Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 128: Tiga Keputusan Para Pria


__ADS_3

Para tamu undangan tak bisa berkonfrontasi untuk melakukan hal benar, apalagi membela. Semua orang tampak terkejut dengan ulah Elora. Mereka bertanya-tanya, siapa yang benar? Satu sisi seorang dokter yang memiliki reputasi baik, dan sisi lain seperti gadis desa yang asing. Bukankah secara tidak langsung bisa menemukan orang yang dibenarkan?


Namun mereka juga tidak lupa bahwa seorang Reyhan pandai menilai partner bisnisnya. Termasuk jika ada yang bermain-main, jadi mana mungkin tertipu oleh seorang istri sederhana. Agaknya mustahil karena terlalu kontras untuk dinilai secara kasat mata.


Lihat saja! Pria itu tanpa sungkan membenamkan tubuh istrinya ke dalam pelukan serta mendaratkan kecupan hangat di kening agar meredam emosi yang masih membara. Sementara Elora, wanita itu terlihat kesal, geram, murka dengan hentakan kakinya berulang-ulang. Apa yang terlihat lebih menjelaskan cerita di balik sikap.


"Para tamu hadirin sekalian, saya Bagas sebagai saudara dari Asma meminta maaf atas ketidaknyamanan di dalam acara siang ini." Bagas mengambil alih keadaan karena ia sudah muak dengan tingkah Elora. Dokter tidak punya otak, bahkan dengan sesama wanita saja bisa bertindak seegois itu.


Ia tahu, adiknya masih memiliki batas sabar dan juga maaf. Hanya saja, jika diteruskan belum tentu wanita seperti Elora bisa sadar. "Tuan Burhan, silahkan bawa putri Anda meninggalkan acara pesta! Tuduhan yang dilayangkannya, bukan hanya untuk Asma tapi juga untuk seluruh keluarga."


"Anda jangan melupakan semua keluhan-keluhan yang sudah tersedia di meja pengacara tentang setiap tindak putri semata wayang mu karena selama bertahun-tahun mencoba untuk memanfaatkan CEO Reyhan Aditya. Setelah kejadian cafe, hingga peristiwa sekarang. Sebagai seorang kakak sekaligus wakil CEO, maka Aku berhak mengambil keputusan.


"Mulai hari ini, kerjasama di antara kedua perusahaan akan ditangguhkan hingga batas tidak ditentukan. Semua proyek tetap berjalan, tapi perusahaan Anda tidak berhak atas klaim yang bisa dijadikan sebagai ganti rugi. Oh ya, satu lagi. Adikku Asma, ISTRI SAH, dan putri Anda, SEORANG PELAKOR TAK DIANGGAP." sambung Bagas meluapkan emosinya dengan lebih baik.

__ADS_1


Keputusan Bagas seperti ketetapan pasti. Para tamu undangan mulai mengerti bahwa pembelaan dilakukan untuk kebenaran. Ternyata keluarga yang mengadakan hajat saling mendukung satu sama lain bahkan tidak ada kata ragu. Sungguh patut di contoh dengan kekompakan yang tidak bisa ditoleransi.


Asma melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggang, lalu kembali berbalik menghadap Elora yang diam membeku dengan tatapan semakin tak rela. Wanita yang ia pikir paham arti hak dan kewajiban suami istri. Jujur saja terlalu miris mengingat kejadian tempo hari saat di cafe, kemudian ditambah tindakan tak terhormat saat ini yang dilakukan oleh seorang dokter.


Bukankah diantara tamu undangan, bisa saja pasien tetapnya? Kenapa Elora hilang akan hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan? Sungguh sangat disayangkan karena dibutakan perasaan hati yang tidak memiliki hak untuk dicintai balik. Meskipun ia paham bahwa kali ini hanya tentang obsesi.


"Aku, kamu, kita. Semua orang itu sama karena memiliki hak untuk melakukan pembelaan dan juga perlawanan. Sebagai sesama wanita, cobalah untuk memahami cinta bukan tentang memiliki tapi mengikhlaskan. Sampai kapan semua ini berlangsung? Kamu tenggelam mencintai pria yang tidak sedetikpun menganggap dirimu ada dan nyata.


"Aku tidak mengejek, apalagi mempertanyakan perjuanganmu selama ini, tapi sadarlah!" Asma berusaha untuk yang terakhir kali sebagai seorang wanita, bagaimanapun Elora memiliki masa depan yang harus diperbaiki.


Tak elak semuanya terlihat seperti canda yang menertawakan cinta miliknya. Kenapa semua orang menatap aneh? Apa karena ia mencintai Reyhan? Siapa mereka? Cinta itu miliknya, bukan identitas orang lain. Jika ada yang keberatan berarti bukan kesalahannya.


Elora tertawa hambar yang terdengar begitu miris mengibarkan bendera putih. Kemudian mengedarkan pandangan mata ke setiap para tamu undangan yang ada di aula itu, "Aku mencintai Reyhan sejak masa kuliah, tapi kenapa perjuanganku dianggap hilang akal? Sementara dia," Ditatapnya dari ujung kaki hingga kepala sang wanita perusak jalan masa depan, "Wanita asing yang tukang merebut ...,"

__ADS_1


"Shut up!" Suara bergema dari arah belakang Rey menyentak Elora tanpa menurunkan nada oktaf tertinggi. Ia merasa tidak habis pikir dengan kepribadian seorang dokter yang childish, "Sebelum kamu menunjukkan jari ke orang lain, ingatlah siapa dirimu! Wajah boleh cantik, tapi akhlak? Berkat wanita sepertimu, maka pria lain menganggap wanita hanya pemuas nafsu."


Mr. Axel berjalan mendekati Rey yang tegap berdiri di belakang Asma menjaga sang istri tercinta. Kisah cinta memang selalu unik sebagaimana jejak kasih sayang yang akan menjadi sejarah kehidupan. Semua sudah mengambil hak untuk melakukan pembelaan dan memberikan keputusan, tapi dirinya belum.


Langkah kaki terhenti tepat di sebelah Asma. Sesaat lirikan mata mengamati perubahan ekspresi dingin sang partner bisnis yang tampak masih berusaha tetap tenang, "Nona Elora, Anda terlalu kejam menyangkut pautkan kehidupan pribadiku menjadi konsumsi publik dan sebagai gantinya. Silahkan tunggu surat panggilan dari pengacaraku yang akan menuntut atas ketidaknyamanan karena tuduhan yang saudari layangkan."


"Aku juga akan melaporkanmu atas pencemaran nama baik yang telah disaksikan oleh semua orang. Mulai hari, kuharap sebagai seorang wanita, putri dan dokter, kamu belajar arti tanggung jawab atas setiap tindakan dewasa mu." Rey menyambung keputusan Axel, sebagai seorang suami harus mempertegas bahwa Asma memang istri sah.


Elora terpana dengan hasil perbuatannya. Perusahaan papa terancam failed, jabatan sebagai dokter kepala di salah satu rumah sakit bisa melayang, dan dirinya berakhir mendekam dibalik jeruji besi. Semua pikiran menyantu menghasut akal sehat yang tersisa, ia merasa dunia tidak adil dan menentang cinta miliknya. Rasa sesak di dada justru menekan melemparkan sisa kewarasannya.


Hawa panas menjalar ke seluruh nadi, ia tahu bahwa emosinya saat ini sudah dipuncak. "Semua ini hanya karena KAMU!" Elora menunjuk Asma, langkah wanita itu bersiap maju membuat Rey menarik istrinya ke belakang, sedangkan Axel langsung menggeser posisi hingga berdiri di depan pasutri itu. "Hei, kalian ...,"


Sensasi dingin menyergap membasahi dari ujung kepala hingga kaki bahkan gaunnya tak lagi berwarna indah. Aroma kuah yang menyengat mendadak menjadi perbicaraan para tamu undangan. Elora mendongak ke atas, dimana ember hitam ukuran sedang menggantung di udara. Semua itu? Ulah siapa?

__ADS_1


Suara tepuk tangan dari arah tangga mengalihkan perhatian dengan tatapan mata tak berkedip. Apa yang baru saja terjadi benar-benar di luar ekspektasi. Dalang yang tanpa hati memberi hukuman tunai pada Elora si wanita tidak punya muka. Baginya, seorang perebut tidak pantas untuk dikasihani, apalagi di beri hati karena nanti ngelunjak.


"Gadis kurang ajar!" seru Elora dengan tatapan lebih marah menghujam sang pelaku hukuman seraya melangkahkan kaki maju satu langkah dan tiba-tiba rasa panas menyapa menyentuh tubuhnya dengan jejak aroma yang lebih pekat. "Ieuhh, apa-apaan ini?"


__ADS_2