
Ingin sekali tanya siapa yang melahirkan Bagas. Sikap pria satu itu, huft seperti diciptakan hanya untuk membuat hidupnya selalu darting. Langkah kaki berjalan mengikuti dengan celotehan hati bak bunga berguguran. Inilah jalan dari kehidupan yang singkat sebagai sesama manusia.
Hotel yang bersebelahan dengan pantai langsung menjadi tempat pesta resepsi pilihan Asma. Setelah menyesuaikan seperti permintaan pasangan pengantin, Nona La berhasil mendekorasi ruangan aula hotel itu menjadi seperti negeri dongeng. Dimana esok akan digunakan sebagai pesta di siang harinya.
Sementara pesta malam hari akan diadakan di tepi pantai. Semua konsep sengaja dipadukan antara hasil pemikiran Rey dan permintaan Asma. Pasutri itu mendapatkan impian tanpa pemisahan keinginan. Nona La bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dialah pakar dari keajaiban pesta.
Bagas menghentikan langkahnya menerima sambutan Nona La yang sudah menunggu di depan pintu ruang aula. Wanita itu selalu mengenakan gaun indah sesuai baground pekerjaan yang bersinggungan dengan keindahan. Keduanya saling berjabat tangan seraya berbincang basa-basi.
"Tuan, dia kekasih Anda? Wah sepertinya saya bakalan nerima pesanan lagi, nih." goda Nona La bersamaan dengan kedatangan Fay yang terlambat, membuat Bagas hanya melirik ke sisi kanannya sesaat.
"Maaf, Nona La. Perkenalkan aku, Ififay." Fay mengulurkan tangan yang disambut hangat sang owner WO. "Aku ralat dari pernyataan Anda, disini kami bukan pasangan. Aku, adik dari mempelai wanita."
Klarifikasi yang langsung dilakukan Fay menyentak kesadaran Bagas. Ingin membalas, tetapi tidak mungkin di depan Nona La. "Apa sudah perkenalannya? Nona La, tunjukkan hasil dari pekerjaan Anda!"
"Tentu, Tuan Bagas. Ayo, kita masuk bersama. Selamat datang ke negeri impian putri puitis dengan pangeran romantis."
Pintu aula utama terbuka secara perlahan-lahan, tatapan mata langsung terpesona dengan pemandangan pertama yang tersaji di depannya. Semerbak aroma bunga menyeruak menyambut mereka bersama kabut putih bak awan lembut. Bintang bersinar menghiasi langit-langit, kilauan cristal dengan bunga mawar di dalamnya.
Nona La menjelaskan arti dari setiap ornamen yang ia gunakan untuk dekorasi kali ini, bahkan wanita itu memberi rincian dari barang yang memang sulit ditemukan. Bagas hanya menyimak sembari memperhatikan hasil dari selera pasutri baru, sedangkan Fay memilih berkeliling seorang diri menikmati gumpalan asap putih ditemani keindahan disekitarnya.
Siapapun pasti akan jatuh cinta dengan keindahan yang menggambarkan kasih sayang begitu besar. Setiap sudut hanya dipenuhi keajaiban dunia dekorasi. Apalagi langit-langit berubah menjadi hujan cristal. Sungguh mengagumkan. Bagaimana semua menjadi satu paket yang tidak bisa terpisahkan.
__ADS_1
"Apa Ka Asma tahu hasilnya? Kayaknya belum, deh. Haruskah ku kirimkan foto dulu? Jangan deh, nanti lari buru-buru minta kesini. Kadang-kadang kakakku satu itu suka gak sabaran ...," gumam Fay bermonolog pada dirinya sendiri, tanpa sadar di belakangnya sudah ada Bagas.
Pria itu hanya mendengar ucapan Fay yang terakhir, ia tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh adik dari adiknya. Akan tetapi bertanya pun pasti percuma, jadi lebih baik untuk menyampaikan maksud kedatangannya. "Ekhem, mau ikut ke pantai, tidak?"
Fay berbalik, tetapi entah apa yang terjadi. Tiba-tiba tubuhnya oleng, ia merasa salah memijak sesuatu hingga sentuhan tangan menyambar menarik tubuhnya yang langsung berputar, lalu jatuh ke dalam pelukan seseorang. Aroma parfum maskulin benar-benar kuat menerobos indra penciuman.
"Makasih," Dilepaskannya tangan yang masih menggenggam merengkuh pinggangnya, perasaan tak nyaman menguasai hati hanya saja yang menolongnya masabodo dan berlalu melewati tanpa sepatah katapun.
Ya Allah, cowok tengil satu ini beneran pengen ku getok. Sabar, Fay. Karma selalu berlaku untuk semua orang. So please jangan dibuat rumit.~batin Fay seraya mengusap dadanya sendiri, kemudian berjalan menyusul Bagas yang sudah menjauh darinya.
Pemeriksaan yang dilakukan Bagas bersama Fay masih berlanjut ditemani Nona La, sedangkan ditempat lain. Rapat baru saja dimulai. Dimana hanya ada lima orang yang menjadi anggotanya. Reyhan, Asma, Axel, kedua pengacara dari pihak masing-masing. Mereka memilih memesan ruangan VIP di sebuah cafe yang memang memiliki reputasi keamanan terbaik.
Bukan tanpa alasan mencari tempat yang terjangkau dari kedua rumah dan bisa menjadi ruang obrolan tanpa gangguan. Setelah klarifikasi yang Rey lakukan berhasil mengguncang dunia bisnis. Beberapa pebisnis mengatakan pengusaha satu itu bodoh, tetapi mereka yang paham maksud di balik tindakan seorang suami justru semakin menghormati.
"Jika proyek yang menangani adalah Tuan Rey sendiri. Maka tidak ada keraguan lagi, tapi ...," Tatapan mata teralihkan menatap Asma sekilas, wanita yang berpenampilan sederhana tanpa riasan yang bisa disebut mengerti make up.
Bukan mau menilai dalam sekali pandang saja, tetapi dunia bisnis tidak semudah yang dikhayalkan sebagai bentuk impian. Tidak perlu menjelaskan dengan kata-kata karena sejak awal bertemu saja, semua terbuka bagaikan catatan buku. Tidak ada jiwa pemimpin di dalam diri Asma.
Rey bersiap menjawab keraguan Bu Utari. Sayangnya satu sentuhan tangan menghentikan niat hatinya. "Jadi apa yang ingin Ibu Utari sampaikan?"
"Maksud saya, apakah tidak sebaiknya proyek ditangani orang yang ahli? Setidaknya kegagalan hanya memiliki kemungkinan dua persen, bukan keberhasilan yang saat ini menjadi bahan pertimbangan. Maaf, saya hanya ingin melindungi hak dari klien." sahut Bu Utari tanpa rasa sungkan, apalagi takut dengan suasana yang mencekam.
__ADS_1
Tidak habis pikir dengan pembelaan Bu Utari. Bagaimana bisa sebagai sesama wanita bisa berpikir seperti itu, meski memang benar pembelaannya demi keberhasilan sang klien. Akan tetapi, tidak harus sefrontal itu. Tak ingin menambah ketegangan, membuat Axel menghirup udara sebanyak mungkin lalu dihembuskan perlahan.
"Sebagai pihak pertama yang memiliki tanggung jawab atas proyek Legend Mall. Aku percaya dengan kemampuan Nona Asma tanpa memandang latar belakangnya. Apa salah jika mendukung dan memulai karier dari nol? Tidak. Kita semua disini memiliki fase dari zero to hero. So understand, we are not different." tegas Mr. Axel langsung membungkam sang pengacara yang sudah melewati batasnya.
Boleh ikut campur, tetapi bukan memutuskan. Apalagi menilai hanya karena penampilan saja. kebiasaan Ibu Utari memang memandang orang lain dari looking terlebih dulu, baru prestasi. Berbeda lagi ketika memasuki ranah hukum, wanita yang bisa berubah-ubah seperti bunglon hanya untuk mengetes orang-orang baru yang masuk ke dunianya.
Obrolan semakin menjurus pada perjanjian yang telah disepakati. Meski berawal ketegangan, tetap saja semua berjalan lancar hingga selama satu jam rapat baru berakhir. Cukup menguras isi pikiran bahkan perut mulai keroncongan minta jatah makanan. Akhirnya semua memutuskan untuk menikmati sarapan pagi yang kedua kali sebagai sesi santai percakapan.
"Nona, mau jalan-jalan bersamaku?" tanya Bu Utari menawarkan diri dengan gaya bicara begitu santai, membuat Asma tersenyum simpul, lalu menganggukkan kepala mengiyakan.
Keduanya pamit undur diri meninggalkan Rey bersama Axel diruangan pertemuan. Perbedaan usia diantara kedua wanita itu justru berusaha untuk mengurai perbedaan yang ada dengan cara menikmati waktu bersama berjalan di antara rerumputan hijau yang ada di taman cafe tersebut. Beberapa jenis bunga mempercantik lingkungan sekitar mereka.
"Tatapan matamu mengatakan isi hati yang terpendam. Bukankah itu terlalu dalam? Kamu bisa berbicara bebas disini, Nona Asma." sindir Bu Utari menatap Asma yang sibuk memperhatikan tetesan air dari pancuran batu.
Dinding di sisi kanan tepat bersanding dengan kolam ikan menjadi daya tarik tersendiri untuknya. Penjelasan hanya untuk mereka yang buta pemahaman, tapi pengacara satu itu memiliki intuisi pembacaan karakter dengan baik. Lalu apa perlu menjelaskan isi hatinya?
Hening tak bersuara. Benar-benar wanita yang dingin, bahkan lebih sering mengabaikan. "Nona Asma! Kenapa kamu diam?"
.
.
__ADS_1
.