Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 17: Makan Malam, Diam


__ADS_3

Asma menoleh ke arah Rey yang duduk bersandar di tepi ranjang dengan tatapan ke arahnya. "Nasi goreng saja dengan secangkir kopi hitam."


"Ini sudah malam, ganti jus buah saja. Ok." balas Rey, dia tak ingin istrinya justru begadang karena minum kopi di malam hari.



Kenapa orang bertanya? Jika ujungnya memutuskan sendiri. Satu kebiasaan yang sangat menggemaskan. Sudahlah. Ingin berdebat juga percuma. Lebih baik kembali memejamkan mata, terserah pria itu mau melakukan apa.



Kembalinya Asma menikmati ketenangan dengan mata terpejam, hingga lupa ponsel dalam keadaan lowbat. Sepertinya gadis itu terlalu lelah untuk berpikir. Perubahan di dalam hidupnya terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari pergantian musim.



Tiga puluh menit kemudian.



Makanan yang dipesan datang, Rey membuka pintu kamar secara perlahan. Setelah melihat Asma yang terlelap, pria itu tak ingin membuat istrinya terbangun. Ia sadar, sang istri pasti kelelahan. Namun, aroma masakan yang menggoda menguar menyebar ke seluruh ruangan.



"Ugghh, sudah datangkah?" tanya Asma mengerjap mencoba memaksa matanya terbuka, meski terasa berat, tetapi rasa lapar mengalahkan rasa kantuk yang mendera. Apalagi setelah mencium aroma makanan, "Aku basuh muka dulu."


Asma menyibak selimut, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Setengah kesadaran, membuat gadis itu lupa dengan penampilannya saat ini. Langkah kaki berjalan menghampiri kamar mandi, meninggalkan Rey yang tertegun dengan pemandangan di depan mata.


*Ya Allah, kuatkan hamba. Jangan biarkan kekhilafan menyandera hamba Mu ini.~batin Rey menghembuskan nafas beratnya*.



Gemuruh di dalam dada bersambut hawa panas yang menyebar menjalar ke seluruh syaraf di dalam tubuhnya. Ia lelaki normal, wajar ketika mendapatkan pemandangan halal mulai berharap untuk bisa memiliki. Untung saja, akal sehat masih berdiam diri mengantarkan kesadaran.



Tak ingin berpikir lebih jauh akan malam pertama. Rey mengatur meja sedemikian rupa agar bisa makan malam bersama. Pria itu duduk menunggu sembari memainkan ponselnya, sedangkan Asma kembali dengan wajah lebih segar. Langkah gadis itu bukan menghampiri suaminya.


__ADS_1


Akan tetapi, mendekati kursi di depan meja rias. Dimana pakaian pengantin dengan luaran kebaya menjadi tujuannya. Ia sadar akan penampilan yang begitu terbuka dan untuk menutupi tubuh yang terpampang jelas. Diambilnya kebaya yang mirip blazer, kemudian dipakainya.



Sesaat menatap diri sendiri dari pantulan cermin seraya mengikat rambut panjangnya menjadi satu bagian agar lebih nyaman. Setiap gerakan yang dilakukan sang istri. Rey hanya melihat melalui lirikan mata. Ternyata istrinya pintar untuk menyiasati penampilan agar tidak begitu terbuka.



"Bisa kita makan? Aku sangat lapar." tegur Rey mencoba memulai perbincangan, membuat Asma berbalik menatap ke arahnya. Kemudian menganggukkan kepala.



Langkah gadis itu berjalan menghampirinya. Wajah dengan make up yang masih terlihat jelas. Bibir tanpa senyuman dengan ekspresi tenang. "Kenapa cuma pesan satu?"



Di atas meja hanya ada seporsi nasi goreng, ditambah segelas jus dan juga segelas susu putih. Heran, tapi tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Jika lapar, kenapa tidak memesan beberapa menu makanan?



"Kata ibu, kamu susah makan. Jadi, Aku ikut nasehat beliau." Rey mengatur nasi goreng menjadi dua bagian, tetapi tetap dalam satu wadah yang sama. "Ayo, kita makan bersama. Lihat, ada dua sendok. Jadi jangan cemas."




Rasa lapar yang terus meronta, membuat Asma pasrah. Keduanya duduk bersebelahan, namun tidak nyaman dengan posisi seperti itu. Tak ingin menjadi canggung. Diambilnya selimut, lalu menggelar di bawah sofa. Kemudian berpindah tempat duduk. Sungguh melegakan.



"Kenapa dibawah?" tanya Rey serba salah dengan tingkah sang istri, gadis itu terkesan tengah menjaga jarak darinya. "Asma, kita mau makan. Bukan bermesraan, kenapa wajahmu begitu tegang?"



"Aku ingin duduk di bawah. Apa ada yang salah?" tanya balik Asma tak ingin kalah, kenapa pria itu tidak peka.


__ADS_1


Selama ini, dia selalu menjaga jarak dari kaum adam. Tiba-tiba, malam ini sekamar dengan seorang pria. Status memang sebagai suami sah, bukan suami orang. Hanya saja, tidak secepat kilat juga. Apa harus tersenyum sepanjang waktu? Atau harus menatap manja?



Kini hatinya dipenuhi kegelisahan. Ada rasa yang tidak mampu dijabarkan. Seakan memahami sang istri, Rey tak melanjutkan perdebatan. Keduanya makan dengan tenang, meski ada drama kecil sebelum menikmati makan malam.



Sepiring berdua. Orang mengatakan, berbagi makanan ditempat yang sama akan menguatkan cinta di hati pasangan tersebut. Apakah itu benar? Ketika kepercayaan menyelimuti sebuah keyakinan. Maka, itu akan terealisasikan dengan kenyataan.



"Ambil, minumlah!" Rey mengulurkan segelas jus jeruk ke Asma, tetapi gadis itu memilih untuk mengambil susu putih yang masih tergeletak di atas meja. "Apa kamu serius mau minum itu?"



Asma hanya mengangguk, lalu meneguk susu hingga tandas setengah gelas. Rasanya aneh. Susu harusnya terasa manis, tetapi kenapa agak pahit, ya? Apa ada campuran di dalam susu tersebut. Ditatapnya Rey dengan tatapan menelisik. Seulas senyuman mencurigakan terpatri di wajah pria itu.



"Itu bukan susu biasa, tapi juga ada obatnya. Aku menambahkan vitamin agar bisa menghangatkan tubuh," jelas Rey merasa tak enak hati, masalahnya vitamin yang dia maksud memiliki efek samping.


Asma mengembalikan gelas susu yang tinggal setengah ke atas meja, "Ouh, begitu. Maaf, aku tidak tahu."


*Lebih baik begitu. Jika tahu, sudah pasti kamu bergegas memuntahkan setengah susu yang sudah masuk ke perut.~ucap hati Rey menahan diri untuk tetap bersikap baik, lirikan matanya menghitung detik jarum yang berputar*.



Sesi makan malam berakhir dengan pertukaran minuman. Rey akhirnya menikmati segelas jus, sembari menunggu waktu berlalu. Lima menit kemudian, terlihat Asma mulai tidak nyaman duduk di bawah. Gadis itu sibuk mengibaskan tangan. Pasti merasa kepanasan.


Vitamin yang dimaksud Rey adalah sejenis obat untuk meningkatkan stamina. Jika pria yang meminumnya, tentu hanya akan memiliki efek samping biasa. Akan tetapi, entah apa yang akan terjadi pada Asma. Sebenarnya tidak tega, tapi sudah terlanjur.


"Kenapa panas sekali, ya?" tanya Asma pada dirinya sendiri, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Rasa panas yang terus menyebar ke seluruh tubuhnya. Seperti tengah berdiri dibawah terik matahari. Gerah banget, bahkan setelah mengelung rambut. Tetap saja, tubuhnya tidak kunjung dingin. Apa ada yang salah? Seketika berbalik menoleh ke arah Rey.


"Bisa berikan aku penawar? Aku tidak tahu, Vitamin jenis apa yang kamu minum, tapi ini sangat ....,"

__ADS_1


Belum usai ucapannya hingga menggantung. Rey sudah menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Usapan lembut yang ia rasakan mengalihkan seluruh kesadaran. Bisikan lembut pria itu membuat bulu kuduk meremang. Ingin lari, tapi raga terdiam tak mampu berkutik. Ada apa dengannya?


"Stttt. Pejamkan matamu, lepaskan semua beban pikiranmu. Calm down, Asma. Kita akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Percayalah." bisik Rey sekali lagi, lalu melepaskan pelukannya.


__ADS_2