
Bukan Rey yang menjawab, tetapi Bagas. Pria itu seperti roller coaster, antusias yang melejit. Namun, justru berkat dialah. Kini dua insan bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Semoga jodohnya segera datang. Amiin.
Malam ini, semua menginap di hotel Patra. Baik itu orang tua Asma, pasangan baru dan juga Bagas. Semua sudah disiapkan bahkan mendapatkan pemesanan kamar yang ekslusif. Apalagi kamar pengantin baru.
Bagas yang bertugas untuk mengantarkan Asma menuju kamar nomor tiga merasa canggung. Ingin memulai obrolan dengan gadis itu. Jujur saja, hatinya merasa bersalah karena telah memberikan tekanan pada Asma yang pasti menyakiti secara batin.
"Asma!" Panggil Bagas menghentikan langkah kakinya, membuat si gadis berpakaian pengantin hanya diam melirik ke arahnya. "Sorry, bukan maksudku untuk menjadikanmu sebagai gadis percobaan."
"Kamu tahu, sejak pertama kali melihatmu dari tatapan mata sahabat ku. Sejak saat itulah aku yakin. Kamulah takdir Rey. Terdengar lebay, tapi serius. Aku tidak berniat buruk padamu." sambung Bagas, pria itu takut si gadis desa salah paham atas tindakannya.
Asma hanya tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Padahal tidak tahu kamar mana yang akan ia tuju. Pokoknya berjalan saja, meski akan tersesat. Penjelasan Bagas sudah terlambat karena kini statusnya sudah menjadi istri Rey.
Melihat sikap dingin Asma, justru itu semakin menambah rasa bersalahnya. Bagas menyusul, kemudian merentangkan kedua tangannya di depan Asma. "Ayolah, kita bicara sebentar saja. Aku tidak akan tenang seumur hidupku, jika kamu seperti ini denganku. Please, Asma."
Helaan nafas panjang dengan tatapan tak terjabarkan. "Menikah bukan tentang paksaan. Aku sudah menolak, tetapi dia bersikeras. Pernikahan ini atas izinku, maka tidak perlu minta maaf. Keputusanku adalah tanggung jawabku. Sekarang, kuharap semua sudah jelas."
"Bagas, pergilah!" Rey menyahut mengalihkan perhatian kedua orang yang tengah berdebat di tengah lorong sepi, "Semua baik, Bro. Berikan kami waktu untuk berdua di malam pertama."
Ingin sekali menculik Asma hingga mau memaafkan dirinya. Baru setelah itu dikembalikan ke Rey, tapi terkesan egois dan aneh. Lagi pula, malam ini adalah malam pertama. Kasian juga nasib rumah tangga sang sahabat. Jika ia membawa kabur pengantin wanitanya.
Sepuluh menit berlalu. Rey masih terdiam menatap sang rembulan, sedangkan Asma memilih duduk sembari memainkan ponselnya. Tidak ada yang duduk menempati ranjang bertabur bunga mawar, hiasan indah itu tidak menarik perhatian pengantin baru.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah panggilan video call mengalihkan kesibukannya yang tengah menulis. Namun, melihat nama yang tertera. Ia bingung bagaimana menjelaskan keadaan kehidupannya yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Dimana tadi pagi masih lajang, tetapi sore hari sudah menjadi istri orang.
Apalagi penampilannya masih memakai riasan dan baju pengantin. Jujur saja, tidak ada baju ganti. Serba salah akhirnya. Namun, panggilan tak mungkin dibiarkan berdering terlalu lama. Jalan pintas hanya bisa mematikan kamera.
"Assalamu'alaikum, Honey." Suara laungan salam dari seberang, membuat Rey menoleh ke sumber suara.
Tatapan mata menelisik dengan alis terangkat. Suara siapa itu? Kenapa memanggil istrinya dengan panggilan honey. Nama yang terlalu dekat dan tidak seharusnya ia dengar atau jangan-jangan? Asma sudah memiliki kekasih, hanya saja tidak mau mengatakan hal itu.
Asma meletakkan ponselnya agar duduk tegak bersandar di sebuah vas bunga yang ada diatas meja. "Waalaikumsalam, Bee. Apa kabarmu, semua baik disana 'kan?"
Obrolan basa-basi yang normal, tetapi panggilan keduanya terdengar begitu intens. Rasa penasaran semakin menghantui hati Rey. Perlahan langkah kakinya berjalan menghampiri sofa. Dimana Asma berada. Bukankah sebagai suami berhak untuk tahu?
Orang yang mendapatkan panggilan manis dari Asma. Ternyata seorang gadis dan gadis itu tengah merajuk mencoba membujuk istrinya. Entah apa yang tengah dibicarakan karena jujur ia tak bisa memahami arah perbincangan sesama gadis itu. Sementara Asma masih menahan diri agar tidak melakukan kesalahan untuk saat ini.
"Honey, buruan nyalain kameranya! Ngambek lah aku." Rengek gadis dari seberang mengeluarkan jurus terampuhnya.
Rengekan yang selalu meluluhkan emosinya. Ingin menolak, tapi tidak tega melihat bibir manyun yang memenuhi kamera. "Hmmm, dua menit. Aku akan menyalakan lampu."
Alasan sederhana untuk mengulur waktu. Kini, apa yang akan dilakukannya? Pakaian harus dilepaskan, tetapi yang ia pakai hanya tanktop dan celana pendek. Di kamar ada Rey juga, mana mungkin bersikap sesuka hati seperti di kamar sendiri.
__ADS_1
Asma berpikir cepat, melakukan sesuatu untuk membuat sang sahabat tidak mencurigainya. Pada akhirnya, gadis itu mengabaikan tatapan bingung Rey. Lalu mengambil selimut yang terlipat membentuk love di atas ranjang. Kemudian melepaskan pakaian pengantin yang cukup berat.
Dikamar hotel, Asma bersikap seperti tinggal seorang diri. Gadis itu mengabaikan Rey, melanjutkan video call yang mengharuskan untuk mengubah penampilan ala rumahan. Hampir saja selimut merosot ketika berganti pakaian secara cepat.
"Wuih, tumben pake make up, honey. Habis kondangan? Kok gak ngajak." Goda Ovita Ayunda yang melihat sesuatu yang mencolok dari seorang Asma.
Make up? Dua kata yang mirip barang keramat. Pokoknya, harus dipertanyakan ketika Asma memakai make up. Sejak kapan gadis pecinta dunia halu menyukai kecantikan? Kecuali beberapa situasi yang memang kadang dia jumpai.
Asma menurunkan selimutnya, sontak tanktop hitam tanpa lengan mempertontonkan kulit mulusnya. "Gak, Bee. Lagian cuma pengen aja make up. Sayang kalau gak dipake."
Obrolan random di antara kedua gadis itu, membuat Rey yang berdiri menjaga jarak tersenyum simpul. Tidak masalah, jika Asma tidak menatapnya malam ini. Setidaknya, ia bisa melihat sisi lain dari sang istri. Sikap dingin yang lenyap ketika berhadapan dengan orang-orang terkasih.
Senyuman dan kenakalan yang terpancar dari sorot mata istrinya nampak begitu energik. Ia ingin bisa melihat kebahagiaan yang nyata yang melukis senyum indah di wajah Asma. Rasanya malam ini akan menjadi malam panjang.
Sibuk mendengarkan dari A sampai Z. Obrolan random yang sangat menarik, bahkan sebagai manusia. Malam ini dia tahu, jika diluar dunia bisnis. Ada pula yang bernama cinta dunia halu. Cara penyampaian emosi yang begitu mendalam.
Dua jam berlalu, Asma meminta sahabatnya untuk pergi istirahat. Perbedaan waktu membuat keduanya harus saling mengingatkan. Apalagi ponselnya juga sudah meminta asupan gizi. Panggilan berakhir setelah bicara panjang kali lebar, tetapi setelah layar mati.
Asma menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Kenapa harus menyembunyikan kebenaran? Suatu saat nanti, akan ada penuntutan jawaban. Lalu, bagaimana caranya menjelaskan pada Ovita Ayunda?
__ADS_1
"Asma, apa kamu tidak lapar?" tanya Rey memaksa gadis itu kembali membuka matanya. "Aku akan pesan makanan, apa makanan favorit mu?"
Asma menoleh ke arah Rey yang duduk bersandar ditepi ranjang dengan tatapan ke arahnya. "Nasi goreng saja dengan secangkir kopi hitam."