
"Kehidupan tidak akan luput dari luka." Helaan nafas pelan menghentakkan sisa kesadarannya, sekuat tenaga menjaga diri akan hati yang semakin rapuh. "Masuklah! Ini sudah malam."
Niat hati ingin berbalik kembali masuk ke dalam rumah, tetapi sentuhan tangan yang mencengkram tangannya. Sontak menghentikan dirinya. Rey menatap dengan tatapan sulit diartikan, namun luka yang terpancar dari sorot mata suaminya. Sudah cukup menjelaskan.
"Nando, bisa beri kami waktu berdua? Aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku." Pinta Rey, membuat Bagas menganggukkan kepala, langkah kaki meninggalkan pasutri itu.
Hening. Keduanya hanya saling menatap menikmati hembusan angin malam. Entah sudah berapa banyak terdengar suara helaan nafas yang saling bersahutan. Gadis itu menunggu apa yang akan suaminya bicarakan, tetapi selama sepuluh menit terakhir hanya ada kebisuan di antara keduanya.
Semakin lama, justru terasa semakin mencekam. Ingin memulai, tetapi ia tak tahu. Apa isi hati dan pikiran pria yang berdiri di depannya. Sungguh, setelah semua kisahnya terungkap. Tidak ada lagi penjelasan, apalagi pemahaman yang bisa diutarakan. Semua berakhir dalam luka masa lalu.
Kecuali satu hal yang mungkin akan mengembalikan kesadaran. Langkahnya mendekat, lalu menghamburkan diri menelusup memeluk sang suami. "Maaf, Aku bukan istri yang baik. Masa lalu memang masih menikam hati ku, bahkan diri ini bisa mengingat setiap goresan luka darinya."
"Hentikan!" Rey membalas pelukan Asma, rasa yang membelenggu bukan kecewa, tetapi sakit menyesakkan dada.
Ia tak sanggup membayangkan menjadi Asma. Bukan karena tidak pernah jatuh cinta, tetapi pengorbanan gadis itu. Terlalu besar, bahkan tidak seharusnya dicampakkan. Bagaimana bisa ada pria yang seegois mantan tunangan dari istrinya? Ingin sekali meninju wajah pria yang berani menghancurkan hati seorang gadis atas nama cinta.
"Kenapa?" Rey tak sanggup melanjutkan pertanyaannya, jangan sampai dia juga menggali luka lama.
Pasutri itu berpelukan menghangatkan satu sama lain. Bukan tubuh, tetapi hati yang membeku. Asma yang tenggelam dalam aroma maskulin tubuh suaminya, sedangkan Rey yang berusaha menahan diri atas rasa bersalahnya. Tidak sekalipun bermaksud untuk meragukan karakter sang istri.
__ADS_1
Malam berlalu begitu cepat. Sang rembulan menyisihkan menuju peraduan. Suara gaduh dari luar dengan langkah kaki mondar-mandir, membuat Rey kehilangan rasa kantuknya. Setelah melihat jam yang masih melekat di pergelangan tangan, matanya mengerjap.
Pukul tiga pagi. Kenapa begitu gaduh? Apa ada yang melakukan pekerjaan sepagi ini. Baru saja ingin bergerak, tetapi tangan suara lembut menghentikan. Ternyata bukan dirinya saja yang terbangun, Asma juga ikut terjaga.
"Tidurlah, Mas. Aku yang akan keluar, hmm." bisik Asma menyibakkan selimut.
Melihat istrinya beranjak dari tempat tidur. Rey tak mau tinggal diam, ia memilih untuk ikut keluar. Melihat apa yang terjadi. Lagi pula, tidak enak jika dia tidur. Sementara semua orang sudah terjaga dan mungkin ada yang memerlukan bantuannya. Benar bukan?
Rumah sederhana, hingga untuk bertemu seisi rumah hanya perlu keluar dari kamar. Maka sudah bisa dipastikan wajah-wajah tak asing nampak hilir mudik di hadapan langsung. Sesaat memperhatikan Asma yang langsung mengambil alih teko air dari tangan kakak perempuannya.
Padahal, istrinya belum cuci muka. Apalagi ke kamar mandi, namun ketika melihat keluarganya tengah repot. Gadis itu langsung membantu tanpa mengatakan sepatah katapun. Benar-benar, istri idaman. Rey memilih menuju ruang tamu. Dimana anak-anak masih tidur lelap menikmati mimpi indah.
Terenyuh hatinya melihat pemandangan tak biasa yang seumur hidup baru disaksikan. Tangannya reflek mencubit lengannya sendiri. Sakit. Semua yang ada di depan matanya benar-benar nyata. Seulas senyuman menghadirkan kehangatan yang mengalir menjadi semangat baru.
"Mas, mau kopi atau teh?" tanya Asma seraya mengusap lengan kiri suaminya.
"Apapun yang kamu buat. Aku akan minum di gelas yang sama." Rey menoleh menatap istrinya yang masih terlihat setengah mengantuk, "Kemari, peluk aku sebentar saja. Aku mau, istriku semangat."
Manis. Rengkuhan manja seorang suami yang ingin menjadikan istrinya sebagai pelabuhan terakhir. Pelukan sesaat sepasang pengantin baru yang ternyata menjadi pusat perhatian keluarga. Dimana Ibu dan Kakak perempuan Asma berdiri dibelakang mereka berdua.
__ADS_1
Bukannya malu, apalagi canggung. Rey mengecup puncak kepala Asma dengan doa harapan terbaiknya. Setiap doa yang akan menjadi impian untuk keluarga kecilnya. Pelukan itu terhenti karena tangisan sang keponakan yang masih berusia lima tahun.
"Dek, biar Mbak aja. Kamu bisa istirahat lagi, atau bikin minum buat para pria. Pasti mas mu bangun sebentar lagi." cegah kakak perempuan Asma agar adiknya bisa melakukan aktifitas lain.
Hari ini akan ada acara pengajian, maka keluarga mempersiapkan diri sebaik mungkin. Meski menyewa katering untuk konsumsi, tetap saja harus menyiapkan menu sarapan agar tidak ada yang kelaparan. Maka dari itu, para wanita bangun lebih awal untuk mengurus keperluan rumah.
Sementara para pria akan mengurus pekerjaan yang berat. Seperti membantu tukang pasang panggung. Menata kursi dan juga mengatur keamanan agar semua tamu undangan aman dan nyaman. Keluarga yang mengajarkan kekompakan. Ketika diluar sana, semua harus dengan uang. Keluarga Asma bergotong royong saling melengkapi dengan pembagian tugas.
Tiga jam kemudian. Masakan sudah, tetapi Asma masih di dalam kamar. Dimana gadis itu baru selesai mengecup tangan suaminya dengan khidmat. Rey selalu membawa kebaikan, mengajarkan untuk sholat berjamaah disetiap waktu melakukan ibadah. Satu nilai plus untuk suaminya.
"Asma, boleh aku minta sesuatu?" tanya Rey seraya melepaskan kancing koko nya, membuat Asma berhenti melipat mukena. Tatapan mata saling beradu, "Aku ingin, membawa kedua orang tuamu ikut ke Jakarta. Apakah bisa?"
Permintaan yang sangat ia idamkan, tetapi suaminya tidak paham dengan pola pikir para orang tua. Bagaimanapun, rasa syukur tidak pernah ia lupakan. Siapa yang tidak bahagia, ketika suami memiliki kasih sayang untuk seluruh keluarga istrinya. Suami yang langka.
Digenggamnya tangan sang suami, tatapan mata yang menurun dengan pemikiran dalam. Ia mencoba untuk menyusun kata yang tepat agar bisa mengutarakan sudut pandang akan permintaan dari suaminya itu. Sesaat hanya ada keheningan.
Melihat istrinya begitu serius, walau bersikap sedikit ambigu. Tetap saja, hatinya masih bersabar untuk mendengar apa yang akan di ucapkan sang istri. Benar saja, hanya sesaat hingga Asma kembali membalas tatapan matanya.
"Setiap orang tua hanya ingin melihat anak mereka bahagia. Aku tidak keberatan, jika Ibu dan Ayah setuju. Akan tetapi juga tidak bisa memaksa, jika mereka menolak. Bicarakan keinginanmu dengan beliau. Aku hanya bisa mendoakan, karena untuk keputusan kehidupan keluarga hanya kepala keluarga yang memutuskan."
__ADS_1