Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 48: MAKAN MALAM BERSAMA


__ADS_3

Permintaan maaf Asma menghentikan detak jantungnya. Sebagai seorang suami, ia tidak membimbing, tetapi justru langsung menuding tanpa ada dasar. Sontak bibirnya melantunkan dzikir agar amarah yang bergejolak di dalam hatinya luruh redam. Salah dengan tindakannya yang tidak berpikir lebih matang.


Tidak ada kata yang bisa meninggalkan pikirannya. Rey beranjak dari tempat duduknya, lalu merengkuh tubuh sang istri menyusup bersandar untuk tetap tenang. "Maafkan aku juga, istriku. Tidak seharusnya bersikap kasar tanpa mau memahami impianmu. Jika memang kamu ingin berjuang, aku akan membantu. Tidak dengan uang, tetapi kamu bisa meminta apapun yang akan menjadi pendukung perjuanganmu."


Lega rasanya. Meninggalkan ego yang selalu berbalut keras kepala. Manusia terbiasa emosi tanpa mau mendengarkan penjelasan dan mencoba untuk memahami, sebelum memutuskan. Rey dan Asma kembali memutuskan untuk saling mendukung dengan babak kehidupan yang baru.


Perbincangan tidak bisa dilanjutkan karena Bagas meminta pasutri itu untuk masuk dan memulai makan malam. Namun, alangkah terkejutnya, ketika langkah kaki mencapai ruang makan. Dimana di atas meja tersedia begitu banyak box makanan yang bisa dimakan untuk satu keluarga besar.


Bagas menunggu penjelasan dari saudarinya yang menatap makanan dengan binar kebahagiaan. "Asma, apa kamu mau menghabiskan semua makanan ini? Sepuluh box pizza, dan semua makanan yang jumlahnya tidak mungkin untuk dimakan sekali waktu."


Tidak habis pikir dengan apa yang akan dilakukan Asma. Gadis itu, selalu saja membuat kehebohan tanpa diminta. Apalagi menekan alarm jantung agar tetap aman. Tidak masalah untuk menghabiskan tiga juta lebih dalam semalam, tapi jika makanan tidak dimakan. Bukankah disebut mubazir?


Mubazir, tidak diperbolehkan dalam agama. Di luar sana banyak yang kekurangan makanan dan jika memiliki rezeki yang lebih. Sebaik-baiknya sedekah, yaitu memberikan sesuap nasib bagi mereka yang membutuhkan. Termasuk makan harus secukupnya. Tidak berlebihan, seperti yang dipesan Asma.


Sayangnya, semua pikiran itu terbantahkan. Dimana Asma, menjawab pertanyaan Bagas dengan tindakan, bukan omong kosong tak bermakna. Entah apa yang dibisikkan gadis itu, pada Bibi Jia. Sang pelayan senior yang menganggukkan kepala, lalu membawa pelayan lain untuk melakukan perintah majikannya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian. Karpet besar sudah digelar menutupi lantai marmer dengan semua makanan yang di pesan dan seluruh penghuni rumah ikut berkumpul. Rumah yang biasanya terlihat sepi, mendadak penuh dengan semua wajah yang bisa saling bersilaturahmi satu sama lain.


"Kebahagiaan itu akan lengkap, jika kita membagi dengan orang-orang di sekeliling. Sejak pertama masuk ke rumah ini, tidak ada pengajian atau apapun sebagai ungkapan rasa syukur atas masa depan yang lebih baik." Asma membimbing Rey untuk duduk ditempat yang ia inginkan. "Malam ini, awal dari kebersamaan. Bukankah kita harus saling mengenal tanpa memandang status."


"Maaf, Asma. Andai dirumah ada orang tua, mungkin tidak akan ....,"


"Mas, kita tidak bisa berandai-andai. Cukup menjadi lebih baik, aku ada bukan? Jika ada kekurangan, kita bisa saling melengkapi. Jadi, bisa mulai makan malam bersamanya? Aku sudah sangat lapar, dan begitu juga dengan yang lain." Sela Asma tak ingin, tatapan mata para pelayan menjatuhkan harga diri suaminya.


Jika memang rumah suaminya tidak pernah mendapatkan sentuhan wanita. Maka, ia sendiri yang akan mengubah suasana menjadi sebuah rumah untuk keluarga. Bukan hanya sekedar bangunan dari batu bata. Sebagai bentuk rasa syukur. Makan malam pertama yang akan menjadi sejarah diawali doa yang dipimpin langsung oleh tuan rumah.


Setelah bekerja selama bertahun-tahun. Hari ini, ia bisa mendengar suara Rey lagi. Meskipun menu makanan terasa asing di beberapa lidah pelayan. Tetap saja, mereka menikmati. Apalagi, tanpa malu Rey sibuk mencomot makanan dari piring istrinya.


Kelakuan sebelas dua belas dengan anak kecil hingga membuat Asma hanya bisa pasrah. Setiap kali mengambil sepotong pizza. Maka akan terbelah menjadi dua lagi, begitu seterusnya dengan menu makanan lain. Kenyang? Yah anggap saja kenyang melihat suaminya yang lahap makan begitu banyak.


"Bro, kamu doyan atau kelaparan?" Sindir Bagas, tetapi tidak dipedulikan Rey yang masih stay menikmati martabak hasil dari mencomot makanan di piring istrinya. "Hadeh, anak ini. Terserah deh."

__ADS_1


"Mas, masih mau lagi?" tawar Asma mencoba untuk mengalihkan perhatian Rey, "Aku mau makan mie ayam, mau bareng atau sendiri?"


"Asma, Rey tidak begitu suka dengan mie ayam. Bukan begitu, Rey?" Sahut Bagas mendapatkan kesempatan untuk mengerjai sahabatnya, sontak mendapatkan tatapan tajam dari pria yang tidak mengharapkan godaan. "Apa kamu lupa, bagaimana cara membuat mie di pabrik?"


Tidak lagi bisa meneruskan kunyahan makanan terakhir. Bisa-bisanya, di saat penuh kehangatan. Pria satu itu, justru membicarakan tentang mie dari pabrik? Selera makannya lenyap seketika. Perubahan wajah sang suami, membuat Asma mengernyit tak paham. Memang ada apa di pabrik mie?


"Aku makan lainnya saja, mie ayam bisa buatmu." Jawab Rey pasrah, tanpa ia sadari, Bagas menahan tawanya.


Apa Rey tidak melihat ponselnya yang digunakan untuk melakukan pemesanan makanan? Semua menu malam ini, di pesan dari satu restoran yang bisa dijamin kebersihan dan juga bahan baku alami tanpa ada campuran bahan kimia. Sebab itu, total dari pemesanan mencapai jutaan. Entah bagaimana Asma bisa menemukan rekomendasi cafe terbaik yang ada disekitar wilayah rumah mereka.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menikmati makanan favoritnya. Asma mengambil mangkuk, lalu menuangkan sebungkus mie ayam yang ternyata masih hangat karena di bungkus dengan tempat khusus. Aroma harum menggoda dengan lembutnya mie, topping daging yang melimpah. Sungguh menggugah selera. Satu suap mencoba untuk menikmati dari tekstur, rasa, kelembutan daging dan kentalnya kuah.


Cita rasa yang lezat dengan bumbu rempah yang begitu pas takaran. Tidak keasinan, tidak ada aroma jahe yang menyengat. Meski makan tanpa sambel, tetap saja sudah nikmat. Akan tetapi, mie ayam tanpa rasa pedas? Tetap saja ada yang kurang. Diambilnya mangkuk sedang yang penuh warna merah terang menggoda. Satu sendok, hingga empat sendok tertuang sempurna menutupi mangkuk mie ayamnya.


Tanpa rasa sabar, tangannya sibuk mengaduk mencampur mie ayam bersama sambal agar rasa bisa menyatu, tetapi baru saja ingin mencoba. Sudah ada tangan yang menghentikan suapan pertamanya, "Mas, ada apa? Mie nya enak kok, lepasin tanganku atuh."

__ADS_1


"Ganti mie nya!" Rey menggeser mangkuk milik Asma ke hadapannya, bagaimana bisa baru saja keluar dari rumah sakit. Justru mau makan mie ayam dengan kuah sambal yang aroma nya saja sudah galak. "Mie ini, terlalu pedas. Kamu ...,"


__ADS_2