
Setelah mendapatkan bukti nyata. Nau pergi berjalan meninggalkan tempat parkir, lalu kembali ke tempat parkir untuk menemui teman-temannya. Pemuda itu memang diminta menginap malam ini di hotel yang sama karena esok masih memiliki agenda sarapan bersama keluarga besar dari kedua pihak pasutri baru.
Alih-alih mengatakan langsung pada Fay tentang apa yang ia lihat. Nau membiarkan Bagas menikmati waktu bersama wanita lain. Bukannya tidak peduli hanya saja ia juga ingin tahu, siapa wanita itu? Apalagi dari pengamatan sesaat terlihat begitu akrab seperti sudah lama kenal. Sementara di pantai Rey masih enggan menjelaskan apa yang menjadi alasan hatinya gundah.
Keheningan yang tenggelam di balik deburan ombak membuat Asma melepaskan tangan Rey secara perlahan, lalu ia berbalik seraya mendongak dengan mengangkat kedua tangan. Tatapan mata saling bertautan bersama sentuhan tangan yang menangkup wajah suaminya. Sorot mata dengan binar keraguan terpancar menghantarkan pertanyaan.
"Apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya Asma menatap suaminya semakin intens, tapi pria yang menatap ia balik hanya menggelengkan kepala pelan. "Mau bicara atau harus aku cari tahun sendiri?"
"Actually, Aku tidak tahu harus memulai dari mana," Tatapan mata kian meredup seakan semua yang ada di dalam hidupnya tidak lagi bermakna. Emosi campur aduk menyeruak menyesakkan dada.
Entah apa yang terjadi sehingga akal sehat pergi meninggalkannya. Ingin sekali langsung mengatakan hal sebenarnya pada sang istri tetapi bibir kelu tak sanggup mengutarakan isi hati dan pikiran yang sejatinya sangat sederhana. Kegelisahan itu nyata karena alasan yang jelas hanya saja masih iya pendam seorang diri.
Apa harus mengatakan pada Asma tentang apa yang barusan dia lihat dan dengar? Rasa di hati terlalu berat untuk diabaikan, tapi ia sadar orang-orang yang mencintainya tidak berpaling. Apalagi pergi menjauh darinya. Kini ia memahami bahwa hubungan harus dijaga dari dua sisi.
Lagi dan lagi, Rey terdiam menikmati lamunannya. Melihat itu, ditariknya kedua tangan dari wajah sang suami. Lalu melangkah mundur menjauh dari pria yang langsung sadar atas tindakannya. Satu tarikan tak mengizinkan ia beranjak dari kehidupan yang kini menjadi dunia milik bersama.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu banyak berpikir. Asma, boleh aku tanya satu hal padamu? Mungkin pertanyaan ku terkesan meragukanmu, tapi ...," ucap Rey berusaha memulai obrolan serius agar ia bisa mengungkapkan seluruh isi hati dan pikiran.
Keraguan yang terpancar dari tatapan suaminya sungguh menghadirkan rasa tak nyaman. Apapun alasannya, ia ingin tahu tanpa harus ada yang ditutupi lagi. Maka lebih baik mempersilahkan tanpa mendengar lebih jauh lagi, "Silahkan tanya saja!"
"Jika dia kembali. Apakah masih ada sisa rasa untuknya di hatimu? Dia yang hadir dalam hidupmu sekian lama." Bibirnya tak kuasa melanjutkan pertanyaan yang terdengar seperti tudingan tanpa bukti.
Berharap Asma tidak salah paham. Meski ia sadar telah menyakiti hati sang istri, tapi pertanyaan itu untuk meyakinkan diri bahwa semua masa lalu istrinya sudah berakhir. Bagaimanapun hubungan sekian tahun tak mungkin semudah membalikkan telapak tangan untuk dilupakan.
Dia? Satu kata yang cukup menjelaskan arah tujuan dari keraguan seorang Reyhan. Seorang pria yang kini memiliki status sebagai suaminya. Apa yang pria itu pikirkan? Tiba-tiba saja mempertanyakan sesuatu yang tidak perlu ditanyakan. Itu hanya pemikiran satu sisi saja.
"Katakan padaku! Apa yang mendasari pertanyaanmu. Apa dia datang menemuimu? Atau hal lain yang menjadikan suamiku seperti sekarang?" Asma sengaja memberikan pertanyaan balik. Jawaban yang diharapkan Rey, bukanlah hal sulit tetapi untuk menyingkirkan kabut hitam maka ia harus tahu pemicunya terlebih dahulu.
Rey menghela napas pelan. Ia lupa memiliki istri yang selalu to the point dalam menyikapi semua masalah di kehidupan. "Tadi, saat aku ingin menyusulmu di tempat parkir tidak sengaja melihat ibu dan bapak sedang berbincang dengan seseorang. Awalnya aku berniat menghampiri untuk bertanya apa ada masalah, tapi ...,"
Pengakuan yang menggantung dari Rey membuat Asma semakin menatap intens suaminya. Bukan masalah tidak percaya hanya saja terlihat jelas ada yang tidak beres. Apalagi sudah membawa nama kedua orang tuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
"Aku mendengar ibu dan bapak meminta orang itu menjauh dari kehidupan kita. Suara permintaan maaf atas kesalahan yang membuat ku sadar bahwa dia mantan tunanganmu. Apakah rasa takut ini wajar?" ungkap Rey dengan suara serak. Tangan yang melingkar di pinggang sang istri bahkan semakin erat.
Seketika kepalanya berdenyut. Kenapa masa lalu datang di hari yang tidak tepat? Hari yang seharusnya bahagia berubah menjadi tanda tanya. Satu persatu coba ia rangkai. Dari perasaan waspada selama beberapa hari terakhir, lalu kado yang diberikan Fay, kemudian pernyataan Rey. Itu berarti Kalingga ada di tempat yang sama, tapi untuk apa?
Asma paham dan masih bisa memaklumi pertanyaan Rey. Hati mana yang tidak goyah ketika kenyataan masih di batas sadar dan keraguan? Ini bukan hanya tentang sebuah kepercayaan tapi ketetapan hati. Ia sadar bahwa cinta di antara hubungan mereka berdua masih terlalu sedikit.
"Kalingga adalah alasanmu meragukan aku, tapi dia, bukan alasanku menerima kamu sebagai suami ku." Tatapan mata meredup, bibir tak mampu menjabarkan emosi di dalam hatinya. "Sekali lagi akan ku katakan dan ini yang terakhir kali."
"Aku tidak hidup di masa lalu. Duniaku hanya masa kini untuk merajut masa esok. Kamu adalah suami ku. Jangan lagi bertanya arti pria lain dalam hidup seorang istri Tuan Reyhan Aditya. I hope you understand it." ucap Asma begitu tegas. Seketika menyentak rasa ragu Rey, pria itu tak bisa menjawabnya.
Pelukan hangat berbalut rasa bersalah mengakhiri pertanyaan tak bertuan yang menyakiti hati sang istri. Apa dia sebodoh itu? Jika Asma masih menginginkan masa lalu. Wanita itu tidak akan berani memulai hubungan dengannya. Kejujuran yang terungkap seharusnya membuat ia sadar. Siapa istrinya.
Semilir angin nan dingin tak mampu mengalihkan rasa yang menggebu di dalam hati kedua insan itu. Malam kian menjelaga membuat semua orang berpindah haluan. Mereka kembali ke hotel untuk mengistirahatkan raga yang lelah. Setiap detakan jarum jam yang selalu berputar tak mampu mengubah kenyataan yang ada.
__ADS_1
Keraguan? Apakah kalian tahu, jika satu rasa ini mampu menjadi akhir dari sebuah hubungan. Pepatah mengatakan, jangan terlalu percaya pada orang, tapi percaya pada orang yang memiliki hatimu. Mungkin yang dimaksud adalah batasan dari setiap hubungan tentu saja tidak sama. Maka ingat kalian itu tengah bersama siapa? Sehingga tahu posisi.