
''Ok, lets go.'' jawab Nau kembali mengendarai motor kesayangannya.
Perjalanan kali ini, membawa keduanya dalam kebersamaan. Namun, Nau masih terdiam dalam angan. Pemuda itu menikmati rasa sakit berteman gerimis yang mengundang. Sesak di dada dengan kesendirian. Tidak ada kata tanpa tujuan.
sementara itu, di tempat lain. Bagas baru saja keluar dari ruang meeting. Pria itu akhirnya bisa bernafas lega. Kontrak kerjasama dengan keempat klien nya kali ini,berjalan sebagaimana mestinya. Niat hati ingin langsung pulang, tapi ekor matanya melihat seorang wanita yang duduk termenung di ruang tunggu kantornya.
Wanita itu tidak seharusnya ada disini, tetapi jika datang. Pastinya ada sesuatu yang sangat penting atau mungkin mendesak. Dihampirinya wanita dengan penampilan dokter pada umumnya. Tatapan mata yang sejurus terpaut padanya.
''Hey, Dok. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Bagas kembali mempersilahkan dokter itu untuk duduk, lalu ia ikut duduk di sofa lain yang berhadapan.
Tatapan mata saling bertautan. Keduanya terdiam hingga wanita itu merasa bosan. Ditunjukkannya sebuah pesan yang baru satu jam diterimanya. Pesan yang ternyata sebuah undangan terbuka untuk acara resepsi dari Reyhan Aditya. Tidak ada reaksi apapun dari Bagas. Pria itu justru tersenyum tipis. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang.
''Apa yang kamu pikirkan?" Bagas menatap wanita di depannya tak berkedip. ''Datanglah. Aku pastikan, jika pesta kali ini tak terlupakan.
Setelah mengatakan apa yang seharusnya. Bagas meninggalkan wanita itu dalam kesendirian lagi dan kepalan tangan. Langkah yang ringan terus berjalan menyusuri lorong yang tak sepanjang jalan kenangan. Alih-alih menjadi seorang penenang. Ia memilih menjadi pendendam. Apapun yang dia lakukan, untuk kebaikan.
Ini bukan karena ia cemburu apalagi merasa iri. Ia hanya tidak ingin ada pengganggu baru dalam kehidupan sang sahabat. Wanita di dalam sana adalah seorang dokter dengan segudang prestasi, tetapi minus akan perilaku. Alias penggoda yang ulung. Jijik? Tidak. Ia hanya merasa, Rey terlalu berharga untuk bersanding dengan wanita semacam itu.
__ADS_1
Jika menengok ke belakang. Ada masa, dimana Rey harus bekerja di rumah untuk menghindari kejaran sang dokter spesialis anak. Sebenarnya cukup aneh, ketika profesinya adalah khusus menangani anak-anak. Wanita itu justru lebih kekanak-kanakan.
Entah sudah berapa lama menunggu, bahkan terus mengejar tanpa rasa letih. Maka dari itu, ia sengaja menjodohkan Asma agar bisa mengalihkan Rey pada dunia nyata dan tentu tidak ada lagi yang akan mencoba untuk merebut. Wow, strategi yang tepat sasaran. Sepenggal kenangan kembali datang mengetuk ingatannya.
"Nando, apa kamu masih waras?! Maksain gadis cuma buat jadi pacar aku. Dimana pikiran kamu, hah!" Seru Rey murka begitu pulang di pagi harinya, tentu saja tak bisa berdiam diri, lagi. Setelah semua yang dikatakan Asma. "Bagas Fernando, are you listen me?"
Seruan sahabatnya diabaikannya. Ia sibuk membereskan pakaian kotor ke dalam tas, lalu mengambil semua barang miliknya agar bisa dikemas sekalian. Setelah beberapa saat, akhirnya rapi sudah. Barulah mengalihkan perhatian pada pria yang masih berdiri di ambang pintu hotel dengan tatapan tajam menusuk.
"Kenapa masih diam berdiri di pintu?" tanya Bagas dengan langkah kaki berjalan menghampiri Rey. Tatapan mata saling beradu, rahang mengeras dengan bibir terkatup rapat. "Aku mendengarkan semuanya. Kamu tidak suka dengan caraku bukan? Sesuai kesepakatan, potong saja gajiku. Aku tak apa."
Bukan ini poin yang akan dibicarakan Bagas. Akan tetapi, ia harus memberikan pelajaran pada Reyhan sahabatnya. Jika di dunia ini, tidak selalu mendapatkan kesempatan kedua. Termasuk mendapatkan jodoh yang tepat. Ia ingat dengan perkataan Asma yang berhasil disadap saat semalam.
Maka, ia memutuskan untuk sedikit membuat drama terakhir. Satu sisi ia siap kehilangan pekerjaan, dan sisi lain ia sadar. Rey telah jatuh cinta pada pandangan sederhana. Tidak masalah, jika sahabatnya masih tidak menyadari itu, tapi sebagai seorang sahabat sekaligus keluarga. Tentu tugasnya untuk menyadarkan.
Rey mengusap wajahnya kasar, "Kenapa kamu gak paham. Asma merasa tertekan dengan permintaanmu. Menjalin hubungan bukan seperti meminta permen atau hanya sekuntum bunga. Okay, niatmu baik, tapi lihatlah. Diluar sana, gadis itu mengalami ketidaknyamanan atas keras kepalamu. Aku tidak ingin, kita membuat orang lain kesusahan."
Sisi lembut Rey yang jarang ditunjukkan. Sayangnya, sahabatnya itu belum melihat sisi yang sama dari dalam diri Asma. Jika ini hanya tentang taruhan potong gaji. Tentu ia tidak akan keras kepala. Semua ini hanya tentang takdir yang menurutnya akan saling melengkapi ketika sudah disatukan.
__ADS_1
"Rey, aku tunggu kamu di lobi. Tidak ada perdebatan lagi tentang ini, puas?" Bagas berbalik menyunggingkan seulas senyum tipis, "Apa pentingnya bagimu. Jika Asma akan menikah dengan pria mana. Toh, sahabatku tidak memiliki perasaan apapun. Setidaknya, aku sudah berusaha agar bisa memberikan kebahagiaan yang layak untuk gadis itu."
Langkahnya berjalan kembali menghampiri tempat tidur. Menyambar tasnya dan juga ponsel dari atas nakas, "Aku lupa mengatakan satu hal. Elora mengabari ku semalam. Dia akan mengajak papanya untuk melamarmu begitu kembali ke Jakarta. Good luck, Bro."
Satu nama yang sangat tak ingin ia dengarkan. Kenapa di saat moodnya memburuk. Justru Bagas memberikan berita yang tidak baik? Elora bukan wanita yang bisa dikasihani, tetapi harus dihindari seumur hidupnya. Bagaimana bisa, disaat situasi tidak mengenakkan. Malah kembali mengingat hal paling tak berharga.
"Nando!" Panggil Rey, membuat Bagas berbalik kembali menatapnya. "Apa kamu yakin dengan pilihanmu? Maksudku adalah ....,"
Sangat paham kemana arah pembicaraan sang sahabat. Bagas mengangguk tanpa ragu dengan senyuman terbaiknya menghiasi wajah. Untuk pertama kalinya, ia tak memiliki rasa takut atas keputusan yang diambil untuk kehidupan saudaranya. Bagi kehidupan, dia dan Rey satu. Sahabat sekaligus saudara.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, kamu tahu. Penilaian ku pada Asma sangat complicated. Dia bukan gadis seperti yang biasa kita temui di kota. Tatapan matanya berkata apa dan bibirnya berkata lain. Seulas senyum tertahan, tapi nyata. Terlalu sederhana, tapi rumit. Bagaimana aku menjelaskan isi pikiranku?"
Dilema dalam kata-katanya sendiri. Emosi yang tercampur seperti makan nasi gudeg dengan banyak lauk pauk. Jelas bingung, mau menyuap makanan yang mana dulu. Rasa itu jelas mengubah seluruh ketidaksepakatan menjadi persetujuan. Rey jatuh cinta pada karakteristik Asma yang unik.
"Reyhan Aditya. Cinta tidak membutuhkan kata, tapi pembuktian. Asma tidak membutuhkan cinta, tapi kepastian. Apa kamu paham? Sekarang putuskan. Siapa yang akan menjadi pilihanmu. Elora dengan sistem belenggunya atau Asma dengan kesederhanaan. Ini hidupmu, so you can make best choices."
Pada hari itu, Rey memilih keputusan terbaik. Meminang Asma dan siap menerima gadis itu apa adanya. Sulit? Tentu tidak semudah ucapan yang keluar dari bibir, tetapi keputusan itu adalah awal kehidupan yang baru. Kenangan yang indah dalam pencapaian meluluhkan kesendirian sang sahabat.
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan pernikahan ke-dua saudaraku dalam dilema pihak orang ketiga. Sepertinya, aku harus bersiap untuk menyingkirkan Elora." gumam Bagas kembali pada masa kini, tangannya yang sibuk menyetir membuat pria itu tidak sempat memeriksa ponselnya yang terus saja menyala.