
Permintaan maaf yang seharusnya keluar dari mulut Bagas, justru kakaknya sendiri yang meminta maaf. Bagaimana bisa seperti itu? Meskipun ia tahu, keluarga memang selalu memiliki keunikan sendiri. Hanya saja, terlalu kontras kehidupan yang dijalani oleh Ka Asma.
Gadis yang memiliki prinsip dan sudut pandang sepertinya, tapi hidup dengan satu pria pendiam dan satunya lagi selalu ceplas-ceplos. Bagaimana rasanya? Sungguh tidak bisa memikirkan itu. Apalagi setelah mengetahui bagaimana cara Bagas bersikap.
Sebenarnya ia sadar, pria itu hanya mencoba untuk menjauhkannya dari urusan keluarga. Mungkin beranggapan orang luar tak seharusnya masuk lebih jauh lagi. Jika memikirkan lebih jauh lagi, pasti ada sebab dan akibat. Satu hal pasti yaitu Bagas ingin menyelesaikan semua masalah secara cepat.
Apakah keberadaannya menjadi tempat pelampiasan? Bisa jadi seperti itu. Semakin memikirkan, justru membuat kepala berputar hingga usapan lembut terasa menyentuh lengan. Kesadarannya kembali ke masa kini menyambut tatapan mata khawatir sang kakak.
"Gak papa, Ka. Aku maklumin kok, lagian semua demi kebaikan keluarga. Jadi it's ok." jawab Fay tak ingin menambah rasa bersalah gadis di depannya, cukup tahu semua yang terjadi bukan bermaksud menyakitinya.
Jawaban yang sedikit melegakan hati, meski masih merasa bersalah. Niat awal pertemuan untuk menikmati waktu bersama atau setidaknya bisa jalan-jalan, tapi berakhir masalah yang entah datang dari mana. Ia pun tak paham dan tidak bisa meramal keadaan.
"Fay, apa kita bisa bicara serius?" Asma menatap Fay semakin lebih serius, mau tidak mau harus membicarakan isi pikirannya dengan gadis satu itu.
Firasatnya sedikit antisipasi, tetapi pasti bukan masalah sepele. Secara sadar, pikirannya terkoneksi akan masalah yang ada saat ini. Apakah mungkin keseriusan sang kakak untuk masalah wanita lain dalam biduk rumah tangga? Jika iya, tentu harus mendengarkan secara seksama.
Fay menggeser posisinya, lalu membalas tatapan mata gadis di depannya. "Kenapa tidak? Apa yang mau diobrolin?"
"Wanita yang kita lihat di hotel, namanya Elora. Dia mencintai Mas Rey, tapi papanya juga berbisnis dengan suamiku. Hubungan yang saling tarik menarik. Meski Mas Rey menegaskan tidak memiliki hubungan apapun. Sayangnya, wanita itu terobsesi untuk memiliki suamiku." jelas Asma tanpa basa-basi, membuat Fay speechless karena tidak ada rasa takut di mata seorang istri.
__ADS_1
Asma melambaikan tangan agar Fay tidak tertegun, "Fay, apa yang kamu pikirkan?"
"Lanjut, Ka. Aku masih nyimak, cuma sedikit terkejut, tapi fine." balas Fay menyunggingkan senyum tipis untuk mengembalikan suasana tenang.
Bisa dipahami dengan baik bagaimana perasaan Fay ketika mendengar pengakuannya. Lagi pula untuk apa menyembunyikan kebenaran yang memang saling berkaitan. Bagaimanapun hubungan mereka sudah terikat. Apalagi setelah Elora yang berpikir bahwa gadis itu istri dari suaminya. Bukan tidak mungkin, esok menjadi masalah lain.
"Situasi saat di hotel, sedikit salah tempat. Aku rasa Elora menganggapmu sebagai istri dari Mas Rey. Jadi dia tidak tahu, istri sebenarnya itu siapa. Permasalahannya, acara resepsi hanya menghitung hari dan menurutku, Mas Rey bakalan undang semua partner bisnisnya. Bisa jadi salah satu tamunya nanti adalah keluarga Elora."
Sejenak menjeda penjelasannya, menghirup udara perlahan, membiarkan pikiran tetap tenang tanpa gangguan. "Aku berniat untuk menemui Elora, tapi bareng kamu. Setidaknya aku bisa memastikan apakah dugaan ku benar atau salah. Ini tindakan nekat, Fay. Jadi pikirkan dulu, sebelum setuju dengan keputusanku."
Menemui Elora? Bukankah seperti mendekati ular berbisa. Dari pertemuan awal saja, sudah jelas seperti apa wanita itu. Jika Rey tidak menahan pergerakan si ular. Bisa jadi kuku panjang tanpa cat kuku mulai mencakar apapun yang ada di depan mata. Sayangnya pertemuan singkat itu, tidak baik untuk di kenang.
"Bisa aja sih, Ka. Cuma ada satu masalah." Fay kembali menggeser posisinya, kali ini menatap ke luar jendela. "Ka Asma tahu 'kan kalau aku harus izin sama Nau. Tahu sendiri, pemuda satu itu kalau mode serius kaya apa."
Benar juga yang dikatakan Fay. Ia lupa tentang Naufal yang seharusnya ada di antara mereka berdua. Jika tidak diingatkan, pasti tidak memikirkan pemuda satu itu. Sesaat mempertimbangkan kembali apa yang harus dilakukan, tapi tidak ada jalan lain. Akan tetapi, tidak mungkin melakukan secara diam-diam.
"Kita ajak dede sekalian, bagaimana?" celetuk Asma setelah terdiam beberapa saat.
Ide yang bagus, hanya saja tugas kuliah pemuda itu pasti menumpuk. Jika terganggu masalah lain, bisa jadi justru menambah waktu dan kasian teman-teman yang lain. Yah namanya juga manusia, pasti memiliki kesibukan masing-masing dan rencana kehidupan yang tidak bisa dipastikan. Mana mungkin bertindak egois?
__ADS_1
"Gak deh, Ka." Fay menggelengkan kepala menolak ide kakaknya, "Gini aja, Ka Asma tentuin waktu dan tempat. Soal Nau, biar aku urus. Kita bisa bilang jalan-jalan, yah beneran jalan kemana gitu biar gak bohong."
"Agree, by the way. Apa ada kabar soal jodohmu?" tanya Asma mengalihkan topik pembicaraan, namun Fay hanya mengedikkan kedua bahu tak tahu.
Lagian, soal pria yang ingin dijodohkan untuknya itu, ia saja tidak tahu apapun. Selain memberikan jawaban bersyarat yang membuat Nau berpihak padanya. Yah, pertanyaan Ka Asma menyadarkan kebebasan terakhir yang tinggal menghitung hari saja. Padahal ingin sekali melupakan. Tetap saja diingatkan.
Obrolan kedua gadis itu masih terus berlanjut dengan basa-basi yang bisa meredakan ketegangan, sedangkan di tempat lain. Dua insan masih saling diam seakan tidak memiliki topik pembicaraan. Selama tiga puluh menit perjalanan hanya ada keheningan, meski sesekali menjawab pertanyaan si sopir taksi yang mengemudi di depan.
"Pak, masuk gapura di depan. Tolong hati-hati karena jajalan cukup rusak." Nau memperingatkan, membuat Pak Sopir menganggukkan kepala.
Elora melihat ke luar jendela. Dimana di luar sana hanya ada pepohonan yang rindang. Jika malam tiba dan jalan sendirian, pasti menyeramkan. "Sampai kapan kamu di Jakarta?"
"Cuma beberapa hari, tapi tenang. Gue tetep tanggung jawab soal mobil Bu Dokter." jawab Nau tanpa menoleh ke arah Elora.
Wanita itu hanya melirik melaui kaca spion. Rasanya aneh. Kenapa pemuda yang masih bau kencur saja enggan menatap dirinya. Apa ia kurang menarik atau bagaimana? Ingin bertanya, tapi tidak ingin dipermalukan. Lebih baik memendam pertanyaannya sendiri hingga mobil memasuki pelataran penginapan Abah Rojali.
Nau bergegas turun dari mobil, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas merah. Pemuda itu mengetuk jendela depan, membuat Pak Sopir menurunkan kacanya. Diulurkannya uang cash yang menurutnya cukup untuk biaya tranportasi kali ini, "Antar Bu Dokter sampai ke rumahnya, dan semua biaya saya tanggung."
"De, ini kebanyakan." Pak Sopir merasa tidak enak dengan jumlah yang diberikan oleh penumpangnya, dan memisahkan dua lembar untuk di kembalikan. Sayangnya Nau menolak, lalu berjalan menjauh dari mobil taksi. "Alhamdulillah rezeki anak,"
__ADS_1
"Anak bapak kenapa?" tanya Elora penasaran.