
Axel mengalihkan perhatiannya melihat siapa yang dimaksud sang putri. Dari arah tangga, seorang wanita dengan penampilan elegan mengenakan gaun hitam bahan brukat. Gaun itu memberikan kesan pertama kesendirian, tetapi yang terlintas di benaknya adalah dia istri dari sang tuan rumah.
Sebagai seorang pria harus menjaga pandangan mata, maka memperhatikan sekian detik sudah cukup untuk mengenali wajah seseorang yang baru masuk ke dalam hidupnya. Hanya saja ia berpikir kenapa wanita itu justru pergi ke arah lain? Mungkin saja ingin memastikan persiapan sebagaimana yang dilakukan oleh para istri.
"Mr. Axel, silahkan duduk. Maaf sepertinya Rey masih bersiap," ujar Bagas mengalihkan perhatian agar tidak fokus dengan hal yang tidak seharusnya.
Pria itu masih menemani kedua tamu spesial malam ini. Kemudian mereka bertiga duduk bersama, tetapi gadis kecil yang masih memegang bunga trus sibuk memperhatikan sekitarnya. Jovanka Ileana Humeera itulah namanya yang berarti putri cantik pemberian Tuhan seperti matahari yang membawa kedamaian.
"Daddy, kebelet." Jemari kelingking yang ditunjukkan mengisyaratkan ingin ke toilet, membuat Axel mengusap rambut putrinya dengan gemas. "Uncle mana kamar airnya?"
"Sorry, maksudnya toilet." sambung Axel cepat agar Bagas paham dengan omongan putrinya yang terkadang memang ambigu alias sesuka hati.
Kedekatan ayah dan anak yang begitu intens. Wajah si gadis kecil yang sudah tidak bisa menahan lagi, membuat Bagas menunjukkan letak toilet berada. Axel segera menggendong putrinya dengan langkah kaki menjauhi ruang tamu, sedangkan yang di tinggal sejenak menetralkan perasaan.
Siapa yang tidak ingin memiliki keluarga? Apalagi setelah melihat kehangatan yang terpancar dari tamu malam ini. Ia sadar sudah waktunya untuk mencari pasangan, tetapi dengan siapa? Selama ini saja sibuk bekerja, jika membuang waktu hanya untuk kencan buta.
Lamunan yang berkelana tanpa arah tujuan mengalihkan kesadaran Bagas. Pria itu tidak menyadari kedatangan Fay yang berjalan menuju ke arahnya. Gadis satu itu tengah membantu Bi Jia membawakan minuman dan makanan ringan untuk para tamu.
"Bi, taruh saja." Fay tak ingin terlalu merepotkan Bi Jia karena wanita itu terlihat kurang sehat, tetapi masih memaksakan diri untuk ikut melayani tamu. "Bi Jia, please. Aku bisa atasi disini."
"Maaf ya, Non. Bibi jadi ngrepotin," ucap Bi Jia yang menerima anggukan kepala ringan hingga membuatnya tak sungkan untuk pamit undur diri.
Satu per satu gelas jus jeruk diletakkan ke atas meja, begitu juga dengan piring berisi kue, cemilan sehat seperti buah kering puding, sate buah marshmallow, dan martabak telur mini special. Makanan ringan yang beragam siap untuk disantap.
Tidak ada percakapan antara Fay dan Bagas. Kedua orang itu seperti makhluk tak kasat mata. Terabaikan meski saling berhadapan. Namun kedatangan Axel bersama putrinya sedikit mengurangi lapisan ozon yang teramat tebal sebagai penghalang.
__ADS_1
"Daddy, aunty cantik. Boleh bawa pulang?" celetuk Jovanka yang langsung mengubah suasana, tatapan berharap yang menggemaskan mencoba untuk membujuk papanya. "Daddy, please ...,"
Selama ini, semua keinginan putri tunggalnya akan selalu dikabulkan. Yah karena semua hal itu sekedar barang yang bisa dibeli menggunakan uang, tetapi tidak dengan permintaan kali ini. Wanita yang berdiri di depan mereka adalah istri dari tuan rumah.
"Princessnya daddy, listen me. Aunty cantik udah punya rumah jadi gak boleh tinggal di rumah yang lain." Axel merengkuh tubuh putrinya seraya menatap manik mata coklat yang begitu jernih. Tatapan saling beradu menegaskan keseriusan antara ayah dan anak.
Di saat yang sama terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Kedatangan seorang wanita dengan gaun biru cerah jatuh kebawah mengalihkan perhatian semua orang. Tiba-tiba Jovanka melepaskan kedua tangan papanya, lalu berlari meninggalkan ruang tamu.
"Jovanka!" seru Axel memanggil putri nya, suara yang mengejutkan semua orang hingga mereka tersadar bahwa gadis kecil kesayangan sang tamu berlari menghampiri wanita yang masih jauh dari lantai dasar.
Bukannya berhenti, Jovanka justru semakin gencar dengan langkah kaki yang pasti membuat wanita itu mempercepat langkah kakinya. "Hati-hati!"
Tidak tahu apa yang terjadi pada gadis kecil itu. Namun pertemuan pertama yang bersambut pelukan erat menyentuh emosinya. Diusapnya punggung Jovanka dengan lembut. Gadis yang harum dengan aroma shampoo strawberry. Sejenak membiarkan diri untuk tetap menghantarkan kehangatan.
"Siapa namamu?" Asma mencoba melepaskan kedua tangan mungil yang terus saja menempel memeluknya, tetapi gadis itu tak mau merenggangkan pelukan sedikitpun. "Nak, apa yang terjadi?"
"Kalian bisa duduk! Aku akan bawa anak ini ke taman. Apakah boleh, Mr. Axel?" Asma meminta izin tanpa sungkan.
Netra coklat yang sama seperti milik Jovanka menatapnya dengan tenang, bahkan seulas senyum menghiasi wajah manis yang begitu menenangkan. Jika mengikuti pikiran ia menolak secara sadar, tetapi hati menyetujui dan tanpa sadar mengangguk memberikan persetujuan. Situasi yang semula canggung kembali mencair.
Asma berjalan melewati semua orang sembari menggendongJovanka untuk pergi ke arah taman, sedangkan Bagas meminta Mr. Axel untuk kembali duduk di ruang tamu bersama Fay. Selama beberapa menit hanya ada keheningan hingga kedatangan Rey mengalihkan perhatian.
Heran saja dengan mereka yang sama-sama dewasa justru diam seperti anak kecil yang tidak saling mengenal. Anehnya tidak ada yang ingin memulai perbincangan. Apa semua berjanji untuk puasa bicara? Meninggalkan para manusia beku, Asma yang duduk bersebelahan dengan Jovanka di atas ayunan.
"Mama lihat bintang itu," Jovanka menunjuk kilauan cahaya yang ada di langit, "Kata Daddy, ibu pergi jadi guru pengawas di atas sana, tapi kapan pulangnya ya?"
__ADS_1
Jujur ia tak paham, kenapa gadis kecil itu memanggilnya dengan panggilan mama. Akan tetapi melihat tatapan mata yang membutuhkan sandaran seorang ibu, hatinya tak tega untuk menolak. Apalagi peryataan dengan pertanyaan Jovanka menyadarkan dirinya, jika anak itu merindukan sang ibu yang pasti sudah meninggal dunia.
Tangannya masih mengusap kepala Jovanka, sedangkan tangan anak itu terus membelit perutnya yang datar. "Jovanka sayang, bintang di langit itu seperti emosi di hati. Coba pejamkan mata, dan katakan siapa yang datang menemuimu."
Jovanka mengikuti arahan, perlahan menutup kelopak matanya. Kegelapan yang menyapa memudar berganti sebuah bayangan yang kian menampakkan diri dengan wajah sumringah. Senyuman yang selalu menghiasi harinya selama ini. Sang papa tercinta mengulurkan tangan menunggu ia untuk berlari menghamburkan diri menelusup ke dalam pelukan.
"Daddy Axel." ucap Jovanka membuat Asma merengkuh tubuh itu agar tetap hangat, "Mama mau pulang bersama kami?"
.
.
.
......🍃🍃Visual IRD🍃🍃......
__ADS_1