Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 74: INSIDEN


__ADS_3

Usaha Nau untuk mengembalikan kesadaran wanita itu, akhirnya membuahkan hasil. Setelah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit hingga kesadaran mulai kembali untuk mengendalikan dirinya sendiri. Meski masih sedikit tampak terkejut, namun begitu melihat kondisi mobil yang rusak cukup parah.


Wanita itu langsung berdiri dengan tangan yang menahan kepalanya. "Astaga mobilku, apa yang kamu lakukan? Merusaknya ...,"


"Tenang! Aku siap ganti rugi, tapi pikirkan kondisimu terlebih dahulu. Kita cari klinik terdekat. Apa kamu tahu, dimana puskesmas atau rumah sakit yang bisa kita datangi?" Nau tak ingin membuat suasana menjadi lebih tegang, saat ini memeriksakan diri lebih diutamakan.


Ingin menolak. Sayangnya tubuh berkata lain. Ia tahu kecelakaan yang tak disengaja bisa menyebabkan pendarahan atau cidera. Akan tetapi hanya bisa diketahui, jika melakukan pemeriksaan. Tak ingin lebih banyak berdebat, membuatnya memberitahukan alamat rumah sakit terdekat. Berhubung kedua mobil mengalami kerusakan.


Nau memilih menghentikan taksi yang lewat. Tentu tak lupa mengambil jaket dan juga ponsel yang ternyata sedikit retak. Keduanya pergi meninggalkan lokasi kecelakaan, sedangkan wanita itu menghubungi pihak bengkel untuk mengatasi masalah yang bisa menyebabkan kemacetan.


Perjalanan selama lima belas menit berakhir tepat di depan sebuah rumah sakit umum. Rumah sakit Bunda Harapan. Niat hati ingin membantu, namun tangannya ditepis wanita itu. Tak ingin membuat masalah, Nau memilih berjalan di belakang untuk berjaga-jaga.


"Selamat siang, Dokter Elora." sambut seorang suster yang mengenali wanita itu, membuat Nau merasa lebih baik karena kini mengetahui nama dari teman insidennya.


Dokter Elora mengangguk, ''Apa Dokter Jasson ada?''


''Dokter Jasson ada di ruangannya, tapi masih menangani pasien terakhirnya. Dokter bisa menunggu, saya permisi masih ada tugas." jawab si suster , kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Elora menoleh ke belakang. Dimana Nau tetap berdiri menjaganya. Bukan merasa kasihan, tapi ketika tatapan mata tak sengaja melihat luka yang ada di siku kanan pemuda itu. Ada insting sebagai dokter yang meminta pertanggung jawabannya. Lagi pula yang terluka bukan hanya dia seorang dan insiden terjadi atas keteledorannya dalam berkendara.

__ADS_1


''Namamu siapa?''' tanya Elora seraya mempersilahkan Nau untuk duduk di kursi tunggu sekaligus memberikan perawatan pertama.


Dokter Elora mengambil kotak obat dari kotak kaca yang memang tersedia untuk keadaan darurat. Lalu keduanya duduk bersebelahan, kemudian memulai pengobatan yang bisa mengantisipasi adanya infeksi pada luka yang terbuka. Cairan antiseptik yang dituangkan ke kapas untuk membersihkan luka di siku Nau.


Nau menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan, ketika cairan antiseptik menyentuh membersihkan lukanya. ''Naufal. Sorry atas insiden tadi, gue gak bermaksud mencelakai orang dan berakhir di rumah sakit.''


Keduanya mencoba untuk saling berkomunikasi agar bisa saling memaafkan dan juga saling mengenal hingga kedatangan Dokter Jasson menghentikan percakapan mereka. Selama empat puluh menit melakukan pemeriksaan yang tidak tanggung-tanggung. Sepertinya wanita itu sangat menjaga diri atau karena sebagai dokter, maka lebih suka mengantisipasi.


Satu sisi Nau terlibat dengan Elora, sedangkan disisi lain ada Asma yang mencoba melengkapi kebenaran dalam kehidupannya. Gadis itu masih memainkan jemari mengetuk meja kaca di depannya dengan tatapan mata menelisik tajam. Sehingga membuat Bagas tak bisa berkutik lagi, walau ingin melarikan diri.


''Ka Bagas, apa sulitnya menjelaskan secara singkat? Aku tidak akan membuat masalah, tapi jika masih bungkam. Bisa saja aku berubah pikiran, bagaimana?'' tukas Asma bukan untuk mengancam, melainkan hanya sekedar mengingatkan.


''Asma, apakah ini sangat penting? Rey tidak memiliki perasaan sedikitpun ...,'' elak Bagas yang langsung terhenti karena Asma semakin menatapnya dengan tajam yang menenggelamkan.


Tidak habis pikir, aura disekitarnya langsung berubah membuat bulu kuduk meremang dengan hembusan angin yang menerjang. Kini tidak bisa mengubah arah haluan, selain berbicara yang sebenarnya demi kebaikan bersama. Walau itu berarti mengaduk masa kini dan masa lalu menjadi satu tujuan.


''Elora bukan gadis sederhana sepertimu. Dia bukan hanya cantik secara fisik, tapi cantik dalam melakukan permainan politik. Jika Rey selalu berpikir logis, maka wanita itu hanya peduli pada kemenangan. Entah sudah berapa kali, aku menyelamatkan suami mu dari jebakan yang bisa menghancurkan masa depannya. Setidaknya lebih dari lima kali. Insiden ranjang hampir terjadi.''


Insiden ranjang? Sejenak memikirkan arti itu. Namun yang terbesit dalam pikiran adalah adegan panas yang bisa menjadi kesalahan fatal. Jika itu dilakukan atas dasar suka, atau memang sebagai profesi. Tentu bermakna berbeda. Sepertinya memang adegan itu yang dimaksud dari insiden ranjang.

__ADS_1


"Jika Rey tidak sering ke luar kota. Elora pasti akan terus berada di sekelilingnya tanpa mengenal waktu. Entah itu kantor, cafe bahkan tempat rapat. Jangan tanya soal kekuasaannya karena dia salah satu putri seorang pebisnis dan sekaligus menjadi seorang dokter yang memiliki jabatan cukup penting."


Sungguh wah mengagumkan dengan penjelasan yang diberikan Bagas untuknya. Ingin menyesal memaksa mendapatkan jawaban, tapi kebenaran sepahit atau semanis apapun. Akhirnya akan tetap sama, semua masalah atas nama Elora harus disingkirkan agar bisa hidup dengan tenang. Diam mendengarkan tanpa bantahan.


Bagas tak mau menyisakan apapun di antara kebenaran, kenyataan dan permainan yang selama beberapa tahun menjadi kehidupannya. Mungkin terlalu berlebihan untuk menceritakan dari A sampai Z, tetapi jika itu bisa memperbaiki keadaan. Kenapa tidak? Lagi pula Asma istri sah yang berhak atas semua kisah milik suaminya.


Tanpa sadar, Bagas membuat Asma tenggelam dalam emosi yang tak mampu diterjemahkan. Rasa sesak di dada dengan putaran kepala yang berdenyut. Benar-benar tidak karuan baik hati dan pikiran yang seperti ikut bertarung dalam kebenaran yang berselimut keyakinan. Siapa yang akan menyangka, kehidupan membawa badai dalam senyuman.


Kesibukan Bagas menjadi pendongeng dadakan mengalihkan seluruh beban yang selama ini ditanggungnya seorang diri menjadi milik bersama. Asma merasa, pria satu itu siap menyerahkan hidup dan matinya demi menyelamatkan Rey. Akan tetapi, apakah itu demi persahabatan, persaudaraan atau balas budi? Tidak seorangpun tahu kecuali Bagas sendiri.


"Tuan, Nona. Maaf mengganggu, tapi yang lain sudah menunggu untuk makan siang bersama." lapor Bi Nunu dari luar pintu tanpa berani mengetuk pintu kaca yang sengaja di tutup rapat oleh Asma.


Bagas menoleh melihat pelayan berhijab itu, "Kami akan datang, Bi." Lalu kembali menatap sang adik yang masih diam dengan kedua tangan saling bersedekap. "Asma, kehidupan hanya memberikan satu kesempatan di setiap keputusan. Sejak pertama melihatmu, hatiku berkata kamu pantas untuk seorang Reyhan Aditya. Pahamilah satu hal ini, Rey hanya peduli pada orang terkasih yaitu keluarganya saja."


Tanpa diberikan penjelasan pun, ia tahu dan paham seperti apa Rey yang terbiasa fokus ke depan. Akan tetapi melupakan sekelilingnya, sedangkan musibah dan pengkhianatan selalu berdiri di samping atau bersembunyi di belakang. Seperti masalah yang akan jatuh menimpa bayangan, sebelum menyentuh kesadaran.


"Ka, atur pertemuanku dengan Elora." ucap Asma tanpa keraguan, seketika mengejutkan Bagas yang langsung ternganga tak percaya. "Masalah bukan untuk di hindari, Ka. Aku hanya memerlukan satu kepastian. Jangan menolak permintaan kecilku dan pastikan Mas Rey tidak tahu."


Setelah mengatakan keinginannya, gadis itu beranjak pergi meninggalkan taman. Sementara Bagas jatuh terduduk lesu seraya menjambak rambutnya sendiri. Tidak habis pikir, ketika sudah memberikan sebuah peringatan yang tidak boleh dilanggar. Justru adiknya secara sadar ingin melewati batasan. Bagaimana jika Rey tahu?

__ADS_1


__ADS_2