
Kegundahan di dalam hati yang bertaut kegelisahan dari dalam benak pikiran, membuat Asma melepaskan emosi dengan cara yang tidak baik. Meski hanya berdiam diri di bawah guyuran air shower tanpa mengenal waktu. Tubuh gadis itu sudah basah kuyup dengan kulit memutih, tapi tidak menghentikan perenungan.
Tiba-tiba tetesan air berhenti bersambut tubuh yang melayang di udara, sontak saja Asma membuka mata hingga pandangan bertemu netra tajam suaminya. Pria itu tampak menahan amarah, meski tak mengeluarkan sepatah katapun. Bibirnya terkunci rapat tanpa seulas senyuman.
Biarlah, ia pun tak ingin bicara. Rasa lelah masih bersarang di hati. Tanpa ada kata selain mengalungkan tangan mendekatkan diri menelusup masuk ke dada bidang suaminya. Langkah kaki yang meninggalkan kamar mandi beralih menuju kursi meja rias. Rey memperlakukan istri seperti anak yang harus diajari arti menjaga diri.
Pakaian basah yang berserakan di lantai dibiarkannya. Ia hanya sibuk memakaikan pakaian baru yang bersih, lalu mendudukkan Asma untuk membantu mengeringkan rambut yang basah, kemudian menikmati waktu dalam keheningan yang melanda merasuk ke jiwa. Selama sepuluh menit keduanya masih diam dengan tatapan mata yang bercerita.
Sebagai seorang pria, ia merasa tidak bisa menjaga dan memberi kebahagiaan yang nyata untuk sang istri. Kemewahan yang ia punya, justru tidak menjamin apapun. Akan tetapi, pasti semua yang dilakukan Asma sudah menjadi kebiasaan. Apa yang harus dia lakukan?
Kebiasaan istrinya tidak baik untuk diteruskan. Ingin langsung memarahinya, tetapi tidak mungkin karena ia tahu gadis itu akan semakin merenung tanpa ingin mengatakan isi hati dan pikiran yang pasti tidak baik-baik saja. Jujur di sudut hati terdalam ia takut tidak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab.
Lamunan Rey, membuat pria itu menghentikan aktivitasnya yang masih memegang hairdryer. Melihat kebisuan seorang suami yang pasti merasa serba salah, Asma mengambil tindakan. Diambilnya hairdryer dari tangan sang suami, lalu mengajak pria itu untuk berjalan bersamanya.
Langkah kaki berjalan menuju balkon menyambut sinar mentari yang masih terasa begitu hangat. Tatapan mata lurus ke depan tanpa ingin mengalihkan perhatiannya, tujuan hanya pagar pembatas balkon. Dimana ia bisa melihat sejauh mata memandang dengan view banyak sudut pandang.
"Maaf jika tindakanku membuatmu khawatir, Mas. Aku tidak bisa meredam emosi hanya dengan diam duduk seraya melamun. Amarah adalah api, dan air yang bisa menyurutkan. Jangan khawatir ketika aku mengulang hal sama karena itu memperbaiki emosiku."
__ADS_1
Rey berusaha mencerna pengakuan sang istri. Tidak salah, tetapi tidak benar juga. Akan tetapi, ia takut jika kebiasaan Asma akan mengundang penyakit. Menikmati rasa dingin di luar batas? Hal itu bisa saja menjadi hipotermia. Bagaimana ia membiarkan gadis itu terus memeluk kebiasaan buruk?
Jika tidak ada yang menghentikannya. Bisa jadi suatu saat nanti berakhir di ranjang rumah sakit dengan selang infus sebagai teman, sedangkan ia tahu bahwa istrinya itu tidak menyukai aroma si ruangan berdinding putih dengan seragam biru cerah yang menjadi identitas seorang pasien. Maka ia hanya memiliki satu jalan yaitu mengubah pola tindakan ekstrim seorang Asma.
Diraihnya tubuh yang menjaga jarak agar kembali dekat memeluk kerinduan yang selalu hadir menggebu-gebu menghangatkan hati. "Asma, dunia selalu memiliki cara untuk menyeimbangkan alam. Seperti badai, banjir, gempa dan lain sebagainya. Benar manusia menganggap itu musibah, tetapi Allah mencoba berkomunikasi dengan umatnya untuk kembali ke jalan yang benar."
"Tanggung jawab seorang pria bukan hanya untuk menyenangkan istri mereka. Setiap hal yang terjadi di antara pasangan akan menjadi tanggung jawab hingga ke perhitungan di hari akhir nanti. Kamu adalah istriku, calon ibu dari anak-anakku. Sekali saja pikirkan, bagaimana jika anak kita kelak melakukan kebiasaan sama sepertimu."
Sejenak pria itu menghela nafas seraya mengeratkan pelukannya. Rasa di hati seperti ingin menangis karena ia tak sanggup berkata lebih jauh. Takut jika akan melukai perasaan sang istri, sedangkan gadis itu masih tenggelam dalam perenungan yang pasti menekan batin. Sadar akan kelemahan yang membuat masalah semakin rumit.
"Aku hanya pria biasa. Jangankan mencoba untuk mendekati seorang wanita, bahkan aku tidak terbiasa berhadapan dengan makhluk Allah yang unik dengan emosi yang selalu tidak bisa ditebak. Aku bingung harus meyakinkan seperti apalagi agar istri mau mendengarkan tanpa berpikir keegoisan di dalam diri ini ...,"
Penyampaian Rey terdengar berantakan, membuat Asma memejamkan mata sesaat sebelum mengatasi masalah sederhana miliknya. Mungkin selama ini, ia selalu bersikap dewasa tanpa memberikan kesempatan untuk orang-orang disekitarnya menjadi tempat bersandar. Ia lupa, jika saat ini memiliki suami yang berhak atas kisah hidupnya.
Dilepaskannya tangan kekar yang melingkar di perut, lalu memutar tubuh hingga menghadap dengan tatapan bertaut tenggelam dalam ketenangan seorang suami yang nyatanya dikuasai rasa takut. Seketika terasa sesak karena ia sadar telah melukai hati Rey, sedangkan pria itu berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab.
__ADS_1
"Pasti lelah ya, memiliki istri seperti diriku? Aku terlalu berlebihan hingga melupakan ada kamu yang siap menjadi sandaran. Jujur saja, semua terjadi begitu saja. Wanita ini terbiasa memendam rasa karena ia selalu sendiri. Maaf Mas, aku belum bisa beradaptasi dengan kehadiran seorang suami."
"Asma ...," Rey tercekat dengan pernyataan istrinya yang terasa begitu dalam walau setiap kata yang keluar dari bibir bukanlah kata-kata puitis.
Asma sendiri tak bisa menghapus dinding yang jelas ia bangun tanpa sadar. Bagaimanapun hubungan mereka adalah suami istri yang memiliki hak dan kewajiban sama rata. Akan tetapi di dalam hubungan mereka berdua seakan masih menyita emosi seperti orang asing.
"Aku tahu, pasti kamu bingung dengan kebisuan dan juga pernyataan yang selalu menjadi kebiasaan ku. Dengarlah, aku ingin keterbukaan tetapi diri ini lupa untuk terbuka. Pasti tidak adil 'kan?" Asma mengalihkan perhatian menatap ke belakang dimana hanya ada kekosongan, "Masalah adalah milik kita, bukan hanya milikmu atau milikku. Apa itu cukup untuk di pahami? Mas Reyhan."
Tidak ada rasa terkejut dari tatapan mata Rey karena pria itu mengerti alasan Asma bersikap tenang. Ia hanya ingin menunggu waktu yang tepat agar keduanya bisa berbincang sebagai suami istri. Bukankah meredam emosi bisa dilakukan dalam perdebatan hati? Itulah yang tengah dilakukan olehnya.
"I know, kamu tidak suka menjadi pihak asing apalagi di rumah sendiri. Butterfly, bisnis keluarga kita baik-baik saja, hanya saja ada masalah dengan proyek baru yang bekerja sama dengan Mr. Axel." Rey menatap Asma lebih dalam, ia mencoba meyakinkan sang istri bahwa apapun yang terjadi tidak akan berakhir buruk.
"Mr. Axel mendapat ancaman dari salah satu partner bisnisku. Jadi kami memutuskan untuk menjadikanmu sebagai partner yang menggantikan posisiku untuk kerjasama kali ini. Semua akan terjadi seperti yang kamu inginkan termasuk pengajuan syarat. Jika ingin diubah bahkan keuntungan dari persentase kerjasama yang ada."
Rey berusaha menjelaskan secara singkat, jelas dan padat. Hal itu demi kebaikan karena ia sadar, istrinya bukan seorang pebisnis yang memahami ini dan itu sehingga ia memilih menggunakan bahasa yang sederhana. Setidaknya tidak ada kata yang memakai bahasa asing. Pria itu tidak tahu, jika memiliki istri yang suka belajar, tetapi bukan di dikte.
__ADS_1
"Bisa ku lihat surat perjanjian kerjasama yang sudah kalian sepakati?" tanya Asma tanpa ragu, membuat Rey mengerjap tak percaya. "Aku bisa membaca, jadi setidaknya biarkan aku paham isi dari kontrak kerjasama yang akan memberikan kepastian sebelum memutuskan. Boleh?"