
Perjalanan selama enam belas jam kurang terbayarkan dengan pemandangan alam nan indah mempesona. Hotel Mascot Houseboat pilihan Bagas juga tempat yang cocok untuk menikmati hari dengan fasilitas yang lengkap. Siapapun bisa membuat momen romantis bersama pasangan mereka.
Amir dan Samir pun ikut menginap di tempat yang sama karena Bagas benar-benar ingin Rey dan Asma bisa dijaga dengan ketat. Liburan pertama untuk Asma tetapi tidak untuk Reyhan. Meski begitu sadar benar akan orang jatuh cinta bisa melupakan sekitarnya. Antisipasi itu perlu bukan?
Direbahkannya tubuh sang istri perlahan ke atas ranjang mewah dengan bedcover gaya kerajaan. Tak lupa membantu melepaskan sepatu yang dikenakan Asma seraya menatap betapa tenangnya wanita itu selama sisa perjalanan. Seulas senyum tersungging, ia tak menyangka bisa menikmati hari seperti pasangan lain.
"Selamat pagi, Butterfly. Tidurlah, Istriku." Dikecupnya kening yang tertutup helaian rambut, lalu turun mengecup bibir yang hanya memakai lip balm. "Manis, sebaiknya aku bersih-bersih."
Tak ingin mengusik kenyamanan Asma. Rey beranjak dari tempatnya, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Suara pintu yang terbuka, lalu tertutup membuat seseorang mengerjapkan mata. Tatapannya menelusuri seluruh ruangan yang indah seperti berada di film kerajaan.
"Apa semua ini ulah Ka Bagas?" tanyanya pada diri sendiri. Ia tak mampu menahan senyum karena menyukai kejutan sang kakak. Sebenarnya sejak obrolan terakhir di dalam mobil sudah terbangun hanya saja enggan untuk ikut nimbrung dan lebih nyaman menikmati dekapan sang suami.
Disibaknya selimut yang menutupi tubuh, lalu turun dari atas ranjang. Tatapan mata tertuju pada koper yang teronggok di sisi kanan sofa. Ia ingin menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya sebagai tanda terimakasih. Si benda mati yang entah isinya apa karena koper itu disiapkan Bagas.
"Hah, kenapa isinya seperti ini?" Terbelalak tak percaya ketika koper berhasil dibuka. Ia tak yakin itu bisa dikenakan Rey karena khusus untuk wanita. "Sebaiknya aku telfon saja tapi pasti Ka Bagas masih tidur. Hadeh, bikin darting aja pagi-pagi."
"Butterfly, kamu sudah bangun? Kalau cape, istirahat saja lagi." ucap Rey begitu keluar kamar mandi dan mendapati Asma tengah duduk di sofa menatap koper yang ada di atas meja.
Namun wajah istrinya tampak kesal dengan bibir manyun. Apa penyebabnya? Ia penasaran sehingga melangkahkan kaki menghampiri sang istri yang sepertinya tengah melamun. Sontak saja ia geser si koper hingga isi di dalam terlihat jelas membuat hati merasa tergelitik. Pantas saja Asma ngambek.
"Jangan pakai kalau kamu tidak nyaman, aku akan pesan pakaian untuk kita selama disini. Tunggu disini," pamitnya pergi meninggalkan kamar, tentu saja ia hanya ingin Asma mendapatkan kenyamanan bukan wajah masam selama honeymoon.
Kepergian Rey dibiarkan begitu saja. Kini tangannya sibuk memilih satu per satu gaun malam yang terlihat begitu minim bahkan sangat tipis. Meski diyakini harga menyesuaikan isi dompet, tetap saja kenapa tidak memberikan pilihan lain. Setidaknya berikan yang masih memiliki penutup luar.
Mau komplain pun percuma. Pantas saja di bandara ngotot harus bawa koper yang kayanya hanya untuk keadaan emergency. Sejak kapan gaun dinas istri menjadi pusat gawat darurat? Benar-benar kakak yang minta digetok. Sayangnya jauh karena jarak negara.
Diambilnya gaun hitam berbahan sutra yang paling bisa dianggap normal. Lalu tanpa menutup koper, ia beranjak menuju kamar mandi. Sementara di luar sana, Rey tengah berbincang dengan Emir yang kebetulan tengah duduk sembari menunggu matahari terbit ditemani Samir.
__ADS_1
"Tuan, sebenarnya di dalam lemari kamar sudah disediakan pakaian Anda dan Nyonya selama menginap disini. Tuan Bagas mengirim detail permintaan dan saya membelikan semuanya dua hari sebelum kedatangan kalian." jelas Amir membuat Rey tersenyum tipis.
Kini ia tahu kejahilan Bagas memang sudah kembali. Bukan dia yang digoda, tetapi Asma. Pantas saja meminta hal yang tidak biasa. "Kalau begitu untuk hari ini, perjalanan siang saja. Istriku harus istirahat terlebih dahulu. Kirim sarapan setelah aku menghubungimu!"
"Siap, Tuan." jawab Amir.
Langkah kaki kembali menyusuri lorong sempit yang hanya muat untuk dua orang. Sesekali menghembuskan napas dalam-dalam menikmati udara yang benar-benar beraroma air segar. Persiapan sudah sempurna tetapi semua itu usaha Bagas. Jadi, apa yang bisa dilakukannya?
Sejenak berpikir keras karena ia berharap perjalanan ini bisa menjadi pengikat hubungan yang semakin dalam di antara ia dan istrinya. Bagaimanapun keadaannya ia ingin memiliki rumah tangga sakinah mawaddah warohmah hingga menua bersama. Keinginan sederhana seorang suami untuk perjalanan kisah cinta.
"Assalamu'alaikum," ucap salam seraya mendorong pintu kamar yang sengaja dikunci dari luar. Langkah kaki masuk, lalu menutup pintu dikuncinya kembali agar tidak ada yang mengganggu. "Asma! Butterfly, dimana kamu?"
Ruangan kamar kosong, tetapi pintu kamar mandi sedikit terbuka. Aroma harum sabun menyebar ke udara. Pukul lima kurang lima menit, "Apa Asma mandi? Apa pake air dingin?" Rasa penasaran membuat langkah kakinya mendekati kamar mandi tetapi baru saja melangkah. Tubuhnya terhenti melihat pemandangan di depan mata.
Rambut tergulung, wajah segar tanpa make up, leher yang tampak mulus dan pandangan semakin menurun membuatnya meneguk saliva. Hawa panas menyelimuti dirinya. Gaun sebatas lutut dengan belahan dada rendah semakin memperlihatkan lekuk tubuh sang istri.
"Kenapa, Mas? Aku mau sholat, tapi darimana dapatkan mukena?" ucap Asma sekaligus bertanya membuat Rey istighfar di dalam hati.
Kemelut hati menahan diri untuk tetap berpikir normal, di bantunya sang istri merapikan rambut agar sesuai keinginan. Lalu ia meminta Asma untuk mengambil wudhu terlebih dahulu. Suara gemericik air dari kamar mandi, membuatnya mengambil peralatan sholat dari dalam lemari.
Akhirnya pasutri itu menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah. Kedamaian yang menjadi awal perjalanan honeymoon mereka adalah berserah diri pada Yang Maha Esa. Harapan dan doa menjadi asa merajut masa depan. Rey tak lupa mendoakan istrinya dengan sepenuh hati.
Kecupan hangat terbenam di kepala menghantarkan rasa syukur di hati sang istri. "Asma, bolehkah aku mendapatkan hak seorang suami?"
"Mas mau sarapan pagi? Dimana dapurnya, biar aku buatin." ucap Asma seraya melepaskan mukena. Gelungan rambut yang tidak kencang lepas sehingga helaian rambut jatuh ke pundak. "Mas Rey!"
__ADS_1
Suara panggilan yang terabaikan berganti sentuhan hangat tanpa permisi. Rasa manis membelenggu jiwa. Sapuan lembut tak menuntun mengawali perjalanan panas pasutri itu. Tubuh yang terangkat meninggalkan tempat ibadah.
Kedua insan itu melanjutkan ibadah sebagai pasangan halal. Tatapan mata saling terpaut, sesaat melepaskan pagutan. "Istriku pura-pura polos, ya? Kamu tau aku tidak tahan tapi masih saja mengabaikan."
"Hak suami, kewajiban istri. Hak istri, kewajiban suami. Tidak ada undang-undang melarang istri menggoda suaminya sendiri. Iya 'kan?" Direngkuhnya kemeja Rey, satu per satu kancing dilepas tanpa basa-basi. "Katakan padaku, sarapan mana yang ingin suamiku dapatkan?"
Sentuhan pelan tetapi terasa menyengat membuat Rey enggan menjawab dengan kata. Biarlah pagi ini diawali kehangatan ranjang. Raga juga membutuhkan asupan. Perlahan memulai penjelajahan ditemani kenakalan sang istri yang mulai berbuat ulah.
Sentuhan cinta berjejak dengan suara manja bergema memenuhi ruangan. Olahraga yang membuat kedua raga harus ekstra saling menyeimbangkan. Pergulatan kian meningkat hingga terasa tangan menekan punggung sekedar menyalurkan rasa sakit yang selalu terasa di awal.
"Butterfly, masih sakitkah?" tanya Rey menahan pergerakannya karena melihat Asma menggigit bibir bawahnya.
Asma mengangguk pelan, "Coba lihat ukurannya! Gimana jelasinnya ya, ya gitu blum terbiasa." Wajah memerah membuat Rey terkekeh pelan. "Pelan aja, ya."
"Like your wish, Butterfly." Permintaan yang bisa diikuti meski permainan harus bersabar menunggu istrinya merasa nyaman. Pertarungan kembali dilanjutkan seraya bermain squash agar mengalihkan perhatian wanitanya.
Semakin lama gerakannya kian meningkat begitu terdengar suara manja lolos dari bibir istrinya. "More, Honey." Pintanya semakin memporak porandakan pertahanan Asma hingga tak mampu menahan cairan yang keluar. Sensasi hangat itu membuatnya mengubah permainan.
"Maaas ...," panggil Asma dengan tubuh pasrah dikuasai suaminya.
Hentakan kian menggoyang raga berteman suara derit ranjang hingga hentakan terakhir cukup mengejutkan menyemburkan benih halal ke dalam rahim sang istri. "Love you Asma."
Lemas setelah tenaga dikuras suaminya sendiri. Pergulatan satu jam kurang cukup melelahkan. Tubuh polos keduanya saling berpelukan tertutup selimut. Kecupan hangat enggan beranjak dari bibir, membuat Asma menggeser posisinya.
"Jangan gerak, nanti junior bangun lagi." ucap Rey seketika dibalas tatapan tajam istrinya. "Coba saja, tapi jangan salahkan aku kalau khilaf."
"...,"
Tak ada kata karena bibir tak mungkin bersuara. Pagutan menuntut menguasainya. Ingin melepaskan diri tetapi tangan kekar mengunci tubuh begitu erat. Pasrah dalam dekapan sang suami yang posesif mengharapkan kehangatan ranjang lagi.
__ADS_1
Dua jam kemudian. Suara lenguhan manja kembali terdengar. "Morning, Butterfly. Kenapa sudah bangun?"