
Honeymoon? Satu dari kebiasaan para pasutri baru, sebenarnya Asma tidak peduli dengan itu. Lagipula hubungan semakin membaik sudah cukup. Apalagi memiliki suami yang pintar tetapi polos. Beneran paket lengkap baginya adalah melengkapi dan bukan kemewahan.
Meskipun kehidupan memberi kesempatan padanya untuk menikmati kenyamanan dunia. Tetap saja, kebahagiaan itu selalu sederhana. Selama bisa menikmati makanan favorit serta kopi, itulah hidup tanpa beban hati. Kenyataan dunia lebih rumit, ketika manusia terlalu banyak keinginan.
Kadangkala manusia terlalu berlebihan yang biasa disebut serakah. Apalagi jika ditambah iri dengki, sudah pasti akan berubah menjadi ketidakpuasan duniawi. Namun dari semua itu, dendamlah yang bisa membakar semua orang. Bukan dengan api yang tampak dari mata, melainkan api yang dipenuhi kebencian.
"Semua bagus sih, tapi kenapa gak sekalian saja ke Arab Saudi? Beribadah dengan dua tujuan, bisa umroh dulu, baru honeymoon. Ku dengar di negara itu memiliki keajaiban yang bisa membuat siapapun jatuh cinta." Asma meletakkan garpu sejenak karena perut terasa penuh.
Fay mengangguk paham, lalu mengambil ponselnya. Sesuatu tengah dilakukan seraya tersenyum bahagia seakan dunia hanya miliknya, "Ka, rekomendasi hotel buat honeymoon ada banyak. Jadi bingung mau pilih yang mana," Tatapan mata masih fokus ke ponsel dengan lirikan mata yang menangkap bayangan langkah kaki seseorang mendekat ke mejanya.
Langkah, demi langkah membuat suasana semakin menegang, tetapi bukan karena situasi perang. Melainkan aroma cemburu datang menyapa menelusup terbang bersama angin. Si cantik Elora dengan wajahnya yang merah padam. Apa wanita itu menahan napasnya?
"Hi, ketemu lagi disini, pelakor." Elora menatap Fay dengan sinis dan tanpa permisi menarik kursi bekas Nau, "Pasti puas ya, hidup mewah dengan fasilitas wow tanpa bekerja."
Fay menyingkirkan ponsel kembali masuk ke saku jacket nya agar aman dari bahaya. Sungut emosi di kepala Elora sudah menampakkan diri, "Ka, kita pindah yuk! Tiba-tiba panas banget, mana ada yang ngomong tapi gak ada wujudnya. Iih serem tau."
"Fay, hargai sedikit usahanya. Pasti cape jalan dari sana kesini," Diambilnya segelas jus jeruk yang masih utuh, lalu diletakkan ke depan meja Elora berada. "Minumlah! Free."
__ADS_1
Satu sisi Fay yang enggan melirik ke arahnya dan bersikap seperti wanita paling ok, sedangkan di sisi lain ada Asma yang memberi segelas air dengan tatapan tenang bersambut seulas senyuman tipis walau hanya sesaat. Akan tetapi menyindir dengan cara halus. Firasat hati meminta diri untuk jaga jarak hanya saja logika menolak.
Gelas tetap diam tak bergeming, membuat Asma mengubah posisi duduknya. Tatapan mata masih bisa dia jaga, "Fay, kamu tahu arti pelakor. Trus alasan mbaknya memanggilmu pelakor karena apa? Aku gak paham beneran."
"Dia merebut Rey dariku. Rey hanya milikku, kami saling mencintai hingga ntah darimana gadis sepertinya datang merusak hubungan kami." Elora begitu tegas menganggap Rey sebagai miliknya, bahkan tidak menyadari jika Asma adalah istri sah pria itu.
Jika tidak mengingat situasi. Fay pasti sudah menertawakan kebodohan Elora yang benar-benar tidak bisa di toleransi. Wanita itu seorang dokter dan putri seorang pebisnis, tapi kenapa seperti tidak bisa menggunakan koneksi? Terlalu banyak makan sayuran sepertinya sampai lupa rasa daging.
Fay menunjuk ke dadanya sendiri, "Sorry, gue pelakor? Please ya, Mbak. Noh dipojok ada cermin. Buruan ngaca deh biar tahu siapa yang pelakor. Setahuku seorang istri berhak atas suaminya."
"Mbak itu siapanya Mas Rey? Pacar? Tunangan atau ...," Fay menggantungkan pertanyaan agar Elora bisa berpikir dengan jernih, sayangnya si cantik yang bermuka tomat semakin murka hingga menggebrak meja.
Untung aja langsung ditahan kedua temannya yang mencoba menenangkan Elora, sedangkan Asma mengirim pesan pada Nau agar kembali ke mobil terlebih dahulu. Kemudian beranjak dari tempat duduk dan diikuti Fay yang masih enggan mengalihkan tatapannya dari Elora.
Aura permusuhan saling terpaut, membuat Asma sedikit menurunkan keinginan. Apalagi di tempat umum. Jangan sampai terjadi masalah yang lebih besar lagi. "Lepaskan tangannya! Aku tidak peduli siapa kamu dan darimana asalmu. Jujur saja, kehidupan kami sudah lengkap bahkan sangat bahagia. So, sadarlah. Jangan mengusik rumah tangga orang."
"Heh, aku gak ada urusannya sama kamu. Ck, gadis dekil sepertimu berani bicara sok denganku." Elora menghempaskan tangan kedua temannya dengan mudah karena tidak terlalu kuat, lalu kembali menyambar jus jeruk di depannya.
__ADS_1
Satu gerakan Elora dengan arah tujuan yang begitu jelas. Sontak saja Asma menampik tangan si dokter hingga gelas jatuh dengan jus jeruk yang tumpah berceceran dimana-mana. Melihat itu Fay melupakan benteng pertahanan, sayangnya sang kakak mengangkat tangan mengisyaratkan agar tetap diam.
Langkah kaki berjalan memutari meja, lalu berhenti di depan Elora tanpa mengalihkan tatapan matanya yang masih begitu tenang. "Dekil? Apa gunanya cantik seperti malaikat, tapi hatinya busuk. Kamu menuduh dia, sebagai pelakor. Pelakor tidak berhak atas pria yang menafkahi secara sah di mata agama dan negara."
"Katakan dimana posisimu?" Senyuman lenyap berganti tatapan datar tanpa emosi, membuat Elora terkesiap akan perubahannya yang mendadak. "By the way, perkenalkan namaku Nyonya Reyhan Aditya. Aku istri sah dari Reyhan Aditya. Jangan bengong karena gadis dekil ini lebih baik dari si cantik yang lupa status."
Speechless dengan tamparan kata yang Asma berikan. Rey yang selalu ia goda dengan segala cara bahkan tidak sedetikpun melirik ke arahnya, tapi menikahi gadis dekil dengan minim penampilan. Pakaian memang berkelas dengan produk butik, tapi wajah polos tanpa make up. Apalagi tidak memakai kalung berlian atau apapun yang menunjukkan istri seorang pebisnis.
Bagaimana itu mungkin? Di tengah rasa kebingungan. Elora tak sadar akan keadaan sekitar hingga sesuatu membasahi wajahnya. Terasa panas dengan aroma makanan yang ia kenali. Akan tetapi dia telat menyadari hingga wajahnya meronta perih. Wanita itu merintih tanpa bisa ditahannya lagi.
"Paa-naa-s...,"
"Kamu terlalu over mencintai suami orang. Ini pantas untuk PELAKOR sepertimu. Satu lagi, kakakku bisa saja bersikap baik tapi jangan harap denganku." Diletakkannya mangkok bakso ke atas meja, lalu berjalan menyusul Asma yang sudah pergi dua menit lebih awal darinya.
Tidak peduli dengan reaksi Elora yang kesakitan. Jujur saja ia geram dengan perkataan si cantik yang katanya berprofesi sebagai dokter, tapi attitude nol. Dia bilang Ka Asma dekil, memang manusia tidak punya otak berpikir seenak jidat. Wanita manapun kalau dirawat dan make over bisa berubah drastis.
"Huft, tarik nafas. Sabar, semoga kapok. Makan tuh kuah bakso mercon, tapi bahaya gak ya? Gimana kalau masuk sidang? Astagfirullah, masa harus balik minta maaf? Gak deh, mending pulang ngadem. Kalau lapor, ya balik saja lapor atas tuduhan pencemaran nama baik." Fay berjalan sembari bermonolog pada dirinya sendiri, membuat Asma yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tatapan mata saling bertaut. Senyuman tipis yang berbalas senyuman salah, "Mau masuk ke mobil atau cuci muka orang pake sambel?"
Sindiran sang kakak tak membuat ekspresinya berubah lebih baik, tetapi tiba-tiba jendela mobil turun bersamaan kepala Nau yang menyembul. "Siapa yang mau cuci muka pake sambel?"