Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 157: Seindah Waktu


__ADS_3

Asma menyibak rambut basahnya yang menghalangi wajah seraya melirik ke arah ranjang. Dimana tatapan mata sang suami engan berpaling darinya. "Kita kesini untuk liburan 'kan? Aku bersiap untuk itu."


"Aha, jadi perjalanan akan dimulai. Katakan sesuatu padaku." Disingkirkannya selimut tetapi merasa ada yang aneh. Rey kembali menutup tubuh polosnya. "Tempat mana yang ingin kamu kunjungi? Apa sudah tau atau masih memikirkan?"



Langkah kaki beranjak dari tempat duduk seraya menyambar handuk baju yang memang sudah disiapkannya. Lalu ia berjalan menghampiri ranjang, "Mandilah! Aku sudah lapar, jika kamu telat tiga puluh menit. Aku jalan sendiri."



Tangan terulur menyerahkan handuk tetapi justru ditarik hingga jatuh ke dalam dekapan sang pemilik raga. "Mas! Lepasin, aku lapar." Dibalasnya tatapan sang suami memelas berharap bisa dilepaskan. Sayangnya tangan kekar semakin erat melingkari perut.



Embusan semilir angin menyatukan tatapan mata sepasang kekasih yang di masuk asmara. Ketenangan bertemu kebahagiaan nyata membuat pasutri itu dalam kedamaian. Cinta kian tampak nyata tak memungkiri rasa ingin memiliki.



"I love you, Asma, my butterfly." ucap Rey tanpa keraguan lalu mengecup hangat kening istrinya membuat Asma memejamkan mata.



Rasa yang ingin dijaga, perlahan memenuhi ruang hatinya. Jujur saja, ia bersyukur memiliki suami yang bisa memanjakan bahkan mau berusaha introspeksi diri ketika melakukan kesalahan. Tidak sekalipun keraguan mengoyak keyakinan kecuali dari sisi prianya.



"Bersiaplah, Butterfly. Aku akan mandi, tapi jangan pakai pakaian ku untuk keluar kamar. Tunggu," Rey beranjak dari tempat tidur. Langkah kaki menghampiri lemari yang ada di sisi kanan ranjang. "Bagaimana dengan gaun putih lengan panjang, syal serta blazer? Ini cocok untuk acara hari ini."



Setelah outfit pilihan Rey diserahkan pada Asma yang hanya tersenyum tipis menerima perhatian suaminya. Wanita itu memang kebingungan mau memakai apa setelah mandi sehingga terpaksa mengenakan kemeja bekas sang suami yang kedodoran di tubuhnya. Jika keluar dengan penampilan seperti itu, bisa dibayangkan reaksi orang yang melihat.



Rey bergegas membersihkan diri, sedangkan Asma mengganti pakaiannya. Sedikit memoles make up agar wajah tidak terlihat pucat, dan tak lupa memakai perhiasan sederhana yang pantas. Termasuk kalung diamond pemberian seseorang. Sejak melihat kalung itu, ia jatuh cinta dengan desain elegan nan manis.



Dua puluh menit kemudian. Keduanya siap untuk keluar kamar. Rey merapikan penampilan Asma agar sang istri lebih nyaman selama perjalanan. Dimana syal menutupi bagian dada yang bisa menjadi pemandangan gratis orang lain. Tentu tidak bisa dibiarkan.



"Selama disini, aku hanya akan memanggilmu dengan sayang. Bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Rey meraih tangan kanan Asma tuk digenggam.

__ADS_1



Langkah kaki berjalan meninggalkan kamar karena di luar sudah disiapkan sarapan telat untuk mereka berdua. Semua diatur oleh Amir dan Samir. Kedua pria yang akan menjadi pengawal sekaligus tour guide selama di Kashmir.



"Tidak masalah, tapi aku ingin memanggil suamiku, Tuan Kulkas." balas Asma menahan diri agar tidak tersenyum. Meski tatapan mata sedikit tajam menusuk ke arahnya. "Indahnya, bagaimana orang teralihkan dari dunia secantik di depan mata. Andai saja bisa dibawa pulang."



"Nyonya, setiap keindahan alam hanya bisa dinikmati dan tidak untuk dimiliki seorang diri." sahut Amir yang tak sengaja mendengar obrolan tuan dan nyonya Reyhan. "Good morning, silahkan duduk!"



Rey menarik kursi pertama agar istrinya duduk. Baru setelah itu menarik kursi untuk dirinya sendiri. Tatapan mata tak luput dari menu sarapan pagi yang ternyata seafood. Sejauh ini, semua makanan bisa dimakan Asma tetapi entah kenapa agak ragu melihat daging salmon mentah yang ada di depan mata.



"Permisi, apa bisa buatkan aku makanan asli? Aku tidak makan makanan mentah kecuali sayuran di piring kupat tahu. Roti bakar, salad buah yogurt atau nasi goreng. Itu lebih baik." ujar Asma terus terang membuat Rey bernapas lega.



Pernyataan Asma seketika menyadarkan Amir akan jiwa orang Indonesia. Ia lupa sang tuan mengajak istri yang memang memiliki dunia lebih sederhana. Tanpa melakukan penolakan, ia menghubungi pihak chef agar mengirimkan makanan seperti yang diminta sang nyonya.




Sesi sarapan menjadi semakin menghabiskan waktu karena menu makanan yang diubah. Meski begitu, semua merasa tidak masalah bahkan begitu menikmati setiap detik waktu yang berlalu. Apalagi udara serta pemandangan sangat mendukung untuk duduk bersantai.



"Sayang, mau tambah lagi?" tanya Rey mengalihkan perhatian Asma yang baru selesai menyuap nasi goreng terakhir. Istrinya menggeleng pelan, "Mau jalan sekarang?"



"Beberapa foto di spot hotel. Bagaimana?" tanya balik Asma langsung disanggupi Rey tanpa pikir panjang.



Pasutri itu benar-benar melakukan sesi foto romantis seperti harapan Asma. Amir yang menyimak seraya mengawasi sekeliling dan Samir menjadi fotografer. Pasangan yang selalu bersikap santai dan sesekali melakukan kejahilan. Tawa bebas dengan rona kebahagiaan seakan tercurahkan keduanya.


__ADS_1


Selama tiga puluh menit. Akhirnya sesi foto diakhiri, lalu lanjut ke mobil yang terparkir di parkiran. Perjalanan dimulai dengan perasaan tak sabar. Sementara di belahan bumi lain. Tatapan mata tajam siap menerkam seluruh karyawan yang diandalkan perusahaan.


"Apa kalian sudah bosan bekerja? Jika iya, silahkan buat surat resign sekarang juga!" Bagas meluapkan semua emosi karena memang murni kesalahan team working yang diberikan tanggung jawab satu proyek penting.


Bukan ingin bertindak sesuka hati tanpa alasan. Kemarahannya wajar. Bagaimana mau tenang? Setelah melihat proposal dan hasil akhir pertama tak seperti yang dijelaskannya. Apalagi waktu proyek tinggal dua bulan lagi dan seharusnya sudah mulai masuk tahap eksekusi lapangan.



Seorang wanita bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Bagas yang berdiri dengan tatapan tak enak dipandang. Kemudian mengambil botol air minum, "Kemarahan hanya akan menjadi bumerang. Duduk! Minumlah." Sentuhan tangan yang mengejutkan tetapi masih bisa ditahannya.



Orang-orang di ruangan itu melihat dengan mata kepala bagaimana seorang karyawan baru berani mendekati Bagas bahkan anehnya sang wakil CEO menurut. Kemarahan yang mulai mereda setelah meneguk air mineral dari si karyawan baru. Hal itu benar-benar di luar dugaan.



"Pergilah, kalian semua!" Bagas mengibaskan tangan membuat satu per satu karyawan mundur teratur tetapi tidak dengan si karyawan baru.



Tatapan matanya tak beranjak dari pria yang kini duduk di hadapannya. Suara deru napas masih berusaha diatur agar bisa kembali tenang. Awalnya kaget mendengar seruan keras yang terdengar seperti gelegar petir hingga ia menyadari semua itu hanya tentang rasa tanggung jawab sebagai orang kepercayaan di perusahaan.



"Mau makan denganku? Atau mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin?" tanya si karyawan baru yang lebih tepatnya terkesan menawarkan solusi bercabang.



Bagas mendongak menatap wanita yang setia menemani tanpa menuntun. "Kita pesan makanan saja. Apa kamu bisa bantu aku menyelesaikan pekerjaan kali ini?" Ia bingung harus minta tolong siapa lagi, bukan karena tidak mampu tetapi beberapa proyek lain juga harus diselesaikan hari ini.



"Aku pasti bantu sebisaku. Kenapa mengirim mereka honeymoon, jika pekerjaan sebanyak ini? Bukankah kamu ingin kebahagiaan hadir dalam hidup Ka Rey dan Ka Asma. *So, I hope that happiness is coming soon as love*." balas wanita itu, lalu beralih mengambil proposal yang dianggap gagal oleh Bagas.



Benar yang dikatakan Fay. Pekerjaan akan selalu menumpuk tapi kebahagiaan hanya bisa diciptakan dan bukan dinanti. Apalagi kehidupan Rey dan Asma sama-sama tenggelam dalam kesendirian selama bertahun-tahun. Menurutnya, pasutri itu pantas mendapatkan ruang dan waktu untuk membuat momen yang bisa dijadikan sebagai inspirasi.



Keduanya kembali bekerja. Sesekali terdengar obrolan menyangkut pekerjaan hingga lupa waktu. Tak terasa sudah tiga jam hanya duduk membuat proposal dan juga menganalisis data agar tidak salah dalam hasil akhir. Tiba-tiba terdengar suara bunyi keroncongan yang membuat Bagas tersenyum.


__ADS_1


"Pak, tolong kirimkan menu makan siang dua porsi ke ruangan rapat! Ditambah coklat hangat dan secangkir kopi." ucap Bagas melalui telepon kantor tanpa bertanya pada Fay mau makan apa. "Istirahat dulu! Minumlah, orang berhitung juga perlu energi."


Ditutupnya file yang sudah hampir siap, lalu merenggangkan kedua tangan agar punggung tidak kaku. "Aku ingin tau, apakah kamu sudah mengenal Ka Asma lama?"


__ADS_2