
Benar yang dikatakan oleh Ka Asma karena di dunia ini yang memiliki peran penting adalah niat hati. Apapun itu akan berawal dari dalam diri sendiri. Ketika banyak manusia yang mengeluh atas keterbatasan dalam diri. Nyatanya masih ada yang berhasil mencapai kesuksesan.
Semua itu berkat dari niat hati yang kuat. Termasuk mempertahankan hubungan dan tidak terkecuali perasaan obsesi yang akan menjadi kerumitan dalam kehidupan. Elora menganggap obsesi sebagai cinta. Namun, wanita itu juga menaruh keras kepala pada emosi hatinya.
Maka kewarasan yang dimiliki sudah sangat minim dan bisa dipastikan siap melakukan apa saja. Sementara untuk mengetahui cerita lebih lanjut, maka harus bertanya pada orang yang tepat. Orang yang bisa menjelaskan tanpa rasa sungkan karena merasa itu menjadi tanggung jawabnya juga.
''Ka Asma beneran gak papa? Aku disini bukan, Kakak bisa cerita apapun yang mengganggu pikiran dan hati.'' ujar Fay tak ingin membiarkan masalah yang ada hanya ditanggapi dengan begitu santai.
Jangan sampai masalah yang bisa diatasi lebih awal. Justru semakin larut, tetapi gadis itu masih belum paham. Jika Asma hanya diam, bukan membiarkan. Hanya saja untuk menemukan solusi, ia harus mendapatkan seluruh rincian dari masa lalu yang menjadi awal kerumitan rumah tangganya saat ini.
''I'm fine. Jadi apakah liburan kali ini memiliki tujuan khusus? Atau hanya ingin jalan-jalan saja?'' tanya balik Asma, membuat Fay menghela nafas panjang.
Entah ekspresi wajahnya baik-baik saja atau tidak. Rasanya sangat lelah ketika mengingat persyaratan yang ada antara dirinya dan Nau. Perjodohan yang ditukar dengan kebebasan selama beberapa hari. Apa itu masuk akal? Ia pun tak tahu harus bagaimana lagi.
Andai menolak yang akan mendapatkan masalah adalah sang adik sepupu, tetapi jika menerima. Apakah bisa mencintai pria yang menurutnya hanya seorang pembual dengan profesinya yang suka membaca garis tangan dari para pendengar setia di radio. Serba salah.
Tanpa sadar, Fay tenggelam dalam lamunan, membuat Asma menggelengkan kepala pelan. Lalu menuangkan air putih, kemudian menyodorkan ke gadis yang duduk di depannya. "Minumlah! Sepertinya kamu punya masalah serius, Fay. Apa kalian berdua lagi berantem?"
__ADS_1
"Gak kok, Ka. Mana mungkin berantem, kita kan saudara. Sebenarnya liburan ini kebebasan terakhirku." Fay menerima gelas yang masih melambai di depannya, lalu meneguk air putih yang terasa dingin mengalir ke tenggorokannya. "Pernikahan kakak pasti karena perjodohan. Apa kakak bisa menerima hubungan ini seperti pernikahan yang saling mencintai?"
Terdengar tidak selaras. Apa hubungan antara liburan, kebebasan terakhir, perjodohan dan pernikahan? Pernyataan dalam pertanyaan. Sudah jelas pikiran tengah menyatu dari utara ke selatan, hingga barat kembali ke selatan. Rumit dan tidak untuk dijabarkan.
Akan tetapi, ia paham maksud dari pernyataan dan pertanyaan yang Fay ajukan dalam satu waktu. Pasti gadis itu tengah mengalami dilema hati atas perjodohan yang sudah disiapkan. Bagaimana akan menentukan pilihan? Apakah mengikuti kata hati atau hanya sekedar melakukan tanggung jawab.
"Fay, mana yang kamu anggap milikmu? Maka itu yang akan menjadi hidupmu. Pernikahan bukan tentang perjodohan atau cinta, tetapi menyelaraskan detak jantung dari raga dan jiwa yang berbeda. By the way, pernikahan kami bukan perjodohan, tetapi pernikahan kilat." jawab Asma tanpa basa-basi.
Speechless, awalnya ia pikir pernikahan yang cepat hanyalah perjodohan. Nyatanya ada pernikahan kilat tanpa perjodohan, tapi bagaimana mungkin? Sementara selama mengenal satu sama lain. Ia tahu, jika kakak onlinenya jarang berkomunikasi dengan pria.
Sekali atau dua kali bercanda tentang pria, tapi tidak pernah membicarakan hingga serius. Apakah mungkin selama beberapa waktu terakhir semua berubah tanpa disadarinya? Fay mencoba mengingat rangkaian peristiwa yang seringkali ia lupakan. Namun tetap saja tidak menemukan celah.
"Reyhan Aditya. Pria yang baik, tetapi dingin plus galak. Entah bagaimana takdir menyatukan benang kehidupan kami. Jujur saja, aku masih di ambang ketidakpercayaan memiliki suami seperti Rey. Mungkin memang kami berjodoh." sambung Asma seraya mengingat bagaimana Rey memintanya untuk menjadi istri pada kenangan yang lalu.
"Kakak gak pacaran dulu? Atau kenalan seperti teman gitu." tanya Fay penasaran, sekaligus ingin melupakan masalahnya sendiri.
Jika terus berpikir hal sama. Tetap saja tidak mengubah kenyataan, esok siapa yang tahu? Biarlah dunia berjalan sebagaimana mestinya. Percakapan antara Fay dan Asma masih terus berlangsung. Keduanya hanya berbincang tentang kisah cinta kilat. Di tengah dilema mencoba memahami arti jodoh.
__ADS_1
Sementara di tempat lain. Kesibukan haunting lokasi yang dijadikan acuan untuk proyek tugas kali ini, tak membuat Naufal konsentrasi. Beberapa kali Satya harus menepuk pundak pemuda satu itu, tetapi tetap terus menerus melamun lagi dan lagi. Nyatanya fokus terpusat di tempat yang lain.
"Satya, Loe bawa anak-anak kembali ke penginapan Abah Rojali. Gue cabut dulu." tukas Nau tak bisa menahan diri lagi, lalu berlari kecil meninggalkan teman-temannya.
Rasanya seperti melepaskan tanggung jawab tanpa bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang saudara. Fay pergi bersamanya, tapi sekarang bersama orang lain. Meski itu orang yang dikenalnya. Hati tetap tidak bisa tenang, bahkan semakin larut dalam kegelisahan. Untung saja, mereka membawa tiga mobil berbeda, jadi bisa pergi tanpa harus menunggu persetujuan yang lain.
Perjalanan yang berteman dengan kekhawatiran. Nau berusaha untuk menghubungi Fay dengan memainkan ponselnya. Akan tetapi juga sibuk menyetir sehingga fokusnya terbagi. Laju kendaraan yang tidak begitu kencang membuat pemuda itu lalai akan jalanan yang cukup banyak kendaraan lain. Tiba-tiba dari arah persimpangan, sebuah mobil muncul menyentak kesadarannya.
Seketika ponsel terlempar dan tangan beralih memutar stir ke arah berlawanan seraya menginjakkan rem. Sayangnya keterkejutan itu berlanjut karena mobil lain datang tanpa undangan. Insiden tidak bisa dihindarkan lagi. Kedua mobil mengalami benturan yang cukup keras dan langsung menghentikan laju kendaraan.
"Ya Allah, kenapa jadi kecelakaan? Nau, istighfar. Astaghfirullah," Tangan yang mengusap dada agar bisa kembali tenang. Detakan jantung yang berpacu begitu cepat, semua itu karena rasa terkejutnya.
Pandangan mata teralihkan, ketika melihat mobil yang ada di depannya mengepulkan asap putih. Tanpa menunda waktu, Nau turun meninggalkan mobilnya. Ia berjalan menghampiri mobil yang pasti menjadi tanggungjawab baru tanpa diminta. Anehnya, tidak seorangpun datang untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
Diketuknya jendela mobil, tetapi tidak ada respon. Nau mengusap jendela mencoba untuk melihat keadaan di dalamnya, ternyata seorang wanita dengan luka di kening jatuh tak sadarkan diri. Melihat itu, membuat Nau berpikir harus melakukan apa. Tanpa ingin membahayakan si wanita, pemuda itu mencoba untuk membuka kunci mobil.
Sayangnya tetap tidak bekerja, hingga akhirnya terpaksa mengambil kunci inggris dari bagasi mobilnya. Kemudian mengerahkan sekuat tenaga untuk memecahkan kaca mobil dengan pukulan. Meski beberapa kali percobaan baru berhasil. Barulah bisa membawa wanita itu keluar dari mobil.
__ADS_1
"Hey, sadarlah!" Ditepuknya pipi wanita yang kini duduk bersandar di trotoar, perlahan melihat kelopak matanya bergerak. "Tunggu sebentar, gue ambil air di mobil."