
Benar juga apa yang dikatakan Nau, cuma merasa kehilangan. Biasanya pasti ada kabar, walau hanya sekedar dari story whatsapp yang berisi konten video promo novel, makanan, atau sesekali emoji gambar yang mengekspresikan emosi seorang Asma. Merasa tak akan semudah itu mendapatkan balasan, Fay memeriksa ponselnya kembali.
Baru saja centang dua pesannya itu berubah terang yang berarti sudah dibaca. Akan tetapi, kenapa belum dibalas? Jika hari biasa dan gak menghilang, masih wajar, sedangkan ini situasinya berbeda. Ingin bersabar, tapi lebih baik mengirim pesan sekali lagi.
[Ka, apa kabar? Tumben gak main ke gc. Lagi sibuk, ya?]
Pesan yang jelas, singkat dan padat. Fay menunggu hingga pesan kembali dibaca. Centang dua bahkan langsung berwarna biru. Jika tidak dibalas. Apa saking sibuknya atau gimana? Heran aja, baca chat darinya tapi cuma didiemin gitu aja. Apalagi pekerjaan paling membosankan adalah menunggu.
Melihat wajah kakak sepupunya yang semakin tidak enak dipandang. Nau mengalihkan perhatian ke sekitarnya. Dimana sepanjang hanya ada pepohonan dan jarang sekali yang namanya tempat untuk sekedar memesan makan. Namun, di depan terdapat rest area dengan view yang indah.
Sekalian istirahat. Nau berpikir untuk mengajak yang lain makan bekal dari rumah. Setidaknya bisa mengurangi ketegangan yang ada, sontak ia mulai mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Kemudian berhenti di bawah pohon kelapa di pinggir jalan, lalu melepaskan sabuk pengaman.
"Ayo turun! Satya, bisa turunin paper bag biru? Kita istirahat sejenak." Nau membuka pintu mobilnya, lalu menoleh menatap Fay. "Ifiii! Turun, kita lihat pemandangan sekitar. Gue yakin loe bakalan suka."
Bukannya ingin menolak, tetapi tiba-tiba moodnya berubah drastis. Sayangnya, Nau tidak mau mendengarkan penolakan. Suka, tidak suka. Mereka berempat turun dari mobil, dan diikuti oleh dua mobil lain yang merupakan sahabat Nau juga. Jumlah dari rombongan hanya sebelas orang.
Dari semua orang yang bukan masuk anggota untuk acara liburan kali ini hanyalah Fay. Bagaimana cara Nau membawa kakak sepupunya itu? Semua sudah diatur sedemikian rupa. Namun, dibalik semua itu, hanya Nau yang tahu tugasnya demi keluarga.
Semua orang duduk berkumpul di gazebo yang tersedia. Semilir angin sejuk dengan pemandangan hijau bercampur kabut. Benar-benar view yang epik, bahkan beberapa anak sibuk selfie dan juga bercanda gurau satu sama lain. Kecuali Fay yang memilih duduk seorang diri dengan tatapan dalam ke depan sana.
__ADS_1
"Minum!" Sebotol soda menggantung di depan wajah, lalu duduk di sebelah kakak sepupunya. "Diammu, apa karena Ka Asma atau Fatur si penyiar radio?"
"Bukain," Botol dikembalikan, rasanya enggan membuang tenaga di tengah terik matahari yang tidak sepanas seperti biasanya. Setelah mendapat botolnya kembali, sesaat meneguk menikmati kesegaran dari minuman yang seringkali dia hindari.
Sepertinya, Nau akan memberikan banyak hal baru selama perjalanan. Semua itu bisa dilihat dari contoh kecil, seperti sebotol soda yang kini tergenggam di tangannya. Sementara, saat berkumpul di rumah. Pasti yang disodorkan minuman sejenis yogurt.
"Ififay Aurelia Raharja! Gue nunggu jawaban nih," ujar Nau menahan nafasnya dengan lirikan mata sekilas.
Seulas senyum tersungging, tetapi langsung pudar menghilang tak berjejak. "Trus? Apa lupa pertanyaan dariku? Baru tadi loh, udah lupa beneran."
Sabar. Bisa jadi jiwa tom and jerry keduanya keluar. Jika tidak mau mengalah. Mau, tak mau, lebih baik mengalah. Dikeluarkannya ponsel yang sudah bersemayam di saku celananya. Kemudian mengacak isi gallery hingga menemukan yang dibutuhkan, lalu menunjukkan ke Fay.
Belum juga melihat lama, ponsel sudah disingkirkan dari pandangannya. "Jangan bilang, Mami dan Papa minta kamu buat comblangin aku ama nih cowok. Nau, selain sebagai saudara, kamu juga sahabatku. Apa harus menjelaskan seperti apa diriku?"
Sakit, rasanya seperti tertusuk tanpa jarum. Memang benar yang dikatakan Fay, tapi kehidupan mereka bukan hanya tentang sahabat, atau saudara. Masih ada hubungan lain yang harus dihargai dengan segala kesadaran.
Apa salah, jika orang tua mau masa depan yang terbaik untuk anak perempuan mereka? Mungkin Fay sudah move on dan mencoba untuk mendapatkan pasangan yang tepat. Akan tetapi, orang tua keduanya ingin segera membebaskan rasa patah hati itu dari kehidupan sang putri.
"Ifii, gue gak mau jadi penghalang kebahagiaanmu. Sebenarnya, Mami dan Papa izinin gue bawa loe ke luar kota hanya untuk meyakinkan. Setelah pulang nanti, loe mau dijodohkan sama pemuda itu."
__ADS_1
"Masalahnya, orang yang loe anggap konyol dengan status pekerjaannya itu adalah calon pilihan orang tua kita. Secara tidak langsung, Fatur akan menjalankan ta'aruf denganmu. Sorry, gue gak bisa nyembunyiin ini lebih lama."
Luar biasa, wow. Tidak ada kata lagi yang bisa keluar dari kerongkongan. Rasanya speechless. Kejutan yang tidak terduga. Fatur? Si penyiar radio yang suka melakukan calling lucky bakalan jadi calon ta'aruf. Apa tidak salah dengar. Tidak habis pikir dengan kebenaran itu.
"Jadi, menurut adik sepupuku. Apa cowok itu bisa menuhin standar kriteria seorang suami untuk kakak sepupunya?" Fay mengalihkan perhatiannya menatap Nau dengan tatapan nanar, "Okay, Aku terima dengan satu syarat."
Merinding setiap kali mendengar kata syarat. Kebiasaan para wanita, ngasih tantangan atau keputusan itu gak tanggung-tanggung. Kalau cuma di suruh push up masih ok, kadang bisa lebih ekstrim. Meskipun tidak akan membahayakan nyawa sih. Apapun syaratnya harus diterima karena janjinya untuk Mami dan Papa yang sudah berubah menjadi tanggungjawabnya.
Fay paham, jika diamnya Nau adalah persetujuan. "Aku mau jalan-jalan sendiri, tanpa ada pengawal atau antek-antek yang suka ngegodain cewek. Setuju?"
Pengawal atau antek-antek? Apa maksudnya, begitu Fay mengerlingkan mata ke belakang. Sontak saja Nau ikut menoleh ke belakang. Dimana para sahabat masih sibuk, tetapi tiga pemuda seperti cacing kepanasan. Ternyata sahabatnya sendiri tebar pesona dengan cara nyleneh.
Pantas saja, Fay merasa tidak nyaman. Untung saja, semobil dengan orang waras yang kebetulan juga mengajak saudari kembar. Meski Widya memang memiliki tugas yang sama karena seangkatan dengannya. "Gue gak bisa lepas loe di Jakarta sendirian. Bukan karena gak percaya, tapi di sini loe sepenuhnya tanggungjawab gue. Kecuali, loe ada temen yang bisa gue percaya."
Gagal sudah rencananya. Apa salahnya jalan-jalan sendiri? Gak bakalan jauh atau tiba-tiba pindah negara juga. Namun, mengingat benar yang dikatakan oleh adik sepupunya. Yah mau tak mau lebih baik menurut, lalu berpamitan kembali ke mobil. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Sudah gagal bukan?
Lima belas menit kemudian.
Fay kembali menghampiri Nau yang sudah duduk bersama teman-temannya. "Bagaimana dengan Ka Asma? Apa bisa dipercaya?"
__ADS_1