
Kepingan lara hati bagaikan detakan jantung tak berirama.
Rasa sesak yang membelenggu bersambut derai air mata tak bermakna.
Luka mana yang ingin Ia genggam?
Tak satupun mampu dijabarkan bak rumus matematika.
Takdir mana yang masih pantas dipertanyakan?
...•❅──────✧❅✦❅✧──────❅•...
Tidak ada lagi yang tersisa. Yah, masa lalu hanyalah kenangan yang digunakan untuk menguatkan hati rapuh. Dulu adalah masa yang sudah paten tetapi hari ini? Dunia masih menunggu aksi dari hasil keputusan final untuk melakukan bukti nyata sebagai tindakan.
Sadar akan kenyataan bahwa apa yang dilakukan Asma bertolak belakang dari tuduhannya, membuat hati merasa dibebani rasa bersalah. Apalagi begitu Bagas menjelaskan secara terang-terangan apa saja yang terjadi di lantai taman hotel. Seketika seluruh rasa curiga membakar keyakinan semu.
"Bro, asal kamu tahu ya," Bagas melepaskan tangannya dari pundak Rey. Lalu berbalik menatap ke luar jendela dimana pemandangan kota tampak jelas di depan mata. "Wanita seperti Asma terlalu sulit ditemukan bahkan orang-orang mengabaikan karena berpikir dia tak pantas untuk dicintai."
"Sayangnya, mata semua orang buta karena hanya memandang secara fisik bukan hati dan karakter. Jujur saja, jika kamu tidak mencintai Asma. Saat ini aku sendiri yang akan menjadikannya sebagai ratu dalam kehidupanku. So please don't misunderstanding with her.
__ADS_1
"Aku tahu kalian menikah dengan situasi yang langka tapi apapun alasanmu menjadikan Asma sebagai seorang istri Reyhan Aditya. Please keep it. Jangan lepaskan milikmu hanya karena kebodohan nyata sebagai ego seorang pria." Bagas mengakhiri ungkapan hatinya.
Seperti tetesan air hujan membasahi bumi. Kesadaran tersentak kembali pada kenyataan yang harus diterima. Hubungan hati bukan tentang keraguan, melainkan emosi tanpa batasan berselimut kepercayaan. Mengenal saja tidak cukup karena harus berusaha memahami. Seperti ikatan batin dua hati yang berdetak satu irama.
Apakah Ia sanggup menjadi pasangan yang pantas dicintai tanpa pamrih? Tanda tanya yang seringkali tak mendapatkan jawaban. Lalu bagaimana memahami? Seperti bahasa tubuh yang selalu mengharapkan perhatian lebih. Maka yang tersisa hanya kepekaan.
Suara helaan napas panjang terdengar begitu pelan. Tubuh masih berdiri tegak tetapi sorot mata tak mampu berkutik. "Nando, bagaimana caraku minta maaf pada Asma? Apa Aku masih berhak mendapatkan kesempatan kedua?"
"Minta maaflah dengan sepenuh hati! Asma bukan orang yang pendendam. Dia hanya ingin kamu mengerti kehidupan di dunia yang fana bukan untuk dipermasalahkan. Ketika kamu menggenggam tangannya, gadis itu sudah siap menerima suka duka bersamamu." tutur Bagas mencoba melapangkan hati Rey karena Ia sadar cinta pasutri itu harus tetap dipupuk.
Selain menjaga Asma. Ia memiliki kewajiban memastikan Rey belajar menjadi suami yang bertanggung jawab dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dipunya saudaranya itu. Apalagi mengingat bagaimana hari esok yang kemungkinan bisa lebih buruk. Ancaman jelas bukan hanya dari satu arah.
Usaha Bagas memperbaiki keadaan. Justru berbanding terbalik dengan suasana tegang dengan wajah saling ngotot tak mau mengalah. Perdebatan kecil yang berubah menjadi besar hanya karena satu keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Kesal? Bukan tetapi panas di hati membakar emosinya.
"Percuma saja di robek. Pengajuan gugatan cerai sudah sampai ke meja pengadilan agama. Sekarang terserah kamu mau melakukan apa." Kalingga bergerak maju tanpa menurunkan pandangan matanya menatap Citra penuh kebencian. "Selamat tinggal, Istri kontrak."
Deg. Kenapa rasanya sakit? Selama ini tidak sekalipun Kalingga menyudutkannya hanya karena pernikahan mereka. Entah siapa yang menyebabkan keadaan rumah tangganya sampai di ujung tanduk. Padahal semua mulai membaik berkat Niko yang kian menyatukan keluarga.
Ditahannya tangan sang suami. Sensasi panas di area mata yang tertahan mencoba menerobos. "Mas, kita bisa bicarakan semua ini baik-baik saja dulu. Kamu tahu 'kan perceraian tidak dianjurkan untuk pasutri yang memiliki anak. Bagaimana nasib Niko?"
__ADS_1
Suara yang tertahan berusaha melupakan egonya. Kali ini semua sudut pandang terbuka begitu terang. Yah, apa gunanya bercerai? Ketika dengan satu tanda tangan maka banyak hal yang langsung hilang dari genggaman tangan. Semua yang dilakukan bukan karena cinta tapi demi perjanjian antara anak dan ayah.
Dimana dulu Ia menerima pernikahan paksa dari sang papa dengan alasan menyelamatkan martabat keluarga karena hamil di luar nikah. Pernikahan yang sebagai gantinya akan menjadi ahli waris atas semua kekayaan orang tua. Akan tetapi dengan syarat pernikahan yang terjadi tidak boleh ada perceraian sampai Niko menikah.
Berat 'kan? Jika mengikuti isi hati tentu sulit untuk beradaptasi karena Kalingga bukan pria idamannya. Sayang, seribu sayang. Ia hanya bisa menerima perjanjian pra nikah yang terjadi di luar sepengetahuan orang lain. Semua dilakukan secara rahasia. Meski mungkin suatu saat nanti akan terbongkar.
Kalingga tahu benar drama seorang Citra. Ia tak terpengaruh lagi. Apalagi hati tak ingin menerima kenyataan yang kian menghantam menyesakkan dada. "Aku salah meninggalkan wanita yang bisa menjadi pasangan baik dan memilihmu sebagai pengganti. Perceraian akan tetap terjadi, tapi jangan khawatir karena Niko tetap putraku."
Manusia itu selalu melakukan hal di luar kendali ketika amarah menguasai kepala. Secara sadar melakukan tindakan yang tidak bisa diubah lagi, lalu begitu emosi mereda tiba-tiba berpikir ulang atas keputusan yang telah ditetapkan. Namun ketika itu hanya logika, maka penyesalan menjadi kemungkinan kecil.
Tak ingin melanjutkan obrolan yang membosankan. Pria itu pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang. Apapun yang sudah menjadi keputusannya adalah hasil dari rasa tertekan selama beberapa tahun pernikahan. Jika Citra pernah menghargai dia sebagai seorang suami, mungkin saja hati masih memiliki perasaan.
Tidak ada hal yang bisa menjadi alasan untuk mempertahankan rumah tangga retak mereka. Itulah yang Kalingga pikirkan, sedangkan Citra langsung masuk ke dalam kamar. Wajahnya merah padam menahan hawa panas di dalam raga. Siapa Kalingga? Sehingga berani mengabaikan tanpa mau mendengarkan.
"Arrrggghhh, b4j!ng4n! Bisa-bisanya bertindak sebagai pria sok, seperti tadi." Tatapan mata gelisah terpantul dari cermin di depan sana, "Pasti semua ini karena masa lalu tak berguna itu. Yah, pasti. Aku harus singkirkan semua penghalang yang bisa merusak rencana masa depan cerahku."
Ponsel yang tergeletak di atas nakas diambilnya, lalu ia menekan beberapa huruf hingga muncul sebuah nomor. Barisan beberapa digit angka yang sudah lama tidak dihubungi. Antara rasa ragu dan kehilangan akal, ia menekan icon panggilan. Kemudian meletakkan ponsel mendekat ke telinga.
Suara dering terdengar masih sama meski tahun telah berganti. Tetap saja lagu bergenre horor menjadi value sang penerima panggilan. Beberapa detik masih tak ada jawaban membuat hati kian gelisah memikirkan ulang apa yang akan dikatakannya. Apa niat hati sudah bisa dipastikan?
__ADS_1
Baru saja ingin menjauhkan ponselnya dari telinga tiba-tiba suara sambutan hangat menembus gendang telinga. Degupan jantung mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa yang terjadi? Mungkinkah hati lalai melupakan rasa yang sudah lama padam? Entahlah, nyatanya rasa rindu kian menenggelamkan diri dalam suara yang dirindukan.
"Aku ingin bertemu denganmu," lirih Citra lalu mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban dari seberang. "Sadar, Cit! Jika papa sampai tahu bisa jadi masalah besar."