
Setelah semua ketegangan berakhir. Nau dan kawan-kawan mendapatkan kesempatan untuk bertemu Pak Manajer, lalu melanjutkan tugas yang memang menjadi tujuan mereka, sedangkan Rey sendiri mengajak Asma untuk kembali ke ruangan kerjanya. RA Company's yang merupakan singkatan dari Reyhan Aditya Company's adalah perusahaan induk di Jakarta.
Dimana perusahaan ini didirikan untuk menjadi multitalenta. Bukan hanya memiliki cabang dengan berbagai hasil yang memuaskan, tetapi berbeda-beda fungsi yang bisa disatukan jika diperlukan. Reyhan dibantu Bagas beserta seluruh pekerja perusahaan berhasil memajukan kesejahteraan bersama dengan syarat dan ketentuan kebijakan yang selama ini sudah ditetapkan.
Kali ini, Rey ingin istrinya belajar peraturan agar bisa memahami visi misi perusahaan. Bukan karena proyek kerjasama, justru hal itu dia lakukan demi kebaikan Asma. Ketika langkah kaki memutuskan untuk menjadi bagian dari perusahaan, maka beban kewajiban lebih besar dari timbal baliknya.
Sebelum membuat keputusan harus berpikir tiga kali mengikuti asas kepentingan bersama. Jika boleh jujur, ia tak tega harus memberi tekanan berat atas tanggung jawab yang tidak seharusnya. Andai boleh bermain cantik, tentu akan dirinya lakukan hanya saja ia merasa sang istri bukan wanita lemah.
Disini tugasnya adalah tidak membedakan status yang bisa menjadi beban kesinambungan dalam pekerjaan. Maka dari itu wajib mengajarkan aturan perusahaan yang berlaku demi pembuktian diri. Apalagi dunia mulai menyorot kehidupan mereka sebagai suami istri.
"Mas! Ngapain ngalamun?" tanya Asma setelah menjentikkan jemari mengembalikan kesadaran Rey yang entah hilang kemana, pria itu menggelengkan kepala. "Aneh, Tuan Kulkas."
Gumaman sang istri masih cukup terdengar jelas. Meski wanita itu kembali sibuk membaca file yang ada diatas meja. Ia hanya bisa tersenyum, lalu mengangkat tangan mengusap kepala Asma. "Apa ada pertanyaan, Butterfly?"
"Sejauh ini tidak, lagian peraturan perusahaan sudah mirip kartu tagihan. Coba jelasin pake bahasa sederhana gitu." jawab Asma tanpa basa-basi yang kali ini berbicara dengan bahasa normal dan bukan formal.
Setiap kali menghadapi sifat lain sang istri yang suka bicara santai di mode kalem. Hatinya harus menahan senyum karena karakter polos seorang Asma keluar begitu saja. Ia merasa bahwa memiliki istri yang complicated. Terkadang misterius, tetapi di waktu lain seperti anak kecil yang enggan untuk berpikir keras.
Diambilnya file yang ternyata hanya menjadi pajangan di depan Asma, lalu ia memperhatikan isi daftar syarat dan ketentuan perusahaan beserta peraturan tetap yang semua pekerja harus patuhi. Benar juga sih, memang panjang kali lebar seperti kartu tagihan belanja.
__ADS_1
"Mas Rey! Yuhuu, aku disini. Jangan bilang pemilik perusahaan blum hapal juga peraturan yang dibuat," tatapan mata menelisik mencoba memastikan keraguan sepintas yang tidak masuk ke dalam hati, wajar 'kan curiga pada suaminya?
Rey menutup file, lalu menarik kursi di sebelah Asma seraya membalas tatapan sang istri tanpa rasa sungkan, kemudian duduk berhadapan. "Butterfly, peraturan mana yang ingin kamu tahu? Coba sebutkan, aku akan jelaskan."
"Mas Rey, tuh huruf minta di besarin. Capek bacanya kalau sekecil itu, jadi jelasin aja dari A sampai Z. Nah, aku duduk manis disini mendengarkan." cetus Asma tanpa jaim, membuat Rey tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi kanannya.
Heran deh, setiap kali jadi normal malah dapet cubitan pipi. Dikira bakpao kali ya? Gak sesakit itu sih, cuma tetap gak enak aja dicubit. Apa jangan-jangan lagi pengen makan kue cubit? Entahlah, pokoknya gak enak diuyel kaya boneka. Mau bales cubit juga, tapi takut wajah tampan suaminya luntur.
Sebagai balasan atas cubitan, Asma menjauh memundurkan diri bersandar ke kursi dengan kedua tangan menghalau Rey. "Bukan mainan, jangan digituin napa, Mas."
"Hehehe kenapa hmm. Dikit aja, boleh ya ...," bujuk Rey menggoda istrinya yang merajuk seperti anak-anak, apalagi bibir sang istri sudah maju karena kesal atas kelakuannya.
Ngambek sudah dengan kelakuan Rey siang ini. Jadi daripada pusing, lebih baik usaha tidur yang bisa bermanfaat untuk ketenangan pikiran. Biarin saja peraturan di cerna para pekerja lain. Sikap tak biasa Asma menyadarkan pria itu untuk lebih ekstra sabar. Ia tak ingin ada masalah baru yang bisa menjadi pertengkaran.
"Istriku, kamu mau makan apa? Biar aku pesankan.'' Rey bertanya sebaik mungkin, tetapi Asma terlanjur ngambek dan sibuk memainkan jemari tanpa ingin menatapnya. "Sabar, Rey. Anggap aja latihan punya anak."
Ucapan lirih yang masih terdengar di telinga istrinya. Hanya saja wanita satu itu memilih diam tanpa respon. Dibiarkannya Rey memesan makanan, sedangkan ia menikmati sandaran di kursi kerja yang tidak begitu nyaman hingga sesekali bergerak mencari posisi nyaman. Lagian kenapa orang suka kursi putar?
"Butterfly, tidurlah di kamar!" Rey beranjak dari tempat duduknya, lalu menarik kursi yang diduduki Asma. "Ayo, istirahat di sana saja."
__ADS_1
"Mas, mau ngapain?" Tatapan mata waspada bersambut cubitan pipi lagi, sontak saja ia memanyunkan bibirnya ngambek. "Nyebelin ... Emmpp ...,"
Rasa gemas yang melanda berakhir pagutan paksa agar wanitanya bungkam tanpa suara. Di saat yang sama, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka membuat langkah kaki seseorang terhenti dan tanpa ini itu berbalik arah. Ia datang di waktu yang salah.
"Rey, bisa tidak romantis kalian di dalam kamar. Ini kantor loh." Ingatnya agar Sang Bos lebih peka terhadap dirinya yang jomblo, ya kali jiwa kesendiriannya ikut meronta.
Rey menyudahi pagutan, tatapan masih terpaut tenggelam ke dalam coklatnya netra sang istri seraya tangan sibuk mengusap bibir basah wanitanya. "Pergilah! Password pintu 013181."
Tanpa membantah, Asma beranjak dari tempatnya. Ia meninggalkan kedua sahabat yang pasti ingin membicarakan hal penting. Apalagi kedatangan Bagas yang secara tiba-tiba, seketika menghilangkan kepercayaan diri. Bisa-bisanya datang di saat mereka tengah berciuman.
Suara pintu terbuka, kemudian tertutup kembali mengalihkan perhatian Bagas yang berbalik memastikan kondisi sudah aman untuk dirinya yang jomblo. Rey bahkan tidak meminta maaf karena menodai matanya, tapi dari semua itu. Ia senang hubungan pasutri itu selalu hangat.
"Mau sampai kapan menatapku begitu? Tahun baru dua ratus ribu kemudian." sindir Rey yang beralih duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Bagas berjalan menghampiri meja kerja yang berjarak enam meter dari pintu masuk.
Sebuah file biru tua yang ia bawa menjadi alasan datang di waktu salah. Begitu jarak terkikis. File diletakkan ke atas meja agar Rey memeriksa sendiri. Apapun isi di dalamnya tidak memerlukan penjelasan secara lisan. Ditengah mode baca, tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya.
"Rey, apa kamu tidak ingin ikut program kehamilan?" tanya spontan Bagas menatap serius saudaranya yang masih fokus dengan isi file.
Sepertinya pria satu itu lupa, bahwa Rey memiliki kebiasaan menyimak disaat sibuk fokus pada pekerjaan. Selama beberapa menit hanya ada keheningan hingga file di tutup tanda usai dibaca secara seksama. Akan tetapi aneh, di tengah kabar gembira kenapa saudaranya tampak murung?
__ADS_1
Bagas menarik kursi, lalu duduk dengan fokus pandangannya menatap pria yang ada di depannya. "Rey, apa ada masalah?"