
Pengakuan Bagas membuat Baby menghentakkan kaki sebal. Kenapa juga pria satu itu terlihat gusar? Bukankah memang dia kesayangannya atau wanita yang ada di atas ranjang yang lebih disayangi? Jika mengingat waktu, seharusnya hanya dia yang dianggap lebih penting. Iya 'kan?
Begitulah pemikiran Baby saat ini. Gadis itu tidak menyadari telah mengulurkan tangan salam pertemanan pada wanita yang salah. Rey yang melihat semua itu hanya memperhatikan karena ia pun ingin tahu sejauh apa hubungan Bagas dan Baby. Apalagi setelah melamar Fay untuk dijadikan istri.
Disisi lain Asma berhak mendapatkan penjelasan untuk memastikan kebahagiaan sang adik yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya. Tentu tidak asal main melepaskan begitu saja karena ia tidak ingin orang-orang terkasihnya saling menyakiti hanya karena satu ikatan baru.
Uluran tangan disambut hangat bahkan ia sengaja menyunggingkan seulas senyum manis yang menghiasi bibir. "Salam kenal, Baby. Jika kamu kesayangan Ka Bagas, maka siapa aku untuknya?"
Tatapan mata kembali menatap Bagas dengan harapan pria itu mengerti apa yang harus dilakukan.
Situasi semakin tidak nyaman. Sebenarnya tidak tegang juga karena saat ini hanya Baby saja yang berusaha menunjukkan posisinya di dalam kehidupan seorang Bagas. Gadis itu terlihat tidak ingin disaingi. Padahal tidak ada yang berniat mengambil posisinya sebagai seorang adik.
"Ka, tanganmu lepasin deh. Inget jangan menyentuh apapun." ucap Fay mengingatkan kakaknya tetapi terdengar seperti sindiran halus untuk Baby.
"Kenapa jadi seperti ini, ya? Padahal aku cuma mau kenalin semua orang. Huft malah menjadi drama yang tidak bisa dipahami." Bagas mengeluh begitu lirih hingga tak seorangpun mendengar keluhannya.
__ADS_1
Ibu Zulaikha memeriksa tangan Asma. Peringatan Fay membuatnya khawatir, sedangkan Baby merasa tidak diperhatikan lagi sehingga mundur secara perlahan kembali berdiri di sebelah Bagas. Pria yang diam seribu bahasa dengan sorot mata bingung. Kemana perginya ketegasan sang idola?
Suara langkah kaki yang terdengar sengaja ditekan berhasil mengalihkan perhatian semua orang. Langkah yang berjalan menghampiri ranjang tanpa menoleh ke belakang. Rey hanya menatap Asma, dimana istrinya tampak kelelahan meski masih saja berusaha terlihat baik-baik saja.
Kedatangan Rey membuat Ibu Zulaikha beranjak dari tempatnya. Wanita itu membiarkan sang menantu mengambil tugas yang memang menjadi tanggung jawab seorang suami. Apalagi ia juga sadar atas drama yang tengah bergulir di depannya. Kesalahpahaman harus segera diluruskan.
"Ka Bagas!" Baby menarik kemeja pria yang digandengnya agar mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga sang idola. "Apa kalian bersaing mendapatkan satu wanita? Kenapa Ka Rei memeluk pacarmu?"
Dua pertanyaan yang menggelitik benar-benar hampir membuatnya tersedak. Untung saja masih bisa mengatur napas dalam-dalam hingga kembali tenang. Ternyata Baby berpikir Asma adalah Fay. Kenapa bisa seperti itu? Secara tidak langsung bahkan orang lain bisa melihat Asma dan Rey memiliki hubungan spesial tanpa harus dijelaskan.
Dilepaskannya tangan Baby meski memberontak, lalu ia mengulurkan tangan menunjuk ke arah Fay yang berdiri tanpa ekspresi. "Dia, calon istriku." Kemudian beralih ke arah Asma yang tersenyum samar mendengar pengakuannya. "Adik sekaligus sahabat terbaikku."
Pengakuan Bagas sangat mengejutkan menyentak kesadaran Baby yang tiba-tiba saja terhuyung hampir jatuh ke belakang. Tatapan mata nanar mengikuti arah pandang tangan sang idola. Pikiran bercampur tak karuan antara sadar dan tenggelam dalam ketidakpastian. Gadis yang luput dari perhatiannya ternyata calon istri Bagas.
"Nando, tolong antar Ibu dan Fay kembali ke kamar atau ke kolam renang. Aku mau istriku istirahat total hari ini." ucap Rei menyambung pengakuan Bagas tanpa ingin membuat drama lagi.
__ADS_1
Fay berbisik sesuatu yang hanya bisa didengar ibu Zulaikha. Dimana ibu sang kakak yang kini juga menganggapnya sebagai putri sendiri menganggukkan kepala menyetujui saran darinya. "Ka Rey, aku bawa ibu sendiri saja. Sepertinya Baby lebih membutuhkan Bagas. Permisi, ayo, Bu."
Pernyataan Fay membuat Bagas menoleh ke arah samping tetapi Baby sudah tidak ada. Kemana perginya gadis itu? Ditengah kebingungan tiba-tiba Fay berhenti di sebelahnya. Sang calon istri menepuk pundaknya seraya tersenyum tipis menatap tanpa rasa curiga.
"Susul dia karena aku lihat, dia menyukaimu. Jelaskan secara perlahan posisinya agar tidak melukai hati seorang wanita. Kita bisa bicara nanti, kamu tahu dimana kamarku." jelas Fay, lalu kembali berjalan menjauh dari ruangan kamar sang kakak.
Bagas mengusap wajahnya kasar. Ia sadar akan keteledoran yang sudah dilakukan. Fay mungkin bisa memahami karena memiliki sifat yang hampir mirip Asma tetapi bagaimana dengan Asma sendiri? Hubungan yang baru saja ingin dirajut mendadak terancam bahaya kandas sebelum menjadi pola yang diinginkan.
"Wanita itu sangat rentan. Sekali jatuh cinta bisa melakukan hal di luar batas. Meski tergantung pada karakter masing-masing tetapi ku lihat Baby gadis yang mengharapkan untuk menjadi nomor satu. Selesaikan sebelum semuanya terlambat, Ka." ujar Asma tanpa beranjak dari tempatnya.
Suara helaan napas panjang bersambut acungan jempolnya. Langkah kaki berjalan menghampiri pintu kamar. Ia tak lupa menutup meninggalkan pasutri yang masih saja berpelukan. Kepergian Bagas membuat Asma melepaskan diri dari dekapan sang suami, lalu menarik tangan yang terasa mulai normal.
"Jangan sekarang, Butterfly. Aku akan jelaskan semuanya saat kita honeymoon." ucap Rey mengikuti arahan tangan Asma agar duduk saling berhadapan. Ia tahu istrinya ingin menanyakan perihal yang Juan katakan.
Tatapan mata saling terpaut membiarkan tenggelam dalam rasa. "Kita tanpa aku atau kita tanpa kamu. Dua fakta yang jelas berarti tidak satu. Apakah kita ini masih asing? Kurasa hanya tergantung bagaimana kita saling melengkapi. Bukankah begitu, Suamiku?"
__ADS_1