
Orang melakukan perawatan untuk mendapatkan hasil terbaik. Bisa juga menjadi healing para wanita, tetapi tidak bagi Asma. Selama berjam-jam harus duduk, lalu hanya mengikuti tarian permintaan pelayan salon. Kadang ke kursi itulah, lalu balik ke pembaringan, kemudian ke kursi lagi.
Dua kata yang tepat untuk hari ini yaitu super capek. Meski begitu tetap bertahan walau di hati berkata sudah cukup sekali saja melakukan perawatan. Bukan masalah uang yang dihabiskan, toh ia memakai uang suami yang katanya harus dihabiskan. Seperti tidak ada hari esok saja. Alhamdulillah banget dapet suami perhatian plus no pelit.
Namun, ketika pikiran terus saja diam. Justru semakin merasa tidak nyaman, ia terbiasa sibuk menulis menuangkan ide dan kegilaan. Hari yang melelahkan tetapi menyenangkan tubuh sesekali? Bukankah tidak apa, yah demi kesenangan suami yang mengijinkan untuk keluar rumah tanpa pengawasan.
"Ka, Suami kakak udah nunggu di depan pintu. Apa dia tahu semuanya?" tanya Fay begitu melihat pria yang berdiri dengan tangan bersedekap menatap ke arah mobil mereka yang baru masuk, membuat Asma yang sibuk memeriksa catatan di ponsel mengalihkan perhatian.
Wajah tampan memasang ekspresi datar tanpa senyuman. Tatapannya begitu tajam dengan fokus tak teralihkan. Bibir terkunci seraya menahan napas untuk tetap tenang. Jelas Rey tengah menikmati emosi yang menggebu-gebu di dalam hati. Pria itu marah, lebih tepatnya ngambek.
Mobil berhenti, Asma turun tanpa menunggu pak sopir membukakan pintu. Terkadang rasanya aneh ketika mendapatkan pelayanan terlalu banyak. Hari esok siapa yang tahu? Akan lebih baik mandiri melakukan segala sesuatu yang masih bisa dilakukan sendiri. Setidaknya meringankan pekerjaan para pelayan.
Keduanya berjalan melangkahkan kaki menghampiri Rey. Fay bingung kenapa kakaknya tidak memberi jawaban atau kode. Langkah semakin mendekat, empat tangga kecil terlewat begitu saja. Biasanya di film balapan alur diperlambat, ia lupa ini kenyataan bukan skenario sutradara. Heran dengan pemikiran sepintas yang datang.
Asma berhenti di depan Rey yang enggan berkedip menatap istrinya, sedangkan yang ditatap masih mencoba menetralkan keadaan yang nyatanya sudah mencekam. Ia tahu bagaimana kemarahan seorang Rey sebagai atasan, tetapi hari ini harus bersiap menerima amarah seorang suami. Tentu emosi itu ditujukan pada ia saja karena itu hak seorang istri.
"Fay, masuk duluan!" tegas Asma tak ingin dibantah, membuat Fay speechless walau ia tak bisa ikut campur urusan suami istri.
Apalagi lirikan mata sang kakak terlihat begitu serius, maka suka tidak suka lebih baik mundur. "Ok, Ka. Permisi."
__ADS_1
Suara langkah kaki yang menjauh, membuat Rey melepaskan kedua tangannya. Lalu meraih tangan sang istri, kemudian tanpa kata membawa gadis itu meninggalkan depan pintu. Pria itu mengikuti arah emosi yang meradang, tetapi Asma menurut tanpa ingin mengucapkan apapun.
Keduanya melakukan perjalanan dalam keheningan. Tidak ada pertanyaan mau kemana dan ingin apa. Semua dibiarkan tanpa melakukan pemberontakan hingga Rey menghentikan mobil di parkiran bawah sebuah bangunan gedung pencakar langit. Entah gedung milik siapa.
Sepertinya hari ini semua orang suka diam. Tindakan tanpa penjelasan dengan wajah tak tenang. Langkah kaki berjalan menjauh meninggalkan parkiran, lalu memasuki lift kaca yang sepertinya khusus karena tidak ada orang selain mereka berdua. Begitu terdengar bunyi ting, langkah kembali berjalan bersama-sama.
Rey tetap menggandeng tangan Asma, ia membawa istrinya ke tempat yang seharusnya. Dimana banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka selama dua detik, kemudian kembali menundukkan pandangan mata karena merasa terlalu lancang menatap atasan sang tuan muda.
"Tuan, silahkan." Seorang karyawan membukakan pintu kaca sebuah ruangan, dimana Asma melirik menatap nama suaminya yang tertera di ukir indah menggunakan warna hitam berpadu keemasan.
Rey melepaskan genggaman tangan, lalu menoleh ke samping. Asma yang diam tanpa rasa penasaran di wajahnya seperti menyadarkan akan sesuatu, tapi apa? Apakah istrinya itu berpikir dia marah? Bisa jadi, tak ingin ada salah paham. Tangan terangkat mengusap wajah manis sang istri.
"Masuklah ke ruangan dulu! Aku akan kembali dua menit, hmm." Kedipan mata untuk meyakinkan agar Asma menurut, gadis kalem tanpa ekspresi mengikuti permintaannya. "Bawa wanita itu ke ruanganku! Pastikan semua tahu pengumuman hari ini. Pergilah!"
Lega begitu melihat Asma yang ia pikir pergi meninggalkan ruangannya ternyata tidur dengan tenang. "Astagfirullah, istriku kelelahan. Aku kurang peka ya?" Tanpa permisi diangkatnya tubuh gadis itu, lalu ia pindahkan ke kamar yang tersedia di ruangan rahasia.
Pelan dan hati-hati merebahkan kepala wanitanya, "Maaf ya, aku masih belajar untuk mengendalikan emosi yang selalu menguasai hatiku. Tidurlah!"
Satu tarikan menyentak kesadarannya, membawa sentuhan yang tidak terduga. Rasa manis yang menyapa menghangatkan dada. Tatapan mata saling menenggelamkan diri menikmati pagutan manja. Sentuhan yang membawa kembali ketenangannya.
__ADS_1
"Gadis nakal," Rey mengusap bibir basah istrinya begitu menyudahi pergulatan yang singkat. "Kamu pura-pura tidur? Apa ...,"
Tanpa permisi, dibungkamnya bibir yang terus sibuk mengatakan ini dan itu. "Apa artinya? Aku gak paham, tapi apa diam seperti kulkas menyambut pulang istri cara yang benar? Bagaimana jika ku lakukan hal sama setelah kamu pulang kerja?"
"Aku tahu, kamu itu, Tuan Kulkas." Asma melepaskan tangan dari bibir suaminya, membuat pria itu tersenyum seraya merengkuh pinggangnya. "Mau apa? Apa yang ada dipikiran suamiku? Aku ...,"
Menghela napas panjang dalam kekuasaannya. Kehangatan yang menyatu bersama sentuhan penuh tantangan. Keduanya saling membalas serangan hingga tak menyadari semakin larut dalam pertarungan panas. Pergulatan menghantarkan suara gema kenikmatan.
"Love you, Butterfly. Sweet dreams." Rey membenamkan kecupan kening membiarkan Asma istirahat setelah sisa tenaga sang istri ia renggut tanpa paksaan.
Tubuh Asma yang berbalut selimut di biarkan menyelam ke alam mimpi, sedangkan ia memilih membersihkan diri. Pergulatan yang singkat, tetapi melepaskan semua emosi yang ada. Jujur saja baru sadar memiliki istri nakal yang tidak ingin mendapatkan perlakuan dingin darinya.
Sepertinya percuma melakukan perawatan, bagaimanapun berakhir dalam jejak cinta miliknya. Guyuran air shower mendinginkan kepala, kini ia siap untuk melakukan rencana yang sudah menjadi tujuannya datang ke kantor di jam nanggung.Persiapan selama lima belas menit berakhir dengan penampilan yang rapi seperti biasa ia datang ke kantor untuk bekerja.
Tak ingin menganggu waktu tidur Asma, membuat Rey mengubah rencananya. Pria itu meninggalkan ruangan CEO beralih ke ruang rapat. Dimana para karyawan sudah berkumpul di tempat seharusnya. Isyarat tangan membiarkan penjaga membukakan pintu kaca yang biasa digunakan untuk rapat penting. Tatapan mata semua orang teralihkan mengikuti langkah kaki yang berjalan ke arah mereka.
Malam ini, Rey duduk dikursi kebesarannya tanpa Bagas yang mendampingi. Ini waktunya untuk menjalankan dua tugas sekaligus. Dimana semua keputusan ia ambil tanpa rasa ragu. Sebagai seorang pemimpin ataupun sebagai seorang suami. Baginya kedua tanggung jawab harus seimbang agar bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana.
Para wartawan yang diundang bersama beberapa klien sudah memenuhi ruang rapat. Tatapan mata tajam dengan wajahnya yang datar. Dingin seperti kulkas, selalu menunjukkan sisi lain di hadapan khalayak umum. Dialah Reyhan Aditya, Sang CEO yang terkenal sebagai pria tanpa wanita.
__ADS_1
Manager memulai pertemuan kali ini dengan membiarkan para wartawan menyalakan kamera, lalu mempersilahkan Bosnya untuk waktu yang memang hanya memberikan lima menit video live streaming. Tajuk malam ini adalah klarifikasi status seorang pebisnis muda yang digadang-gadang sebagai salah satu pria anti wanita.
"Selamat malam, semuanya. Tanpa berlama-lama saya disini pada malam ini, ingin mengklarifikasi bahwa Reyhan Aditya yaitu aku sendiri telah menikahi seorang gadis secara sah dimata agama dan negara. Istriku berhalangan hadir, tetapi undangan pesta resepsi akan mempertemukan kita semua." jelas Rey tanpa basa-basi, membuat seulas senyum menawan menghiasi wajah seseorang.