Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 112: Pertemuan Pertama


__ADS_3

Tatapan mata menelisik hingga ada tanya yang datang mengetuk hati. Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Fay? Apakah kakak atau kekasih? Bagaimana jika calon suami? Pertanyaan beruntun memenuhi isi kepalanya bahkan terasa seperti suara lebah berdengung.


"Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan ku? Jika bukan, aku akan tanya pelanggan lainnya." sambung pria yang merasa tak enak hati mengganggu waktu sepasang kekasih.


Seketika ia tersadar akan kenyataan yang harus dihadapinya. Situasi sudah terlanjur tidak benar, maka akan lebih baik jika tetap seperti itu. Entah salah atau tidak karena sekarang yang paling penting adalah bagaimana melakukan semua tanggung jawab tanpa harus membuat masalah baru lagi.


"Ekhem! Bisa lepasin tanganmu dari ...," pinta Fay menatap Bagas hingga pria itu langsung mengerti dan melepaskannya. Kemudian ia beralih menatap pria lain yang tampak asing di mata, lalu mengulurkan tangan mempersilahkan untuk ikut dengannya duduk bersama.


Kini ketiganya duduk di kursi dengan meja yang sama. Bagas duduk dikursi yang menghadap jendela, Fay disisi kanan dan pria lain disisi kiri. Tampak saling mencoba mengenal dengan isyarat mata tak tenang. Begitulah ketika bibir masih enggan untuk berbicara hingga pelayan datang bertanya pesanan.


"Mas, Aku pesan jus alpukat satu, Tuan pemarah pesan latte satu dan kamu?" Fay menatap pria lain yang duduk berhadapan dengannya santai, tetapi yang ditatap justru mengalihkan perhatian ke arah lain. "Samain aja semua minumannya."


Antara bingung mau seperti apa karena sebagai pelayan memang terkadang serba salah. Selain hanya bisa mengangguk menyetujui apapun keinginan pelanggan, lalu kembali ke belakang menyiapkan pesanan. Setidaknya sudah meninggalkan ketegangan.


"Fatur, bukankah itu namamu? Tadi kamu tanya tentang Ififay 'kan? Aku kakak sepupu Naufal." ucap Fay menjelaskan siapa dirinya sontak mengembalikan Fathur menatap kearahnya.


Fatur si penyiar radio yang digadang akan menjadi calon jodoh dari keluarga untuk putri tunggal mereka Ififay. Semua memang dieksekusi begitu cepat, tetapi tidak tahu dampak yang akan terjadi. Maka kini hanya bisa berusaha untuk melewati tanpa menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Gue jadi bingung sendiri." sahut Fatur mengubah bahasa formal menjadi santai, lalu mengulurkan tangan kanan. "Senang akhirnya bisa bertemu loe, mau ku bacakan garis tanganmu?"


Pernyataan yang tidak tepat pada waktunya, membuat Fay mendengus sebal mencoba menahan diri agar bisa menghadapi si calling lucky yang memang nyleneh orangnya. Baru pertemuan pertama tapi langsung menunjukkan keahliannya. Pamer? Entahlah, bisa saja hanya terbiasa.


"Apa kamu dari Jawa Tengah? Penyiar radio yang sering ngadain calling lucky buat para pendengar setia. Iya tidak?" Bagas mencoba mengingat karena tidak asing dengan suara Fatur, apalagi pria yang ditanya menganggukkan kepala mengiyakan.


Pria aneh bertemu pria nyleneh. Akhirnya jadi apa? Oleng? Konslet atau? Apapun itu hanya berakhir dirinya yang terjebak. Satu sisi Bagas dan sisi lain Fatur. Dua pria yang memiliki tingkat absurd diatas rata-rata, maka lebih baik diam menyimak obrolan random sembari bermain ponsel hingga pesanan mereka datang.


"Silahkan dinikmati," Pelayan membungkuk sebentar, lalu pergi dari meja pelanggan.


Warna hijau alpukat yang terang sedikit meredup dengan aroma khasnya, "Kenapa kalian menatapku? Minum saja minuman kalian."


"Thank's udah dipesenin." Bagas mengambil cangkir kopi latte yang masih panas dengan uap putih mengepul, begitu juga dengan Fatur.


Disaat semua sibuk menyeruput minuman, perhatian Fay teralihkan dengan layar ponsel yang menyala. Satu nama tertera seketika mengambil ketenangannya. "Assalamu'alaikum, Ma." Gadis itu beranjak menjauh meninggalkan kedua pria lain untuk berbicara dengan sang mami tercinta.


Panggilan telepon antara ibu dan anak tampak begitu serius, sedangkan yang ditinggalkan melanjutkan obrolan para pria. Hanya saja Bagas sesekali melirik ke arah Fay yang terlihat tegang dengan tatapan mata kosong. Apa yang terjadi?

__ADS_1


Ditengah rasa penasarannya, tiba-tiba ia juga mendapat telepon darurat. Laporan dari seseorang mengenai hal penting yang langsung menarik seluruh fokus kehidupannya. Meski tidak ada tanya, ia tetap mendapatkan jawaban tanpa diminta. Perlahan tapi pasti semua alur kehidupan akan lebih baik.


"Permisi," Bagas beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Fay yang memang berdiri agak jauh dari tempat mereka duduk. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar persetujuan atas perjodohan yang ternyata bersama Fatur.


Suara pasrah tanpa semangat mengatakan isi hati yang tersirat. Ia sadar bahwa Fay tidak ingin menikah dengan Fatur, tapi kenapa tetap menerima? Apa karena tidak laku? Tidak mungkin. Wajah cantik dengan body proporsional pasti banyak pria yang mencoba untuk mendekati, sayangnya di saat ingat keacuhan si gadis. Semua pujian ambyar tanpa jejak.


Lamunan sekian detik kembali ke dunia nyata, hingga tatapannya bertemu netra sang gadis yang menyudahi panggilan. "Aku mau kembali ke kantor, jadi sebaiknya kamu pulang ke rumah. Asma pasti marah jika aku pergi begitu saja. Ayo!"


"Tunggu aku di luar dan beri sepuluh menit buat bicara sama Fatur." ucap Fay langsung disetujui Bagas, tapi karena melihat pria itu hendak kembali ke meja. Tangannya reflek menahan dengan mencengkram lengan kiri Bagas, "Aku saja yang pamitan."


Kepergian Bagas membiarkan Fay menghadapi Fatur seorang diri. Dimana si calling lucky menyambut hangat waktu yang diberikan sang calon jodoh untuknya, ia tidak tahu isi hati dan pikiran gadis itu. Semua samar dibalik seulas senyum tipis yang tersungging menghiasi wajah.


"Duduklah!" Fatur berinisiatif menarik kursi untuk Fay, tetapi gadis itu menolak dengan tangan menahan kursi yang sama. "Apa ada masalah?"


Sebuah hubungan harus di landasi kejujuran. Akan tetapi setelah mempertimbangkan segala sesuatunya. Justru hati dan pikiran jauh dari kata siap. Mana mungkin mengatakan kebohongan yang bisa menghadirkan derita nyata di kemudian hari. Mencoba untuk bersikap adil degan cara berbicara terbuka. Yah hanya itu solusinya.


"Aku tidak tahu mau mulai dari mana, tapi jujur perjodohan ini terlalu cepat. Jika mungkin pikirkan sekali lagi karena kita berdua orang asing. Bukankah menurutmu kita seharusnya mencoba saling mengenal dulu?" Fay menjelaskan secara singkat agar tidak berubah menjadi kesalahpahaman.

__ADS_1


Begitu jelas hingga membuat pria yang berdiri di depannya mengerutkan kening. Ternyata ia terlalu buru-buru hingga lupa satu fakta yang memang benar adanya. Bukan salah Fay jika ragu dengan perjodohan keluarga mereka berdua, hanya saja gadis itu sangat pantas untuk dijadikan seorang istri. Sekarang harus adaptasi dengan misi penaklukan hati.


"Jadi akan ada pertemuan berikutnya setelah hari ini, begitukah?" tanya Fatur memastikan pemikirannya tidak salah tangkap maksud dari penjelasan Fay.


__ADS_2