
Permintaan sederhana Asma langsung dituruti oleh Rey. Dimana pria itu membawa sang istri berpindah dari kamar menuju ruang kerja yang ada di lantai bawah. Tidak ada penolakan karena ia tahu gadis itu menginginkan semua jelas tanpa ada yang disembunyikan.
Sementara di kamar lain, Axel berusaha untuk menenangkan Jovanka yang tiba-tiba saja muram dengan wajah sendu. Sebagai seorang ayah paham benar apa yang dibutuhkan putrinya, tetapi bagaimana mengatakan pada gadis itu? Jika Asma bukan mama yang bisa didapatkan.
Namun, gadis itu tidak akan paham dengan masalah orang dewasa karena masih terlalu dini untuk memikirkan hal serius. "Princessnya daddy, listen me."
Axel berusaha untuk merengkuh tubuh Jovanka, ia ingin putrinya kembali tenang. Akan tetapi tangan mungil itu mendorongnya agar tetap menjaga jarak. Sakit hati ketika sentuhan yang selama ini menjadi ikatan kebersamaan mereka, seketika tidak lagi bisa diharapkan.
Usaha Axel mendekati Jovanka tak luput dari pengamatan Fay yang sengaja berdiam diri di depan pintu kamar yang setengah terbuka. Gadis itu tengah berpikir untuk membantu, tetapi masih stuck dengan keadaan yang bisa jadi menambah masalah. Apalagi Jovanka masih usia dini.
Seorang anak kecil yang membutuhkan sentuhan kasih sayang, bukan penjelasan panjang kali lebar. Apalagi melihat kedekatan Jovanka bersama Ka Asma yang seperti ibu dan anak terpisah begitu lama, ia merasa situasi lebih sulit dari yang terlihat. Jika tidak hati-hati, bisa saja melukai perasaan yang masih polos.
Ia juga mengingat bahwa Jovanka dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu. Bisa jadi perpisahan kedua menambah traumatik. Bagaimana jika mengubah sikap anak itu menjadi pembangkang suatu hari nanti? Tidak bisa dibiarkan, tetapi apa yang bisa dilakukan olehnya?
Tanpa sadar Fay ikut trenyuh melihat usaha Axel yang tidak mau menyerah. Padahal Jovanka terus saja menolak untuk didekati. Gadis kecil itu menutup telinga tidak ingin mendengar apapun lagi hingga membuat papanya semakin merasa khawatir. Melihat itu membawa langkah kakinya masuk ke dalam kamar.
"Jovanka!" Fay memanggil tanpa menekankan suara panggilannya, anak itu tetap bertahan pada pendirian diam membisu. "Princess! Lihat Papa Axel, Nak. Apa ...,"
__ADS_1
"Ada apa ini?" Asma yang baru saja selesai membaca surat kerjasama berniat ingin menyampaikan keputusan yang telah ia buat, tetapi begitu sampai di depan kamar tamu justru melihat keanehan. "Jovanka, kamu kenapa nangis?"
Langkah kaki bergegas melewati pintu. Asma berjalan menghampiri gadis yang masih menutup telinga dengan kedua tangannya. Tanpa permisi meraih tubuh Jovanka yang tersentak kaget dengan kedatangannya. Sesaat melakukan pemberontakan, kemudian memeluk erat tak ingin ditinggal.
Kesendirian bercampur rasa takut milik Jovanka begitu mengalir menyentuh kalbu. Sadar akan emosi si anak yang tertekan dan tak ingin berbagi. Sepertinya membiarkan anak itu sendiri berakhir ketidaknyamanan. Ia menunda untuk menyampaikan berita, kemudian memilih menenangkan putri yang telah merebut separuh perhatiannya.
Axel hanya meradang menatap Jovanka yang begitu manja dipelukan Asma. Jujur saja ada penyesalan membawa putri tunggalnya datang berkunjung kerumah Rey. Niat hati menyambung silaturahmi, tetapi justru berakhir dengan kehilangan waktu bersama putrinya.
Satu jam kemudian, akhirnya Jovanka terlelap di pangkuan Asma. Setelah berusaha untuk melepaskan rasa takut yang begitu besar dimiliki gadis kecilnya. Rasa yang tidak baik untuk disimpan karena itu bisa menjadi masalah di kemudian hari. Yah sebagai seorang ibu harus memahami penderitaan anaknya.
"Thank you, Miss Asma. I have no more words to convey thank you. You give a mother's heart, and that I won't have as a father," Axel menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan rasa terimakasih yang tulus tanpa ingin mengurangi rasa hormat pada gadis yang berstatus istri rekan kerjanya.
"Mr. Axel, istriku tidak mengerti bahasa asing," ujar Rey yang tiba-tiba saja sudah bergabung ke dalam kamar, "Jadi ku harap Anda bisa memakai bahasa Indonesia saja."
Pernyataan Rey mengalihkan perhatian Fay yang langsung melirik tanya pada kakak online nya tersebut, sedangkan yang dilirik hanya melebarkan senyum tanpa rasa bersalah. Speechless karena ada drama yang baru saja terungkap tanpa bisa disembunyikan lagi.
Jujur saja, ia ingin sekali menertawakan Rey yang benar-benar polos. Benarkah pria itu seorang pebisnis atau Ka Asma saja yang membuat penglihatan suaminya buram. Kurang paham dengan situasi yang ada, tapi satu yang ia yakini bahwa tindakan pemolosan itu pasti sudah direncanakan sejak awal.
__ADS_1
Seorang pebisnis selalu bisa membaca intuisi para kliennya yang memiliki banyak karakter. Kenyataannya, Rey bisa tertipu dengan kepolosan yang ditunjukkan sang kakak. Jadi, lebih baik mengetuk kepala suami kakaknya atau kakaknya langsung saja? Benar-benar tidak habis pikir.
Kekesalan yang bercampur rasa heran jelas mengubah ekspresi Fay yang menyunggingkan senyum masam, sedangkan Axel merasa bersalah karena tidak tahu kebenaran tentang Asma yang ternyata hanya gadis biasa tanpa mengetahui bahasa asing. Paket suasana lengkap, meski bukan rasa nano-nano.
"Sorry, Aku tidak bermaksud membuatmu bingung." Axel menatap Asma yang terdiam menggelengkan kepala, "Tuan Rey, kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal? Aku ...,"
"Ka Asma memang tidak bisa bahasa asing, tapi aku bisa. Jangan khawatir, disini ada penerjemah otomatis." sambung Fay gemas hingga langsung ikut masuk kedalam drama yang dibuat sang kakak.
Tidak tahu tujuan Ka Asma melakukan tindakan seperti itu karena selama ini, ia tahu gadis satu itu terbiasa berbicara bahasa asing. Bukan hanya dari status whatsapp, novel dan apapun yang berhubungan dengan seorang Asma. Bisa dipastikan menyentuh bahasa asing.
"Ide yang bagus. Fay, apa kamu mau bekerja sama dengan Istriku?" tawar Rey mengutarakan isi pikiran yang melintas tanpa permisi.
Setelah dipikirkan, Asma membutuhkan seseorang yang bisa memahami dan memiliki kepercayaan satu sama lain. Bisa saja mengutus salah satu staff perusahaan, tapi tidak akan efektif. Apalagi sang istri terbiasa berpikir sebelum bertindak, jadi solusi terbaik adalah memberi kenyamanan di zona pertama.
Axel mencoba mencerna apa maksud dari Rey. Kenapa tuan rumah membutuhkan teman untuk Asma? Apakah masalah kerja sama sudah dibicarakan dan mendapatkan persetujuan? Bisa saja seperti itu, ia tak ingin berasumsi secepat angin tanpa ada pernyataan.
Bingung donk dengan tawaran Rey. Kerja sama seperti apa? Kakaknya saja, tidak mengatakan apapun. "Maksudnya bekerja sama?"
__ADS_1
"Maksud dari suamiku adalah tentang proyek baru bersama Mr. Axel yang mengubah posisi Mas Rey menjadi tanggung jawabku. Pasti akan ada pertemuan dengan beberapa klien, dan aku memerlukan penerjemah serta orang yang tepat yaitu kamu. Bukan begitu, Sayang?" Asma menatap suaminya dengan tatapan lembut tanpa mengurangi rasa hormat sebagai seorang istri.