
Obrolan kedua bersaudara itu berakhir tanpa ada sisa keraguan. Kenyataannya adalah mereka saling menguatkan dan meyakinkan dikala masing-masing mengalami goncangan kehidupan. Ikatan yang sudah menjadi akar benteng kekeluargaan tanpa batas nan bersinggungan.
Sementara orang yang mereka bicarakan tengah menjalani sidang empat mata. Setelah menyelesaikan ronde panas di atas ranjang, ternyata si pengantar pizza tertahan oleh tuan rumah yang tiba-tiba saja pulang di waktu tepat. Dimana hal itu membuat Elora harus menanggung akibatnya.
"Pa, ayolah! Apa salahnya dengan ini? El cuma belajar buat ...," ucap Elora mengungkapkan alibinya, tetapi ucapan belum berakhir justru berganti menjadi sentuhan hangat yang menyebarkan hawa panas di wajahnya.
Tatapannya begitu nyalang penuh emosi terpatri pada wajah sang putri tunggal dengan tangan gemetar yang menggantung di udara. "Apa kamu masih waras hah?! Main di celup sana sini tanpa berpikir akibatnya."
"Papa gak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu, El. Apa semua kegilaanmu adalah kebiasaan? Papa gak mau kamu terkena penyakit hanya karena haus sentuhan." Tubuhnya terhuyung ke belakang, ia tak bisa berpikir tenang dengan hasil perbuatan sang putri yang memang tidak bisa ditoleransi lagi.
Sebenarnya ia tahu, jika selama ini Elora memiliki kekasih yang bernama Andreas. Bukan hanya itu saja karena sebagai ayah, dia sangat mengenal bagaimana tabiat sang putri yang memang sudah kecanduan olahraga ranjang. Selama kurun waktu lama hanya bermain dengan satu pria, maka masih aman.
Namun setelah menyeret pemuda lain yang notabene benar-benar polos. Bagaimana dirinya tidak murka? Permasalahannya bukan itu saja, ia tak ingin Elora salah langkah yang bisa menyebabkan kegagalan dalam karir karena saat ini memang sedang di posisi sangat bagus.
Pernyataan dari Tuan Burhan, membuat El tersenyum lega. Ia pikir tamparan yang dilayangkan Sang Papa adalah bentuk perlawanan, tapi ternyata hanya peringatan yang harus menjadi kewaspadaan diri. Direngkuhnya kedua tangan yang mulai menampakan garis keriput, lalu diusap dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Papaku yang baik, El minta maaf udah buat khawatir. El janji gak ngulang hal sama, please jangan marah lagi." El menyandarkan kepalanya ke pangkuan Tuan Burhan.
Dimana pria itu selalu luluh dengan setiap bujukannya sebagai anak. Meski terkadang harus menggunakan cara yang nekad, tetap saja dia putri tunggal kesayangan. Pada akhirnya akan tetap mendapatkan setiap keinginan tanpa syarat.
"El, Aunty Khansa bukan seperti Papa. Pahamilah untuk menjaga jarak darinya karena setiap tindakanmu tidak bisa dibenarkan. Papa selalu bilang agar kamu pindah negara saja, tapi yang terjadi hanya penolakan." ujar Papa Burhan tanpa basa-basi.
Elora sadar benar, siapa itu aunty Khansa yang memang agamis dengan segudang kegiatan bermanfaat untuk banyak orang. Dulu ada masa, dimana ia menjadi anak baik dan disayang banyak orang hingga satu keinginannya mengubah jalur kehidupan.
Apa kekurangannya hingga Rey sang pujaan hati enggan untuk menerima cinta darinya? Ia juga punya emosi. Kenapa pria itu lupa hal sederhana itu? Memang benar dulu segala sesuatu masih sekedar rasa suka, tetapi pria itu tidak mau memahami isi hati dan usahanya.
Bagi Rey, kehadirannya hanya gangguan nyata, sedangkan baginya memiliki pria itu berarti pemujaan. Setiap waktu yang berlalu seperti menumpuk rasa cinta yang terus menyatu bersama keegoisan. Ia sadar bahwa kini bukan tentang cinta, tetapi obsesi untuk memiliki.
El beranjak dari tempatnya, lalu menatap foto keluarga yang hanya ada dia, papanya dan sang tante. "Never, Pa. Hati ini masih ditempat yang sama, lalu untuk apa pindah negara? Ujung dari perjalananku tetap hanya Reyhan seorang. Apa semua bisa ku genggam? Harus bisa, Pa."
__ADS_1
"El, Rey sudah memiliki istri bahkan Papa memberikan ancaman pada Mr. Axel agar berhenti dengan proyek yang bisa menjadi awal terobosan perusahaan RA Company's. Sekarang lihat apa yang dilakukan pujaan hatimu.
"Hanya dengan lima menit semua permainan berbalik kembali baik. Rey sengaja menyerahkan setengah saham agar istrinya memiliki andil dalam perusahaan. Pria itu bertindak cepat mengunci pergerakan lawan. Apa kamu paham, kenapa Papa sangat mengkhawatirkan keinginan hatimu?" sambung Papa Burhan berakhir dengan pertanyaan.
El berpikir keras langkah mana yang akan menjadi jawaban atas tindakan Rey. Sebagai dokter hanya untuk memenuhi keinginan hati yang lain. Dulu sempat berpikir jika untuk memenangkan hati seorang pria, maka ia harus memiliki pekerjaan yang mulia. Ternyata hasil dari perjuangan kembali ke zero.
Sekarang perjuangan seperti apapun tidak lagi masuk dan yang tersisa hanya harus melakukan secara paksa. Tidak peduli apakah akhir dari semua adalah luka atau bahagia, Rey harus memahami cinta di hatinya. Akan tetapi untuk itu harus melakukan satu gerakan agar bisa dekat dengan sang pujaan hati.
"Aku punya jalan keluar, Pa." El berbalik kembali menatap mata sayu yang lelah menghadapinya, "Apakah Papa bisa melakukan ini untukku? Aku mau ...,"
Ide yang menjadi akhir perdebatan menyentak kesadaran Papa Burhan. Untuk pertama kalinya sang putri siap melakukan perjuangan di jalan yang paling dihindari selama ini. Entah itu sebuah kebetulan atau memang takdir. Akan tetapi, sebagai seorang ayah akan terus memberikan yang terbaik untuk putri semata wayangnya.
"Papa setuju, tapi dengan satu syarat. Bagaimana?" Papa Burhan mengulurkan tangan kanannya, ia tak ingin kecolongan apalagi mengubah masa depan mereka menjadi gelandangan.
Bagaimanapun kesadaran masih menyentuh kewarasan. Satu langkah Elora bisa menjadi bumerang, tapi semua akan tetap baik dengan syarat yang akan dirinya ajukan. Kali ini bukan hanya tentang hubungan ayah dan anak karena diantara mereka berdua melibatkan banyak orang.
Elora menyambut hangat uluran tangan papanya. Tatapan mata penuh keyakinan hingga seulas senyum terkembang sempurna menghiasi wajahnya. Angan terbang mengepakkan sayap berharap mencapai angkasa bermain mengejar semilir angin. Khayalan tingkat tinggi jatuh dalam pelukan tanpa rasa.
"Berjanjilah ini usaha terakhirmu meraih keinginan hati untuk mendapatkan cinta Reyhan. Jika usaha ini gagal, maka kamu harus pindah ke negara lain. Janji?" sambung Papa Burhan seketika membuyarkan impian Elora.
__ADS_1
Bagaimana bisa bersikap pesimis? Selama ini ia gagal berulang kali, tapi tidak ada kata menyerah. Lalu sekarang? Apa perbedaannya? Kenapa harus ada janji yang menyulitkan? Lagi-lagi ia harus memilih antara setuju dan penolakan. Selama keinginan hati masih menggebu, maka tidak seorangpun bisa menghentikannya.
"Iya, Pa. Aku akan lakukan seperti keinginan Papa, tapi kapan ideku akan dijalankan?" pasrah Elora dengan niat lain di hatinya.