisa ditahannya, "Aku bisa mencari pasanganku sendiri. Apa cuma karena takut, jadi aku harus menikah sekarang juga? Sudahlah. Lebih baik aku tidur."


__ADS_2