
Perjanjian antara Papa Burhan dan Elora bukanlah akhir dari perbincangan, tetapi rencana itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebagai seorang pebisnis memiliki aturan main agar bisa mendapatkan hasil terbaik dari segala kemungkinan gagal. Sementara di tempat lain, seseorang tengah menikmati makanan di cafe terdekat dari tempatnya menginap.
Pikiran tak tenang mencoba untuk menetapkan rasa yang semakin menggerogoti. Bagaimana semua terjadi tanpa ada persiapan seperti cuaca panas yang mendadak turun hujan. Yah seperti itulah suasana hatinya yang kacau balau. Setelah sekian lama, kenapa baru kali ini rasa itu hadir?
Rindukah? Atau hanya sekedar datang menyapa tanpa ingin singgah. Bayang-bayang masa lalu kian menguasai pikiran. Sesak di dada tak lagi bisa ia tahan, tubuhnya kembali bereaksi gemetar tanpa alasan. Rasa takut yang selama ini terpendam muncul ke permukaan. Ada yang salah dengan dirinya?
Cinta? Rasa yang selalu memenuhi lubuk hati, tetapi kenyataan berkata takdir bukan untuknya. Semua terasa semakin hampa walau kehidupannya sudah lengkap dengan kehadiran seorang istri dan buah hati. Lalu kenapa ada rasa cinta lain? Mungkinkah semua masih sama?
Tegukan demi tegukan teh hangat mengalir melepaskan dahaganya. Akan tetapi bukan mengusir kenangan masa lalu yang semakin menguasai hati dan pikiran. Sekarang apa yang harus dilakukan? Kehidupan memisahkan jarak, kemudian hati dan berakhir perpisahan.
Diambilnya ponsel dari atas meja, "Apa kamu baik-baik saja disana? Sudahkah ada orang yang memiliki hatimu, disaat ragamu masih kurindukan?"
"Aku sangat mencintaimu bahkan detik ini, hatiku masih milikmu seorang. Aku tahu, ini bukan hak karena semua sudah berakhir. Apakah semua berjalan seperti keinginan hatimu? Rindu yang tak mampu memeluk kisah cinta kita." Diusapnya foto terakhir yang ada di galeri ponsel, kenangan lama berbalut luka.
Sadar akan siapa dirinya saat ini, tapi hati tidak memungkinkan untuk melupakan. Apalagi menghapus kenangan terindah dalam hidupnya karena setelah semua yang terjadi. Hati, jiwa dan raga masih milik satu nama yang selalu menempati tahta tertinggi sebagai sang pemilik cinta.
Kata andai ingin didapatkan sebagai hasil dari keinginan, tapi kenyataan terlalu berat untuk ditinggalkan. Lihat saja dunia membawanya pada kehidupan yang sederhana. Kerja, keluarga lalu kesendirian. Pernikahan yang menjadi impian berakhir keterpaksaan karena jodoh bukanlah ia yang slalu dirindukan.
__ADS_1
Lamunan semakin menjauh dari takdir kehidupan. Kini sudah terlambat untuk meraih mimpi yang selama ini dibangun sepenuh hati. Sadar akan perbedaan jalan yang sama-sama ke arah tujuan lain. "Asma, sekali saja katakan padaku untuk kembali. Apa itu terlalu sulit? Sampai kapan rinduku tersimpan di dalam dada? Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu tidak paham itu?"
"Permisi, Mas. Mau tambah lagi tehnya?" Seorang pelayan datang menawarkan diri untuk melayani, membuat pria itu tersadar dari angan tak sampainya.
"Tidak, makasih." balasnya begitu singkat tanpa menatap si pelayan.
Ketika hati manusia berkata A, tetapi takdir menggariskan H. Manusia Senantiasa menjalani kenyataan di atas rasa tak bertuan. Kisah berakhir atau dimulai, siapa yang tahu? Takdir semesta bukanlah seperti kisah para anak cucu adam dan hawa. Satu kata yang pasti misterius.
Waktu berlalu menikmati peraduan di tengah pertemuan dan perpisahan. Bagaikan raga tak bernyawa dalam separuh kesadaran. Begitulah dunia yang terayun terbawa ombak kehidupan. Mentari berganti senja meninggalkan kenangan menyisakan alur cerita kehidupan.
Empat hari telah berlalu tanpa ada ketegangan yang berarti. Dunia yang begitu sibuk bersambut kehangatan di dalam keluarga Reyhan. Semua orang berkumpul untuk merayakan resepsi kecil yang sengaja disiapkan Bagas sebagai bentuk hadiah pernikahan untuk kedua orang penting dalam hidupnya.
"Ka, bisa bicara sebentar?" Asma menatap Bagas serius seraya mengkode mata untuk pergi bersamanya, "Mas temenin yang lain dulu, ya. Aku mau minta tambahan hadiah."
"Minta yang banyak, Sayang. Gajinya banyak kakakmu itu," jawab Rey menyemangati istrinya, membuat Bagas memutar bola mata malas.
Bagaimana bisa memiliki saudara yang jahil? Seharusnya cukup dia saja yang selalu berbuat sesuka hati, lah ini adik sendiri malah disuruh malak. Pada dasarnya, mereka semua memang sama-sama suka jadi preman dadakan. Akan tetapi yah siapa yang kalem diantara semua orang? Tidak ada.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin dari suaminya. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi bersama Bagas menuju taman untuk mendapatkan tujuan yang selama beberapa waktu mengusik ketenangan harinya. Bagaimana menjelaskan rasa takut dan khawatir yang bersatu menjadi kegelisahan nan dalam?
"Tutup pintunya!" Asma menarik kursi yang menghadap tembok batu di depan mata, lalu duduk dengan kasarnya seakan itu bisa melepaskan ketegangan yang menyegel pikiran.
Ia menunggu Bahas untuk duduk. Dimana pria itu merasa bingung dengan sikapnya yang aneh. Paham benar slama hanya diam, siapa yang tahu isi hati dan pikiran? Apapun yang mengusiknya hanya bisa dilakukan tanpa ada keraguan. Akan tetapi, apakah sang kakak sanggup memahami dilema hatinya?
Sejujurnya Ia tak berharap banyak, meski harapan tetap jatuh di pangkuan sang kakak. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, hasil akhir hanya satu nama yaitu Bagas. Namun melihat situasi yang ada, kemungkinan mendapatkan persetujuan adalah satu persen. Sebagai seorang saudara resiko itu harus diterima dengan lapang dada.
"Seorang Asma meminta hadiah? Kurasa bukan hal sederhana," Bagas menarik kursi, ia memilih untuk duduk berhadapan dengan adiknya yang tampak begitu serius lebih dari biasanya. "Wajah dingin, seulas senyum samar, tatapan mata sendu, bibir terkunci."
Bagas membacakan ekspresi wajah adiknya yang benar-benar membuat hati was-was. Secara alami seiring berjalannya waktu, ia belajar memahami karakter sang adik. Wanita satu itu memang complicated. Sampai detik ini hanya bisa mengerti, tetapi belum memahami. Terkadang ada rasa heran, kenapa di dunia yang luas justru ikatan hati terikat pada benang takdir milik Asma.
Jika Rey sebagai suami lebih memberikan kebebasan, tetapi ia sebagai kakak hanya ingin merengkuh melindungi tanpa mengekang. Asma seakan bisa membaca isi pikirannya setiap kali melakukan penolakan atau persetujuan. Terlalu aneh, padahal wanita itu bukan cenayang. Lebih dari semua orang, ia hanya ingin menjadi kakak yang bertanggung jawab.
"Asma! Diam bukan jawaban, bukankah itu yang selalu kamu katakan? So please tell me, what's your problem? I can only understand if you are honest." kata Bagas to the point.
Sikapnya hanya untuk tetap tenang, tetapi helaan napasnya menjelaskan keraguan yang semakin menggerogoti hati dan pikiran. Jika bukan hari ini, lalu kapan lagi? Yah itu yang tengah dipikirkan Asma. Dilema antara mengikuti kenyataan hidup atau kata hati.
__ADS_1
"Ka, bagaimana jika ...,"