Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 43: Saudara Sepupu II


__ADS_3

Para orang tua memang tegang, bahkan sorot mata mereka nampak gelisah dengan kesedihan. Tentu heran donk. Tidak biasanya karena selama ini selalu baik-baik saja. Pada kenyataannya mereka ada untuk satu sama lain sebagai keluarga hangat. Namun, jika sudah menyebarkan aura tak enak. Pasti sesuatu telah terjadi.


"Aurelia, duduk sini, Nak." Mama Shinta menepuk sofa disebelahnya, dimana itu menjadi tempat duduk tengah yang diapit kedua orang tua. "Ififay Aurelia Raharja! Kemari."


Ingin menolak, tapi tidak mungkin. Apalagi lirikan mata Nau meyakinkan semua akan baik-baik saja. Meski rasanya mencekam dengan aura siap menerkam. Langkahnya tetap berjalan menghampiri tempat yang seperti sudah dikhususkan untuknya seorang. Tenang dalam helaan nafas, lalu duduk di antara Mama dan Papa.


"Nau, kamu juga. Sini duduk di samping Bunda." Ujar Bunda Viola langsung disanggupi Nau sang putra dengan anggukan kepala.


Kini seluruh keluarga berkumpul. Tidak ada yang memulai perbincangan hingga suara deheman Papa Raharja membuyarkan semua lamunan yang pasti memiliki banyak pertanyaan dalam pikiran masing-masing. Pria dengan penampilan yang rapi ala kantoran. Sepertinya hari ini sengaja tidak cuti kerja.


"Aurelia, apa dia menghubungimu lagi, Nak?" tanya Papa Raharja memulai obrolan agar bisa mencairkan suasana.


Dia? Yah, tidak perlu menyebutkan nama. Bahasa isyarat pun pasti akan langsung paham kemana arah tujuannya. Entah apa yang terjadi, hingga keluarga tegang hanya karena sang mantan. Benar, dia itu hanya berarti satu orang yang sudah menjadi masa lalu. Tidak amnesia, tapi tidak juga ingin membahas hal yang tidak penting.


Namun, melihat tatapan tak biasa semua orang. Ia memiliki kewajiban untuk meluruskan agar tidak ada kesalahpahaman. Jika orang luar, tentu tak peduli. "Pa, Ma, Yah, Bund. Kalian ingin tahu, apa kami masih komunikasi? Sejak terakhir sudah lost contact. Sesekali bertemu hanya kebetulan, bisa tanya Nau untuk lebih jelasnya."


"Apa yang Ifii jelaskan memang benar adanya. Jangan khawatir, disini ada aku bukan? Sebagai saudara aku akan selalu menjaga dan melindungi saudariku dengan jiwa raga ku." Sambung Nau memperkuat pernyataan sang kakak sepupu.

__ADS_1


Meski kehidupan yang dijalani keduanya berbeda. Tetap saja, ia paham akan perasaan tidak nyaman. Ketika setiap kali masa lalu selalu dipertanyakan. Padahal sudah jelas, semua itu berlalu dan tidak akan pernah kembali. Akan tetapi, ketika berpikir lebih jauh lagi. Namanya orang tua pasti khawatir tentang kehidupan anak-anak mereka.


Pernyataan dan pembelaan kedua bersaudara, memberikan ketenangan untuk seluruh anggota keluarga. Memang benar, selama ini kedua anak yang memiliki usia terpaut tidak begitu jauh. Tetap memiliki ikatan yang dekat, bahkan bisa menjadi tempat saling berkeluh kesah dan juga bertengkar.


"Kami percaya kalian sudah dewasa untuk memutuskan mana yang baik dan buruk. Kami hanya berharap. Kalian berpikir lebih matang sebelum bertindak." Ucap Ayah Bramantyo yang biasa dipanggil Ayah Bram oleh keluarganya.


Ini bukan sidang, melainkan bentuk musyawarah yang akan memberikan ruang dan waktu untuk semua anggota keluarga saling terbuka dan memahami. Anak-anak cenderung menyimpan masalah mereka, seperti orang tua. Namun, orang tua selalu memiliki cara untuk mencari tahu perasaan dan cara pandang seorang anak.


Terkadang, sebagai anak berpikir bahwa orang tua bisa bertindak sesuka hati. Padahal tidak demikian. Setiap nasehat, setiap bujukan, setiap kemarahan dari orang tua pasti memiliki tujuan tertentu. Hanya saja, sebagai anak terlalu berpikir bahwa orang tua maunya menang sendiri. Tidak semua berpikir sama, tapi persentase akan seperti itu adanya.


Hari ini, Ifi harus menjelaskan, tetapi esok keluarganya akan siap menjadi pelindung. Keyakinan berasal dari hati, bukan dari ucapan yang keluar dari bibir. Maka, sebaik-baiknya kepercayaan untuk tetap singgah dalam sanubari. Bukan dalam isi kepala seseorang. Termasuk sudut pandang yang bukan terjebak dari satu sisi saja.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab serempak semua orang.


Kenapa justru terjebak? Niat hati memang mau pulang, tapi sudah dicegah. Mana tatapan kedua orang tua jadi penasaran juga. Jangan sampai semua tahu kalau ia baru saja putus. Ia tak ingin mendapatkan ceramah panjang kali lebar, disaat suasana hatinya tengah terguncang. Bukan karena terlalu mencintai Cleo, tapi ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu.


"Ok, gue ambil minum dulu. Nanti nyusul ke taman, mau sekalian?" tawar Nau mengalihkan perhatian dengan alibi yang masuk akal.

__ADS_1


"Nau, apa kamu punya masalah?" tanya Ayah Bram menatap putranya yang tersenyum simpul, "Kalau ada, jangan lupa untuk sharing ke orang tua, Nak."


Bingung mau jawannya. Jujur nanti bisa kena ceramah, lagian sebentar lagi. Sang kakak sepupu pasti akan memberikan kultum yang pasti sepanjang gerbong kereta. Untuk satu ini, bisa aja taruhan satu coffee cup Arabic dari cafe langganannya.


Nau menggelengkan kepala, "Bukan gitu, Yah. Aku ama Ifi cuma mau bahas travelling ke Jakarta yang diadakan pihak kampus. Kalau gitu, Nau pamit ke dapur dulu."


Jurus terbaik adalah kabur sebelum mendapatkan interogasi. Ifii yang sudah menyelamatkan diri terlebih dahulu, maka ia harus segera menyusul. Aman, ketika langkah kakinya sudah memasuki area dapur. Akan tetapi, tatapan bibi terlihat begitu sumringah dengan senyum yang lebar.


"Aden, abis dikejar hantu ya? Kok lari gak pake rem." Bibi terkekeh, tetapi masih menyibukkan diri dengan memotong daging yang pasti akan dimasak sesuatu.


Si bibi ada aja kelakuannya. Orang lari kalau gak ada rem. Nabrak donk? Lah ini, dia kan lari tapi tetep langsung berhenti di dapur. Jadi, ada remnya donk. Iya gak? Sudahlah, jika tidak punya pelayan yang jahil. Rumah pun terasa sepi karena orang tua sibuk bekerja seharian.


"Bibi masak apa?" tanya Nau tak ingin menggubris hal yang tak dianggap penting, lagi pula tujuannya mengambil minuman segar dan juga cemilan.


"Nyonya minta disiapin buat masak sayur kari sama ayam. Katanya mau dibuat ayam ungkep bumbu spesial. Itu tuh, yang dipanggang setelah diungkep, Den." Jelas Bibi dengan semangat, meskipun tidak hafal nama makanan, wanita paruh baya yang berhijab itu, selalu tahu bagaimana cara belajar satu persatu perintah dari sang majikan.


Cukup jelas, membuat Nau menahan senyumnya. Tak mungkin berani di depan yang lebih tua. Setelah mendapat dua botol jenis minuman berbeda serta mengeluarkan cake red velvet dari dalam kulkas. Kemudian menata di atas nampan. Barulah langkah kaki pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Di ruang tamu, para orang tua masih sibuk berbincang. Jadi lebih baik menyingkir untuk menemui Ifii. Taman belakang yang merupakan area penghijauan dengan beberapa jenis pepohonan yang pasti menghasilkan buah pada musimnya. Dilihatnya sang kakak sepupu duduk di gazebo sembari bermain ponsel.


"Kenapa lama sekali? Habis semedi, ya?" Sambut Ifi yang bisa merasakan kedatangan Nau dari aroma parfum pemuda itu.


__ADS_2