
Rupanya sang istri bukan tipe orang yang asal jawab tanpa berpikir. Jawaban yang tepat dan memikirkan dari dua sudut pandang. Menarik. Ketika diluar sana banyak yang berpikir sepintas. Wanitanya justru tidak ingin mengambil keputusan buru-buru.
Asma bisa menjadi pendengar yang baik. Menyimpulkan, lalu memberikan asumsi dari hasil apa yang telah diamati tanpa memberatkan satu pihak. Tak elak tangannya terangkat mengusap kepala sang istri dengan lembut, seulas senyuman berbalas senyum tipis.
"Aku akan keluar buat siapkan piring. Mas bisa ngobrol bareng lainnya di depan." lanjut istrinya, tapi masih sibuk melipat mukena sebelum pergi meninggalkan kamar.
"Asma, bisa ganti pakaian mu?" tanya Rey menghentikan pergerakan tangan Asma yang baru selesai melipat mukena. Tatapan yang bertanya kenapa, membuat Rey melirik ke arah depannya. Dimana bagian dada sang istri nampak terpampang nyata, bahkan jejak merah masih terlihat begitu jelas.
Benar saja. Asma mengikuti arah tatapan mata suaminya. Sontak membenarkan daster yang biasa dipakainya karena daster itu nyaman dan juga bisa bergerak bebas. Sesuatu telah dilupakan. Jejak merah tanda kepemilikan Rey menyadarkan akan statusnya sebagai seorang istri.
"Nggeh, bisa keluar. Aku akan ganti." Pinta Asma membuat Rey menyeringai nakal, tatapan yang berbeda dari suaminya tertangkap basah. "Mas, singkirkan pikiran aneh itu. Tidak enak, jika di dengar yang lain."
Pasrah sudah. Benar yang dikatakan Asma. Rumah kecil dengan ruangan yang bisa mendengar banyak percakapan. Tidak terbayangkan, jika tengah membawa istrinya ke surga. Tiba-tiba ada yang datang masuk ke kamar. Tidak lucu.
Tanpa memperdebatkan. Rey membiarkan Asma berganti pakaian seorang diri di dalam kamar, sedangkan dia memilih untuk menemui para pria keluarga istrinya. Kakak ipar, kakak kandung, paman, dan keponakan pria tengah berkumpul membicarakan pembagian tugas agar bisa selesai dalam waktu satu jam.
"Assalamu'alaikum," laungan salam mengalihkan perhatian para pria, "Sudah ramai sekali. Apa yang kalian bahas?"
__ADS_1
Bagas menarik tangan Rey agar duduk di sebelahnya. "Kami membahas dekorasi untuk pelaminan. Padahal tinggal hari ini, tapi masih belum sepakat. Bukan main."
Untuk pertama kalinya, Bagas mengeluh karena pekerjaan. Dari semua yang telah terjadi. Pria itu belajar banyak hal menjadi orang biasa. Meski selama ini memiliki banyak tanggung jawab. Tetap saja, banyak pekerjaan yang melibatkan anak buahnya, sedangkan keluarga Asma. Bisa dikatakan mandiri.
Percakapan random diantara para pria semakin serius dan asyik saja. Sesekali memperhatikan tingkah laku anak-anak yang berlarian kesana kemari. Namun, semua harus terhenti ketika Kakak perempuan Asma memanggil untuk sarapan bersama.
Satu persatu masuk kedalam rumah. Sebelum memulai pekerjaan berat. Mereka harus mengisi tenaga terlebih dahulu. Sarapan yang penuh kehangatan, tetapi Rey harus menikmati makanan seorang diri. Bagaimana tidak, Asma sudah duduk dan tengah menyuapi ibu mertuanya.
Gigit jari. Entah ada apa dengannya. Padahal ritual makan sepiring berdua baru terjadi selama beberapa hari, tapi pagi ini nafsu makan langsung hilang. Meski tetap dipaksakan untuk makan, demi menghargai keluarga sang istri yang sudah repot memasak untuk semua orang.
Pukul lima sore. Anak-anak sudah siap untuk menyambut acara malam, tetapi tidak dengan para orang tua yang baru selesai melakukan persiapan. Termasuk pengantin baru. Suasana yang begitu ramai dengan kamar mandi yang hanya satu. Sungguh membuat setiap anggota keluarga antri untuk bergiliran melakukan ritual mandi.
"Ndu, minta suami mu buat mandi dulu. Biar nanti bisa nyambut bapak-bapak warga sini." Ujar Ibu Zulaikha mengalihkan perhatian Asma yang baru saja bisa duduk dan memeriksa ponselnya.
Diletakkannya ponsel kembali ke atas lemari, lalu beranjak dari tempat duduknya, "Nggeh, Bu. Aku cari dulu, dimana Mas Rey nya."
"Itu diruang tamu, lagi main ama Adi." Sahut Kakak perempuannya yang baru selesai menghitung snack dari atas meja panjang.
Tanpa menunda, Asma mencari keberadaan suaminya. Memang benar, pria berwajah tampan dengan penampilan yang casual tengah menikmati kebersamaan. Sesaat menatap memperhatikan interaksi antara Rey dan Adi.
Anak usia lima tahun dengan keaktifan yang luar biasa. Keduanya saling menggoda, bahkan tak sungkan memberikan pelukan dan juga sesekali melakukan tos ala pria. Sementara Rey yang menyadari tengah diperhatikan, menoleh ke arah pintu seraya mengerlingkan mata.
__ADS_1
Istrinya berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Tatapan mata yang teduh tertuju padanya dan juga Adi. Tidak tahu apa yang wanita itu pikirkan, tetapi sikap tenang bersambut seulas senyuman dengan tubuh bersandar ke sisi kiri dinding.
"Bu Lek, mau?" Tawar Adi menunjukkan kotak ice cream yang begitu menggiurkan.
Ice cream. Siapa yang tidak mau? Tentu mau, apalagi ditawari anak balita yang tampan dengan warna kulit manis. Adi Nugroho, sang keponakan yang sangat menggemaskan. Langkah kaki berjalan menghampiri kedua pria beda usia itu.
"Mas, mandi dulu sana." Asma mengangkat keponakannya untuk duduk di pangkuan, agar tidak berlari ke sana kemari lagi dan diam menikmati ice cream saja. "Kenapa malah lihatin aku? Kamar mandi dibelakang, Mas."
Satu hari saja dirumah mertua. Asma begitu sibuk, bahkan tidak ada waktu untuknya. Tidak adil. Apalagi saat memiliki sedikit ruang untuk menatap wajah istrinya. Eh sudah ditegur saja. Merasa sudah menikah puluhan tahun. Tidak boleh menikmati waktu sejenak saja.
Adi menarik kaos oversize sang bibi, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Asma menahan senyumnya. Apakah benar yang dikatakan oleh keponakannya itu? Alih-alih mencoba untuk mengerti, tatapan matanya terus terpatri tenggelam menyatu bersama dalamnya ketenangan.
"Uhuk! Apa kalian tidak melihat ada anak kecil? Bukan waktunya ....,"
Rey mengangkat tangan kanannya, membungkam Bagas yang siap meneruskan kalimat sindiran. Tatapan nya beralih menoleh menatap tajam ke arah sang sahabat. Ternyata sudah rapi, harum dan seperti pria alim dengan setelan baju koko putih. Sedikit menyesal menolak pria itu untuk ikut pulang ke hotel.
"Apa kamu bawa permintaan ku? Jika iya, berikan." Ucap Rey mengalihkan pembicaraan dengan hal yang lebih berfaedah, lalu mengulurkan tangannya, membuat Bagas menyerahkan paper bag yang ia bawa. "Asma, bisa bantu siapkan pakaian ku? Ambillah."
Paper bag warna hitam itu beralih ke tangan Asma. Sontak membuat Bagas bergerak cepat menggendong Adi tanpa bertanya. Anehnya, sang istri tidak menengok apa isi dari paper bag itu dan melakukan permintaannya tanpa memberikan jawaban sepatah katapun.
Sabar. Istrimu memang diciptakan dari pahatan salju pegunungan Alpen. Semangat, kamu bisa melelehkan dengan bara api yang membara.~batin Rey mengusap dadanya sendiri, lirikan mata mengekor kemana langkah istrinya pergi.
__ADS_1
"Bersiap, Bro. Ini sebentar lagi magrib." Bagas menepuk bahu sahabatnya agar kembali ke bumi.