
Asma melepaskan tangan nakal suaminya karena semakin nakal, lalu beranjak dari bath up. "Kita harus bersiap untuk acara malam ini 'kan? Jangan berpikir macam-macam, ya."
Ancaman manis tak membuat Rey merasa harus mundur, tapi yang Asma katakan memang benar. "Seperti keinginanmu, Butterfly, tapi tidak setelah semua acara berakhir."
Terserah saja mau merencanakan apa. Setidaknya sekarang selamat dari terkaman singa yang kelaparan. Pasutri itu menghabiskan waktu bersama hanya untuk melakukan ritual mandi bersama. Terkadang hubungan setelah pernikahan bukan sekedar tentang pelayanan di atas ranjang.
Banyak kegiatan lain yang bisa mendekatkan dua hati asing untuk saling berbagi kasih sayang, seperti yang dilakukan Rey dan Asma. Kedua insan yang dipertemukan oleh takdir, lalu disatukan karena perjodohan, kemudian saling menjaga demi kebahagiaan bersama.
Satu jam kemudian. Pasutri itu sudah selesai bersiap dengan penampilan sederhana yang terlihat begitu casual. Rambut setengah basah dibiarkan begitu saja. Keduanya berjalan meninggalkan kamar pribadi menuju ruang persiapan yang memang sengaja dipisahkan. Di saat menyusuri lorong hotel, kedua insan itu tak sengaja bertemu anak-anak.
"Ka Asma! Syukurlah ketemu disini," Nau menghentikan langkah pasutri yang tampak serasi, meski terlalu mencolok dengan perbedaan bentuk fisik. Nyatanya saling melengkapi satu sama lain, "Aku dan yang lain mau kasih ini sebagai ucapan selamat atas pernikahan kakak dan kakak ipar."
Rangkaian bunga mawar putih diserahkan dari tangan Satya ke Wildan, lalu kemudian ke Naufal, barulah ke Asma. Cantik, elegan dengan harum bunga mawar yang khas. Hadiah sederhana dari anak-anak lebih berarti dari hadiah mewah yang mungkin saja tidak tulus. Diterimanya buket bunga berpita biru muda.
"Makasih, De dan untuk kalian semua. Kalian baru datang atau ...," Asma mengalihkan perhatiannya, tetapi bukan sekedar menatap anak-anak. Melainkan ia tak sengaja melihat Fay dan Bagas yang baru saja keluar dari kamar sang kakak. "Sebaiknya kalian istirahat dulu. Acara masih cukup lama."
__ADS_1
Tingkah aneh sang istri juga dipahami Rey karena ia juga melihat apa yang menjadi pengalih perhatian di depan sana, hanya saja pikiran tetap positif. "Kalian bisa ke lantai sepuluh untuk istirahat. Ayo, Istriku."
Tangan yang merengkuh pinggangnya begitu posesif seakan ingin menunjukkan dia hanya milik suaminya seorang. Apa Rey masih cemburu dengan Satya? Jika iya, aneh saja. Satya masih sangat muda bahkan seumuran dengan sang adek Nau, sedangkan ia tak memiliki waktu untuk berpikir pria lain.
Reyhan sudah memberikan segalanya tanpa diminta. Kebahagiaan secara lahir maupun batin. Lalu apa yang kurang? Sehingga menjadi alasannya untuk berpaling. Secara logika saja, keduanya sudah bersatu menyempurnakan hubungan suami istri. Tentu tidak memiliki tempat untuk memasuki dunia lain yang bisa mengguncang keyakinan.
Nau dan kawan-kawan memberikan jalan untuk pasutri itu lewat karena kebetulan lift memang ada di area belakang tempat mereka berdiri. Dari semua pasang mata, hanya Satya yang masih enggan mengalihkan perhatiannya dari Asma. Padahal pasutri itu semakin menjauh hingga berhenti di depan pintu lift.
Lagian, ngapain dia ngenalin kakak onlinenya pada sahabat real? Orang yang di dunia nyata aja masih banyak. Apa kepala anak satu itu kebentur? Bisa-bisanya mulai melantur hal di luar batas kewarasan. Sebenarnya cukup bagus juga karena pemuda satu itu juga terkenal dingin kalau sama cewek kampus.
Setiap kali ditanya kenapa gak pacaran. Jawabannya simple yaitu cewek banyak, tapi yang bisa diperjuangkan cuma satu. Kalau pacaran ujungnya sakit hati, mending single. Apa harus menyakiti hati wanita? Gimana kalau ada yang nyakiti saudaranya Widya? Antisipasi jalan terbaik.
Lalu sekarang? Kemana prinsipnya melarikan diri? Baru bertemu tiga kali, tapi hasil sudah mulai menuju ke arah jalan yang sesat. Kalau sang kakak masih single, ok saja, tapi nyatanya sudah berkeluarga. Ya kali mau nikung? Makin marak aja kasus prebinor alias perebut bini orang.
__ADS_1
Nau menepuk bahu Satya, "Elo, gak usah aneh-aneh. Ka Asma, kakak gue dan jangan jadi pihak ketiga di hubungan sakral. Ingat kita semua beriman. Kayaknya, kita semua butuh nobar atau ngopi sekarang. Cabut, guy's!"
Manusia seringkali lupa bahwa kebenaran yang ada di depan mata saja masih bisa tak nampak. Bagaimana ingin tetap di jalur aman? Satya tahu bahwa perasaannya salah, tapi entah kenapa hati berusaha mendekati seorang Asma. Sadar akan haluan kapalnya yang mulai berubah arah karena istri orang.
Sementara Asma dan Rey baru saja masuk ke dalam lift. Pasutri itu tidak saling bicara bahkan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Asma merasa ada yang aneh dengan hatinya. Tiba-tiba ia malas melanjutkan acara yang akan diadakan nanti malam, mood seketika anjlok tanpa alasan yang jelas.
Suara pintu lift terbuka, Rey mengajak Asma keluar bersama. Langkah kaki meninggalkan lift, lalu berjalan menyusuri lorong hotel paling dasar. Wajah murung sang istri begitu jelas, tetapi ia juga tidak tahu alasan kesedihan istrinya. Walau begitu, ia hanya ingin memperbaiki suasana hati dengan membawa wanitanya ke taman utama hotel yang memang berada di sisi utara lantai dasar.
"Butterfly, are you okay?" tanya Rey berbisik dengan wajahnya yang begitu dekat mengembuskan napas hangat menerpa tengkuk leher sang istri.
Asma menoleh hingga tatapan matanya bertemu netra Rey yang selalu memancarkan ketenangan. "Mas, ini tempat umum. Bisa jaga jarak gak?"
Kemesraan pasutri itu, tidak mengenal waktu dan tempat. Para tamu hotel yang tak sengaja melihatnya hanya bisa melengos menatap ke arah lain. Ada juga yang terpana karena ketampanan Reyhan. Sementara yang menjadi pusat perhatian masih saja bodoamat tanpa melepaskan tangan dari pinggang istrinya.
"Apa kamu malu punya suami seperti diriku?" Rey semakin mengeratkan pelukan, membuat Asma harus menahan napas dalam-dalam.
Apalagi tangan dingin pria itu mulai menyusuri wajahnya yang tak bisa dielakkan. Senyuman menggoda dengan tatapan mata penuh kerinduan. Ia tak memungkiri bahwa selama pernikahan, sang suami menjadi banyak sosok untuk menyeimbangkan hidup bersamanya. Terkadang menjadi teman, sahabat, seorang kakak, suami, sekaligus ayah. Siapa yang tidak bersyukur dengan semua itu?
"Mas Reyhan Aditya, Tuan Kulkas kesayanganku. Apa kemesraan harus jadi bahan tontonan orang banyak? Balik saja ke kamar! Kita minta Bagas yang gantiin posisi di acara resepsi. Gimana?" ujar Asma begitu tegas, lembut dan pelan dengan maksud mengingatkan suaminya yang kadang memang sesuka hati.
Rey melepaskan tubuh istrinya dengan wajah masam, "Hmm. Kita makan saja, mendadak aku laper."
__ADS_1