
Seorang pria dengan penampilan rapi berwajah tak asing menyita perhatian ketiga insan yang menoleh ke arah sumber suara. Nau mengamati wajah yang ia ingat baru bertemu semalam. Mengingat hal itu, ia beranjak dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri si pria asing.
Tanpa basa-basi, Nau menunjuk si pria. "Kamu kan yang nitip kado buat Ka Asma. Kebetulan banget ketemu lagi atau mau langsung ngucapin selamat buat kakakku?" Senyum santai menghiasi wajahnya.
Pemuda itu tidak menyadari siapa yang diajak berbincang bagaikan teman. Fay merasa sesak seketika ia kesal dengan tingkah sang adik sepupu. Bagaimana tidak? Sok kenal yang tidak pada tempatnya. Apalagi lirikan mata terpatri pada sang kakak yang diam mematung tanpa emosi.
Bahkan Ibu Zulaikha masih diam menatap putrinya yang hening. Ketenangan yang semakin menyebarkan hawa dingin di sekitarnya. Aura tak bersahabat membuat suasana berubah haluan tanpa diminta. Sadar benar akan terjadi sesuatu di luar kendali tetapi apa yang bisa dilakukan? Ia pun ikut bingung.
Kisah cinta yang tak sampai sudah berakhir. Lalu ketika salah satu sisi masih mencintai hingga tenggelam dalam sisa harapan. Siapa yang bertanggung jawab? Tentu bukan orang yang dicintai karena semua jalan tak lagi sama. Sekedar menyapa tanpa singgah.
"Aku mau bicara dengan Asma. Cuma itu," tukas pria itu kekeh dengan keinginannya.
Suara yang sama tetapi kini tak lagi menggetarkan hatinya. Hambar tanpa sisa rasa. Jangankan cinta, ia tak peduli dengan apa yang sudah terjadi. Baginya semua sudah cukup di masa lalu dan kini? Kehidupan hanya tentang hari esok. Sekalipun tidak berharap jalannya menyatu dengan waktu yang usang.
Fay beranjak dari tempatnya. Gadis itu ingin mengatakan semua keluh kesah yang demo di dalam kepalanya. Tiba-tiba langkah kaki terhenti, di liriknya pergelangan tangan yang tertahan. "Ka Asma?"
"Fay, bantu aku. Antar ibu dan Nau kembali ke dalam!" titah Asma dengan suara tegasnya tak ingin dibantah.
__ADS_1
Ingin sekali menolak permintaan sang kakak. Hati menyadari luka yang terpancar dari sorot mata begitu dalam, "Ok, like your wish." Dilepaskannya tangan Asma yang mencegah ia untuk meluapkan emosi pada masa lalu.
Nau bingung dengan apa yang terjadi. Apalagi ketika mendengar suara Asma begitu tegas terasa dingin tanpa harapan emosi hati. Seperti gadis yang mengedepankan ego. Pemuda itu masih diam mencoba mencerna situasi yang ada. Akan tetapi, tangan langsung ditarik Fay. Tatapan mata kakak sepupunya pun tampak begitu marah melirik si pria asing.
Sebenarnya apa yang terjadi? Tanda tanya tanpa jawaban seperti kabut di kegelapan malam kian membutakan kebenaran yang ada di depan mata. Seketika tanpa arah hingga tersesat tanpa mampu menemukan jalan keluar. Seperti itulah posisinya saat ini.
Suara langkah kaki terdengar semakin menjauh. Nyatanya tak membuat Asma beranjak dari tempat duduk, ia masih diam seribu bahasa. Sementara si pria asing semakin tak mampu menahan diri. Sakit hati ketika diperlakukan begitu dingin oleh orang yang paling begitu berharga dalam kehidupannya.
"Asma! Sekali saja katakan kamu masih mencintai aku." pinta pria asing itu dengan nada gelisah yang sangat disadari Asma.
Permintaan yang begitu konyol. Bagaimana memaksa masa lalu berkata sesuatu yang sudah basi? Sungguh miris. Apa pria itu lupa ingatan? Hubungan yang mereka bangun hancur karena siapa. Lalu hari ini, tiba-tiba saja berlagak paling tersakiti. Benar-benar keterlaluan.
"Asma, Aku ...," Kalingga berusaha melakukan pembelaan tetapi jemari lentik yang terangkat seketika menghentikannya.
Ia tahu seperti apa Asma. Diam bukan berarti tak mendengar tetapi amarah gadis satu itu lebih menakutkan. Di sisi lain, hati tidak ingin berbohong bahwa cintanya masih tetap sama seperti dulu. Benar ia telah berkeluarga. Benar juga hubungan hancur karena logikanya. Lalu sekarang bagaimana?
Asma beranjak dari tempat duduk seraya mendorong kursi ke belakang tanpa menoleh ke arah Kalingga. Apa gunanya menatap wajah asing? Hati mana yang harus dipatahkan? Tak ada karena semua sudah berakhir yang berarti tidak perlu dibahas lagi.
__ADS_1
"Hiduplah seperti yang kamu impikan. Jangan usik, apalagi masuk ke duniaku. Kamu hanya masa lalu, dan aku hidup masa kini. Selamat tinggal," ucap Asma berlalu berjalan meninggalkan Kalingga yang tertegun.
Langkah kaki sang pujaan hati semakin menjauh pergi. Tubuh terhuyung ke belakang tanpa sadar ada tubuh yang menahannya, "Sudah jelas 'kan? Adikku tidak ingin kamu kembali hadir. Lagi pula, seorang suami memiliki tanggung jawab mengurus istri dan anak. Pulanglah pada keluargamu sendiri!"
Bisikan suara tegas terdengar menyindir mengalihkan perhatian Kalingga. Sontak ia menoleh hingga tatapan mata bertemu netra tenang menenggelamkan. Adik? Sejak kapan Asma memiliki kakak setampan pria di depannya? Sungguh ada yang aneh tetapi ia tak bisa paham dengan kehidupan sang wanita pujaan.
"Pasti kamu heran, siapa aku. Iya 'kan?" Bagas tersenyum sinis meremehkan Kalingga yang memang jauh dari kualitas seorang pria. "Bagi Asma, aku kakaknya. Bagimu, aku penghalang. Tidak akan kubiarkan kebahagiaan adik tersayang ku hancur karena masa lalu tak berharga sepertimu."
Nyess merasuk ke dalam hati. Hawa panas menyebar menghangatkan tubuh. Gemuruh hatinya kian membara. Siapa Bagas sehingga berani menilainya tanpa mengenal. Itu yang dirasakan dan dipikirkan seorang Kalingga, tetapi bagi Bagas sendiri? Tidak ada yang penting selain kebahagiaan Asma.
Tak peduli hati siapa yang ia tusuk dengan mengatakan sebuah kebenaran. Kenyataan tetaplah sama. "Hello! Pergilah! Ck. Tidak tahu malu." Bagas menjentikkan jari membuat lamunan Kalingga buyar seketika. "Salah siapa meninggalkan permata hanya untuk bongkahan batu."
"Kau!" Tangannya mengepal tak terima dengan perlakuan Bagas. Sesaat ingin menonjok wajah pria yang berdiri menatapnya dengan ekspresi mengejek. "Asma bukan hanya cinta pertama. Dia hidupku. Camkan itu!"
Hidup? Orang bahkan melupakan hal sederhana di dunia tetapi mengklaim insan menjadi miliknya. Apakah seperti itu dinamakan cinta? Bukan. Cinta adalah hasil dari ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Apa yang dirasakan Kalingga hanyalah tentang obsesi. Tanpa sadar, pria itu memupuk rasa ingin memiliki di luar batas kewajaran.
Bagas tak ingin ambil pusing sehingga membiarkan Kalingga pergi begitu saja. Meski tak memungkiri hatinya berdegup kencang dipenuhi kecemasan. Ia tahu mantan kekasih adiknya sudah tidak waras. Jika hari ini datang untuk menyapa, maka kemungkinan lain bisa saja terjadi. Lalu Ia harus bagaimana?
__ADS_1
Ya Allah, lindungilah kebahagiaan kedua saudaraku. Jauhkan pernikahan mereka dari badai masa lalu. Kuatkanlah ikatan Asma dan Rey dalam hubungan suci. Hamba berserah diri pada Mu. ~ucap hati Bagas seraya menghela napas pelan.