Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 154: Memilih Pergi


__ADS_3

Suara keras Baby berhasil mengalihkan perhatian banyak orang. Dimana mereka menatap ke arah dua wanita beda usia yang tidak berhadapan. Jelas sekali kemarahan menguasai si gadis Korea, sedangkan gadis satunya hanya tersenyum tanpa berniat membalaskan apapun.


Diamnya Fay membuat Baby kelabakan. Gadis itu tidak mengerti, kenapa ada gadis seacuh itu. Apalagi setelah ucapannya yang barusan. Apa benar calon istri sang idola memang baik atau hanya berpura-pura? Entahlah tetapi hati tak bisa memungkiri akan kekesalan yang melanda.


Langkah kaki berjalan mendekati Fay, "Bagaimana bisa Bagas lebih memilih wanita sepertimu? Cantik sih, tapi tidak bisa menjaga diri sendiri." Tatapan matanya menelusuri raga wanita yang kini bisa dengan jelas dipandangnya tanpa halangan. "Apa kamu senang merebut kebahagiaan orang?"


Diam tanpa kata. Semua masih aman karena baby hanya mengungkapkan rasa sakit di hati. Ia tahu, tatapan gadis Korea itu penuh luka. Ucapan yang dikeluarkan pun hanya refleksi dari kekecewaan. Pasti terjadi sesuatu yang semakin melukai baby. Yah, itu pasti.


"Apa kamu benar-benar bisu? Jawab aku!" Baby menunjuk wajah Fay begitu kesal. Apalagi tatapan gadis di depannya seperti mengejek. "Tidak kamu, tidak wanita itu. Kalian sama-sama menyebalkan. Ck, suka mengurusi masalah pribadi orang lain."


Apa tidak salah dengar? Wanita mana yang dimaksud baby? Entah kenapa ia merasa, si gadis Korea membicarakan kakaknya. Apa sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya? Akan tetapi, apa yang terjadi dan kenapa baby terlihat seperti raga tak bernyawa.


"Hei, kalian kumpul sini!" Baby melambaikan tangan membuat beberapa orang disekitarnya mendekat hingga menjadikan mereka berdua tontonan. "Ingat wajahnya, pastikan jauhkan anak laki-laki kalian dari gadis seperti dia. Gadis perebut kebahagiaan ...,"


"Stop!" Fay menatap Baby tajam, "Siapa kamu untuk Bagas? Istri atau pacar? Katakan!"


Baby terkesiap mendengar bentakan Fay yang mempertanyakan posisinya dalam kehidupan sang idola. Baginya Bagas adalah kehidupan, tetapi siapa dia bagi sang idola? Hanya adik, lalu bagaimana menjawab Fay? Apakah harus berkata jujur? Tidak.

__ADS_1


"Aku orang yang paling disayanginya." jawab Baby tanpa keraguan membuat Fay tersenyum kecut. "Siapa kamu untuk dia? Kamu itu cuma orang asing. Ingat itu!"


"Orang yang paling di sayang? Jika benar, kenapa kamu tidak tahu siapa aku?" Ditatapnya Baby menelisik, kegelisahan itu masih menjadi milik si gadis Korea. "Perkenalkan, namaku Ififay Aurelia Rahaja dan sebentar lagi menjadi Nyonya Bagas Fernando."


Orang-orang mulai berbisik tak karuan membuat Fay jengah. Terlalu miris untuk menjadikan masalah pribadi sebagai konsumsi publik. Gratis lagi. Kehidupan sudah dipenuhi ujian tapi baby menciptakan masalah tanpa berpikir dua kali. Ia paham, jika gadis Korea itu seperti petasan yang terlanjur dibakar.


Pernyataan Fay cukup jelas bahkan tidak ragu sedikitpun. Apa benar semua sudah sampai tahap seserius itu? Kenapa justru dirinya yang tersudut? Ingin sekali membantah tapi ingatannya terngiang layangan tangan Bagas yang hampir menampar.


Apakah benar, pria itu lebih menyayangi Fay? Kenapa ini lebih menyakitkan dibandingkan penolakan sang idola. Dua pengakuan menekan emosinya. Sakit tak mampu lagi terbendung. Diantara cinta masih ada harapan yang kini memudar ditelan angan kepalsuan.


Wajah pucat, bibir terdiam, tatapan mata nanar, tubuh gemetar. Baby mengalami shock membuat Fay menghela napas pelan. Ia tidak tega sebagai sesama wanita. "By, aku tidak tahu hubungan kalian sejauh apa dan berapa lama. Disini kita memiliki tempat masing-masing. Bagas tahu bagaimana bersikap, atau kamu meragukannya?"


Sementara Fay meminta maaf pada semua orang, lalu mengajak Baby pergi bersamanya. Diam dengan wajah menunduk menyiratkan rasa bersalah yang tampak jelas. Kepergian kedua gadis itu membuat semua orang ikut membubarkan diri. Meski mereka sendiri kebingungan dengan apa yang terjadi.


Langkah kaki terus berjalan tanpa henti hingga sampai di lobi hotel. Diajaknya baby ke tempat yang lebih dingin agar amarah di hati bisa diredam. Apa gunanya emosi? Ketika hanya menyakiti orang-orang yang bahkan tidak melakukan kesalahan. Keduanya duduk di kursi tunggu yang tersedia di ruangan ber-AC.


Sebotol orange juice disodorkan kedepan Baby, "Ambillah! Marah pun membutuhkan tenaga. Lagian, kita ini sama-sama cewek. Jika memang kamu yang dicintai Bagas. Tentu aku tidak disini."

__ADS_1


"Kenapa kamu bersikap baik? Setelah semua ucapanku yang sesuka hati." tanya Baby seraya menerima botol minuman dari Fay.


Keduanya duduk bersebelahan dengan tatapan mata ke depan menatap kaca bening yang jelas menunjukkan hijaunya pepohonan di luar sana. Area dekat parkiran yang memiliki pemandangan alam terbuka. Segar, asri dan bikin nyaman.


"Cewek itu terbiasa menilai tapi apa gunanya berkeras hati? Didunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan. Salah satunya cinta. Boleh saja memaksakan tapi jangan berharap hasilnya akan sesuai impian. Cintai diri sendiri, sebelum mencintai orang lain." tutur Fay sembari membuka tutup botol. Lalu meneguk minumannya, "Kenapa kamu mencintai Bagas?"


Pertanyaan Fay tepat sasaran hanya saja diwaktu yang kurang tepat. Lihatlah Baby kembali menundukkan pandangan menatap lantai putih. Keraguan gadis itu bisa dipahami tetapi masihkah bisa mempertahankan perasaan cinta? Setelah semua yang terjadi, ia menyadari kesalahannya.


Dipegangnya pundak si gadis Korea. Fay berharap Baby bisa kuat berperang melawan hati. "Tidak perlu dijawab. Disini, baik kamu atau aku memiliki tempat berbeda di dalam kehidupan Bagas. Jangan mencampur masa lalu bersama masa kini karena hasil akhir hanya ada masalah."


"Kalian memang mirip." Helaan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke belakang. Tatapan mata kembali menatap ke depan. "Maaf atas semua ucapanku. Ka Bagas membutuhkan wanita yang bisa memahami dia, bukan gadis labil sepertiku. Terima kasih karena mau duduk bersama sekedar untuk ngobrol dari hati ke hati."


"Apa kamu tahu, aku kembali ke Indonesia berharap menjadi pendamping idolaku. Akan tetapi takdir berkata lain. Semua sudah cukup jelas hanya saja, hati ini masih egois ingin memilikinya. Jika aku stay, maka kalian dalam masalah. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ka Bagas dan minta dia jangan mencariku. Please, Ka Fay.


"Anggaplah ini sebagai hadiah untuk hubungan baru kalian karena esok hanya ada ketenangan. Sebaiknya aku pergi sekarang, sekali lagi maaf dan terima kasih." Baby beranjak dari tempat duduknya, tetapi ada tangan yang menahan. "Ka, kepergianku hanya untuk kebaikan kita bersama-sama."


Semua jelas bahkan terdengar serius. Fay tak bermaksud menghentikan Baby. Gadis itu hanya memberikan pelukan pertemuan yang juga sebagai perpisahan. Kehidupan selalu memberi kejutan tak terduga. Seperti kisah cinta yang membuat hati manusia terombang-ambing di tengah lautan tanpa pelabuhan terakhir.

__ADS_1


Langkah kaki semakin menjauh meninggalkannya seorang diri. Ia salut dengan ketegaran Baby karena setelah emosi meledak, gadis itu kembali tenang. "Carilah kebahagiaan sejatimu karena kamu pantas untuk dicintai, By. Permasalahannya aku ingin tahu apa yang terjadi. Siapa yang bisa ku tanya?"


__ADS_2