
Tidak lagi meragukan apa keinginan sang istri. Lihat saja kesiapan yang menjadi jawaban dalam sekali gerakan. Terkadang masih mencoba untuk tidak terkejut dengan segala cara Asma yang selalu menghadirkan rasa baru dalam kehidupannya. Jika dulu hidup penuh jutaan tulisan dari berkas pekerjaan. Kini berubah penuh warna dari emosi hati.
"Elora adalah teman satu fakultas kami. Yah, Aku, Nando dan wanita itu satu kampus. Tahun pertemuan yang tidak disengaja. Semua itu berawal dari sebuah insiden. Ada pemuda yang jujur saja, aku lupa namanya, tapi pemuda itu memaksa untuk diterima sebagai kekasih. Mungkin dulu Elora masih lugu, jadi ketakutan."
"Aku sendiri tidak paham, hanya saja insiden itu berhubungan denganku. Dimana pemaksaan yang dilakukan pemuda itu hampir saja menjatuhkan Elora dari tangga yang cukup tinggi. Singkatnya aku menolong, dan juga memberikan pelajaran agar pemuda itu sadar atas kesalahannya. Satu kejadian yang mengubah hidupku hingga detik ini."
Mencoba untuk melupakan semua kenangan yang ia anggap tidak penting. Rasanya agak sulit untuk menggali kenangan yang sudah berkarat. Apalagi semua sudah berlalu dan tidak sedetikpun menjadi bagian dari hidupnya. Hanya helaan nafas yang menghentikan rasa tak nampak, tetapi menjadi duri dalam masa kininya.
"Sebulan setelah perubahan yang membuatku tertekan dengan segala tingkah laku Elora. Aku mengajak Nando untuk pindah kuliah ke luar negeri. Semua itu demi kebaikan dan juga kesehatan mental. Tidak ada gangguan lagi yang bisa mengusik proses belajar kami. Kehidupan yang luar biasa damai selama sisa masa kuliah."
Memang benar, Elora yang pada saat itu masih berstatus putri seorang pengusaha dengan tingkat keamanan yang bisa dikatakan harus selalu dalam pantauan orang tua. Hal itu sangat menguntungkan bagi Rey dan Bagas karena wanita itu tidak bisa menyusul mereka hingga ke negara lain.
"Bisnis keluarga menjadi alasanku kembali ke Indonesia. Semua baik dan tidak ada masalah hingga entah dari mana. Elora kembali hadir menjadi bayangan yang menyakiti mata. Demi menyelamatkan diriku sendiri, Nando selalu mengantisipasi segalanya. Termasuk menetapkan jodoh pilihannya untukku yaitu kamu."
"Mas, Elora cantik dan pasti memiliki pekerjaan yang tetap. Bukankah manusia memiliki kehidupan masing-masing. Apakah sekali saja, kamu tidak berpikir untuk memberi dia kesempatan agar bisa mengenalmu lebih baik?" Asma menatap Rey lebih dalam lagi, sesekali menyeruput kopi yang perlahan mulai menghangat.
Kesempatan? Bisa saja diberikan, tetapi untuk sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam hidupnya. Sudah pasti jawabannya adalah tidak. Jangankan memikirkan, sepintas lalu saja. Tidak pernah terbayangkan. Baginya Elora hanya wujud dari obsesi atas nama cinta.
Jika ada yang bertanya, apa itu obsesi. Maka ia akan menjawab Elora. Tidak ada yang lain, namun bagi Asma berbeda lagi. Sebagai seorang wanita, ia tahu apa itu emosi. Memang benar cinta ada yang membutakan. Semua itu balik pada diri masing-masing.
__ADS_1
Apakah cinta yang mengendalikan jiwa atau jiwa yang mengontrol cinta. Bisa juga menyeimbangkan rasa dalam logika dan emosi hati. Pada intinya, setiap insan yang jatuh cinta. Mereka tak akan berpikir dari sudut pandang yang sama karena cinta bukan hanya tentang kepasrahan, melainkan juga pengorbanan.
"Cantik? Pekerjaan? Baik?" Rey meletakkan cangkir kopinya ke meja yang ada di sisi kanan ayunan, lalu mengubah posisi duduknya menghadapkan diri dengan membalas tatapan mata sang istri. "Dunia ini dipenuhi wanita seperti itu. Apalagi di luar negeri, banyak yang lebih dari Elora."
"Asma, jika aku ingin berhubungan dengan seseorang. Pasti sudah sejak lama, tapi aku memiliki dunia yang mungkin tidak semua wanita sanggup merengkuh dalam kesabarannya. Apa kamu lihat rumah mewah yang menjadi tempat kita bernaung? Tidak ada kehangatan, apalagi kasih sayang. Tidak ada orang tua, ataupun sanak saudara."
Sejenak menghirup oksigen begitu dalam, menghantarkan ketenangan yang tetap berusaha untuk melarikan diri dari kenyataan. "Orang tua ku meninggal dunia, dan tidak memiliki saudara lain karena Papa anak tunggal, Mama yatim piatu, sedangkan aku juga anak tunggal."
"Mas, jika kebenaran menekan emosimu. Hentikan! Aku tidak memaksa semua kisah terungkap hari ini." sela Asma yang tak tega dengan kesepian yang terpancar dari tatapan mata suaminya.
Sebagai seorang istri, bisa saja mengunakan hak untuk mendapatkan penjelasan. Namun jika situasi sudah bercampur antara kenyataan, emosi dan kenangan. Bagaimana akan menenangkan? Semua itu akan berubah menjadi belenggu sesak yang menyakitkan, bahkan bisa menguras pikiran dan melepaskan tekanan tanpa arah tujuan.
"Maksudnya, Mas?" tanya Asma yang kali ini tidak paham hingga membuat alisnya terangkat dengan tatapan mata yang semakin menciut, sontak mengubah ketegangan suasana menjadi sedikit mencair.
Tangannya tak kuasa menahan diri untuk tidak bereaksi. Dicubitnya pipi kanan wanita yang kini menjadi tinta warna dalam kehidupannya. Rintihan bersambut penolakan sang istri, tak membuat Rey melepaskan tangan dari wajah yang kini menjadi dunia dan tujuan masa depannya.
"Mas, bisa lepasin? Sakit tahu, ini kenapa jadi aku yang kena sasaran." ujar Asma dengan bibir manyun merajuk, tapi tidak berusaha untuk melepaskan tangan suaminya.
Rey melepaskan cubitan, lalu mengusap pipi yang terasa kenyal. "Sakit ya? Mau diobatin, gak?"
__ADS_1
Tatapan mata yang mulai hafal di luar kepala, membuat Asma menepis tangan Rey. Tentu tidak memerlukan obat yang hanya menjadi hukuman. Lagi pula, mereka tengah membahas hal penting jadi bukan waktunya untuk bermesraan. Begitu juga dengan pria itu menyadari penolakan sang istri.
"Tenang, Butterfly. Hari ini hanya untuk menjelaskan, tidak ada kecurangan. Promise." ucap Rey, lalu meletakkan tangan kanannya ke kepala Asma sebagai bukti atas keseriusannya. Janji yang tidak bisa ia langgar ketika sudah memiliki atas nama sang istri.
Satu keputusan dalam janji, membuat Rey kembali ke mode serius. Pria itu telah mempertimbangkan baik dan buruknya akhir dari kejujuran tentang seluruh kisah hidupnya. Dimulai dari kisah Elora, pertolongan, lalu perpindahan kuliah, hingga kembali ke Indonesia. Kisah masih berlanjut hingga pertemuan bisnis antara ia dan papa dari Elora.
Sejak saat itulah, Elora kembali hadir dalam kehidupannya. Bagas tidak membiarkan semua usaha wanita itu berjalan lancar karena selalu berdiri di depan Rey untuk menjadi tameng. Bukan sekali atau dua kali. Dokter itu menunjukkan kelicikannya hanya untuk mewujudkan mimpi menjadikan Rey sebagai seorang suami.
Semua berlangsung selama beberapa tahun hingga Rey terpaksa pindah rumah dengan keamanan dan orang-orang di sekitarnya yang bisa dihitung jari. Hari ini, semua kisah terbuka. Termasuk alasan dari pernikahan yang menjadi kehidupan keduanya saat ini. Seperti mimpi dengan mata terbuka. Asma diam memikirkan rangkaian peristiwa.
Selama cerita masih berlangsung, beberapa kesimpulan menjelaskan bahwa Elora bukan wanita yang mudah menyerah. Apalagi setelah semua usaha gigihnya selama ini. Bisa dipastikan akan membuat ulah lagi, sedangkan dari sudut pandang lain. Ia paham, baik Rey ataupun Bagas belum siap untuk membuat keputusan yang final.
Ketika hubungan sudah menyatu dengan bisnis. Maka yang menjadi pertimbangan bukan keegoisan diri, tetapi nasib para pekerja yang memang menggantungkan harapan tinggi dari hasil pekerjaan mereka. Wajar, jika Rey dan Bagas memilih untuk menghindari masalah, namun masih mempertahankan kerjasama yang ada.
Bukannya ingin menilai sesuka hati. Hanya saja, setelah hari ini kehidupan tidak akan bisa damai sebagaimana mestinya. Orang jatuh cinta banyak. Orang melupakan cinta juga banyak. Orang mengorbankan cinta sedikit, tetapi ketika tentang obsesi cinta? Maka hanya ada kesadaran diri di tengah ketidakwarasan emosi yang tidak bisa dikendalikan.
"Begitulah kisah hidupku. Apa ada pertanyaan lain? Apapun yang ingin kamu tahu, Butterfly." ucap Rey mengakhiri ceritanya, tetapi yang diajak bicara justru sibuk bermain tautan jemari dengan pandangan mata yang menunduk. "Butterfly, are you okay?"
"Aku tidak paham satu hal. Kenapa harus menghindar? Ok, Elora sangat mencintai, maksudku terobsesi padamu, Mas. Akan tetapi, mau sampai kapan?" tanya Asma berusaha mengurai benang kusut yang tanpa sengaja kini menjadi bagian hidupnya.
__ADS_1