Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 105: Si PeKo


__ADS_3

Dokter Widya tidak paham kenapa ekspresi pasiennya aneh. Wajah memang pucat bercampur ruam merah yang pasti terasa perih. Anehnya itu karena seulas senyuman sinis yang tersungging dibarengi putaran roda kemalasan di dari tatapan mata. Seperti bosan mendengarkan nasehat orang lain yang dianggap tidak berguna.


Tanpa ingin mengurangi rasa hormat sebagai sesama dokter. Ia meminta Elora untuk ikut bersamanya ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan lebih baik. Semua demi kebaikan dan masalah wajah yang terkena luka bakar akan segera teratasi, sedangkan ditempat lain hanya ada tatapan dingin yang menusuk siap menghempaskan.


Sekian detik telah berlalu, tetapi tatapan tajam yang fokus ke arahnya enggan teralih. Ingin sekali menenangkan hanya saja bukanlah pilihan yang baik. Terkadang lebih baik membiarkan amarah berkelana menyelimuti keadaan, lalu dilepaskan. Jangan sampai dibiarkan tenggelam memenuhi relung hati.


"Bisa jelasin maksud dari semua ini! Apa kalian ini anak kecil yang bisa bermain seenak hati. Dewasalah." Rey mencoba untuk tetap tenang, sayangnya tidak bisa mendapatkan kenyamanan.


Baru saja memberikan izin istri beserta dua saudaranya ke luar rumah. Tiba-tiba mendengar berita dari pihak cafe atas insiden yang membuatnya khawatir. Ia tak menyangka akan ada keributan yang bisa menyebabkan masalah besar. Apalagi begitu tahu sikap Asma yang masih tenang di luar sana.


"Rey, ini salah ku. Jangan salahkan Asma, lagian kalau Elora gak bikin masalah. Mana mungkin ada keributan." ucap Bagas menjelaskan tanpa ingin mengatakan beberapa fakta yang sudah disimpan seorang diri.


Jujur saja, rasa khawatirnya jauh lebih besar dibandingkan milik Rey. Saudaranya itu hanya tahu kebenaran dari pihak cafe yang sudah ia setting ulang. Maka dari itu kemarahan yang nyata harus dirinya rasakan agar semua aman terkendali. Entah kenapa feeling mengatakan bahwa kedua gadis itu saling bekerjasama.


Beberapa kenyataan memberikan stigma yang cukup meyakinkan. Bagaimana tidak curiga? Di kala Asma mengatakan tidak bisa bahasa asing, justru gadis itu fasih berbicara dengan bahasa asing. Lalu diamnya Fay, seperti tengah menyembunyikan jati diri yang barbar. Ia takut kepolosan sang adik berubah haluan.

__ADS_1


Untuk kali ini memang harus berpikir lebih tenang. Setidaknya bisa menjaga jarak untuk tetap menjaga kedamaian rumah. Tanpa membalas pembelaan dari Bagas. Rey meninggalkan ruang kerja. Langkah kaki yang malas menyusuri lantai nan dingin.


"Selamat untuk sementara waktu," Bagas mengusap dadanya seraya menghembuskan napas lega, ia berpikir situasi sudah aman terkendali. "Sepertinya aku harus memisahkan kalian berdua, tapi bagaimana? Satu sisi tanggung jawab dan sisi lain hubungan yang terikat."


Bagas mencoba mengurai setiap insiden yang bisa menjadi bahan acuan untuk rencana selanjutnya. Pria itu sibuk merenung hingga lupa untuk mencari tahu keberadaan Asma saat ini. Saking banyaknya pikiran yang mengusik akal, ia termenung duduk seraya menangkup wajah dengan kedua tangannya.


Sementara orang-orang yang mencuri perhatian dan waktunya tengah menikmati perawatan di salah satu pusat kecantikan yang terkenal dengan pelayanan yang memuaskan. Kedua gadis yang duduk di kursi hitam panjang hanya bisa pasrah dengan sentuhan tangan asing yang memberikan touch magic.


"Ka, apa tadi kamu perhatiin warna merah di leher si PeKo?" tanya Fay secara tiba-tiba yang langsung mengalihkan perhatian Asma hingga menoleh ke samping.


Seulas senyuman yang tersungging dibarengi tangannya yang terangkat dengan mengacungkan dua jari perdamaian. "Sorry, Ka. I means pelakor, tapi ribet manggilnya. So, aku singkat jadi PeKo saja. Mudah diingat dan diucapkan."


"Astagfirullah, Fay. Kamu ini, itu anak orang loh, masa main kamu ganti panggilan tanpa acara syukuran. Bikin tumpeng gih, baru sah." balas Asma tak ingin memikirkan serius keadaan yang ada, lagi pula Elora pasti sudah kapok dengan hasil kuah bakso mercon hari ini.


Namun tidak dengan pemikiran Fay. Ia percaya bahwa obsesi cinta yang Elora punya tidak padam semudah mengedipkan mata. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya adalah apakah si PeKo sudah bersuami? Warna merah yang terlihat jelas di leher wanita itu memberikan kecurigaan teramat besar.

__ADS_1


Jika itu terlihat di leher sang kakak. Tentu wajar saja, pasti kakak iparnya selalu memberikan nafkah lahir batin tanpa mengenal waktu. Itu justru bagus, apalagi kalau tiba-tiba mendapatkan kabar yang membahagiakan hati. Pasti keluarga lebih bersyukur mendapatkan anggota termuda dan ia menjadi aunty tercantik donk.


Asma mengibaskan tangan, membuat Fay menggelengkan kepala dengan pemikirannya yang lompat sana sini hingga menyandera emosi hati dan pemikiran yang jelas. "Gini loh, Ka. Sebenarnya pas aku kasih pelajaran ke si PeKo, beneran gak sengaja lihat tanda percintaan yang jelas banget dan kayaknya masih baru."


"Fay, jangan suudzon! Gimana kalau tuh anak masuk angin trus habis dikerokin? Yo bekasnya sama aja kaya habis ekhem. Jadi stay positive thinking aja." sahut Asma tak ingin memperpanjang perdebatan yang bisa mengalihkan ketenangan menjadi ketegangan.


Sadar akan kenyataan Fay memang benar adanya, tetapi tidak mungkin terus masuk ke dalam kehidupan si dokter. Posisinya mengharuskan untuk menjaga jarak agar semua aman terkendali. Ia juga sadar bahwa setelah semua yang terjadi, Elora pasti menyiapkan rencana lain. Harapan kecilnya semoga si PeKo sadar dan insyaf.


"Iyain deh, biar seneng." sungut Fay tak suka dengan sisi baik Asma yang lebih menjurus pada polos dan bisa mudah dibodohi. "Apa kakak bakalan biarin si PeKo bikin ulah lagi? Kok kesannya menyepelekan masalah yang ada ya ...,"


"Jangan memancing emosi yang tidak seharusnya, Fay. Semua berawal dari pikiran kita sehingga berubah menjadi refleksi kenyataan hidup. Apa yang kita yakini, belum tentu itu kebenarannya. Aku hanya ingin tenang dan jika nanti ada masalah. Bukankah ada keluarga yang saling mendukung?


"Kepercayaan juga bentuk dari salah satu tiang karakteristik. Suka atau tidak, pikiran dan hati selalu menyeimbangkan. Kita ada untuk satu sama lain dan jika keadaan berkata lain. Akan ku biarkan kamu melakukan hal yang dirimu anggap benar. Agree?" sambung Asma membuat Fay tersenyum pasti dengan pemikiran yang sudah travelling.


Persetujuan itu, tidak selalu tentang kata iya yang keluar dari bibir sang lawan bicara. Terkadang hanya seulas senyum sudah cukup menjelaskan. Perawatan berlanjut tanpa perdebatan. Keduanya menikmati sisa hari untuk mendapatkan healing ala orang kota. Meskipun harus duduk selama berjam-jam hingga kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2