
Penjabaran Asma begitu jelas tetapi permasalahannya bukan ada pada wanita itu. Melainkan pada pemikiran sang suami. Rey memahami bahwa istrinya ingin mendengar tanpa harus menunda lagi. Keterbukaan memang penting hanya saja ia masih merasa belum siap.
Bagaimanapun yang akan diceritakan bukan hal sepele bahkan sangat sensitif. Apakah Asma bisa menerima kenyataan ketika sudah terungkap? Tak semudah ucapan yang diucapkan bibir karena mungkin saja akan berakhir perpisahan.
Saat ini, ia belum menata hati dan pikiran untuk bersiap menerima segala konsekuensi yang bisa menjadi akhir hubungan. Selain usapan tangan, bibirnya masih enggan berkata terus terang. Sehingga membuat Asma menghela napas panjang mencoba bersabar demi kebaikan bersama.
Meninggalkan kebisuan di dalam kamar Asma dan Rey. Bagas berhasil menemukan keberadaan Baby. Si gadis dengan wajahnya yang Korea tengah duduk seorang diri di sudut cafe. Segelas es blue drink nan menyegarkan menemani tanpa bisa diajak bicara. Melihat itu, ia tak sungkan memesan cake coklat kepada pelayan sebelum menghampiri sang adik.
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat mengalihkan perhatian Baby. Lirikan matanya melihat kedatangan Bagas, sontak saja ia membuang muka ke arah lain dengan bibir terus ngedumel tak karuan. Rasa kesal bercampur malas menguasai pikirannya.
"By!" panggil Bagas tanpa permisi menarik kursi yang ada di depan Baby. "Udah gede, loh. Masa masih mau ngambek? Senyum donk."
"Ngapain Ka Bagas kesini? Balik sana ke calon istrinya." jawab Baby ketus seraya mengingat wajah Fay yang ia pikir cuma orang asing.
Wajah masam dengan bibir ditekuk persis seperti anak kecil ngambek karena tidak mendapatkan mainan. Bagas berusaha untuk tetap tenang karena Baby memang sangat sensitif, tapi gadis itu akan paham jika diberikan pengertian. Yah sepertinya begitu, entahlah kenapa jadi ragu setelah mengingat ucapan Fay.
Kenapa juga Fay berpikir Baby patah hati? Padahal mereka berdua itu kakak beradik seperti ia dan Asma. Hanya saja hubungan yang dijalin lebih lama bahkan sangat dekat karena Rey juga mengetahui bagaimana kisah persahabatannya bersama Baby. Ditengah rasa ragu, ia hanya ingin semua baik-baik saja.
Ditatapnya sang adik tanpa mengurangi rasa sayang dari dalam hati, "By, apa yang terjadi padamu? Bukankah sudah kukatakan pernikahan ini menjadi alasan kebahagiaan yang selama ini kunantikan. Jujur saja, Fay merupakan seorang gadis yang tidak mudah tunduk."
__ADS_1
"Dia bisa melindungi keluarga bahkan rela menjadi bahan perbincangan orang lain demi menjaga nama baik saudaranya sendiri. Fay adalah gadis yang kucari selama ini. Apa kamu tidak percaya pada pilihanku?" jelas Bagas.
Rasanya sakit saat mendengar pujian Bagas untuk gadis lain secara langsung. Selama ini, ia berpikir berhasil menjadi salah satu alasan kebahagiaan seorang Bagas Fernando tetapi hari ini ia sadar dimana posisinya. Sekedar teman bersambut status seorang adik sang idola. Miris bukan?
Siapa sangka rasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Apa Bagas tidak sadar akan statusnya hingga detik ini masih single hanya demi kembali ke Indonesia. Lalu satu harapan agar bisa kembali menjadi kekasih atau justru calon masa depan sang idola. Sayangnya kenyataan berkata lain.
Kedatangannya tak mengubah apapun bahkan semakin sulit untuk berdiri di posisinya saat ini. "Apa kekuranganku? Lihatlah!" Baby beranjak dari tempat duduk, lalu berdiri. Kemudian memutar tubuh sedemikian rupa, membuat Bagas mengernyit tak paham.
"Haish, apa Ka Bagas sepolos itu? Tidak sadarkah aku disini untuk kembali padamu. Kakak selalu anggap aku anak kecil tapi aku sudah dewasa. Tidak bolehkan mencintai pria yang selama ini menjadi idolaku? Sekali saja lihat aku sebagai gadis bukan adik atau teman, Ka." ucap Baby begitu frontal menyentak kesadaran Bagas yang langsung tertegun.
Baby mencintainya? Bukankah gadis itu tahu benar tentang rencananya untuk setahun ke depan. Lalu darimana datangnya angin perasaan yang membuat keadaan tidak kondusif. Apakah ini yang dimaksud Fay? Bagaimanapun status mereka tak bisa dirubah karena hati hanya menerima baby sebagai adik dan tak lebih.
Selama beberapa waktu memang hanya ada kesalahpahaman hingga Fay datang padanya menjelaskan beberapa hal yang cukup menjadi alasan ia tetap melangkah maju. Hubungan yang terbentuk berdasarkan keterbukaan serta mencoba saling memahami satu sama lain. Gadis dewasa yang bisa menjadi tempatnya berpulang.
"By, kamu itu adikku. Sejak awal sampai kapanpun akan selalu menjadi adik. Terima kasih telah mencintaiku tapi percayalah hubungan kita hanya baik sebagai kakak beradik. Please, kita akhiri masalah ini cukup sampai disini." tutur Bagas berusaha memberikan pemahaman sederhana. Ia berdiri berniat ingin membujuk Baby tapi ...
Pria itu tidak sadar akan satu fakta dari seorang wanita. Cinta bukan hanya menjadi alasan penantian tetapi juga rasa ingin memiliki. Harapan yang selalu dipupuk tak luput menjadi pagar kokoh sehingga bisa melupakan akal sehat. Cinta yang terpendam lebih berbahaya dari sekedar cinta pada pandangan pertama.
Baby terkekeh mendengar nasehat sang idola. Ia tahu bahwa Bagas memang hanya menganggapnya sebagai adik tapi bagaimana nasib cinta di hatinya selama mengenal pria itu? Haruskah disiram air es atau dibiarkan saja sampai merasa jenuh? Sesak di dada tak bisa menghantarkan ketenangan.
__ADS_1
Ditunjuknya dada kekar sang idola seraya berusaha menghentikan suara tawa garing yang terdengar palsu. "Kamu, alasanku bertahan hidup. Jika aku kehilangan idolaku, maka lebih baik ...,"
"Mati." Sahut seseorang dari arah lain, membuat Bagas dan Baby menoleh serempak melihat siapa yang nimbrung obrolan serius mereka.
Langkah kaki berjalan tegas, tatapan mata tajam tak berkedip, seulas senyum tipis nan samar menghiasi wajahnya sesaat. "Cinta macam apa yang kamu punya? Aku ragu dengan perasaan di hatimu. Coba tanyakan pada diri sendiri, seberapa besar kamu mencintai Bagas."
"Kamu ...," Baby ingin melakukan pembelaan tetapi tatapan wanita yang kini berhenti di depannya terlalu dalam memaksa ia untuk menahan emosi.
Disentuhnya dagu si gadis meski berusaha memberontak, ia tak ingin ada drama yang bisa mengubah jalur kehidupan. "Cinta itu pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, kepercayaan, kepasrahan dan keyakinan. Rasa ingin memiliki wajar tapi ketika melampaui batas disebut obsesi. Do you understand it?"
Baby menepis tangan yang berani menyentuh dagunya tanpa izin, meski sang pemilik tangan hanya tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangan ke arahnya. Kenapa mempertanyakan cinta yang dimilikinya? Apakah itu hak orang lain? Andai Bagas yang bertanya pasti akan dijawab.
"Siapa kamu? Hidupku bukan untuk kamu nilai. Termasuk cintaku untuk Ka Bagas. Aku siap melakukan apapun untuk bersamanya. Kamu bisa apa?" tantang Baby membanggakan rasa yang selalu dianggap sebagai pemujaan.
Speechless dengan tantangan Baby membuat Bagas menarik tangan adiknya. Tangan yang berayun hampir saja menyentuh pipi si gadis Korea. Beruntung tangan lain menahan pergerakannya tepat waktu. Jika tidak bisa saja menjadi trauma yang mungkin menyebabkan dendam.
"De, dia sudah kelewatan." cetus Bagas dengan tatapan mata nyalang menatap Baby.
"Tamparan mu hanya meninggalkan jejak luka hati. Apa kamu bisa mengobati rasa sakit di hatinya? Jika iya, tampar saja!" Dilepaskannya tangan Bagas, lalu ia melangkah mundur dua langkah. "Lakukanlah!"
__ADS_1