Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 14: Jika Jodoh, Doa Kita Se-Amin


__ADS_3

Masa lalumu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa terpisahkan." Rey menatap Asma lebih dalam lagi, meyakinkan gadis itu akan keseriusan yang dia miliki. "Menikahlah denganku, Asma. Jadilah istri Reyhan Aditya. Apa kamu bersedia?"


Kesungguhan Rey, membuat Asma tak mampu berkata-kata. Hati menolak, tetapi akal menerima. Apa yang terjadi? Kenapa menjadi rasa sesak dalam kebimbangan. Setelah kejujuran terungkap, nyatanya pria itu tetap pada keputusannya.


Namun, apakah semua akan baik? Bagaimana jika masa lalu datang kembali. Apakah Rey bisa melupakan kebenaran akan kekurangannya? Dilema. Satu sisi, ia terharu dengan perlakuan pria itu, tetapi rasa takut membelenggu jiwa raga.



Tatapan Rey begitu meneduhkan. Tak bisa mengelak, apalagi melarikan diri dari kenyataan. "Aku terima, tapi jika Anda meminta diriku sebagai istri di depan kedua orang tuaku. Kejujuran ku, tidak menggoyahkan keputusanmu. Maka, aku tidak akan mengubah keputusanku juga."



Rasanya begitu melegakan. Penerimaan yang terdengar mengalun indah seperti simfoni alam. Tanpa menunda lagi, Rey menyematkan cincin pilihannya ke jari manis Asma. Si gadis desa yang akan menjadi pendamping di sisa kehidupannya.



"Kedua orang tuamu, mereka sudah tahu dan aku sudah meminta izin untuk mempersunting dirimu." Rey menatap Asma, sesekali melirik ke tangan yang masih ia genggam. "Bersiaplah. Kita akan menikah hari ini, tepat setelah sholat ashar."



Deg. Apa-apaan? Baru melamar, lalu langsung saja nikah. Apakah pria itu waras? Asma menggelengkan kepala tak bisa memahami isi pikiran seorang Reyhan. Benar-benar membingungkan, seperti berulang kali menguleni adonan roti.



"Tuan yang terhormat. Bintang masih di langit, dan bersinar ketika malam tiba. Lalu, kenapa khayalan Anda melebihi diriku yang seorang penulis novel?" tanya Asma seraya melepaskan tangannya dari genggaman Rey.



Rey tak peduli dengan peribahasa atau pepatah yang ada di dunia ini karena saat ini. Dia hanya tahu satu hal. Asma akan menjadi istrinya. Benar yang dikatakan Bagas. Si gadis desa tidak memandang harta, apalagi rupa. Akan tetapi hanya ingin kepastian.



Sesungguhnya, setiap wanita di dunia ini hanya ingin hal pasti dari calon imam mereka. Bukan janji manis, apalagi bualan tanpa tulang. Siapa yang mau hidup dengan sekedar omong kosong belaka? Tidak ada. Sekali saja, ada satu pria yang menetapkan hati tanpa keraguan. Maka, mungkin itu jalan jodoh.


__ADS_1


Asma berpikir, ucapan Rey hanya sebuah candaan. Awalnya, ia merasa tenang hingga pria itu membawanya pergi meninggalkan rumah. Siapa sangka, sang calon suami membawa dia ke sebuah hotel yang ternyata sudah dipesan secara khusus.



Hotel Patra menjadi pilihan Rey, tetapi yang mengatur segalanya adalah Bagas. Sahabatnya yang antusias membuat pengaturan pernikahan kilat. Bukan hanya pria itu saja karena kedua orang tua Asma ikut andil memberikan saran dan juga turut bersuka ria.



Rey mengantarkan Asma ke kamar yang akan menjadi tempat gadis itu untuk bersiap. Dimana di dalam sana, para perias dan pengatur busana sudah stay. Kamar hotel nomor lima belas ada di depan mata. Sekali lagi, ditatapnya si gadis desa.



"Asma, Aku tahu ini mendadak." Rey menghela nafas, menyadari akan sikapnya yang terlalu over. "Pikirkan sekali lagi, jika hatimu keberatan. Aku tidak akan melarangmu untuk membatalkan pernikahan kita. Hanya satu yang kuharapkan, sekali saja buka hatimu untukku."



Bukan hanya mencoba untuk meyakinkan. Rey bersikeras untuk menjaga hati dan memberikan kebebasan. Jujur, ada rasa takut yang terus menggerogoti hatinya. Akan tetapi, sampai kapan rasa takut itu menjadi miliknya?




Bak hembusan angin yang mengusir hawa panas. Hatinya tenggelam dalam keindahan kata yang menghanyutkan. Biarlah alam memutuskan. Takdir dan jodoh siapa yang akan menjadi kehidupan masa depan. Keduanya terpisah.



Asma masuk ke dalam kamar, sedangkan Rey berjalan menyusuri lorong. Langkah kakinya begitu ringan, seluruh beban yang mengusik selama seminggu terakhir menghilang begitu saja. Semua baik, dan tidak ada yang perlu dicemaskannya lagi.



Kedatangannya disambut hangat Bagas. Dimana sahabatnya itu baru selesai mengatur tempat dekorasi. "Assalamu'alaikum, Rey. Bagaimana semua, lancar 'kan?"



"Waalaikumsalam. Alhamdulillah lancar, Asma ada di kamarnya. Apa semua persiapan sudah selesai?" tanya balik Rey menyambut hangat rentangan tangan sang sahabat.

__ADS_1



Sesaat, keduanya berpelukan membagikan kebahagiaan yang menjadi semangat dan harapan baru. Pelukan hangat rasa saudara, yah memang mereka berdua sudah menjadi saudara. Meski tidak sedarah. Bagas menyudahi pelukan, lalu mengajak Rey duduk di sofa ruang tunggu.



Tatapan mata yang antusias menelisik mencoba mencari tahu. Apakah kebahagiaan itu nyata, atau hanya demi status saja. Rey sadar, Bagas sangat menjaga Asma. Bukan sebagai teman, melainkan sebagai seorang kakak yang menjodohkan adiknya pada orang kepercayaannya.



"Apa aku harus memberikan tanda tangan diatas materai?" sindir Rey membuat Bagas mendelik, "Aku tidak akan mempermainkan hubungan sakral. Ini murni keputusanku, jika kamu ragu. Bawalah pergi Asma, dan jangan pernah kembali."



Meyakinkan orang itu seperti tengah mempertanyakan akan keraguan dalam diri sendiri. Tanpa sadar, orang bertanya balik dengan pertanyaan yang sama. Sebenarnya itu hanya hasil reaksi dari penggabungan emosi dan jalan pikiran.



Bagas menepuk-nepuk pundak Rey, "Bro, ada kalanya kita keras kepala. Sepanjang yang ku tahu, Asma bisa menghadapi masalahnya sendiri. Aku tidak khawatir dengan itu, tapi bukan berarti kamu bisa menyederhanakan segalanya. Jadilah suami yang bertanggung jawab."



"Kamu tahu, wanita itu makhluk paling rumit. Mereka bilang, wanita sederhana, tapi pada dasarnya. Setiap wanita selalu mengutamakan emosi, perasaan yang tidak bisa tergambarkan. Berbeda dengan kita, sebagai pria yang selalu mengutamakan akal. You know, what i means?"


Benar. Namun, ia tak ingin menjadi suami yang memiliki dominan. Biarlah kehidupan mengajarkan arti hubungan dalam emosi yang memiliki akal pikiran. Waktu berlalu begitu cepat. Suara kumandang adzan ashar terdengar begitu merdu. Entah kenapa, rasanya begitu menyejukkan hatinya.


Rey memasrahkan diri pada takdir Illahi. Bukan tentang perasaan saja. Ia ingin, Allah meridhoi pernikahan yang akan dilangsungkan beberapa waktu lagi. Di kamarnya yang tenang dengan sinar mentari sore yang menerobos jendela kamar. Pria itu tengah bersujud menghadap Sang Pencipta.


Sholat ashar yang berbeda dari biasanya. Seusai salam, Rey menangkupkan kedua tangan memejamkan mata mencoba melepaskan semua beban kehidupan. "Ya Allah, ampunilah dosaku. Bimbinglah hamba untuk melangkah menunaikan hakikat seorang manusia di bumi ini. Ridhoilah ikrar suci kami. Jika Asma binti Rasyid adalah jodohku. Izinkan hamba mencintainya karena Mu."


"Amiin," Asma mengaminkan do'a yang ia panjatkan, lalu membasuh wajah dengan tangkuban tangan yang kini sudah berhiaskan henna indah.


Keduanya mengaminkan doa tanpa tahu. Jika harapan kecil mereka melambung terbang menuju Sang Pencipta.


Cinta bukan tentang kata. Melainkan tentang ketetapan Illahi. Ketika Tuhan tidak menyatukan doa dalam se-Amiin. Maka, takdir itu bukanlah perjodohan. Sejatinya, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Percayalah. Jodoh tidak akan tertukar.

__ADS_1


__ADS_2