Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 133: Antara Andreas dan Elora


__ADS_3

Kepergian Bagas meninggalkan Andreas bersama wanita sewaannya. Tatapan mata pria itu tertuju pada layar ponsel diatas meja yang kini tengah dihadapi. Sebuah nama terus berulang-ulang memanggilnya. Elora sang mesin ATM yang selama ini menjadi jalan pintas untuk mendapatkan semua kebutuhan semasa di luar negeri.


Selama menjadi sepasang kekasih, keduanya menikmati keharmonisan baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan. Cinta simbiosis mutualisme, atau bisa dikatakan partner bersyarat. Bagaimana tidak? Elora memberi syarat agar hubungan mereka menjadi rahasia dan sebagai gantinya, ia bisa bermain dengan wanita lain.


Dulu ada masa dimana ia hanya ingin mencintai wanita itu sebagai lelaki normal yang memiliki satu wanita. Akan tetapi keinginan tersebut justru seringkali menimbulkan pertengkaran tiada ujung. Lalu Elora menceritakan kisah cinta sepihak yang menjadi alasan hubungan mereka tidak bisa lebih dari partner atas ranjang.


Yah, semua berubah seiring waktu. Meski begitu dari lubuk hati terdalamnya, ia juga peduli akan kehidupan Elora tetapi wanita itu sudah melewati semua batasan. Apalagi setelah melihat ulah tak berhati yang ditujukan hanya untuk merebut suami wanita lain. Sekarang apa yang bisa diselamatkan?


Nyatanya kehidupan mengajarkan arti ego untuk tetap bertahan di dunia yang kejam. Apa salah melepaskan tanggung jawab sebagai partner bayaran? Jika di tengok ke belakang, jelas ia hanya memiliki hubungan sekedar pemuas hasrat terlarang sang dokter. Miris bukan?


"Boy, apa yang kamu pikirkan?" Wanita bayaran itu merangkul Andreas dari belakang, tapi si pria tidak merespon sentuhannya.


Hati dan pikiran adalah dua jalur pilihan yang memiliki arah tujuan sama, tapi seringkali melupakan satu sama lainnya. Seperti keinginan hati a. Justru pikiran mengharapkan d. Yah semua itu normal karena begitulah kodratnya. Andreas sibuk merenung memastikan keputusan yang ia buat sudahlah benar, sedangkan Elora?

__ADS_1


Wanita itu terus saja mengumpat menyumpahi orang-orang yang sudah mempermalukan dirinya. Lebih dari cintanya untuk Rey, kini emosi berbalut dendam kian membara mengobarkan api pembalasan. Sudah diputuskan setelah hari ini, tujuan hidupnya hanya satu yaitu menghancurkan keyakinan Asma serta semangat Fay.


Dua wanita lain yang menjadi sumber masalahnya. Apalagi setelah kembali ke rumah, Papa Burhan langsung membatalkan perjanjian di antara ayah dan anak. Padahal perjanjian tersebut menyatakan bisnis sang papa akan menjadi miliknya. Hal tersebut demi bisa mendekati Reyhan. Siapa sangka di pesta resepsi berakhir kekacauan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar yang mengakhiri sejenak kekesalan hatinya, lalu bersambut suara seorang pelayan yang katanya ingin memberi surat penting. Entah surat apa, ia pun tidak tahu sehingga bergegas mencari tahu dengan membuka pintu kamar. Salah satu pelayan senior berdiri di depan pintu, tapi tidak sendirian.


"Selamat sore, Nona Elora. Saya Utari, pengacara Tuan Axel. Kedatangan saya kemari secara khusus ingin memberikan surat pengadilan atas kasus pencemaran nama baik yang telah Anda lakukan di saat acara resepsi Tuan dan Nyonya Reyhan." Bu Utari menyerahkan amplop putih ke Elora yang langsung diterima dengan tarikan paksa.


Suara derap langkah kaki menjauh, tapi tiba-tiba ... sobekan kertas terbang berhamburan berjatuhan menyebar tak karuan.


"Sampaikan pada Tuan mu, Aku tidak peduli dengan surat itu!" tukas Elora menggebu-gebu sehingga membuat Bu Utari berbalik sekedar untuk melihat apa yang telah terjadi, disaat bersamaan si Nona Tuan rumah membanting pintu begitu keras.


Bibi saja sampai berjingkrak terkejut, lalu mengusap dada mencoba untuk kembali tenang. Akan tetapi debaran jantung kian meningkat enggan kembali normal. Sementara Bu Utari masih santai seperti dipantai. Wanita satu itu mengambil beberapa foto sebagai bukti dan meminta pernyataan si pelayan sebagai saksi.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuannya, Bibi bisa kembali bekerja. Saya permisi," sekali lagi berpamitan, tapi kali ini betul-betul pergi meninggalkan rumah si biang onar.


Pantas saja Mr. Axel meledak tak mau diajak diskusi. Sekarang sudah jelas alasan dari amarah sang Tuan memanglah pantas diperhitungkan. Jika menangani kasus tanpa rencana, bisa jadi Elora membuat ulah lagi. Eh padahal udah dikasih surat pengadilan saja, wanita itu masih berlagak sok.


Alih-alih kembali ke kantor, Bu Utari memilih untuk menuju lokasi resepsi dari partner sang tuan. Selain untuk membahas masalah yang ada, dia juga ingin tahu sudut pandang dari tokoh utama kali ini. Siapa lagi? Tentu nyonya Reyhan yang memiliki karakteristik unik.


Bukankah wanita itu mengatakan pertemuan kedua akan mendapatkan hasil dari pertanyaan yang pernah dia tanyakan. Maka hari itu telah tiba, dan hati tidak sabar untuk mengenal sisi lain yang bersembunyi dari seorang Asma. Wajar bukan?


Manusia seringkali terlalu penasaran hingga lupa bahwa tingkat penasaran yang tinggi bisa saja mengakibatkan hal di luar dugaan. Apapun itu, Bu Utari juga manusia biasa. Kadang menjadi pribadi yang supel, tapi bisa juga merongrong tak sabar ketika jiwa kepo meradang. Sudah bisa ditebak kemana arah tujuan wanita itu dalam misi pertemuan keduanya kali ini.


Mobil yang melaju melintasi jalan raya membelah padatnya lalu lintas ibu kota, sedangkan di hotel, orang-orang mulai disibukkan dengan persiapan untuk acara malam nanti. Hilir mudik para tamu yang ikut antusias menikmati waktu liburan dengan agenda pesta resepsi, terkecuali dua insan yang enggan beranjak dari bath up.


"Apa kita akan seharian disini?" bisikan lembut dengan tangan nakal berkelana, tetapi tak mengubah apapun menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2