Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 67: Keputusan Final


__ADS_3

Kecemasan yang nyata hingga rambut panjang gadis itu perlahan mulai tersingkap. Mata yang berkedip dengan netra hitam jernih tegas, tetapi sipit. Tidak chubby, namun wajahnya cantik alami. Tiba-tiba getaran hati tak menentu, apa yang terjadi? Kenapa perasaannya menjadi bercampur aduk.


Di saat bersamaan, beberapa anak ikut berlarian keluar rumah. Mereka juga khawatir, sepertinya mendengar suara mobil yang berputar hingga menimbulkan kebisingan sesaat. Anak-anak muda berjumlah lima orang hanya fokus pada gadis di depan Bagas.


Seorang pemuda yang berpenampilan casual langsung memeriksa kening si gadis dengan cemas. Tatapan mata itu menjelaskan segalanya. "Ifii, Loe gak papa?"


"Heem. See," jawab Fay yang memang baik-baik saja.


Entah kenapa orang-orang berlebihan. Dia berdiri dimana dan mobil dimana. Jaraknya saja cukup aman, mungkin sedikit shock, tapi detak jantungnya sudah kembali normal. Wajar sih kalau menjadi ketegangan. Akan tetapi, semua baik dan akan tetap baik.


Sebenarnya ia keluar rumah juga untuk menunggu jemputan. Niat awalnya begitu karena Ka Asma sudah mengirim pesan dan mengatakan saudara iparnya akan datang tepat waktu. Tempat pertemuan yang ditetapkan oleh kakak online mengubah jadwal anak-anak yang seharusnya sudah pergi untuk tugas.


"Syukurlah, maaf atas keterkejutannya." Sahut Bagas kembali menetralkan rasa bersalahnya, "Apa kalian tinggal disini? Tahu rumah Abah Rojali?"


"Tuan, ini rumah Abah Rojali. Mau saya panggilkan?" Widya menawarkan, ia hanya ingin suasana kembali baik.


Pernyataan itu, membuat Bagas mengambil ponselnya. Lalu memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Asma, "Apa di antara kalian ada yang bernama Ififay?"


Satu pertanyaan dari Bagas. Cukup menyentak kesadaran anak-anak, tetapi tidak dengan Naufal. Pemuda itu maju selangkah, kemudian ikut mengambil ponselnya. Tanpa penjelasan, ia mendial nomor yang dikirimkan oleh Fay. Sesaat hanya kesunyian hingga suara dering ponsel saling bersahutan.


Rupanya pria di depannya adalah orang yang mereka tunggu. Terutama Fay karena kakak sepupunya itu, benar-benar tidak sabar menikmati kota Jakarta tanpa pengawasan. Bagaimana ia menolak? Jika sekarang semua syarat akan terpenuhi tanpa ada keraguan. Ternyata Ka Asma ada di Jakarta.


"Ififay," Nau menoleh ke belakang seraya mematikan panggilan, "Dimana Ka Asma?"


"Nau! Ka Asma ada ditempat lain, dia datang untuk mengantarkan kita ke sana." Jawab Fay tak ingin menambah ketegangan yang ada.


"Satya, Loe ikut gue dan yang lain, kalian ke lokasi dulu!" Balas Nau dengan keputusan finalnya, "Anda, silahkan di depan, tapi kami akan menggunakan mobil sendiri."

__ADS_1


Tidak ada perdebatan. Sekali melihat, Bagas paham akan situasi yang ada. Pemuda yang merupakan team leader hanya ingin mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Wajar karena itu merupakan bentuk tanggung jawab. Akan tetapi, satu pertanyaan yang tiba-tiba saja menghampiri hatinya. Apa pemuda itu dan Fay adalah sepasang kekasih?


Terlihat serasi dan gaya komunikasi saling menekan tanpa ada paksaan. Persis seperti kekasih yang merasa berhak untuk saling memutuskan. Apapun itu, sudahlah. Sekarang lebih baik mengantarkan tamu pada tempat yang tepat. Jika tidak, bisa saja saudaranya merasa cemas karena penantian panjang.


Bukan jawaban yang didapatkan Nau, tetapi kepergian Bagas dengan langkah kaki yang menjauh. Sepertinya pria satu itu memiliki sifat arrogant. "Ifii, Satya. Ayo!"


Seperti yang diinginkan oleh Naufal. Mereka pergi ke Hotel Venus, tetapi dengan dua mobil yang berbeda. Suka atau tidak, itu sudah menjadi keputusan yang telah disepakati tanpa perdebatan. Berkelana menyusuri jalanan kota dalam ketenangan, sedangkan di tempat penantian sibuk dalam gangguan.


Rey berusaha membujuk istrinya agar mau ikut ke ruangan rapat sembari menunggu, tetapi gadis itu tetap menolak. Bagaimana meninggalkan Asma sendirian? Sementara para teman yang dinanti masih dalam perjalanan. Tentu tidak tega, namun para dewan menunggu kedatangannya di ruangan lain.


"Butterfly, cobalah pahami keadaanku." Pinta Rey mengeratkan genggaman tangannya, "Bagas pasti mengabari, tapi sekarang kamu ikutlah bersamaku."


"Mas, Aku tidak pergi kemana-mana." tolak Asma untuk kesekian kalinya, bukan karena merasa tidak pantas. Namun ia merasa belum waktunya untuk menunjukkan jati diri sebagai istri Reyhan Aditya.


Ketika lingkungan dalam hidupnya masih tentang keluarga, maka bisa beradaptasi dengan kasih sayang. Akan tetapi ketika lingkungan sudah berubah menuju khalayak umum. Ia harus tahu bagaimana cara menjaga sikap. Semua hal yang tidak dipahami harus dipelajari.


"Seperti keinginanmu, tapi tetap di ruangan!" putus final Rey bersambut senyuman manis sang istri.


Keputusan yang memberikan kebebasan. Tentu itu lebih baik karena dengan tidak ikut ke ruang rapat, maka ia bisa melakukan pekerjaannya. Ia tak ingin mengurangi waktu lebih lama lagi. Setelah membenamkan kecupan kening perpisahan, Rey pergi meninggalkan ruangan VVIP Anggrek.


Pria itu memasuki ruangan lain yang ternyata ada di sisi kiri ruangan istrinya berada. Tanpa permisi membuka pintu yang langsung di sambut para anggota dewan. Semua kembali dipersilahkan untuk duduk ke tempat masing-masing. Seperti biasa, rapat di mulai dengan pembukaan yang langsung pada pokok permasalahan perusahaan.


Diskusi yang langsung pada point merupakan hal terbaik agar meminimalkan terbuangnya waktu yang berharga. Selama dua puluh menit, Rey hanya mendengarkan keluhan, saran dan juga pernyataan dari para dewan. Banyak yang mengharapkan kebijakan perusahaan untuk diperbaharui dengan tuntutan kenaikan gaji, sedangkan kinerja para karyawan masih kurang maksimal.


"Pak Liem, bagaimana dengan perusahaan cabang? Apakah ada keluhan yang sama dari para karyawan." Rey menatap pria setengah dewasa yang duduk di kursi seberang, tetapi berhadapan dengannya.


"Perusahaan cabang aman terkendali, Tuan Reyhan." Jawab Pak Liem dengan pasti karena memang semua peraturan diterima seluruh karyawan dengan kesadaran diri.

__ADS_1


Rapat masih berlangsung, sedangkan di luar sana. Bagas baru saja turun dari mobilnya. Pria itu berdiri menatap bangunan yang ada di depan mata sembari menunggu anak-anak lain turun dari mobil. Begitu Nau, Fay dan Satya berjalan mendekat, barulah langkah kakinya kembali menapaki setapak halaman luas hotel Venus.


"Ifii, apa kita tidak salah alamat? Ini hotel, kenapa ketemuan di tempat yang seperti ini?" tanya Nau yang tidak habis pikir akan mendapatkan kejutan seperti pagi ini, apalagi sang kakak sepupu tidak mau mendengarkan penolakan darinya.


Untuk apa ragu? Ketika apa yang mereka pikirkan belum tentu kenyataannya seperti yang dipikirkan. Wajar saja merasa aneh dengan apa yang tersaji. Akan tetapi, sebelum memahami dan melihat secara langsung. Setidaknya biarkan positif thinking terlebih dahulu. Fay memilih berjalan di depan menyusul Bagas, membuat Nau dan Satya saling pandang, lalu ikut menyusul.


Tidak ada pemberhentian, meski hanya sekedar bertanya ruangan. Bagas terus melangkahkan kaki menyusuri lorong demi lorong hingga memasuki area serba kaca. Barulah pria itu mengeluarkan card kunci untuk memasuki area VVIP. Suara derit pintu kaca yang bergeser, membuatnya mempersilahkan anak-anak untuk masuk terlebih dahulu.


Namun, baru saja ingin maju. Nau mencegah tangan Fay agar tetap diam di tempat. "Kenapa bukan Anda yang masuk terlebih dahulu?"


Pertanyaan itu ditujukan untuk Bagas. Nau merasa, pria itu ingin menjebak mereka. Pemikiran itu sangat mudah di baca, membuat Bagas hanya tersenyum kecut. Kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi sang adik ipar. Nada dering tak sempat terdengar karena panggilan langsung diterima. Tanpa menjelaskan keadaan, ponsel ia ulurkan pada pemuda yang nampak posesif.


"De, masuklah! Tidak akan terjadi apapun. Aku tunggu kalian di dalam," ucap Asma yang langsung mematikan panggilan itu, membuat Nau mengembalikan ponsel milik Bagas ke orangnya kembali.


Tidak ada lagi yang bisa diperdebatkan. Mau, tidak mau harus menekan rasa ketidakpercayaan. Satu persatu masuk melewati pintu kaca yang langsung menampilkan bagian lorong VVIP yang ternyata bergaya modern dengan desain ala kastil. Karpet merah sepanjang mata memandang, lentera lampu yang menerangi menghiasi dinding di setiap jarak satu lentera per lima meter.


Fay mengamati setiap desain yang cukup memuaskan keindahan seni. Ternyata tidak banyak pintu karena dari satu ruangan ke ruangan lain, memiliki jarak yang cukup jauh. Sepertinya benar-benar di khususkan untuk menikmati privasi yang aman dengan jaminan tinggi. Sayangnya pria yang berjalan di depan terus saja diam.


Bagas berjalan tanpa ingin mempertanyakan apa yang mengusik pikirannya. Sementara waktu hanya ingin menjadi pengamat dan melakukan tegasnya saja, hingga langkah kaki mencapai depan pintu kamar hotel VVIP. Tanpa sungkan mengetuk pintu, dan tak perlu menunggu lama. Knop pintu terlihat bergerak, lalu pintu mulai terbuka secara perlahan.


"Jeni, kamu disini?" tanya Bagas sedikit tersentak dengan keberadaan sang sekertaris yang seharusnya berada di kantor untuk menyiapkan berkasnya.


"Ka, tidak baik bicara di depan pintu. Masuk saja!" seru Asma setengah mengeraskan suaranya yang memang pada dasarnya tidak bisa berteriak.


Jeni melebarkan pintu, membiarkan tiga anak yang nampaknya masih sangat muda agar masuk ke dalam tanpa paksaak. Namun, Bagas memilih mengundurkan diri karena pasti Rey membutuhkan bantuannya. Sementara itu, Fay, Nau dan Satya berjalan melewati pintu yang terkesan mewah dengan kayu berkualitas.


Pantas saja melakukan pertemuan di hotel. Rupanya kamar itu mirip seperti apartemen yang menyiapkan area tempat tidur, dapur, ruang tamu dan juga taman mini dalam satu ruangan yang cukup luas. Sepertinya untuk menyewa kamar dengan fasilitas dan pelayanan nomor satu, bisa untuk membangun sebuah usaha bagi pengusaha muda.

__ADS_1


"Ka Asma!" panggil Fay dan Nau secara bersamaan.


__ADS_2