
Terkadang begitu mudah mengingatkan. Sayangnya, manusia lebih sering memberi nasehat daripada mendapatkan petuah. Kenyataan akan selalu sama. Ketika ketegangan dan kecemasan melanda, maka logika bergeser mengandalkan hati. Bukankah selalu seperti itu?
Namun, walaupun begitu biasanya manusia dengan pengendalian emosi yang baik memilih untuk diam menyingkir. Mereka tahu kapan harus berhenti, menjelaskan atau melawan. Terkesan mengalah, tetapi kemenangan sejati itu bukan ego yang diutamakan.
Amarah memuncak hanya membawa badai, lalu kenapa masih menggenggam alasan yang bisa melukai banyak orang? Ketika memikirkan emosi, akal dan tindakan. Tak seorangpun akan memberi halang rintang karena semua berbalik pada diri sendiri. Benar 'kan?
Setelah menunggu selama beberapa waktu. Akhirnya Rey kembali menghampiri ketiga manusia yang pasti menunggu dirinya, "Sorry lama, para orang tua selalu suka menjadi polisi dadakan. But, mereka akan datang dua hari lagi. Butterfly, kamu bisa mengurus sisanya?"
"Hmm, akan kulakukan, Mas. Makasih buat semuanya," Seulas senyum manis menjadi hadiah kecil darinya, ia tahu jika Rey tengah merasa tidak nyaman dan semua itu bersangkutan dengan keinginannya.
Ponsel dikembalikan pada Nau, lalu ia melangkah mendekati Asma, kemudian menjatuhkan diri duduk di sebelah sang istri. "Butterfly, no thanks, no sorry," Diusapnya kepala wanita yang selalu memberikan warna kehidupan, "Kita ini suami istri."
Kemesraan yang tidak mengenal tempat dan waktu. Benar-benar menghantarkan rasa ketenangan, tetapi juga tak enak hati ketika menjadi penonton. Lihat saja Fay yang langsung menundukkan pandangan, sedangkan Nau hanya tersenyum masam. Padahal pemuda satu itu terbiasa melihat keharmonisan ayah dan bunda saling mencintai.
Status suami istri? Pasangan yang sah untuk bermesraan, apalagi di dalam rumahnya sendiri. Lagipula tidak berlebihan, selain hanya saling pandang, berpelukan, mengecup kening. Yah sekedar menunjukkan kisah kasih antara hati yang terpaut semakin dalam. Nyatanya tidak akan ada yang melarang.
"Aku tahu, Mas. Sekarang bisa di mulai pembicaraan tentang proyeknya atau harus menunggu Mr. Axel?" tanya Asma mengalihkan topik pembicaraan agar bisa menyelesaikan satu tanggung jawab yang ada di depan mata.
Helaan nafas panjang, tetapi Rey menjadi tidak tenang. Seakan ada sesuatu yang mengusik pikiran pria itu, tapi apa? Beberapa waktu hanya ada usaha untuk membujuk, lalu berhasil, kemudian negosiasi dan berakhir persetujuan semua orang. Jadi masalah apa yang datang tanpa memberikan salam pertemuan?
__ADS_1
Sepertinya pria itu bingung atau memang masih berusaha menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan. Entahlah karena ekspresi wajah mendadak dingin tanpa kehangatan yang biasa mengayomi. Aneh, tetapi ia tak akan paham ketika jawaban hanyalah bungkam.
Ditengah keheningan yang membawa Rey pada perenungan tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki. Bukan hanya satu orang yang datang. Tatapan mata teralihkan ke arah kedatangan Bagas bersama beberapa pelayan. Akan tetapi yang menarik perhatian adalah replika bangunan yang ada di kotak kaca.
Replika kompleks gedung pencakar langit di letakkan dengan hati-hati di tengah ruangan. Para pelayan pergi begitu tugas selesai. Barulah pertemuan sesungguhnya dimulai. Bagas selaku wakil CEO memberikan kuliah singkat atas proyek yang akan dikerjakan bersama Mr. Axel.
Rey masih memilih diam, sedangkan yang lain menyimak. Presentasi dadakan diadakan selama setengah jam, ia menjelaskan tanpa ada keraguan. Hal itu membuktikan bahwa Bagas memang pantas memiliki jabatan dan tanggung jawab besar. Jika dipikirkan sekali lagi, apakah proyek pembangunan mall yang dilengkapi dengan wahana permainan bisa terwujud?
"Sekian dan terimakasih." Bagas membungkukkan setengah badan sesaat, lalu kembali berdiri tegak. "Jika ada pertanyaan, silahkan tanyakan."
"Menurut pasal lima ayat dua. Pihak satu diperkenankan mengganti roda kerjasama antara satu sama lain seperti pihak pengembang, supplier bahan bangunan atau yang lain. Satu pertanyaanku, bisakah kami bertemu semua orang yang akan terikat kerjasama dalam proyek Legend Mall?" Asma bertanya tanpa rasa takut ataupun gentar, terlihat sudah siap menangani masalah yang ada.
Sebenarnya agak mengherankan ketika seorang gadis desa bersikap begitu dewasa dan terkesan seperti seorang pebisnis yang terbiasa berkutat dengan masalah rumit. Satu penjelasan dengan pertanyaan yang diutarakan Asma mengalihkan perhatian Rey yang sebenarnya tengah cemas akan nasib sang istri nanti.
Namun sekarang? Ia merasa bersikap berlebihan. Lupa akan kenyataan bahwa ketika seseorang sudah memiliki niat hati yang kuat, maka akan berusaha sampai titik darah penghabisan. Kesadarannya kembali bersambut usapan lembut yang menggenggam tangan dengan tatapan tanya.
__ADS_1
"Kita akan menemui semua pihak. Tempat dan waktunya kamu yang putuskan," jawab Rey menghentikan Bagas yang baru saja ingin mengatakan hal sama, "Apa kalian juga mau ikut? Jika iya, kita semua bisa bersiap."
"Tidak hari ini, Mas. Pekerjaan akan tetap dilakukan, tapi sebelum itu ada yang harus kita lakukan. Bukan begitu Fay?" Ditatapnya gadis yang masih sibuk memikirkan entah apa hingga tidak menyadari semua orang sudah menatapnya menunggu jawaban.
Melihat itu, Nau yang duduk di dekat Fay langsung menyenggol lengan kakak sepupunya, "Loe kenapa, Ifii? Tuh Ka Asma tanya, memangnya kalian punya rencana apa?"
Pertanyaan apa? Jujur saja tengah memikirkan hal lain yang tiba-tiba datang menyapa tanpa permisi. Selain itu masalah proyek masih belum terpikirkan, justru melihat Bagas yang memberikan ceramah dadakan malah membuat pikiran pompa ke tempat lain. Aneh 'kan?
"Sebenarnya aku kurang paham soal perawatan di salon, tapi Fay pasti bisa bantu. Jadi boleh tidak kami berdua pergi ke salon?" Asma mengambil tindakan meski harus menggunakan alasan yang cukup mengejutkan.
Perawatan? Handbody serta make up saja jarang sekali mendapatkan sentuhan tangannya. Lalu tiba-tiba ingin melakukan perawatan. Tentu saja jiwa meronta meminta keadilan. Ingin tertawa, lebih tepatnya menertawakan diri sendiri yang terkesan kemayu, sedangkan Fay kembali ke dunia nyata karena sang kakak memberikan jawaban ambigu.
Jika selama mengenal saja selalu tentang pembahasan serius. Bagaimana tiba-tiba menjadi wanita yang mempedulikan penampilan serta perawatan? Jika memikirkan demi kebaikan bersama, sebenarnya tidak salah juga. Apalagi mengingat status sebagai istri seorang pebisnis maka tuntutan menyeimbangkan aturan kehidupan harus semakin lebih baik.
Fay mencoba mengikuti alur yang kakaknya sajikan, "Aku janji akan membantu sebisaku, jadi apa kami bisa keluar untuk mencari salon kecantikan yang memiliki perawatan lengkap. Setidaknya bisa menjadi healing sebelum bertempur dengan pekerjaan."
Hampir saja darting karena diamnya Fay, tetapi begitu gadis itu bicara. Lega rasanya. Rey juga merasa semua baik dan tidak ada yang mencurigakan. Pria itu tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan kecil sang istri, maka diberikannya izin tanpa ada pengecualian. Syarat yang diberikan hanya satu yaitu slalu memberikan kabar.
__ADS_1