Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 55: Mengatur atau Diatur?


__ADS_3

"Apa itu penting, Ka? Jika kamu menganggap diriku sebagai adik. Baiklah, akan ku beritahu." Diraihnya ponsel yang pasti terlihat begitu murah, tapi apa gunanya ponsel mahal. Jika tidak untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya. "Dunia sudah modern, kita bisa melakukan banyak hal."


Kali ini bukan hanya bicara. Asma memulai sedikit skenario yang akan menjadi pembelaannya. Menunjukkan beberapa fitur aplikasi di ponselnya. Dimana ada tiga aplikasi fitur translate bahasa. Baik untuk chatting, calling atau video call. Namun, beberapa aplikasi lain yang bisa menjadi referensi saat terkendala sinyal.


Bukan hanya itu saja. Gadis itu menjelaskan. Jika selama berdiskusi dengan Nona Las Sheira ada pihak ketiga yang menjadi penerjemah di antara keduanya. Sebenarnya, dari semua penjelasan. Tidak ada kebohongan kecuali satu fakta yang disembunyikan. Dimana beberapa kali, ia berbicara bahasa asing.


Andai Rey dan Bagas tahu. Jika dua aplikasi penerjemah bahasa baru saja diunduh kemarin. Sudah pasti akan ketahuan, jika diskusi tidak memerlukan bantuan orang lain. Namun, hari ini terselamatkan. Satu penjelasan yang akan membuat suaminya tenang dan tidak akan bertanya hal sama. Itu juga berlaku untuk Bagas.


Apalagi, jika sampai Rey meneruskan membaca novel yang ia tulis. Bisa jadi mempertanyakan hal sama dengan keraguan yang lebih besar. Secara otomatis akan berpikir. Begitu banyak bahasa asing yang digunakan. Kini hanya akan mendapatkan jawaban dari aplikasi penerjemah bahasa.


Masalah tidak ada lagi karena sudah terselesaikan. Benar bukan? Lega rasanya menghabiskan beberapa saat hanya untuk mengubah haluan arah sudut pandang. Setelah semua jelas, Bagas hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Berpikir bagaimana bisa melupakan. Jika dunia sudah penuh kecanggihan.


Ia pikir, Asma yang tinggal di desa tidak mengenal dunia canggih. Seperti apa yang ditunjukkan. Jujur saja, sejak awal berpikir bahwa gadis itu pasti sederhana, polos dan membutuhkan banyak ilmu agar bisa beradaptasi tinggal di kota metropolitan. Salah besar pemikirannya.


Siapa yang akan mengajari gadis dengan sistem pemikiran yang acak? Di dalam kepala Bagas slalu sibuk memikirkan ini dan itu, sebagai seorang pria, sedangkan Asma memilih untuk bertindak, bukan berpikir. Tidak bertanya, tetapi langsung mempertanyakan dalam pernyataan. Apakah ia salah menilai?


Tidak habis pikir dengan kenyataan yang terlihat manis. Nyatanya hanya kerumitan. Diam bukan berarti tidak paham. Asma membuktikan seorang pengamat lebih handal, dibandingkan orang yang sibuk mengeluh ini dan itu. Ketegangan semua itu berakhir dalam penerimaan.


"Nando, duduklah. Sebentar lagi waktunya sarapan. Sekarang semua sudah jelas." Ucap Rey menyudahi ketegangan agar kembali pada suasana yang kondusif.

__ADS_1


Di saat bersamaan, Bi Jia membawa nampan besar yang berisi tiga mangkuk besar. Entah mangkuk itu berisi apa karena tidak ada aroma masakan. Wanita yang seusia sang ibu, membuat Asma beranjak dari tempat duduknya. Mana mungkin membiarkan seorang ibu melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh anak muda.


"Bi!" Asma mengambil alih nampan yang ternyata oatmeal dengan topping buah jenis berry. "Aku bisa membawa sendiri."


"Non, ini pekerjaan Bibi." Bi Jia merasa tak enak hati, pekerjaannya memang melayani. Rasanya tidak nyaman ketika majikan sendiri mengambil alih tanggung jawabnya.


"Aku ingin, semua pelayan berkumpul saat ini juga. Bisa tolong panggilkan mereka, Bi Jia?" Ujar Asma menghilangkan rasa tidak enak hati sang bibi agar tidak merasa terbebani, membuat wanita itu manggut-manggut, lalu berlalu meninggalkan ruang makan.


Rey dan Bagas saling menatap satu sama lain. Hati mereka sadar, pasti akan terjadi sesuatu beberapa saat lagi. Siapa yang akan bertanggung jawab? Tentu ratu di rumah mereka. Sangat jelas, Asma menahan diri dengan seulas senyum yang masih menghiasi wajahnya.


Nampan diletakkan ke atas meja, tetapi gadis itu masih enggan untuk duduk karena menunggu para pelayan berkumpul. Penantian selama kurang lebih lima menit. Akhirnya seluruh pelayan di rumah berdiri di sisi kiri meja makan. Sekali lagi memastikan wajah dari setiap pelayan untuk menentukan pekerjaan yang pantas.


"Belum, sudah...,"


Tidak serempak, tapi ia tahu benar bagaimana kehidupan menjadi seorang pelayan. Tidak memungkiri saat waktu menerjang kesibukan sehingga tidak sempat untuk sekedar minum secangkir teh atau sarapan selembar roti tawar. Yah, menjadi pelayan cukup menguras tenaga dan pikiran.


"Kami akan sarapan. Jadi, hentikan pekerjaan kalian dan silahkan sarapan. Tiga puluh menit. Aku rasa cukup untuk sarapan. Jangan khawatir soal bahan makanan, suamiku akan mencukupi segala-galanya mulai hari ini dan aku sendiri yang akan mengatur pembelanjaan nanti. Pergilah, dan kembali tepat pukul tujuh pagi." Tegas Asma seraya mengibaskan tangan kanannya, membuat para pelayan membubarkan diri.


Istrinya memulai pembenahan rumah, Rey tak mempermasalahkan apapun yang memang benar untuk rumah dan keluarga nya. Ia akan mendukung, dan memberikan yang terbaik untuk bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan Bagas mengambil alih tempat Asma menjadi seorang pengamat.

__ADS_1


"Mas, Ka. Makanlah! Aku tidak mau dokter mengkritik karena membuat kalian sibuk dengan hal lain."


Ketiganya menikmati oatmeal yang rasanya, yah seperti itu. Tetap lezat semangkuk mie ayam pedas. Walau begitu, harus dinikmati dengan rasa syukur. Tidak ada percakapan selama makan bersama, bahkan ketika suster mengantarkan tiga gelas jus alpukat yang sangat menggiurkan.


Tiga puluh menit kemudian. Sarapan berakhir dengan rasa kenyang, sebenarnya bisa di bilang kembung. Jus alpukat yang segelas penuh langsung menyesakkan perut, tapi hanya berlaku untuk Asma. Nampaknya Rey dan Bagas terbiasa sarapan dengan makanan yang sehat.


Waktu yang sama seperti perintah yang ia berikan. Satu persatu, para pelayan datang kembali, lalu berdiri di tempat yang sama, membuat Bagas memberi kode mata pada adiknya untuk menoleh ke belakang. "Biarkan semua kumpul, Ka. Apakah peraturan rumah bisa aku rubah?"


"Butterfly, ini rumah dan keluarga kita. Siapa yang akan melarangmu? Tidak seorangpun. Lakukan apapun yang menurutmu benar untuk semua orang. Aku dan Bagas percaya pada keputusan dan pilihanmu." jawab Rey tanpa basa basi memberikan hak sang istri sebagai nyonya di rumahnya sendiri.


"Aku setuju," sahut Bagas mempersilahkan Asma untuk memulai apa yang menjadi tujuan gadis itu.


Pertanyaan boleh saja menghampiri, tetapi hati bisa merasakan. Asma hanya ingin memperbaiki keadaan rumah. Lagi pula, gadis itu akan tinggal untuk selamanya sebagai seorang istri dan adik. Maka, rumah harus bisa menjadi tempat ternyaman untuk berpulang. Kehangatan keluarga bukan tentang seberapa kokok pondasi bangunan. Melainkan seberapa kuat hubungan satu sama lain.


Gadis itu berdiri seraya mendorong kursinya, lalu berbalik dengan langkah kaki pasti. Tatapan mata tenang tanpa meninggalkan seulas senyuman. Jelas sekali, para pelayan tegang. Mereka sudah berpikir yang tidak-tidak. Padahal tidak akan terjadi apapun, selain sedikit ultimatum yang akan meluruskan hidup semua orang.


"Pagi, Semuanya. Sebelum memulai, tolong untuk usia tiga puluh ke bawah berpindah ke sisi kanan dan usia di atas tiga puluh ke atas ke sisi kiri. Pak Yanto, bisa berdiri di tengah sebagai pembatas?" jelas Asma membuat semua para pelayan saling tengok kanan dan kiri, beruntungnya Pak Yanto dengan sigap melakukan perintah dan membantu pemisahan usia para pelayan.


Bagas menyenggol lengan Rey, "Apa istrimu petugas satpol PP?"

__ADS_1


__ADS_2