
Keesokan harinya, satu per satu anggota keluarga mulai berkumpul di cafe rooftop hotel. Secara khusus seluruh area cafe tersebut telah disewa untuk acara pagi ini. Reyhan yang tidak ingin ada gangguan sekecil apapun sudah mewanti Bagas agar lebih hati-hati dan teliti.
Terlihat keluarga Asma, keluarga Fay, dan anak-anak sudah duduk saling bercengkrama ngobrol random sembari menikmati minuman hangat untuk mengisi waktu sambil menunggu yang lainnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit, tapi sepertinya acara resepsi menguras tenaga semua orang.
Lihatlah Nau yang kembali memejamkan mata seraya mendengar obrolan para orang tua, dan juga celotehan temannya yang membahas desain cafe untuk ditinjau sebagai mahasiswa arsitektur. Heran sih gak, hanya saja selalu menjadi motivasi untuk membuat bangunan yang memukau.
"Pagi, Semuanya. Maaf kami terlambat," sapa Bagas mengalihkan perhatian semua orang.
Pria itu menarik salah satu kursi membiarkan wanitanya duduk terlebih dahulu. "Duduklah! Fay, mau pesan apa?"
"Coklat hangat saja, tapi cangkir mini, ya." jawab Fay begitu santai tanpa ada keraguan yang langsung dipesankan Bagas.
"Nak, apa keputusanmu sudah bulat? Coba pikirkan lagi karena hari ini kami pulang ke rumah." Tatapannya begitu sayu menatap sang putri. Hati terasa was-was ingin meninggalkan gadis kesayangannya hidup di kota besar seorang diri.
Seorang ibu selalu mengkhawatirkan anak mereka. Emosi yang tak mampu ditutupi dengan seulas senyum manis nan tipis. Sebagai seorang anak yang selama ini dijaga begitu ketat dengan segala peraturan rumah. Fay memahami rasa takut sang mama.
Gadis itu meraih tangan sang mama yang memang duduk tak jauh darinya. Digenggamnya seraya mengusap pelan agar rasa di hati menghantarkan kekuatan. "Ma, sekali saja izinkan aku untuk melakukan sesuatu dalam hidup ini. Jangan khawatir karena Ka Asma ada bersamaku."
__ADS_1
Kepercayaan akan kasih sayang menghapus jarak yang nampak menyisakan jarak. Tak peduli dengan hubungan darah atau hati. Kenyataannya adalah ikatan cinta itu tak mampu mengubah rasa di hati. Layaknya semilir angin yang berhembus tak berwujud.
"Mbak, Anak-anak harus tumbuh sebagai wanita yang kuat dan mandiri. Percaya saja bahwa Fay sanggup melewati semua rintangannya di masa yang akan datang. Kita sebagai orang tua harus mendukung sebagai kekuatan anak." Ibu Zulaikha ikut membujuk agar Fay mendapatkan sedikit kehidupan bebas sebagai seorang anak.
Suasana semakin menegangkan hingga terdengar suara langkah kaki yang mengalihkan perhatian semua orang. Pasutri yang berjalan menghampiri mereka tampak selalu serasi tanpa mengurangi kemesraan yang posesif. Dimana tangan Rey merengkuh pinggang istrinya seakan tak mau ditinggalkan.
Sepertinya pasangan itu baik dan bahagia? Yah karena senyuman manis bersambut dekapan hangat menunjukkan demikian, tapi sorot mata Asma menyiratkan sebaliknya. Fay menyadari ada sesuatu yang salah hanya saja ia tidak mungkin bertanya di depan keluarga.
"Tumben bangun siang, Rey. Begadang lagi?" tanya Bagas dengan sindiran halus, membuat Asma meliriknya tajam. Ia pura-pura tak memahami kekesalan sang adik hingga mengalihkan perhatian dengan siulan kecil.
Rey tertegun sesaat, lalu melepaskan tangannya dari pinggang sang istri, kemudian menarik kursi di dekat Ibu Zulaikha. Mata berkedip mempersilahkan Asma duduk terlebih dahulu. "Aku akan periksa menu sarapan sudah siap atau belum. Permisi."
Sarapan pagi bersama dengan menu makanan beragam berlangsung dengan khidmat. Semua orang tampak menikmati tanpa rasa sungkan. Sesi makan yang sesekali diiringi obrolan ringan semakin menghangatkan suasana. Tatapan mata setiap orang tampak menyiratkan sesuatu tetapi hanya mampu bergulat di dalam pikiran masing-masing.
Lirikan mata tak kunjung menyusut membuat emosi di hati bergemuruh. Selera makan yang dikumpulkan mendadak hanyut pergi begitu saja. "Bu, mau jalan-jalan denganku? Selama acara aku terlalu sibuk. Bagaimana jika kita berkeliling hotel?"
"Seru tuh, Ka. Boleh ikut, gak? Aku juga mau jalan-jalan." sahut Nau tiba-tiba hingga membuat semua orang reflek menatap pemuda satu itu yang langsung nyengir merasa kikuk.
__ADS_1
Fay bahkan menggelengkan kepala heran dengan tingkah sang adik sepupu. Bagaimana tidak? Selama ini, pemuda satu itu selalu bersikap santai bak berjemur di tepi pantai. Lalu tiba-tiba saja bertindak seperti anak-anak yang merindukan waktu kebebasan.
"Kenapa tidak, kita bisa jalan bareng. Fay kamu ikut?" tanya Asma mengalihkan tatapan matanya pada gadis yang duduk di hadapannya.
Tatapan mata keduanya bertemu. Sayangnya Asma dengan cepat mengubah ekspresi wajah berganti senyum tipis tanpa kesedihan. Sepertinya wanita satu itu lupa dengan sorot mata yang sendu bahkan tampak mulai berkaca. Entah kenapa rasa tak enak menyelimuti hati.
"Why not, Aku juga ingin belajar desain dari adikku. Jadi mau sekarang atau bagaimana?" tanya Fay yang memang sudah selesai makan lebih dulu dibandingkan yang lain. Gadis itu hanya makan sedikit sehingga selalu makan dengan waktu singkat.
Obrolan jalan-jalan terpaksa dihentikan ketika pelayan kembali datang menghidangkan makanan penutup. Dessert segar manis nan menggugah selera yaitu cake rainbow royal jelly topping potongan buah keluarga berry. Lembutnya cake berpadu kenyal si jelly menyatu dengan rasa manis segar buah berry menjadi perpaduan rasa lezat.
Lima belas menit kemudian, lima anggota berjalan meninggalkan rooftop. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan kehangatan keluarga. Sementara di rooftop Bagas menahan Rey yang pasti ingin menyusul adiknya. Ia tahu ada yang salah tapi berusaha untuk tetap santai meski penasaran. Apalagi saat ini masih bersama keluarga besar dan para anak muda.
"Stay here! Just give your wife time because I know, my sister is able to dampen the emotions of the heart." ucap Bagas mencegah Rey seraya meyakinkan hati seorang suami.
Suara helaan napas panjang bersambut sandaran tubuh ke belakang. Apa yang bisa dikatakan? Semua ini salahnya, tapi ego yang datang tanpa ampun menghantam hatinya semalam. Kini yang tersisa hanya penyesalan karena ia sadar telah bertindak kasar pada istrinya.
Diamnya Asma pagi ini menyentak kesadarannya yang seketika kembali merasuk menetap di kepala. Salah dan benar tampak nyata sehingga seluruh tindakan semalam kian meremukkan rasa, menyisakan sesak di dada. Sakit yang ia nikmati tak seberapa dengan goresan luka yang sengaja dia torehkan di hati sang istri.
__ADS_1
"Reyhan!" panggil Bagas menepuk pundak pria di sebelahnya, "Are you okay?" Tatapan matanya cemas karena pria satu itu tampak gelisah bahkan melamun.