Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 13: Kesendirian berujung Lamaran


__ADS_3

Dari aplikasi itu juga, Asma mendapatkan teman yang telah ia anggap sebagai adik dan lain sebagainya. Walau di dunia nyata begitu acuh, nyatanya sangat humble di dunia halu. Ironis, tetapi lebih baik.


"Akhirnya, tamat sudah. Bisa rehat sebentar, kopi enak kayanya." Gumamnya, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi favoritnya.



Inilah kesibukan Si Gadis Desa. Jangankan untuk keluar bermain bersama teman, sekedar mencari pacar online saja. Ia sudah tak berminat. Baginya dunia hanya untuk menulis, menulis, dan menulis. Hanya itu yang bisa memberikan kebahagiaan sederhana ala Asma.



Suara sendok yang berdenting menyebarkan aroma harum menggoda dari kopi buatannya. Aroma yang selalu memulihkan semangat. Apalagi ketika ide sudah buntu. Wajib minum kopi. Jadi, jangan pernah meremehkan filosofi kopi.



Hari ini, Asma sendirian di rumah. Entah kemana orang tuanya pergi, tadi pagi berpamitan untuk pergi ke pasar. Katanya mumpung Ayah lagi libur, jadi mau masak sendiri biar enak. Ketika sendiri, maka menulis bisa cepat mencapai target yang diharapkan.



Headphones yang selalu on, membuat gadis itu tidak mendengar suara ketukan pintu di depan sana. Kebiasaan yang buruk, tetapi hanya itu yang bisa membuatnya tidak terganggu oleh siapapun. Sekali lagi, terdengar suara ketukan pintu. Namun, masih tidak di dengar sang tuan rumah.



Tiba-tiba, jemari tangan berhenti berselancar di atas tuts. Sebuah panggilan asing masuk. Siapa yang menelpon tanpa permisi? Tetapi nomor yang tertera adalah nomor Indonesia. Yah, itu bukan nomor orang luar negeri. Mungkin teman ayahnya? Bisa jadi.



Digesernya icon hijau hingga membuat panggilan tersambung. "Assalamu'alaikum, maaf siapa?"



Hening.



Apa orang salah sambung, ya? Laungan salam pun, tidak mendapatkan jawaban. Bukan karena itu, tetapi yang mendengar suara lembut tengah terhentak kembali mengarungi alam bawah sadarnya. Suara yang dirindukan menyapa gendang telinganya.



"Jika tidak penting. Ngapain telfon? Bye." Sambung Asma bersiap mematikan telepon, tetapi jawaban salam dari seberang mengerutkan keningnya.


__ADS_1


Suara itu? Seperti tidak asing, tapi siapa? Entah kenapa terdengar tidak asing. Suara sapaan yang menanyakan kabarnya mengembalikan kesadaran. "Kamu siapa?"



\[Bukalah pintu! Lihat siapa aku.\]~jawab dari seberang, menghentikan detak jantung gadis itu sesaat.



Ada yang salah, tapi apa? Kenapa ia merasa was-was. Disisi lain, ia penasaran dengan orang yang kini terhubung di panggilan. Langkah kaki berjalan perlahan, tanpa kata. Asma menghampiri pintu depan rumah, lalu menarik kunci. Kemudian memutar knop. Panggilan masih berlangsung, hingga pintu ditarik ke dalam.



Seulas senyuman menghiasi wajah tampan yang berdiri di depannya. Reyhan Saputra! Kenapa kembali? Apa ada yang tertinggal? Tidak. Seingatnya, tidak pernah menemukan barang apapun yang berkaitan dengan Bagas. Apalagi pria yang menatapnya dengan lembut.



Rey mematikan ponselnya, lalu mengulurkan tangan. "Hey, apa kabarmu?"



"Hmm. Baik, masuklah." Jawab Asma tanpa menyambut uluran tangan sang pria, gadis itu melepaskan headphones dari kepalanya.


Kedua tangan saling bersentuhan. Hangatnya tangan Asma bersambut dinginnya tangan Reyhan. Aneh, kenapa pria itu seperti keluar dari kulkas. Apa di luar rumah berubah hujan salju? Ada-ada saja. Di Indonesia, khususnya Jawa karena yang ada hanya hujan deras di musim penghujan.



"Ekhem! Bisa lepaskan? Aku tidak mau jadi patung penjaga." Sindir Asma begitu santainya, tetapi pria di depannya semakin melebarkan senyuman.



Memangnya sekarang ini, hari apa? Kenapa begitu membingungkan. Kedatangan Reyhan yang mendadak, dan sikap pria itu begitu aneh. Tatapan matanya terus saja jatuh ke dalam bayangan nyata. Tak ingin menjadi bahan omongan tetangga. Asma mencoba melepaskan tangannya sendiri.



Mau, tak mau. Ia harus menggunakan tangan lain untuk melepaskan tangan Rey yang terus menggenggam tangannya. Ditengah usahanya, pria itu mengambil sesuatu dari balik saku celananya. Kilauan yang terpantul dengan sinar bias mentari mengalihkan perhatian Asma.



Sebuah cincin yang menjadi jarak di antara keduanya. Tatapan mata saling bertaut, semakin lama, semakin dalam. "Asma, kedatangan ku pagi ini hanya untuk bertanya satu hal padamu. Apakah kamu bersedia menjadi istri dan kelak menjadi ibu dari anak-anak ku?"


__ADS_1


Apa?! Rasanya seperti hujan deras di gurun pasir. Terik matahari berganti dinginnya tetesan air. Apa telinganya tidak salah dengar? Asma menatap intens pria yang terus menatap tanpa berkedip. Wajah serius dengan senyum yang tak luntur. Seketika hatinya berdesir. Pria itu mengingatkan dia akan kekurangan dalam dirinya.



"Apa kamu masih waras, Tuan?" tanya Asma menaikkan alisnya, tidak habis pikir. Kenapa pria itu menginginkan dia sebagai istri. "Tuan terhormat, gadis ini tidak baik. Jadi ....,"



"Stop!" Rey menghentikan penolakan tanpa dasar dari gadis itu.



Dia tahu, gadis itu akan berusaha untuk mengubah keputusannya. Tidak. Setelah berpikir segala sesuatunya. Hari ini keberanian datang mengetuk pintu hatinya, maka ia datang mengetuk pintu rumah yang ingin dijadikan sebagai pelengkap kehidupannya. Namun, menaklukkan hati Asma ternyata tidak semudah yang dia bayangkan.



Reyhan menghela nafas, caranya tidak benar dengan berkata lebih keras hingga Asma tersentak. "Terakhir kali, kamu mengatakan banyak hal, tapi hari ini. Giliranku, jadi dengarkan!"



"Aku tidak tahu, bagaimana sifat, sikap dan keseharian mu. Aku juga tidak tahu, apa kesukaan serta kebencian yang menjadi benteng pertahanan diri untuk di dekati. Satu yang ku tahu, aku ingin menjadi bagian hidupmu. Hanya itu. Apa salah? Jika iya, katakan aku harus apa."



Menusuk, bahkan rasanya begitu sesak. Ingin menjawab, tetapi bibirnya kelu. Apa yang harus dia lakukan? Rey begitu keras kepala. Pria itu benar, tapi tidak dengan sudut pandangnya. Apakah harus mempertimbangkan perasaan pria di depannya itu? Tidak. Pria itu terlihat baik, sedangkan dia bukan gadis yang baik.



"Asma! Aku ingin jawaban." Rey menggenggam tangan si gadis desa dengan kasih sayang. Ia ingin, gadis itu merasakan kesungguhan hatinya. "Kamu bisa menolakku, tapi berikan satu alasan yang akan diterima hatiku."



Bingung. Sekarang bukan tentang menerima atau menolak. Ada yang tidak bisa ia katakan. Sebuah kenyataan yang membuat dirinya membentengi diri dari kaum adam. Bukan tidak ingin menikah, tetapi apakah pria yang datang padanya. Siap menerima kekurangan yang tak seorangpun tahu?



"Anda terlalu gegabah, Tuan. Jika dengan berkata jujur, maka itu akan menyadarkan Anda. Siapa aku sebenarnya, maka dengarlah." Asma menatap Rey begitu dalam, ia ingin pria itu tahu. Saat ini, tidak ada yang disembunyikan lagi. "Aku adalah gadis, tetapi .....,"


Rey terkesiap. Hatinya berdenyut, ia sadar dan pendengarannya tidak bermasalah. Apakah itu benar? Kenyataan yang mengejutkan, tetapi hati dan pikiran tetap teguh pada pendirian. Tak ingin mengulang kesalahan.


"Masa lalumu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa terpisahkan." Rey menatap Asma lebih dalam lagi, meyakinkan gadis itu akan keseriusan yang dia miliki. "Menikahlah denganku, Asma. Jadilah istri Reyhan Aditya. Apa kamu bersedia?"

__ADS_1


__ADS_2