
Satu permintaan Asma menyentak akal sehatnya. Bagaimana bisa wanita itu meminta hal yang jelas tidak mungkin untuk dilakukan. Apakah keadaan segenting itu? Sehingga ia harus menjadi akhir dari solusi permasalahan di dalam hidup orang lain. Tidak habis pikir dengan hasil pemikiran sang adik.
"I know, pasti Ka Bagas merasa aku berlebihan. Andai saja masih tersisa pilihan lain, tapi melihat situasi yang ada hanya itu jalannya. Tenang saja karena aku tidak memaksa, dan setidaknya pikirkan ini sekali saja." jelas Asma merelakan kesempatan yang ada, ia sadar bahwa permintaan darinya terlalu berat.
Apa yang bisa dikatakan? Tidak ada. Bibirnya terasa kelu bahkan penolakan di dalam hati tidak sanggup keluar berganti menjadi pernyataan pasti. Posisi Asma yang terjebak, membuat jiwa seorang kakak mengalah. Bagaimanapun niat wanita itu hanya untuk kebaikan, yah meski harus menyeret dirinya sebagai pihak ketiga.
Diraihnya tangan yang terdiam tergeletak di atas meja, "Apa kamu yakin dengan pilihanmu?" Tatapan mata enggan untuk berpaling, kini yang ia butuhkan adalah harapan nyata tanpa ada keraguan.
Tidak masalah jika harus melakukan hal diluar batas untuk memberikan keinginan seorang adik, tetapi akan menjadi masalah ketika apa yang sudah diputuskan berubah keraguan. Satu langkah saja melewati garis batas, maka ia tidak bisa kembali pada jalan yang lurus. Semua adil dalam kasih sayang keluarga.
Asma mengangguk pasti, "Aku tidak berniat untuk melakukan hal ini padamu, Ka. Akan tetapi, ikatan hati hanya bisa diperjuangkan tanpa syarat. Jangan gegabah karena apapun keputusanmu, aku tetap menerimanya dengan ikhlas."
"Jujur ini sulit untuk dilakukan. Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kami selama ini," Bahas melepaskan tangan Asma, lalu mengalihkan perhatiannya menatap keluar taman. "Bukankah sikap dan sifat kami bertolak belakang? Apa yang membuat adikku berpikir sedemikian rupa hingga memohon sebuah permintaan yang tidak bisa diabaikan."
"Simple, Ka. Aku sayang kalian, seperti kakak menyayangi ku dan Mas Rey tanpa melihat status ataupun seberapa lama hubungan terjalin. Aku pun begitu, kalian orang-orang penting dalam hidupku dan memiliki tempat masing-masing. Jika kakak bertanya siapa yang paling memahami wanita seperti diriku.
__ADS_1
"Jawabannya sudah pasti dia yang kuharapkan berjodoh denganmu, Ka." sambung Asma menyelesaikan ungkapan hati tanpa ingin melebihkan rasa yang ia sadari hanya akan menjadi pertanyaan baru.
Untuk pertama kalinya, pemikirannya sepaham tanpa harus menerima panjang kali lebar penjelasan. Terkadang ia berpikir, apa yang spesial dari dalam diri seorang Asma. Nyatanya jawaban itu ada di dalam dirinya juga. Mencintai keluarga tanpa pamrih, tidak peduli apakah itu hubungan darah atau hati.
Namun, harapan yang menjadi angan untuk kehidupan lebih baik bisa saja menyakiti hati banyak orang. "De, apa kamu tahu tentang kehidupanku yang suka gonta-ganti cewek? Apa satu kebiasaan buruk ku ...,"
"Jika maksud Ka Bagas adalah kencan buta. Aku sudah tahu, atau mau kusebutkan nama-nama wanita yang pernah duduk di cafe hanya untuk menghabiskan waktu tiga jam duduk bengong dengerin ocehan kakak?" sahut Asma menyela pengakuan Bagas yang langsung tersedak tanpa minuman.
"By the way, apa kakak sudah dapat info tentang ... Aku tidak ingin menyebutkan nama, tapi kakak paham maksudnya 'kan?" tanya Asma mengakhiri pemotongan pernyataan Bagas yang kini hanya bisa menggaruk kepalanya.
Sebenarnya jika tidak ditanya, pasti ia lupa dengan permintaan lain sang adik. Setiap waktu ada saja pertanyaan yang diajukan bahkan jika ditulis di atas kertas. Maka tidak ada bedanya dengan catatan interogasi nasional. Ternyata semakin kesini, wanita satu itu cukup cerewet kecuali mode singa yang wajib untuk diam menyimak.
__ADS_1
"Kayaknya udah, De. Tunggu," Dikeluarkannya ponsel dari tempat persemayaman, lalu mencari hasil dari penyelidikan yang sudah dilakukan anak buahnya. "Apa dia orangnya?" Sebuah foto keluarga memenuhi layar si benda pipih.
Mata yang mengerjap tak percaya, terlihat jelas Asma mencoba untuk mengenali wajah yang mungkin benar, tetapi bisa juga salah. Agak aneh karena adiknya tersenyum penuh arti seakan mengejek kehidupan yang dipenuhi ketidakadilan. "De, are you okay?"
"Yes, Ka. Don't worry, but kirimkan foto itu ke e-mail ku saja. Bagaimana dengan informasi tentang mereka? Apa semuanya sudah ada secara detail?" tanya Asma lagi, hatinya sudah mati bahkan tidak sedikitpun merasa tertekan.
Namun dibalik tindakannya ada alasan yang tidak bisa dijabarkan. Kini ia hanya ingin melindungi keluarga dan hubungan rumah tangganya. Tidak ada kata esok ketika masa lalu mulai menyentuh dalam kabut bayangan, sedangkan Bagas hanya menerima permintaan tanpa tahu kebenarannya.
Identitas hanyalah barisan dari kata yang menjadi kalimat, tetapi juga jati diri untuk mereka yang memperjuangkan dari titik terendah. Manusia hanya memiliki dua jalur identitas yaitu terlahir atau dibangun. Sadar diri akan diri sendiri adalah keharusan.
Bagas memberikan semua informasi yang dibutuhkan Asma, sedangkan di luar sana hanya ada kebahagiaan tanpa tekanan batin. Terkadang setiap anggota keluarga memiliki rahasia yang tidak semua orang ketahui, meski tinggal seatap tetap saja memiliki alasan untuk diam menikmati masalah sendiri. Tentu tak jauh berbeda disetiap hubungan yang mengatasnamakan kasih sayang.
Satu masalah masih bisa dibagi ketika itu menjadi milik bersama bahkan mencoba bermusyawarah demi mencapai mufakat. Hanya saja terkadang manusia lupa betapa sulitnya menyatukan isi kepala dari setiap orang yang ikut berdiskusi. Di lain waktu hanya menjadi perenungan pribadi sehingga menghadirkan keraguan hati.
"De, siapa mereka sebenarnya? Apakah salah satu teman atau saudara online yang lain?" tanya Bagas dengan pemikiran sepintas, membuat Asma menghilangkan senyum dari wajahnya.
"Kakak akan tahu jika melanjutkan penyelidikan tentangnya, tapi lebih baik jangan. Semua sudah berlalu dan tidak seharusnya diungkit. Semua informasi yang kuminta hanya untuk kartu di masa depan. Firasat hati yang ternoda akan selalu benar tanpa ada pembenaran."
__ADS_1
Seperti rintik hujan jatuh membasahi bumi dan takkan kembali ke angkasa. Seperti itulah kenangan yang penuh pelajaran dalam proses pendewasaan diri. Orang berkata ini dan itu hanya untuk menguji mental, tetapi pada dasarnya keyakinan dan keteguhan hati hanya untuk perjuangan mengarungi aral rintang kehidupan.
Setelah menjelaskan secara ambigu pada Bagas. Asma beranjak meninggalkan pria itu seorang diri, "Jika kamu tahu bahwa dia mantanku, mungkin akan berpikir hatiku masih terbebani masa lalu. Kisah ku mungkin sudah usai hanya saja jalannya masih ada."