Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 36: Sudah Cukup?


__ADS_3

Heran dan juga tak paham. Sudah jelas Asma menuliskan bahasa asing, bahkan dari ejaannya saja sudah benar. Bagaimana bisa, istrinya berkata tidak memahami bahasa Inggris? Satu kenyataan yang membuat pikiran bertanya-tanya. Apakah sang istri hanya mengerjai dirinya?


Terdiam mengamati apa yang dikerjakan sang istri. Dimana wanitanya sibuk menyalin data, lalu masuk ke sebuah aplikasi bertuliskan NovelToon. Kemudian masuk ke laman profile pribadi. Jemari yang terlatih melakukan dengan cepat membuat Rey tersenyum tipis. Ternyata Asma memiliki kelebihan yang tidak ia sadari sejak awal.


Setelah meng upload satu bab. Jemari itu betalih memeriksa setiap fitur, hingga ia melihat barisan digit gaji sang istri. Cukup mengesankan hingga tidak menyadari ada dirinya di belakang wanita itu. Satu yang bisa menjadi kebahagiaan bagi seorang suami. Jika sang istri yang manis memiliki impian yang menjadi semangat hidup.


Setelah puas melihat apa saja yang dilakukan Asma. Ia berdehem, tetapi tidak ada respon hingga terpaksa menyentuh pundak sang istri yang langsung terperanjat akan kedatangannya. Tatapan mata itu menenggelamkan. Seulas senyum yang manis berpadu dengan mata yang menyipit.


"Mas, sejak kapan di belakangku?" Asma bertanya seraya melepaskan earphones, membuat Rey menghela nafas karena tahu alasan istrinya tidak menyahut sejak beberapa waktu lalu. "Ekhem."


"Baru saja masuk. Apa kamu sibuk? Jika tidak. Ayo, kita jalan-jalan. Aku ingin mengajakmu untuk kencang pertama." Ucap Rey tanpa sungkan, tetapi yang diajak seketika memperhitungkan waktu.


Bukan karena tidak mau, tapi saat ini deadline masih banyak dan juga selama beberapa hari ia sibuk dengan real life. Jika menunda lagi. Pasti akan mendapatkan komplain. Akan tetapi, mana mungkin mengusir niat baik suaminya. Dilema yang meresahkan.


"Asma! Are you okay?" tanya Rey menyelidik.


Wajah istrinya terlihat ragu, bahkan seperti tengah berpikir keras. Apa yang menjadi beban? Bukankah sang istri baru saja menyelesaikan tugas dengan mengupload satu bab ke sebuah karyanya. Lalu, kenapa ada dilema yang begitu jelas? Ingin bertanya tapi ia tak ingin menyinggung perasaan Asma.

__ADS_1


"Apakah jalan-jalan bisa menghabiskan waktu lebih dari tiga jam?" tanya balik Asma setelah terdiam sesaat, namun pandangan matanya terus saja menunduk.


Direngkuhnya dagu sang istri agar tatapan mereka saling bertemu. Tatapan mata yang nampak polos seakan mengatakan ia tak tahu apapun. Entah kenapa, istrinya memiliki sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan. Daya tarik yang selalu membiusnya dalam keheningan.


"Mas, kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu tidak bosan, hmm." Celetuk Asma seraya melepaskan tangan suaminya lalu beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan bersiap."


Pergerakan sang istri terlalu mudah untuk ditebak. Satu langkah mendekati, langkah selanjutnya melewatinya. Atmosphere di sekitar yang berubah drastis. Pasti terjadi sesuatu, tapi apa? Tanpa kata, ia meraih tangan wanita itu, lalu merengkuh pinggang sang istri. Membenamkan diri menelusup mencari ketenangan.


"Mas!" Panggil Asma mengingatkan bahkan terdengar tercekat, tentu was-was dengan sikap manis suaminya yang bisa berakhir di antara hawa panas dan hasrat.


Bukan suudzon, tapi beberapa kali selalu berakhir hal yang sama. Sikap manis hanya berujung pergulatan yang melelahkan. Bukan trauma. Hanya saja saat ini, tubuhnya sudah cukup lelah untuk melayani. Tentu karena belum terbiasa. Pemikiran yang absurd, sedangkan Rey hanya memejamkan mata menghirup aroma wangi tubuh sang istri.


Semakin erat tubuhnya merasakan pelukan Rey. Tanpa sadar tangannya terangkat mengusap kepala prianya yang menyusup bersandar ke pundak kanan, "Apa ada masalah dengan pekerjaan? Meski aku tidak tahu tentang bisnis. Mas bisa curhat dan aku akan jadi pendengar setia."


Manis sekali. Ia hanya ingin menikmati waktu, tetapi istrinya berpikir hal lain. Ini hanya berarti satu hal yaitu Asma mulai mengkhawatirkan tentangnya. Bukankah itu kabar baik? Tentu saja. Rey tidak tahu saja. Jika memiliki istri yang peka, meski dalam persentase personality terlalu dingin.


"Aku hanya punya satu masalah. Apa kamu tahu, aku menantikan saat-saat seperti ini. Memeluk wanita halalku tanpa perlu memikirkan norma masyarakat. Takdir membawamu, lalu menyatukan garis kehidupan denganku. Jujur saja, aku masih berpikir semua ini hanya mimpi."

__ADS_1


"Apakah semua ini akan terus menjadi milikku? Kamu tahu, mimpi buruk yang menghantui menghancurkan kedamaian dalam hati dan pikiran ku. Maaf, Asma. Aku tidak mungkin melampiaskan setiap refleksi dari rasa takutku untuk menguasaimu. Hanya saja ....,"


Dibungkamnya bibir yang terus berkata tanpa arah tujuan, lalu berbalik mengubah posisi hingga kedua saling berhadapan dengan tatapan tak teralihkan. Rasa takut dengan kecemburuan, tapi bagaimana bisa terjadi? Tidak sekalipun, ia menjauh. Apalagi hilang pandangan dari prianya.


"Apa arti hubungan? Kepercayaan. Apa arti ketakutan? Kecemasan tak mendasar. Hati untuk merasakan, tapi pikiran untuk menyeimbangkan. Aku disini, dan kamu disini bersamaku. Rasa mana yang membelenggu, bahkan menghadirkan sisi kekuasaan dalam hubungan?"


Seperti pedang yang menusuk jantung. Ucapan Asma sederhana, tetapi tepat mengenai sasaran. Nyata dengan kebenaran yang mendasar. Jika berpikir lebih jauh lagi. Tentu di antara keduanya akan selalu bersama. Iya 'kan? Selama itu menjadi takdir mereka. Maka, tak seorangpun bisa memisahkan keduanya.


Ditangkupnya wajah sang suami, "Mas, tidak ada manusia yang sempurna. Kita berjodoh untuk saling melengkapi. Apakah ini cukup untuk menghilangkan rasa ragu dan takutmu?"


Skakmat. Tidak ada kata yang bisa diucapkan olehnya. Selain merengkuh pinggang, lalu membenamkan tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Rasa yang tak mampu lagi diutarakan. Nyatanya, seorang pebisnis besar kalah dalam pengakuan sederhana seorang wanita. Bukan hanya rasa ragu yang terusir, tetapi seluruh ketakutan hanyut dalam kebersamaan.


Pasutri yang tenggelam dalam pelukan. Keduanya mencoba untuk menyatukan kepingan hati yang akan menjadi kebahagiaan, sedangkan rasa kesal yang menggebu-gebu mematahkan hati seorang pria yang baru saja melihat sesuatu yang menyakitkan. Sudah berapa lama mencoba menahan, tapi tak lagi sanggup bertahan.


Langkah kakinya berjalan menghampiri meja salah satu pelanggan cafe. Seorang wanita yang tengah bermesraan dengan menikmati makanan saling suap menyuap. Siapapun pasti akan marah. Jika melihat wanita yang berstatus sebagai tambatan hati. Ternyata, justru main belakang. Pantas saja, dihubungi berulang kali. Tidak sekalipun ada jawaban.


Sebenarnya apa salahnya? Apakah karena sibuk dengan kuliah menjadi dasar dari perselingkuhan? Tidak. Sungguh picik, jika seperti itu. Di gebraknya meja hingga mengejutkan, bahkan makanan di atas meja ikut berhamburan. Tatapan tak percaya sejurus terpatri bertaut dengan pandangannya.

__ADS_1


"Hay, apa ini pacar barumu?" Tunjuknya pada pemuda yang berpenampilan stylish, terlihat anak orang kaya. "Lebih kaya dari keluarga ku, tapi tak apa. Enjoy dengan mainan barumu. Bro, hati-hati dengan wanita ini. Sekali orang selingkuh, bisa jadi kebiasaan untuk menyimpang."


__ADS_2