
Hadiah dan bisa memilih apapun yang ia inginkan. Sangat adil, tak ingin kehilangan kesempatan yang bisa menjadi kenang-kenangan. Tentu semangatnya bertambah, meski terbiasa mengalah selama ini, tapi tidak untuk kali ini. Demi secercah harapan, Bagas harus dikalahkan.
Biasanya ketika menyangkut dunia perhackeran. Dirinya secara suka rela membiarkan Bagas yang menjadi juara utama, bukan karena menghindar, tetapi hanya untuk menikmati duduk di bangku penonton menyaksikan penghargaan yang tergenggam pas di tangan sang sahabat. Itu sudah cukup baginya.
Pertarungan selama sepuluh menit dengan ketegangan yang menuntut. Akhirnya berakhir dengan kembalinya seluruh data yang hampir saja terlepas dari pantauan. Laptop masih duduk manis di pangkuannya, lalu menoleh ke samping, tetapi istrinya sibuk melakukan sesuatu di ponsel.
"Istriku! Lihatlah, rekaman sudah aman. Apa yang mau kamu lihat?" Rey merebut benda pipih dari tangan sang istri, sehingga tatapan mata saling bertemu. "Katakan! Aku akan tunjukkan padamu."
"Rekaman makan siang setelah kita pergi meninggalkan ruang makan." Asma merebut kembali ponselnya, tetapi karena tak seimbang mengakibatkan tubuhnya tumbang ke depan.
Rey dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke belakang, untung saja ada dirinya. Jika tidak, sudah pasti nyungsep mencium lantai. "Pelan-pelan saja, Butterfly. Rekaman tidak akan terhapus selama sistem diaktifkan."
"Hmm, tunjukkan saja isinya. Aku memerlukan konfirmasi apa yang sebenarnya terjadi." tegas Asma memposisikan diri duduk di sebelah Rey.
Rasa tidak sabar sang istri, benar-benar patut diakui. Jika ada masalah, atau hal tidak beres. Pasti langsung bertindak mencari tahu apa yang terjadi. Seketika ia berpikir, apakah masalah Elora masih dianggap belum berakhir? Jika iya, bisa jadi menghadirkan masalah baru.
Rekaman CCTV diputar. Asma sibuk memperhatikan secara seksama. Dimana kedua insan beda usia duduk saling berhadapan dengan suapan makanan yang pelan. Awalnya hanya diam hingga Fay memulai percakapan. Gadis itu menanyakan apa yang salah dengannya, tetapi Bagas menjawab tidak ada.
Hening kembali selama beberapa waktu. Di saat menikmati makanan penutup, Bagas masih berusaha melirik ke arah Fay. Entah keberanian dari mana hingga satu pertanyaan yang juga pernyataan menghentakkan suapan puding buah yang baru saja masuk ke dalam mulut. Saat itulah, Fay tersedak. Sontak Asma menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Butterfly, apakah yang dikatakan Nando benar? Fay punya pacar?" Rey bertanya tanpa memikirkan apa hasilnya, memang wajar sih, cuma terlalu cepat mengambil spekulasi.
Bagaimana tidak? Baik Rey atau Bagas belum tahu siapa Fay. Tiba-tiba saja bertemu dan beberapa kejadian menghadirkan kesimpulan yang begitu kontras. Jangankan untuk menyelidiki, bertanya saja lebih menjurus ke pernyataan pasti. Seperti yang dilakukan Bagas.
Pria itu dengan santai seperti menikmati angin pantai mempertanyakan, sekaligus memberikan peringatan untuk menjauh dari keluarganya. Asma mengulang rekaman untuk melakukan rekaman melalui ponselnya. Suara yang begitu jelas hingga mengharuskannya beristighfar berulang kali.
"Tentukan hadiahmu, Aku permisi ke luar dulu." Asma beranjak dari tempat duduknya, dan tanpa menunggu jawaban dari Rey, langkah kakinya sudah menjauh.
Seperti hembusan angin yang terus menari mengitari seluruh tempat. Begitu juga dengan gadis satu itu. Tak ingin menambah kesalahpahaman yang ada. Ia mencari keberadaan Bagas. Pria itu harus paham sesuatu agar tidak berbicara asal lagi. Jangan sampai berpikir sama seperti ke dirinya dulu.
Entah kebetulan atau apa. Bagas baru saja muncul dan mulai menaiki anak tangga. Melihat itu, ditariknya tangan sang kakak tanpa permisi. Meski terdengar protes, tetap saja ia abaikan hingga keduanya kembali masuk ke dalam taman, tetapi kali ini tidak menutup pintu kaca yang terbuka setengah.
[Apa niatmu datang kemari? Bukankah pacarmu ada. Kenapa ingin menjadi bagian masalah keluargaku? Pulanglah dan hidup bahagia dengan kekasihmu itu.]
Rekaman yang menusuk. Bahasa kasar dan tidak memiliki pertimbangan. Bagaimana tidak menahan emosi, jika ada yang bicara sesuka hati tanpa tahu apapun tentang kehidupan seseorang. Tidak habis pikir dengan dinginnya hati sang kakak. Untung saja Fay masih bungkam. Jika tidak?
Bukan tidak mungkin, Bagas sendiri yang akan menyesal. Ia tak bermaksud untuk menyepelekan perlindungan dari kakaknya itu. Hanya saja, apa susahnya untuk menghargai orang-lain yang memang memiliki peranan penting dalam kehidupan mereka? Fay saja tidak meminta pertemuan dengan situasi yang rumit.
"De, bagaimana kamu bisa dapat rekamannya?" Bagas serius bertanya, tetapi Asma hanya menatapnya dengan serius. "....,"
__ADS_1
"Ketika matahari bersinar terik di atas sana, maka semilir angin berhembus menghantarkan kesejukan. Sayangnya, Tuan satu ini terlalu naif. Apa Ka Bagas sadar dengan semua pertanyaan yang menjadi pernyataan sekaligus? Ucapan kakak terlalu frontal. Fay itu wanita, apa seorang wakil CEO lupa hal sederhana ini?"
Kemarahan yang jelas. Emosi yang menggebu-gebu, tetapi masih dalam batasan. Sesaat merenung memikirkan ucapannya yang terlepas begitu saja saat di meja makan. Ingatan yang begitu segar menunjukkan wajah Fay yang tersentak dengan kerjapan mata mencoba menahan diri untuk tidak mengucapkan jawaban. Apa dirinya keterlaluan?
Sentuhan tangan yang menepuk dadanya kembali menghantarkan kesadaran. "Kamu itu seorang pria, Ka. Jaga ucapan dan tindakan. Jika lidah bisa setajam belati, pastikan satu kata yang keluar tidak menyayat hati orang lain. By the way, Fay masih single. Pemuda yang bersamanya adalah adik sepupu."
Skakmat. Malu? Bukan, tetapi merasa bersalah dengan ucapannya yang memang berlebihan. Bagaimana bisa menyimpulkan semua dalam sekali waktu tanpa melakukan penyelidikan. Heran dengan sikapnya yang begitu frontal. Apakah semua yang terjadi akibat tekanan masalah dalam keluarganya?
Asma pergi meninggalkan taman. Gadis itu membiarkan Bagas merenung atas kesalahannya sendiri. Sekarang tanggung jawabnya masih ada satu lagi yaitu meminta maaf pada Fay atas sikap sang kakak ipar. Ia tahu, jika Bagas hanya berusaha melakukan kewajiban untuk menjaga keluarga dan itu bisa dimaklumi.
Tidak berniat untuk membela salah satunya. Baginya, baik Fay atau Bagas memiliki tempat masing-masing. Tidak untuk dinilai atau untuk diasingkan. Seperti dugaannya, Fay tengah duduk di kursi depan jendela dengan pintu kamar yang sedikit terbuka. Tatapan mata fokus ke luar jendela dengan sorot mata berselimut cairan bening.
"Assalamu'alaikum, Fay. Boleh masuk?" Asma mengucapkan salam yang menggantikan suara ketukan pintu hingga membuat Fay buru-buru mengusap setitik air mata yang hampir membasahi pipi.
Seulas senyum tipis menyambut, "Waalaikumsalam, Ka Asma ini, masuk saja! Siapa yang akan melarang? Ada apa, Ka?"
Langkah kaki tak lagi merasa beban ketika mendapatkan izin untuk masuk karena bagaimanapun harus menghargai privasi seorang tamu. Meski itu keluarga sendiri. Tanpa menunggu lama, ia duduk dengan memilih posisi yang nyaman. Duduk berhadapan tanpa saling memandang.
"Fay, aku tahu sikap Ka Bagas keterlaluan. Jika mungkin maafkanlah, dia memang kaku dan selalu bertindak spontan." Asma berusaha untuk menghilangkan rasa bersalahnya karena lalai menjaga suasana rumah dan perasaan semua orang yang ada dirumahnya, terutama Fay yang notebene memang belum mengenal orang rumah.
__ADS_1